Saham
( 1722 )Adu Besar Nilai Kapitalisasi Pasar
Peta emiten dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergeseran. Sederet saham langganan 10 besar di jajaran market cap terbesar, harus terlempar dari klub elite itu. Terbaru, ada PT Astra International Tbk (ASII) yang terpental dari 10 market cap terbesar di BEI. Sebelumnya, ada saham UNVR, ARTO, EMTK dan ADRO yang sudah terlempar dari 10 besar. Hingga perdagangan Rabu (24/7), jawara market cap dipegang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Tapi BBCA tak lagi bisa nyaman di posisi puncak, setelah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus membuntuti dengan ketat. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengamati, pergeseran posisi market cap dipicu sejumlah faktor. Di antaranya efek kinerja keuangan, rotasi sektor, serta ekspektasi pasar terhadap prospek emiten. "Jika penurunan karena kinerja menyusut, maka wajar harga turun.
Kalau kinerja emiten melemah, investor juga akan menurunkan ekspektasi atas perusahaan tersebut," kata Martha pada KONTAN, Rabu (24/7). Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi melihat, valuasi sejumlah saham emiten top 10 market cap saat ini tergolong overvalued. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, Fath Aliansyah memproyeksi, sampai tutup tahun 2024, emiten penghuni top 10 market cap tidak akan banyak berubah. Fath melihat, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi emiten yang berpotensi naik kelas mengisi barisan top 10. Audi merekomendasi beli saham BBNI, ASII dan ICBP. Target harga masing-masing Rp 5.525, Rp 5.400 dan Rp 12.350 per saham. Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat, ASII dan ADRO layak koleksi, target masing-masing Rp 4.640-Rp 5.275 dan Rp 3.260-Rp 3.590.
Aksi Boikot Bikin Laba UNVR Melorot
Sejumlah emiten indeks LQ45 telah merilis laporan keuangan semester I-2024. Salah satunya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Di semester I-2024, pendapatan dan laba bersih UNVR kompak merosot. Merujuk pada laporan keuangan UNVR, Rabu (24/7), emiten ini mencatat pendapatan Rp 19,04 triliun pada 30 Juni 2024. Realisasi pendapatan UNVR itu jeblok 6,16% secara tahunan dari Rp 20,29 triliun di semester I-2023. Alhasil, laba bersih UNVR merosot 10,54% secara tahunan menjadi Rp 2,46 triliun dari Rp 2,75 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Merosotnya pendapatan UNVR di enam bulan pertama tahun ini, antara lain, dipicu turunnya penjualan perseroan dari segmen home and personal care sebesar 7,3% secara tahunan menjadi Rp 12,28 triliun dari Rp 13,25 triliun di semester I-2023. Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap mengatakan, pada separuh pertama tahun 2024, UNVR harus memperbaiki beberapa tantangan. Di antaranya, memperkuat fundamental, meningkatkan daya saing brand, serta mendorong efisiensi biaya untuk mendongkrak profitabilitas.
Benjie menambahkan, hingga saat ini aksi boikot terhadap UNVR, masih memengaruhi kinerja UNVR. Sejak awal tahun ini UNVR fokus menangani sentimen negatif berupa aksi boikot produk yang terafiliasi dengan Israel. Saat ini, ungkap Benjie, UNVR juga menjalankan program transformasi untuk mempertajam fokus dan mendorong pertumbuhan melalui organisasi yang lebih ramping dan akuntabel. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta berpendapat, meski mengalami penurunan, pendapatan UNVR masih relatif bagus di sepanjang enam bulan tahun ini. Nafan juga melihat masih ada harapan untuk UNVR bisa tumbuh. Cuma, Nafan tidak menampik, salah satu sentimen negatif pemberat kinerja UNVR adalah adanya aksi boikot yang mempengaruhi kinerja UNVR. Dia bilang, produk emiten ini diduga memiliki keterkaitan dengan Israel. Dengan sentimen yang ada, Nafan menyematkan rekomendasi hold saham UNVR dengan target harga Rp 2.750.
Jelang Rilis Kinerja, Saham GOTO Menguat
Pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang mengakumulasi saham ini dari level gocap sedang sumringah. Pasalnya, saham GOTO mulai bangkit dari level gocap dan diramal berada dalam tren penguatan. Hingga akhir perdagangan Selasa (23/7), saham GOTO menguat 7,48% atau naik 4 poin ke posisi Rp 55 per saham. Kapitalisasi pasar atau market cap GOTO mencapai Rp 66,08 triliun. Salah satu nama besar yang berada di manajemen puncak GOTO turut menampung saham GOTO kala harganya gocap. Misalnya, Patrick Sugito Walujo yang memborong 98,5 juta saham seri A GOTO. Saham itu dibeli di pasar reguler pada 20 Juni 2024 di harga Rp 50–Rp 51 per saham. Ada juga sejumlah lembaga yang memborong saham GOTO. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengatakan, kenaikan saham GOTO sejalan dengan penguatan saham teknologi lainnya. Ini tercermin dari penguatan indeks sektor teknologi. Kemarin, IDX Sektor Teknologi menguat 4,55%.
Kendati begitu, sepanjang tahun berjalan ini, indeks saham teknologi masih turun 22,47%.
Ilham Muslim,
Senior Area Manager
Mirae Asset Sekuritas menambahkan, secara teknikal level Rp 52 per saham merupakan posisi kunci bagi pergerakan saham GOTO. Dia bilang, kalau GOTO kembali turun ke Rp 52, maka ada potensi GOTO kembali menyentuh level Rp 50. Sementara, GOTO harus berada di atas Rp 61 kalau mau mempertahankan tren kenaikannya.
Senior Analyst
MNC Sekuritas Rudy Setiawan menjelaskan, kinerja GOTO di kuartal kedua mendapat angin segar dari momentum Hari Raya yang biasanya diikuti daya beli masyarakat yang menguat. "Serta didorong rampungnya migrasi TikTok-Tokopedia yang lebih cepat," katanya. Sedangkan tim riset Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan kinerja GOTO di kuartal II-2024 ini akan sedikit menurun. Pasalnya, puncak belanja sudah terjadi di kuartal satu pada puasa dan lebaran. "Serta ada pelemahan daya beli di kuartal II-2024 sehingga kami tidak berekspektasi tinggi," kata Martha.
Sekuritas Mulai Pangkas Target IHSG Tahun Ini
Pasar saham dalam negeri sempat mendapat pandangan cukup positif pada awal tahun ini. Tapi, setelah separuh tahun berjalan, sejumlah sekuritas menyesuaikan kembali target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2024. Pada awal tahun 2024, cukup banyak analis yang meramalkan IHSG bisa menembus 8.000. Namun, pergerakan IHSG masih jauh dari level tersebut. Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang sebelumnya memperkirakan IHSG punya peluang mencapai 8.100 di akhir tahun juga merevisi target ini. Hitungan Mirae, target IHSG di akhir 2024 berada di 7.585. CEO Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tae Yong Shim mengatakan, tim risetnya menilai potensi kenaikan IHSG ke depan cukup terbatas.
RHB Sekuritas Indonesia juga memangkas target IHSG di akhir 2024 menjadi 7.800. Awalnya, RHB Sekuritas memproyeksikan IHSG bisa mencapai level 7.900.
Head of Research
RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menjelaskan, revisi target IHSG itu mengacu pada prospek pasar saham pada kuartal III-2024 ini, yang kemungkinan lebih melemah.
Sinarmas Sekuritas memproyeksikan pada skenario dasarnya, IHSG berpotensi mencapai level 7.500. Sedangkan untuk skenario
bullish
IHSG berpeluang tembus 7.900. Tapi jika bearish, ada kemungkinan IHSG kembali ke 6.600.
Isfhan Helmy,
Head of Institutional Research
Sinarmas Indonesia menjelaskan, sejatinya, IHSG sudah mencapai level terendah. Jika mengeluarkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dari hitungan, IHSG berada di level 6.250. BREN merupakan saham penggerak dengan bobot yang sangat besar terhadap IHSG,
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan pandangan positifnya terhadap saham dari sektor yang defensif. Contohnya adalah saham ASII, TLKM, BMRI, BBCA, BBRI, CPIN, MYOR, MAPI dan ACES.
Bursa Saham Masih Didominasi IPO Mini
Pasar modal masih menjadi primadona korporasi mencari pendanaan. Salah satunya lewat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang tahun berjalan ini, ada 33 perusahaan menggelar aksi korporasi IPO. Jumlah itu bakal terus bertambah. Mengutip e-IPO, ada dua calon pendatang baru yang siap IPO. Mereka adalah PT Global Sukses Digital (DOSS) Tbk dan PT Esta Indonesia Tbk (NEST). Saat ini, DOSS dan NEST sedang menjalankan periode bookbuilding alias penawaran awal. Dalam prospektus, Global Sukses Digital (DOSS) menawarkan maksimal 450 juta saham baru dengan harga penawaran awal Rp 130–Rp 135 per saham. Dari IPO, DOSS hanya akan meraup dana antara Rp 58,50 miliar–Rp 60,75 miliar.
Bukan mustahil, ke depan, sejumlah emiten yang IPO di BEI mengincar pendanaan dengan emisi kecil. Berdasarkan data BEI, per 19 Juli 2024, masih ada 20 perusahaan di pipeline IPO saham.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna bilang, dalam pipeline IPO saham, ada 15 perusahaan dengan skala aset menengah atau di kisaran Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Pengamat Pasar Modal, Satrio Utomo menilai, pasar modal jadi alternatif pencarian dana korporasi paling murah. Pendanaan pasar saham tidak ada biaya tetap seperti bunga di perbankan. Masalahnya, ada pihak-pihak yang melakukan IPO dengan niat jelek.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas melihat wajar maraknya emiten kecil menggelar IPO. Hal ini tidak perlu diwaspadai. "Yang perlu diwaspadai emiten yang masih merugi atau memiliki fundamental kurang bagus," paparnya.
Selama, calon emiten punya fundamental bagus, terutama valuasi murah dan prospek ke depannya cerah, sahamnya masih layak dilirik.
Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT), Angga Septianus menimpali, saham emiten kecil biasanya lebih murah. Ini menarik investor menyerap saham IPO. Tapi, investor juga berpotensi merugi. Saham emiten kecil sangat volatil, dengan fluktuasi harga tajam.
Peta Emiten Big Caps Bergeser Lagi
Peta saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa kembali bergeser. Jajaran lima besar
market caps
terbesar di bursa kini mayoritas dihuni oleh emiten pertambangan.
Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar. Menyusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Amman Minerals Internasional Tbk (AMMN).
Beda nasib, PT Astra International Tbk (ASII) yang selama ini konsisten berada
top 10
big caps
terdepak dari klasemen. ASII sudah tak menghuni 10 besar
market caps
sejak 12 Juli 2024 lalu. Per Senin (22/4),
market caps
ASII sebesar Rp 182,99 triliun, masih lebih rendah dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Equity Research Analyst
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer mengatakan, saham ASII sudah turun cukup dalam. Nilainya terpangkas 20% sejak awal tahun. Hal ini membuat
market cap
ASII juga tergerus.
Selain itu, ada peluang kinerja ASII akan membaik di akhir semester I-2024 ini, didorong penjualan kendaran yang pulih pada bulan Juni.
Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menilai, masuknya mobil listrik dari China sempat membuat saham ASII dilanda aksi jual.
Senior Investment Information
Mirae Aset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, saham-saham
big cap
ini masih punya kinerja stabil. Harga sahamnya juga cenderung defensif. Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham ASII dengan target harga Rp 4.640–Rp 5.075. Sementara Miftahul merekomendasikan
trading buy
ASII dengan target Rp 4.640 per saham.
Pasar Saham Masih Bullish
Menanti perubahan di Jajaran LQ45
Jajaran saham terlikuid LQ45 akan kembali berubah dalam waktu dekat. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan evaluasi konstituen indeks LQ45, sejalan dengan masa berlaku LQ45 saat ini yang akan berakhir pada 31 Juli 2024.
Seperti diketahui, BEI telah mengubah ketentuan evaluasi mayor indeks, dari enam bulan sekali menjadi tiga bulan sekali. Biasanya, pengumuman hasil evaluasi akan disampaikan di pekan terakhir.
Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) berpotensi menyusul induk usahanya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) untuk masuk ke LQ45 periode Agustus-November 2024.
Head of Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan, selain ADMR, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) juga berpotensi kembali ke indeks LQ45.
Berdasarkan data RTI, dalam tiga bulan terakhir frekuensi transaksi AMDR mencapai 310.019 kali dengan
free float
sebesar 14,32%. Sementara, frekuensi transaksi JPFA mencapai 240.212 kali dengan
free float
43,26%.
Di sisi lain, kinerja indeks LQ45 masih tertekan. Sepanjang tahun ini, laju indeks LQ45 turun 5,26%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mencermati, tekanan pada indeks LQ45 disebabkan oleh rontoknya harga saham perbankan.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, saham LQ45 juga akan dipengaruhi rilis kinerja keuangan kuartal II-2024. Dia pun merekomendasikan saham AKRA, ANTM, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, ICBP, INDF, ITMG, KLBF, SMGR dan TLKM.
Investor Siap Melego Saham Emiten Tekno
Emiten teknologi di Tanah Air masih dihantui sentimen negatif. Terbaru, sejumlah emiten teknologi harus menghadapi rencana hengkangnya investor kakap pemilik sebagian saham perusahaan. Kabar tak sedap ini melanda dua emiten teknologi, yakni PT Bukalapak Tbk (BUKA) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Sumber KONTAN, menyebutkan, perusahaan pengelola dana kekayaan alias sovereign wealth fund (SWF) asal Singapura yakni Government of Singapore Investment Corporation (GIC) sedang mempertimbangkan untuk menjual kepemilikannya di BUKA dan EMTK. Jejak investasi GIC di pasar modal Indonesia dilakukan secara langsung lewat melalui entitas anak usahanya, yaitu Archipelago Investment Pte Ltd dan Salween Investment. Terlebih, GIC bukan lembaga SWF kacangan. Jejaring portofolio investasi SWF milik pemerintah Singapura ini tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk di emiten Indonesia.
Dikutip dari data Global SWF, saat ini total assets under management (AUM) atau dana yang dikelola GIC mencapai US$ 769 miliar atau setara Rp 12.380 triliun.
Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee melihat, langkah melego saham emiten teknologi dari private equity dipicu sejumlah faktor. Terutama, investor tidak melihat prospek emiten di masa depan.
Di tengah perjuangan berat memperbaiki kinerja, emiten teknologi dituntut untuk terus menggelar program promo agar bisa berkompetisi. "Emiten masih harus bakar uang untuk menjaga pertumbuhan dan pangsa pasar. Ini yang membuat investor cabut dari emiten itu," ujarnya, kemarin.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, jika investor kakap pergi, berarti mereka telah mencapai target investasi. Atau justru rugi dan beralih ke sektor lebih menguntungkan. Jadi ini bagian dari strategi investasi.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mencermati, peralihan investasi dari dan ke sektor teknologi dipengaruhi term of investment investor yang sudah berakhir. Dus, emiten harus bisa mencari sumber dana lain untuk menjaga pertumbuhan dan ekspansi bisnis.
Jeli Memilih Saat Terjadinya Rotasi
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertahan usai menembus level psikologis 7.300 pada pekan lalu. Selama dua hari berturut-turut di awal pekan ini, IHSG terus mengalami koreksi.
Menutup perdagangan Selasa (16/7), IHSG kembali melemah 0,75% ke posisi 7.224,29. Di tengah tertekannya IHSG, ada secercah harapan saham-saham di sektor yang tertinggal di paruh pertama, kini mulai bangkit di semester II-2024.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menyoroti tiga sentimen yang membuka potensi rotasi sektor saham. Pertama, meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter pasca rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
Kedua, normalisasi nilai tukar rupiah, yang kembali ke level Rp 16.200 per dolar AS. Ketiga, masih kuatnya makro ekonomi Indonesia. Terlihat dari surplus neraca dagang dan terjaganya tingkat inflasi.
Certified Elliott Wave Analyst Master
Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus turut melihat, potensi rotasi sektor di tengah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada September mendatang.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menilai, rotasi akan tergantung pada minat pasar serta sentimen pendukung atau penghambat dari masing-masing sektor.
Pilihan Editor
-
Neraca Komoditas Hapus Rekomendasi Ijin Ekspor
07 Apr 2021 -
IMF Dukung Pajak Minimum untuk Korporasi
07 Apr 2021









