Saham
( 1722 )Revisi Kebijakan FCA jadi Katalis IHSG
Laba 2023 Meroket, BRPT Siap Menyebar Dividen
Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) siap menyebar dividen sebesar US$ 5 juta dari laba bersih tahun buku 2023. Dengan menggunakan asumsi kurs pada penutupan pasar Jumat (14/6) Rp 16.412 per dolar Amerika Serikat, nilai dividen yang dibagi BRPT setara Rp 82,06 miliar. Pembagian dividen tersebut sudah direstui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BRPT yang digelar pada Jumat (14/6). Jika dihitung, rasio dividen BRPT jumlahnya setara 19,15% dari laba bersih tahun 2023 sebesar US$ 26,11 juta, naik dari US$ 1,75 juta pada 2022. Sekretaris Perusahaan & Direktur Barito Pacific David Kosasih bilang, para pemegang saham juga menyetujui alokasi sebesar US$ 20,85 juta sebagai laba ditahan untuk membiayai kegiatan usaha. Ini setara 79,85% dari laba bersih tahun buku 2023. Sisanya US$ 260.000 atau sekitar 1% disisihkan sebagai cadangan wajib. Selain RUPST, BRPT juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Direktur Barito Pacific Diana Arsiyanti mengungkapkan, dalam agenda tersebut para pemegang saham menyetujui pengalihan saham hasil pembelian kembali atau saham treasuri dengan cara pembagian saham bonus.
Dalam agenda itu, BRPT melaporkan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum yang terakhir, sisa dan hasil pelaksanaan waran Rp 117 miliar. Dana itu akan dipakai untuk modal kerja BRPT dan entitas anak. BRPT juga melaporkan hasil penawaran umum Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2023 sebesar Rp 972,7 miliar. Dana ini untuk membayar sebagian utang jangka panjang dan obligasi. Dari dana itu, realisasi yang telah terpakai Rp 129,6 miliar. Sisa dana Rp 843,1 miliar ditempatkan pada rekening milik BRPT pada bank di Indonesia. Selain itu, BRPT menghimpun dana Rp 991,8 miliar dari Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2023. Dana itu akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang jangka panjang dan utang obligasi milik BRPT. Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas memproyeksi, prospek kinerja BRPT ada peluang membaik. Terutama, dari sisi perbaikan cost produksi jika harga komoditas bisnis BRPT turun. Dampaknya, harga bahan baku produk BRPT ikut turun, sehingga bisa memperbaiki margin emiten ini. Analis InvestasiKu, Cheril Tanuwijaya sepakat, kinerja BRPT ke depan masih relatif riskan terhadap potensi harga minyak yang volatile di tahun ini.
Group Astra Perkuat Dominasi, Sahamnya Bangkit
Suku Bunga Tinggi Masih Membayangi Pasar Saham
Kegalauan pasar tentang arah suku bunga kini terjawab dalam hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Kamis (13/6). Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve kembali menahan tingkat suku bunga acuan di kisaran 5,25%-5,5%. Fed juga menegaskan sinyal suku bunga hanya akan dipangkas sekali pada tahun ini. Padahal sebelumnya, pelaku pasar memprediksikan ada tiga kali penurunan suku bunga tahun ini. Di awal perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di jalur hijau. IHSG baru berbalik arah ke zona merah sesaat sebelum tutup pasar, dengan koreksi 0,27% atau turun 18,53 poin ke level 6.831,56. Retail Analyst Maybank Sekuritas, Adi Wicaksono mengatakan, pasar nampaknya tak terlalu antusias merespons sikap The Fed karena sasaran inflasi di level 2% belum tercapai. Kepala Ekonom Bank Central Asia Tbk. (BCA) David Sumual menilai, arah kebijakan The Fed semakin jelas. Ini akan membawa sentimen positif terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Setali tiga uang, Kepala Ekonom Bank Mandiri , Andry Asmoro juga melihat potensi aliran masuk dana asing. Hal ini tentu akan memperkuat otot rupiah.
Bahkan, tak menutup kemungkinan rupiah menguat dan kembali ke bawah Rp 16.000, atau di kisaran Rp 15.813 per dolar AS pada akhir tahun ini. Lalu, imbal hasil surat berharga negara (SBN) diperkirakan berada di kisaran 6,82%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, sentimen global masih mendukung penguatan IHSG. Menurutnya, IHSG bisa berada di 7.350-7.460 pada akhir 2024. Target ini telah memperhitungkan penurunan suku bunga Fed sebanyak satu sampai dua kali. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan suku bunga acuan The Fed diperkirakan terlaksana paling cepat pada September 2024, seiringan dengan membaiknya data CPI AS. Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, ada potensi angin segar yang berhembus ke pasar obligasi. Hanya saja untuk pasar saham, dana asing kemungkinan baru masuk di bulan depan.
Review FCA dan Kebijakan The Fed Kunci Keberhasilan IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penurunan (-0,08%) pada Rabu (12/6/2024) ke level 6.850. Koreksi IHSG yang telah mencapai -5,81% sejak awal tahun ini (year to date/ytd), diharapkan terhenti apabila ada suntikan sentimen positif ke pasar seperti peninjauan ulang (review) kebijakan metode papan pemantauan khusus (full call auction/FCA) dan potensi penurunan suku bunga The Fed. Kedua sentimen ini bisa mengembalikan kepercayaan investor lokal dan asing untuk kembali masuk dan bertransaksi di pasar saham dalam negeri.
Analis Stocknow.id Abdul Haq mengungkapkan, tren baearish IHSG dimulai sejak kebijakan FCA diterapkan terhadap saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Hal ini menjadi sentimen pemberat bagi IHSG, dan menunjukkan bahwa investor kurang yakin terhadap kebijakan yang diterapkan oleh bursa saham BREN. "(IHSG berpotensi rebound) dengan adanya sentimen pendukung seperti BREN yang keluar dari papan pemantauan khusus (FCA) hingga capital inflow dari asing, yang disebabkan oleh peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia, pasca peninjauan ulang kebijakan FCA bursa," ujar Abdul. (Yetede)
Biaya Lebih Efisien, Laba Emiten Mendaki
Mayoritas emiten telah merilis laporan keuangan kuartal I-2024. Hasilnya, sejumlah emiten di berbagai sektor industri berhasil membalikkan rugi menjadi laba bersih. Contoh emiten teknologi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Di kuartal I-2024, EMTK berhasil mendulang laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas sebesar Rp 259,39 miliar, dari sebelumnya rugi Rp 330,98 miliar di kuartal I-2023. Laba bersih EMTK disokong pertumbuhan pendapatan emiten ini di kuartal pertama jadi Rp 2,48 triliun, naik dari Rp 2,19 triliun di kuartal I-2023. Selain EMTK, emiten yang berhasil membalikkan kerugian menjadi laba adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Di sepanjang tiga bulan 2024, emiten nikel ini meraup keuntungan US$ 3,66 juta atau setara Rp 59,62 miliar, membalikkan kerugian sebesar US$ 7 juta atau sekitar Rp 114,03 miliar di periode yang sama tahun lalu. Tidak mau kalah, emiten tambang emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), membalikkan kerugian sebesar US$ 14,98 juta menjadi laba bersih US$ 2,23 juta di kuartal I-2024. Beberapa emiten tambang, kesehatan hingga konsumsi juga sukses melakukan hal serupa.
Research Analyst Stocknow.id, Emil Fajrizki mengamati, performa emiten yang mampu mengubah rugi jadi laba bersih, merupakan indikasi ada perbaikan strategi manajemen keuangan emiten. "Ada upaya perbaikan dari sisi pengelolaan biaya, optimalisasi pendapatan, dan efisiensi proses bisnis," ungkap Emil kepada KONTAN, Selasa (11/6). Investment Consultant Reliance SekuritasIndonesia, Reza Priyambada sepakat, perbaikan bottom line memang menjadi indikasi penting untuk mengukur kinerja emiten. Namun, para pelaku pasar juga mesti mencermati indikator lain seperti pertumbuhan pendapatan, capaian laba kotor dan laba operasi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menimpali, mayoritas emiten yang membalikkan rugi jadi laba di kuartal I-2024, mampu melakukan efisiensi biaya, sehingga mendongkrak profitabilitas. "Proyeksi kinerja emiten di kuartal dua ada peluang untuk kembali mencetak laba. Terutama jika mampu mempertahankan efesiensi cost dan pos beban lain," kata Sukarno. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto mengingatkan, capaian kinerja emiten tidak selalu sejalan dengan pergerakan harga sahamnya. Fundamental emiten menjadi faktor penting, namun bukan satu-satunya katalis penggerak harga saham.
MANUVER MIKALA PASAR KOREKSI
Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih digelayuti sejumlah sentimen pemberat, membuat manajer investasi (MI) bermanuver untuk mengamankan kinerja portofolio mereka. Faktanya, kinerja pasar saham yang masih terbebani oleh sentimen eksternal, kembali dilanda koreksi setelah saham 'jumbo' PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), masuk Papan Pemantauan Khusus (PPK) yang menerapkan full call auction(FCA). Emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Oktober 2023 dan mendulang kenaikan harga saham itu sempat memiliki kapitalisasi pasar Rp1.500 triliun. Hal tersebut akhirnya membawa beban tambahan bagi pergerakan IHSG. Hingga perdagangan terakhir, Selasa (11/6), Bloomberg mencatat IHSG masih terkoreksi 0,95% secara harian ke 6.855 sehingga mengakumulasi koreksi tahun berjalan sebesar 5,74%. Mengiringi koreksi indeks komposit, deretan saham berkapitalisasi jumbo mendominasi deretan saham yang tertekan paling dalam sepanjang 2024.
Saham penyokong IHSG lainnya yang mengalami koreksi harga, seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tergerus 24,2%; PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang anjlok 27,1%; dan PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar 23% sepanjang 2024. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan kebijakan itu membuat saham berkapitalisasi pasar jumbo menjadi rawan dan berpotensi menekan kinerja reksa dana saham. Berdasarkan data Pasardana.id, perusahaan memiliki produk HPAM Smart Beta Ekuitas yang menempatkan dana pada saham BREN sebesar 2,9% pada akhir Maret, dan naik menjadi 5,4% pada April 2024. Adapun, saham BREN tercatat naik signifi kan mulai 19 Maret—22 Mei 2024.
Sejak awal tahun hingga akhir Mei, produk HPAM Smart Beta Ekuitas memberikan imbal hasil 8,51%, sekaligus menjadi produk reksa dana saham dengan imbal hasil tertinggi berdasarkan data Pasardana.id. Bloomberg pada Selasa (11/6) juga mencatat sejumlah manajer investasi turut menggenggam saham BREN seperti PT Syailendra Capital melalui produk Syailendra Equity Opportunity Fund, dan PT Pinnacle Persada Investama melalui produk Pinnacle Granditas Dynamic Balanced Fund. "Penggunaan analisis yang ketat dan pemilihan timing yang tepat juga menjadi kunci untuk meminimalisir risiko dan mengoptimalkan return, termasuk dalam mengantisipasi saham yang mungkin masuk PPK FCA," ujar Reza kepada Bisnis, Selasa (11/6). Dihubungi terpisah, Direktur Marketing Avrist Asset Management Agus Sugianto mengatakan, dalam menyusun portofolio reksa dana saham, perusahaan mencermati saham-saham dengan fundamental baik yang memiliki risiko minim menjadi penghuni PPK. Terkait penerapan PPK FCA, Agus menyarankan semua investor untuk memperhatikan kondisi fundamental dan kewajaran aktivitas perdagangan setiap instrumen yang akan menjadi bagian dari portofolio investasinya.
Senada, Chief Investment Offi cer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu mengatakan kebijakan FCA membawa dampak minimal terhadap dana kelolaan dan kinerja imbal hasil reksa dana saham perusahaan. Sinarmas AM tetap melakukan strategi investasi dengan meluncurkan reksa dana dengan kelas aset saham, salah satunya Reksa Dana Indeks Simas Sri-Kehati.
Terlebih, ada ruang bagi bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan yang membawa penguatan pada pasar saham di sisa tahun ini. Menurutnya, kala sinyal pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed makin jelas, pasar secara kompak akan menguat atau bullish. Oleh karena itu, Sinarmas AM memproyeksi IHSG dapat mencapai 7.700 hingga akhir tahun 2024, dengan mencerminkan price earning (PE) 13,2 kali dengan pertumbuhan laba emiten berkisar 8%-10%.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan kebijakan itu sebenarnya ditujukan untuk memberikan kesempatan kedua kepada saham berfundamental baik tetapi diperdagangkan pada harga Rp50 per saham. Dia pun mengakui mendapatkan keluhan investor kendati telah melakukan sosialisasi.
Kinerja Lesu, Saham Industri Masih Layu
Industri masih belum berenergi. Tampak dari indeks sektoral yang terjun sedalam 14,8% secara tahunan atau year to date (ytd) hingga perdagangan Senin (10/6). IDX Industrials menjadi sektor dengan penurunan terdalam ketiga setelah sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik. Kedua sektor itu masing-masing mengakumulasi penurunan 27,63% dan 21,23% sejak awal 2024. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, emiten di sektor industri relatif sensitif terhadap sentimen makro ekonomi, kebijakan moneter dan pergerakan nilai tukar rupiah. Nah, sentimen yang ada sejauh ini cenderung menekan sebagian emiten di sektor industri. Tekanan itu cukup tergambar dari kinerja kuartal I-2024 sejumlah emiten di sektor ini. Audi mencontohkan PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang laba bersih mereka menyusut hingga double digits. Toh,
Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga tengah melandai. Meski masih bertahan di zona ekspansi, PMI Manufaktur per Mei 2024 menyusut 0,8 poin secara bulanan dari 52,9 menjadi 52,1. Di sisi lain, secara pembobotan saham ASII masih menopang sektor industri. Tapi kinerja emiten holding multi-industri tersebut sedang tertekan. Secara ytd, saham ASII mengakumulasi pelemahan 20,18%, di jajaran atas saham laggard penggerus indeks. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal sektor industri masih downtrend dan masih didominasi volume penjualan. Herditya menyarankan buy on weakness ASII dengan estimasi target harga di Rp 4.720 - Rp 4.860. Lalu speculative buy UNTR dengan target harga Rp 22.850 - Rp 23.350 dan MARK target Rp 965 - Rp 1.020.
Penarikan Modal Investor Masih Tinggi
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menurun signifikan dalam sebulan terakhir hingga akhir Mei 2024. Aksi penarikan modal oleh investor pasar modal masih tinggi disebabkan kekhawatiran kebijakan suku bunga yang akan turun lebih lama. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menyampaikan, IHSG melemah 3,64 % dalam sebulan terakhir. Tren koreksi tersebut menyumbang penurunan signifikan sepanjang 2024. ”Di pasar saham IHSG terkoreksi 4,15 % year to date ke level 6.970,74,” papar Inarno dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (10/6) di Jakarta.
Pelemahan sepanjang tahun berjalan bersamaan dengan nilai penjualan bersih saham atau net sell sebesar Rp 6,25 triliun. Nilai kapitalisasi di pasar modal pun hanya naik 1,29 % menjadi Rp 11.825 triliun sejak awal tahun 2024. Sementara pada penutupan perdagangan Senin (10/6), IHSG ditutup di level 6.921,54 atau sedikit menguat dari perdagangan pada hari terakhir pekan lalu yang sebesar 0,34 %. Kapitalisasi saham tercatat turun menjadi Rp 11.637 triliun per hari ini. Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam laporan analisisnya menjelaskan, pergerakan IHSG mengikuti tren bursa regional Asia yang cenderung masih tertekan sikap pelaku pasar saham yang berhati-hati menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS, The Fed, di pekan ini. (Yoga)
Saham Banking Kembali Bangkit
Pilihan Editor
-
Ribuan Ton Daging Kerbau Akan Serbu RI
24 Mar 2021









