Korporasi Menghadapi Musim Dingin: Dampak untuk Indonesia
Winter terjadi di bursa saham Indonesia. Kinerja emiten di semester pertama tahun ini tak menggembirakan. Tercermin dari pertumbuhan pendapatan korporasi yang cenderung melemah pada periode kuartal kedua 2024. Bahkan, realisasi belanja modal alias capital expenditure (capex) emiten turun pertama kalinya dalam tujuh kuartal terakhir. Riset terbaru Bank Central Asia (BCA) menunjukkan, pendapatan rata-rata korporasi Indonesia turun 2,3% pada kuartal kedua 2024. Selama ini, banyak emiten di Indonesia yang pendapatannya dipengaruhi oleh harga komoditas. Nah, pertumbuhan harga komoditas di 2024 tak terlalu istimewa. Di sisi lain, sektor seperti barang konsumen diskresioner dan sektor kesehatan memang masih mengantongi pertumbuhan pendapatan yang relatif kuat dan positif. Tapi perlu dicatat, sektor-sektor ini tidak berpengaruh besar terhadap kondisi perusahaan keseluruhan, karena ukurannya relatif kecil. "Pertumbuhan pendapatan di sektor kesehatan tampaknya didorong oleh ekspansi agresif penyedia layanan kesehatan ke kota-kota tingkat bawah, bukan dari pertumbuhan organik," tulis analis BCA Lazuardin Thariq Hamzah dan Barra Kukuh Mamia dalam riset 5 Agustus 2024.
Sektor yang serapan capexnya turun paling dalam adalah sektor jasa industri yang terkoreksi 48,2% yoy. Capex sektor tambang dan mineral juga turun 24,8% yoy dan sektor telekomunikasi turun 22,5% yoy pada kuartal II ini. Angka PMI manufaktur Indonesia pun mengalami kontraksi pada bulan Juli 2024, pertama kalinya sejak Agustus 2021. Hal ini menunjukkan periode yang lambat untuk investasi di masa depan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy tak menampik, saat ini sebagian besar harga saham tengah menurun. Cuma sedikit saham yang mencetak return bagus. Ini menandakan investor ritel dan investor institusi tengah menahan diri untuk bertransaksi di saham. "Emiten menunggu kabinet baru dan kebijakan presiden baru juga. Plus, ini untuk mengantisipasi resesi di beberapa negara besar," ungkapnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, pada semester kedua, pertumbuhan pendapatan dan serapan capex diproyeksikan akan lebih tinggi. Sentimen positifnya berasal dari pilkada, pelantikan presiden, pemilihan kabinet baru, hingga potensi pemangkasan suku bunga Fed.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023