;
Tags

Saham

( 1717 )

IHSG BEI Mengukir Rekor Penutupan Tertinggi

KT1 21 Aug 2024 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengukir rekor penutupan tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH), Selasa (20/8/2024), naik 0,9% dari hari sebelumnya. Ini merupakan ATH indeks kesembilan sepanjang 2024. Tidak hanya itu, IHSG hari ini mengukir ATH intraday di level 7.538, kemarin. Sebelumnya rekor tertinggi intraday IHSG terjadi pada Senin (19/9/2-24) di level 7.466,8. Sepanjang 2024, indeks menguat 3,59%, setelah sebelumnya sempat terpuruk hingga ke level 6.726. Penguatan indeks diyakini terus berlanjut hingga akhir 2024. Sejumlah broker kini mematok target IHSG berkisar 7.700-8.000. Katalistnya adalah ekspektasi penurunan suku bunga acuan AS Federal Funds Rate (FFR) pada September 2024. Kini probabilitas penurunan FFR bulan depan sudah mencapai 100%. (Yetede)

Saham Perbankan Sedang Moncer

KT1 21 Aug 2024 Investor Daily (H)
Laju saham perbankan tak terbendung usai mengalami koreksi cukup dalam beberapa waktu sebelumnya. Saham favorite investor asing ini juga diyakini terus moncer ke depannya. Seiring fundamental keuangan yang solid dan didukung ekpektasi pertumbuhan ekonomi tinggi pada 2025. Pada perdagangan Selasa (20/8/2024) saham perbankan kompak menghijau, dengan empat saham bank papan atas seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terus melanjutkan kenaikan. Saham BBCA mengat 0,48% pada penutupan perdagangan kemarin ke posisi Rp 10.425. Dalam satu pekan terakhir, saham bank swasta terbesar di Indonesia ini telah naik 1,21% dan melesat 10,9% sejak awal 2024 ytd. Begitu pula dengan BBRI yang kemarin naik tinggi hingga 2,7% ke level Rp4.950, dan meningkat 4,8% dalam satu pekan terakhir. (Yetede)

Membidik Cuan dari Dividen Interim

HR1 21 Aug 2024 Kontan

Menjelang akhir tahun, investor sudah bisa mengambil ancang-ancang untuk menadah dividen jumbo. Cara paling mudah untuk mendapatkan saham dengan imbal hasil dividen besar adalah melihat konstituen indeks IDX High Dividend 20. Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, saat ini investor sudah bisa mencicil beli saham-saham emiten yang berpotensi menyebar dividen. Biasanya, harga saham akan bergerak saat adanya pengumuman pembagian dividen sampai cum date. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, jika hanya fokus mengejar dividen, biasanya investor akan mengabaikan fundamental emiten. Menurut Nico, apabila fundamental emiten kuat, dan sektor yang menopangnya baik serta sejalan dengan tren yang sedang terjadi, maka risiko penurunan harga saham dapat diminimalisir setelah dividen dibagikan. Dia mencermati, sektor finansial dan pertambangan biasanya akan menjadi primadona dalam membagikan dividen. 

Head of Proprietary Investment Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo mengatakan, saham penghuni Indeks IDX High Dividend 20 tidak bisa lagi menjadi acuan bagi investor untuk memburu saham dividen. Hal ini tercermin besaran imbal hasil (yield) dividen yang dibagikan emiten di awal tahun 2024. Berdasarkan data Mirae Asset Sekuritas per 31 Januari 2024, dari 20 emiten hanya ada delapan saham yang memberikan dividend yield tinggi di atas 5%, yakni ADRO, ITMG, PTBA, ASII, UNTR, ANTM, BBRI, BMRI. Lalu, ada empat saham yang dividend yield-nya tergolong standar di kisaran 4%, yaitu BBNI, UNVR, TLKM, INDF. Dari sektor perbankan, BBRI masih mampu mencetak pertumbuhan laba bersih 0,95% secara tahunan menjadi Rp 29,7 triliun. Sementara itu, laba bersih BMRI naik 5,22% secara tahunan menjadi Rp 26,55 triliun. Dari penghuni IDX High Dividend 20, saham pilihan Handiman jatuh pada ADRO, ITMG, PTBA, UNTR, ANTM, BBRI dan BMRI untuk dicermati pembagian dividennya. Sedangkan Reza merekomendasi beli UNTR, BBCA, TLKM, ITMG, SMGR dan BBRI. Target harga masing-masing Rp 29.600, Rp 11.900, Rp 3.350, Rp 30.450, Rp 4.530 dan Rp 5.650 per saham.

Euforia Saham Lapis Dua

HR1 20 Aug 2024 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mendaki hingga menembus level tertinggi baru (all time high). IHSG menutup perdagangan Senin (19/8) dengan penguatan 0,47% ke level 7.466,83. Saat IHSG berfluktuasi dalam gerak menanjak, saham-saham lapis kedua (second liners) ikut terkerek naik. Tercermin dari laju indeks yang banyak dihuni oleh saham lapis kedua, seperti indeks papan pengembangan (development board) yang sudah naik 6,53% secara year to date. Sebagai perbandingan, per akhir Juni 2024, return saham di papan ini masih minus 1,14%. Sedangkan, indeks SMC Liquid dan SMC Composite berhasil memangkas ketertinggalan. Pada akhir Juni, SMC Liquid ada di posisi -7,01%, sedangkan SMC Composite -8,75%. Saat ini, penurunan kedua indeks itu berkurang menjadi -3,17% dan -2,46%. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana mengamati, saham-saham lapis kedua cenderung menjadi pilihan saat IHSG berfluktuasi kencang. Ketika IHSG bergerak naik bahkan sampai menembus all time high , sebagian saham lapis kedua ikut terangkat. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, Fath Aliansyah sepakat, saham lapis kedua terutama yang menjadi konstituen indeks SMC berpotensi bergerak naik. Apalagi ketika IHSG lanjut menanjak yang diiringi dengan dana asing ( capital inflow ) yang terus mengalir. 

Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi memberikan catatan, ketika sentimen lebih kondusif untuk mendorong IHSG, capital inflow akan lebih banyak mengalir ke saham lapis pertama atau blue chip . Namun saham lapis kedua bukan berarti kehilangan sentimen pendongkrak. Sementara itu, Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus menyoroti, biasanya saham-saham lapis kedua akan melaju setelah tren naik saham blue chip . Dus, ketika saham blue chip mengalami koreksi akibat jenuh beli, saham lapis kedua akan menjadi alternatif.Dengan begitu, saham lapis kedua masih berpotensi melanjutkan penguatan. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto sepakat, saham lapis kedua masih menarik dan tetap layak menjadi pilihan pelaku pasar ketika IHSG menanjak seperti saat ini. Secara fundamental dan valuasi, Hendra memberi rekomendasi buy SMRA, SCMA, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Panin Financial Tbk (PNLF). Target harga masing-masing Rp 695, Rp 164, Rp 2.400, dan Rp 410 per saham.

Outlook Positif Untuk Kompas100

HR1 16 Aug 2024 Kontan

Kinerja keuangan dan saham emiten konstituen indeks Kompas100 diperkirakan lebih moncer di sisa tahun 2024 ini. Hal tersebut menyusul hasil rilis laporan keuangan emiten Kompas100 yang mayoritas mencatatkan kinerja positif. Kinerja keuangan emiten sektor perbankan, energi, dan kesehatan dinilai masih menjadi unggulan di antara yang lain. Pengamat Pasar Modal, Mayang Anggita mengatakan, lebih dari separuh konstituen indeks Kompas100 mencetak pertumbuhan laba secara tahunan. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) emiten Kompas100 yang terbesar dicatatkan oleh PT Timah Tbk (TINS). Menyusul kemudian PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Surya Essa Perkasa Tbk (ESSA). 

Mayoritas saham Kompas1000 juga masih mendaki. Rinciannya, sebanyak 63 saham masih positif, 18 stagnan, dan 19 negatif. Di sisi lain, kinerja saham Indeks Kompas100 masih lebih landai ketimbang IHSG. Secara year to date (ytd), kinerja IHSG terkoreksi 0,22%. Sementara, kinerja indeks Kompas100 turun 3,23% ytd. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menuturkan, beberapa sektor saham yang tertinggal kemungkinan akan berbalik arah di sisa tahun ini. Mayang melihat emiten-emiten dari sektor perbankan akan berkinerja paling solid di semester kedua ini. Secara teknikal, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga memiliki tren jangka panjang bullish.

Euforia Pasar: Indeks Saham Cetak Rekor Baru

HR1 15 Aug 2024 Kontan (H)

Tersengat euforia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengukir rekor penutupan tertinggi baru di level 7.436,04 pada penutupan perdagangan Rabu (14/8). Sejumlah indikator ekonomi dalam negeri yang kurang meyakinkan, serta penurunan kinerja emiten saham pada semester I-2024 membuat laju pasar saham masih rentan goyah di masa mendatang. Pada penutupan perdagangan saham kemarin, IHSG naik 1,08% sejalan dengan arah mayoritas bursa saham dunia yang memang kompak menghijau. Hanya Shanghai Composite Index dan Hang Seng yang berada di zona merah.

Dari dalam negeri, satu-satunya faktor yang bisa dianggap sebagai pendorong indeks adalah rupiah yang terus menguat dan menjauhi level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Dari AS, data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) pada Juli naik 0,2% secara bulanan. Sementara secara tahunan, CPI tumbuh sebesar 2,9%. Sejumlah analis melihat, melesatnya IHSG dalam beberapa hari terakhir didorong euforia oleh sentimen perbaikan ekonomi global, terutama di AS. Rupiah juga menguat karena melemahnya dolar AS. Pukul 23.21 WIB semalam indeks dolar turun 0,08% ke 102,48. Dalam sebulan, indeks dolar melorot 1,21%.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, penguatan IHSG belakangan ini ditopang data inflasi AS. Inflasi AS tahunan diprediksi menurun dari sebelumnya 3% menjadi 2,9%. Penurunan suku bunga AS akan menjadi sentimen positif bagi perekonomian dan IHSG. Nico memprediksi, IHSG akan bergerak di 7.350-7.460 pada akhir 2024. "Jika 7.460 terpenuhi, level psikologis IHSG di 7.500. Bila konsisten berada di atas level itu, IHSG berpotensi ke 7.640," imbuh Nico. 

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan juga menilai saham perbankan menjadi primadona investor. Selain BBRI, BMRI, dan BBNI yang berpotensi menjadi tulang punggung laju IHSG, ada BBCA yang bisa menopang pergerakan IHSG. Porsi kapitalisasi pasar empat bank besar itu mencapai 22% total kapitalisasi pasar. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta melihat, prospek cerah masih menaungi saham trio bank pelat merah ke depan. Kemarin, saham BBRI, BMRI dan BBNI jadi mesin pendorong utama penguatan IHSG.

Meneropong Prospek Antam

KT1 14 Aug 2024 Investor Daily (H)
Hasil evaluasi Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) yang mengeluarkan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dari perhitungan indeks MSCI Indonesia Global Standard untuk periode 2 September-25 November 2024, diperkirakan bakal memengaruhi pergerakan saham emiten pertambangan emas dan nikel ini. Mengingat, MSCI Indonesia Global Standard saat ini masih menjadi salah satu acuan penting bagi para fund manager dan investor asing pada saham yang masuk daftar indeks tersebut. "Saham ANTM saat ini berada pada posisi yang menantang. Penghapusan dari indeks MSCI dan penurunan kinerja keuangan menjadi dua faktor utama yang dapat menekan harga saham," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. 

Perluas Ekspansi Melalui Anak Usaha

HR1 14 Aug 2024 Kontan

Memasuki semester II-2024, sederet emiten menggelar aksi korporasi melalui anak usaha. Aksi ini ditempuh melalui akuisisi, pendirian anak usaha baru, hingga pembentukan usaha patungan alias joint venture (JV). Terbaru, PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) bersama PT Bangun Daya Utama mendirikan dua usaha patungan pada 12 Agustus 2024. Keduanya adalah PT Pembangkit Energi Terbarukan (PET) dan PT Mandiri Energi Terbarukan (MET). Direktur Utama Bukaka Teknik Utama Irsal Kamarudin bilang, PET dan MET diharapkan bisa mendongkrak pendapatan BUKK. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga kembali membuat entitas usaha baru untuk memperkuat diversifikasi bisnis non-batubara. Anak usaha INDY mendirikan PT Kalista Biru Nusantara, yang bergerak di bidang penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi (operational leasing) alat transportasi darat bukan kendaraan bermotor roda empat atau lebih. Selain BUKK, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga menggelar ekspansi dengan mendirikan dua anak usaha bidang pelayaran di luar negeri. SOCI mendirikan Glory Shipping Maritime Pte. Ltd. yang berlokasi di Singapura, serta Global Ocean Lines Ltd. yang berkedudukan di Marshall Islands.

Sementara itu, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) lewat anak usahanya, PT Global Chemindo Megatrading bersama dengan Lian SGP Holding Pte Ltd mendirikan PT Livzon Pharma Indonesia. Perusahaan ini bergerak di bidang industri bahan farmasi aktif, dengan investasi awal sebesar Rp 650 miliar. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah mengamati, aksi emiten melalui anak usaha ini lebih ditujukan untuk strategi jangka panjang. Sebagai pendongkrak pendapatan maupun efisiensi bisnis grup emiten . Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi melihat, emiten tambang batubara yang rajin menggelar aksi korporasi melalui anak usaha, bertujuan untuk diversifikasi. Harapannya, bisa meningkatkan porsi pendapatan dari bisnis non-batubara.

Lima Saham Terpilih Masuk MSCI Small Cap Index

HR1 14 Aug 2024 Kontan

Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali dikocok ulang. Dalam peninjauan MSCI Indonesia, ada lima saham yang masuk kategori MSCI Small Cap Indexes. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang tadinya menempati MSCI Global Standard Indexes, turun kelas ke kategori MSCI Small Cap Indexes List. Di saat bersamaan, MCSI juga memasukkan empat saham lainnya, yaitu PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT MD Pictures Tbk (FILM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Daftar baru MSCI ini mulai efektif pada 2 September 2024. Head of Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, masuknya kelima emiten ini ke dalam MSCI Small Cap Index menjadi kabar positif yang umumnya memberikan katalis terhadap saham-saham bersangkutan.

Biasanya, akan ada arus masuk dana asing atau capital inflow pada saham-saham ini karena manager investasi dan investor asing acap menyesuaikan kembali alias melakukan rebalancing portofolio mereka. Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, dari sisi fundamental, ANTM dan INCO tak terlalu menarik ketimbang emiten lainnya. Ini lantaran kedua saham tersebut masih tersengat sentimen penurunan harga komoditas nikel. Nah, yang menarik adalah masuknya WIKA ke indeks MSCI. Emiten pelat merah itu belum menerbitkan kinerja keuangan semester pertama. Tapi di kuartal I-2024, WIKA masih merugi. Namun, yang membuat WIKA masuk MSCI adalah karena sahamnya likuid dan kapitalisasi pasar terbesar di sektornya. MSCI Indonesia Small Cap Index sendiri terdiri dari 47 saham dengan kapitalisasi pasar kecil, dan mengkaver 14% pasar Indonesia.

Pasar Saham Sideways, SUN Jadi Primadona Asing

KT1 12 Aug 2024 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) pada pekan ini,  sambil menunggu kabar baik dari data ekonomi yang dapat memicu pergerakan kembali ke level 7.300an. Di sisi lain, pasar surat negara (SBN) Indonesia menjadi primadona investor asing di tengah ancaman resesi global.  "Kami memperkirakan untuk sepekan ke depan pergerakan IHSG cenderung sideways dengan support di 7.181 dan resistance 7.291," kata Senior Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana. Didit mengungkapkan, langkah IHSG disepanjang pekan ini akan dipengaruhi rilis data ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri. Di pasar global, ada rilis inflasi AS dan data industri China. Sedangkan dari dalam negeri ada pengumuman neraca perdagangan Indonesia di pertengahan pekan ini. (Yetede)