Saham
( 1722 )Pertumbuhan Pasar Modal Tergantung Stabilitas Politik
Demokrasi Lemah Menggerus Kepercayaan Pasar
Memanasnya suhu politik di dalam negeri menyebabkan pasar keuangan Indonesia kembali dihantui kecemasan. Hal inilah yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal usai bergerak menanjak dalam empat perdagangan beruntun. IHSG berbalik arah dengan bergerak di zona merah sepanjang Kamis (22/8). Di akhir sesi, IHSG ditutup turun 0,87% ke level 7.488,67. Kisruh peraturan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) antara keputusan Mahkamah Konstiusi (MK) dan Dewan Perwakilan rakyat (DPR) menyulut aksi unjuk rasa. Demokrasi yang buruk juga menghempaskan rupiah dari posisi di bawah Rp 15.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda melemah 0,64% ke Rp 15.600 per dolar AS. Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, rupiah Jisdor melemah 0,79% ke Rp 15.579 per dolar AS. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin melihat, kejatuhan rupiah menyusul ketegangan politik dalam negeri yang memanas. Akibatnya, banyak investor terpantau melakukan aksi ambil untung ( profit taking ) terhadap rupiah. Investor terlihat melakukan perburuan dolar di tengah aksi demonstrasi mahasiswa dan buruh di depan Gedung DPR/MPR, kemarin. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan, kembalinya dana asing belakangan ini membuat IHSG berkali-kali menembus rekor baru. Sejatinya, pasar saham sudah cukup kondusif usai Federal Reserve semakin memberikan kepastian terkait pemangkasan bunga acuannya.
Founder
Stocknow.id Hendra Wardana juga bilang,
capital inflow
menjadi faktor penting bagi IHSG, yang sekaligus mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Namun, tensi politik yang memanas dalam polemik aturan Pilkada membuka potensi tekanan ke pasar.
Menurut Hendra, sentimen eksternal secara umum sebenarnya cenderung positif. Terutama dengan adanya ekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan September, yang kemungkinan besar akan diikuti oleh Bank Indonesia.
Namun, Hendra mengingatkan kebijakan moneter dan makro ekonomi bukan menjadi satu-satunya sentimen. Sebab, pada akhir tahun ini faktor politik punya peran krusial, khususnya saat transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo ke Prabowo Subianto pada bulan Oktober, lalu Pilkada Serentak pada bulan November.
Sedangkan, Audi melihat selama IHSG masih bergerak di atas 7.425, maka penurunan yang terjadi masih tergolong wajar. Jika bertahan, IHSG berpotensi menguat menuju
resistance
di 7.630 hingga akhir Agustus 2024 nanti.
Bursa Tetap Bersinar
Meskipun mengalami koreksi pada perdagangan Kamis, 22 Agustus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan kembali menguat di sisa tahun 2024. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) di level 7.554,59. Penurunan sebesar 0,87% yang terjadi pada Kamis ini disebabkan oleh aksi ambil untung dan situasi politik yang memanas, terkait demonstrasi besar-besaran menolak pengesahan RUU Pilkada. Namun, para pelaku pasar tetap optimistis bahwa tren positif IHSG akan berlanjut, didorong oleh masuknya aliran dana investor asing.
Menurut Satria Sambijantoro, Head of Research Bahana Sekuritas, "Aksi beli investor asing ke pasar saham Indonesia berpotensi berlanjut karena masih banyak katalis positif." Ia menambahkan bahwa meskipun IHSG sempat tertekan akibat demonstrasi, stabilitas politik Indonesia dinilai masih lebih kondusif dibandingkan negara-negara lain.
Fath Aliansyah Budiman, Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, menambahkan bahwa IHSG masih dapat reli dan mencapai level 7.800-8.000. Menurutnya, "Masuknya arus modal asing membuat pasar percaya diri sehingga IHSG kerap mencapai rekor baru."
Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, juga melihat peluang akumulasi saham oleh investor asing yang masih terbuka, dengan target IHSG mencapai 7.640-7.720 di akhir tahun 2024.
Persaingan Dana Memanas, Biaya Utang Kian Meningkat
Menjelang suksesi kepemimpinan nasional pada Oktober mendatang, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih cawe-cawe mencari utang untuk pemerintahan baru Presiden terpilih Prabowo Subianto. Hal itu terlihat membengkaknya nilai penerbitan surat berharga negara (SBN) yang dipatok pemerintah pada tahun 2025. Dalam postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, pemerintah berencana menerbitkan utang baru melalui SBN sebesar Rp 642,56 triliun. Nilai penerbitan SBN tersebut naik 42,2% jika dibanding dengan APBN tahun 2024 sebesar Rp 451,85 triliun. Tak tanggung-tanggung, untuk menarik minat investor, pemerintah mematok yield atau imbal hasil SBN tinggi. Contoh, SBN dengan tenor 10 tahun, besaran yield dipatok 7,1% dalam RAPBN 2025. Target yield ini lebih tinggi dari outlook di APBN 2024 yang hanya 6,7%. Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto menilai, besaran target yield SBN tersebut lebih dipengaruhi oleh prediksi bahwa pemerintah akan melakukan penerbitan surat utang yang cukup tinggi pada tahun depan. Selain itu, ada sekitar Rp 722,5 triliun surat utang pemerintah yang akan jatuh tempo.
Jika ditotal, pemerintah perlu untuk menggalang pembiayaan dengan nilai mencapai sekitar Rp 1.338,7 triliun untuk refinancing surat utang yang jatuh tempo maupun membiayai defisit anggaran baru.
Masalahnya, lanjut dia, korporasi akan terbebani jika yield SBN 10 tahun di level 7,1% pada tahun 2025. Sebab, kupon obligasi korporasi biasanya memakai obligasi pemerintah sebagai
benchmark. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memperkirakan, sentimen di pasar obligasi akan mixed tahun depan. Sentimen positif datang dari pemangkasan suku bunga. Sedang sentimen negatif dari suplai di pasar obligasi yang akan meningkat.
Dengan adanya ekspektasi pemangkasan suku bunga, yield SBN akan kembali turun. Dus, kata Josua, yield yang ideal di bawah 7%. "Sekitar 6,3%-6,6%," sebutnya.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto menimpali, derasnya arus dana asing dan likuiditas yang masih baik, turut memberi efek terhadap pergerakan yield.
Saham BUMN Masih Berpotensi Menguat
Sejumlah saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai menguat belakangan ini, sejalan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun jika dilihat sejak awal tahun ini, indeks BUMN20 masih turun sebesar 1,87%, Rabu (21/8). Beberapa saham BUMN masih punya potensi upside dan valuasi yang menarik untuk dikoleksi pada tahun ini. Beberapa di antaranya adalah sektor perbankan, infrastruktur, dan energi. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy mengatakan, memilih saham BUMN harus lebih selektif. Saat ini, tercatat masih lebih banyak saham yang masih menurun dibandingkan yang naik harganya. Namun, Budi menilai, kinerja indeks BUMN20 akan lebih positif pada semester kedua ini. Beberapa emiten konstituen penghuni indeks ini masih punya kinerja fundamental dan performa saham yang bagus. Misalnya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina menilai, kinerja IDXBUMN20 sempat terhambat oleh koreksi saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang memiliki bobot besar di indeks ini. Namun, rencana penurunan suku bunga Federal Reserve, akan membuat kinerja saham BUMN lebih positif di sisa tahun ini.
Target setoran BUMN ke pemerintah yang lebih tinggi, juga bisa mempengaruhi gerak saham emiten BUMN. Kementerian BUMN menargetkan setoran dividen dari laba tahun buku 2024 bisa mencapai Rp 85,5 triliun. Target ini naik Rp 5 triliun dari target sebelumnya yang sebesar Rp 80,8 triliun.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi mengatakan, beberapa saham BUMN20 masih layak beli. Di antaranya, saham BBRI dengan target harga Rp 5.500, BMRI Rp 7.350, BBNI Rp 5.525, TLKM Rp 3.750, dan PGAS Rp 1.660 per saham.
Harga Nikel Tertekan, Prospek Emiten Menurun
Prospek emiten yang bergelut di bisnis komoditas nikel masih loyo. Sejumlah tantangan masih menghalangi emiten nikel dalam memacu kinerja di tahun ini. Riset terbaru RHB Sekuritas Indonesia menurunkan rekomendasi sektor ini dari overweight menjadi netral. Tingginya tingkat persediaan beberapa logam dasar telah menimbulkan kekhawatiran tentang prospek yang tidak stabil. Terlebih, harga komoditas masih menunjukkan sentimen ketidakpastian. Harga nikel sempat menembus level US$ 20.000 per ton pada periode April-Mei, sebelum kembali melandai ke level US$ 16.000-US$ 17.000 per ton. Penurunan estimasi harga rata-rata nikel ini mempertimbangkan isu surplus persediaan, antusiasme terhadap kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang turun, hingga potensi penurunan pangsa pasar baterai berbasis nikel terhadap alternatif lainnya.
Research Analyst Phintraco Sekuritas, Arsita Budi Rizqi mengamini, outlook komoditas nikel pada semester II-2024 masih oversupply dan cenderung minim sentimen. Namun harga nikel yang masih bertahan di atas level US$ 16.550 per ton pada Agustus.
Menjelang akhir tahun 2024, Arsita memprediksi, harga nikel akan menanjak di kisaran US$ 17.500 per ton. Sentimen terdekat yang dapat memengaruhi harga nikel adalah mulai masuk musim puncak produksi stainless steel pada September-Oktober 2024.
Fauzan dan Wafi memprediksi, emiten nikel khususnya pemain smelter, akan lebih fokus pada risiko penurunan margin dan akan mengejar pertumbuhan laba bersih. Dus, para pelaku di sektor ini bakal menggenjot efisiensi biaya, khususnya energi, sambil berusaha meningkatkan output untuk mempertahankan pendapatan utama.
Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya melihat, permintaan EV bakal jadi katalis positif emiten nikel. Pendongkrak lain, datang dari tren kecerdasan buatan yang butuh lebih banyak produksi cip, serta efek pemangkasan suku bunga The Fed terhadap harga komoditas logam.
IHSG BEI Mengukir Rekor Penutupan Tertinggi
Saham Perbankan Sedang Moncer
Membidik Cuan dari Dividen Interim
Menjelang akhir tahun, investor sudah bisa mengambil ancang-ancang untuk menadah dividen jumbo. Cara paling mudah untuk mendapatkan saham dengan imbal hasil dividen besar adalah melihat konstituen indeks IDX High Dividend 20. Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, saat ini investor sudah bisa mencicil beli saham-saham emiten yang berpotensi menyebar dividen. Biasanya, harga saham akan bergerak saat adanya pengumuman pembagian dividen sampai cum date. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, jika hanya fokus mengejar dividen, biasanya investor akan mengabaikan fundamental emiten. Menurut Nico, apabila fundamental emiten kuat, dan sektor yang menopangnya baik serta sejalan dengan tren yang sedang terjadi, maka risiko penurunan harga saham dapat diminimalisir setelah dividen dibagikan. Dia mencermati, sektor finansial dan pertambangan biasanya akan menjadi primadona dalam membagikan dividen.
Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo mengatakan, saham penghuni Indeks IDX High Dividend 20 tidak bisa lagi menjadi acuan bagi investor untuk memburu saham dividen. Hal ini tercermin besaran imbal hasil (yield) dividen yang dibagikan emiten di awal tahun 2024.
Berdasarkan data Mirae Asset Sekuritas per 31 Januari 2024, dari 20 emiten hanya ada delapan saham yang memberikan dividend yield tinggi di atas 5%, yakni ADRO, ITMG, PTBA, ASII, UNTR, ANTM, BBRI, BMRI. Lalu, ada empat saham yang dividend yield-nya tergolong standar di kisaran 4%, yaitu BBNI, UNVR, TLKM, INDF.
Dari sektor perbankan, BBRI masih mampu mencetak pertumbuhan laba bersih 0,95% secara tahunan menjadi Rp 29,7 triliun. Sementara itu, laba bersih BMRI naik 5,22% secara tahunan menjadi Rp 26,55 triliun.
Dari penghuni IDX High Dividend 20, saham pilihan Handiman jatuh pada ADRO, ITMG, PTBA, UNTR, ANTM, BBRI dan BMRI untuk dicermati pembagian dividennya.
Sedangkan Reza merekomendasi beli UNTR, BBCA, TLKM, ITMG, SMGR dan BBRI. Target harga masing-masing Rp 29.600, Rp 11.900, Rp 3.350, Rp 30.450, Rp 4.530 dan Rp 5.650 per saham.
Euforia Saham Lapis Dua
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mendaki hingga menembus level tertinggi baru (all time high). IHSG menutup perdagangan Senin (19/8) dengan penguatan 0,47% ke level 7.466,83. Saat IHSG berfluktuasi dalam gerak menanjak, saham-saham lapis kedua (second liners) ikut terkerek naik. Tercermin dari laju indeks yang banyak dihuni oleh saham lapis kedua, seperti indeks papan pengembangan (development board) yang sudah naik 6,53% secara year to date. Sebagai perbandingan, per akhir Juni 2024, return saham di papan ini masih minus 1,14%. Sedangkan, indeks SMC Liquid dan SMC Composite berhasil memangkas ketertinggalan. Pada akhir Juni, SMC Liquid ada di posisi -7,01%, sedangkan SMC Composite -8,75%. Saat ini, penurunan kedua indeks itu berkurang menjadi -3,17% dan -2,46%. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana mengamati, saham-saham lapis kedua cenderung menjadi pilihan saat IHSG berfluktuasi kencang. Ketika IHSG bergerak naik bahkan sampai menembus all time high , sebagian saham lapis kedua ikut terangkat. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, Fath Aliansyah sepakat, saham lapis kedua terutama yang menjadi konstituen indeks SMC berpotensi bergerak naik. Apalagi ketika IHSG lanjut menanjak yang diiringi dengan dana asing ( capital inflow ) yang terus mengalir.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi memberikan catatan, ketika sentimen lebih kondusif untuk mendorong IHSG,
capital inflow
akan lebih banyak mengalir ke saham lapis pertama atau
blue chip
. Namun saham lapis kedua bukan berarti kehilangan sentimen pendongkrak.
Sementara itu,
Certified Elliott Wave Analyst Master
Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus menyoroti, biasanya saham-saham lapis kedua akan melaju setelah tren naik saham
blue chip
. Dus, ketika saham
blue chip
mengalami koreksi akibat jenuh beli, saham lapis kedua akan menjadi alternatif.Dengan begitu, saham lapis kedua masih berpotensi melanjutkan penguatan. Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project, William Hartanto sepakat, saham lapis kedua masih menarik dan tetap layak menjadi pilihan pelaku pasar ketika IHSG menanjak seperti saat ini. Secara fundamental dan valuasi, Hendra memberi rekomendasi
buy
SMRA, SCMA, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Panin Financial Tbk (PNLF). Target harga masing-masing Rp 695, Rp 164, Rp 2.400, dan Rp 410 per saham.
Pilihan Editor
-
Industri Sepeda, Penjualan Mulai Melambat
08 Jun 2021









