;
Tags

Saham

( 1717 )

Saham Plat Merah Masih Belum Bergairah

HR1 22 Jun 2024 Kontan

Sederet kendala terus menimpa emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mulai dari kasus hukum, tumpukan utang hingga masalah fundamental kinerja keuangan. Walhasil kapitalisasi pasar (market cap) emiten BUMN melorot. Sebagai perbandingan, di akhir tahun 2023, market cap IDX BUMN20 berjumlah Rp 2.446,62 triliun. Sementara kemarin market cap IDX BUMN20 ini sekitar Rp 2.112,33 triliun. Artinya kapitalisasi pasar emiten BUMN menguap Rp 334,29 triliun year to date (ytd). Mari kita tengok berbagai borok di BUMN farmasi. Kinerja holding BUMN sektor kesehatan, yaitu PT Bio Farma sakit, kerugian mencapai Rp 2,16 triliun pada tahun lalu. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF), sebagai anggota holding BUMN kesehatan menjadi sorotan pelaku pasar. Apalagi, ada indikasi fraud dan kasus jeratan pinjaman online pada INAF. Kasus hukum dugaan korupsi jual beli gas juga menimpa emiten PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). 

Sebelumnya, ada PT Timah Tbk (TINS) yang terbawa dalam pusaran kasus tata kelola timah. Tak pelak, kinerja saham beberapa emiten BUMN ikut terpuruk. Di sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terus menukik. Kemarin, saham BBRI ditutup menguat 3,98% ke Rp 4.440. Bayang-bayang perlambatan kinerja, tantangan era suku bunga tinggi dan risiko naiknya non-performing loan (NPL), jadi salah satu penghambat gerak saham emiten bank BUMN. Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menyoroti masalah yang dialami emiten BUMN di berbagai sektor. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy punya catatan serupa.

Emiten BUMN tidak boleh mengesampingkan aspek good corporate governance (GCG), apalagi punya tanggungjawab terhadap investor publik. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora sepakat, di antara saham emiten BUMN, hanya saham perbankan yang menunjukkan prospek apik. Secara teknikal, saham big bank menunjukkan sinyal reversal dan investor mulai beralih ke posisi beli. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyarankan buy on weakness BBRI dan BBNI, target harga Rp 4.680-Rp 4.750 dan Rp 4.470-Rp 4.800. Kemudian, trading buy saham ANTM dan PGAS dengan target harga masing-masing Rp 1.300-Rp 1.360 dan Rp 1.550-Rp 1.570 per saham.

JALAN TENGAH RIUH FCA

HR1 22 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)

Aktivitas perdagangan pasar modal kembali bergairah dengan revisi aturan papan pemantauan khusus menggunakan mekanisme lelang saham penuh atau full periodic call auction (PPK FCA) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menghijau 0,89% ke level 6.879. Salah satu perubahan yang ditunggu adalah aturan mengenai saham di papan pemantauan khusus akibat aktivitas perdagangan. Saham akan keluar dari papan pemantauan jika telah berada di sana selama 7 hari bursa. Perusahaan yang masuk papan pemantauan khusus sebelum aturan ini berlaku pun dikeluarkan dari papan. Enam saham yang terlepas dari papan pemantauan adalah PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Haloni Jane Tbk (HALO), PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA), PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI), dan PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI). BREN dan SRAJ kembali ke papan utama, sementara HALO, LABA, MAXI, dan SCPI ke papan pengembangan.

Nilai ini mengalahkan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang memiliki kapitalisasi Rp1.183,44 triliun. SRAJ menguat 1,78% ke harga 2.290 dan melesat 663,33% sepanjang tahun berjalan. LABA meroket 34,81% dan MAXI naik 1,96%, sementara SCPI dan MAXI stagnan karena masih terkena suspensi. Aturan PPK FCA ini sempat menuai kontroversi sejak diberlakukan pada Maret 2024. Polemik terjadi saat saham BREN, yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar, masuk dalam pemantauan pada akhir Mei 2024, investor pun protes. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset, menilai revisi ini tepat saat IHSG mengalami tren penurunan. Penguatan IHSG menghentikan tren pelemahan selama ini. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menjelaskan perubahan ketentuan papan pemantauan khusus dari 30 hari menjadi 7 hari bursa berdasarkan fluktuasi harga yang mereda. Fluktuasi saham mereda setelah 7 hari, sehingga tidak perlu sampai 30 hari kalender. “Secepat mungkin [informasi] ini dikeluarkan kepada pasar, karena peraturan ini diharapkan tidak menimbulkan kepanikan,” lanjutnya.

Perwakilan investor ritel, Founder of Indonesia Investment Education, Rita Effendy, menilai revisi ini sudah cukup positif dan menunjukkan pihak otoritas mendengar keluhan investor ritel. Cheril Tanuwijaya, Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas), menjelaskan pelemahan IHSG semester I/2024 karena faktor global dan domestik. Ketidakpastian kebijakan moneter The Fed dan adaptasi penerapan mekanisme FCA turut memengaruhi pasar. “Dari domestik, sikap wait-and-see investor terhadap kebijakan dan susunan kabinet baru juga masih membayangi, selain juga adaptasi pelaku pasar terhadap penerapan mekanisme full call auction atau FCA,” ujar Cheril.

Ancaman Mengintai Saham GOTO

KT1 22 Jun 2024 Investor Daily (H)

Saham PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diperkirakan masih menapaki jalan terjal untuk bangkit kembali, setelah harganya masuk jajaran saham 'gocap' alias Rp 50. Proyeksi terburuknya, GOTO dapat masuk Papan Pemantauan Khusus dan terdepan dari indeks MSCL. Founder Stock.id Hendra Wardana mengatakan, jika kinerja saham GOTO terus menurun dan masuk dalam papan pemantauan khusus, nasib saham tersebut bisa menghadapi beberapa konsekuensi serius. Pertama, masuknya ke papan pemantauan khusus akan berdampak negatif  pada persepsi investor karena papan ini biasanya diisi oleh saham-saham dengan masalah serius, serta kinerja keuangan yang buruk atau ketidakpastian operasional yang tinggi. "Hal ini bisa menyebabkan investor makin ragu untuk mempertahankan atau membeli saham GOTO, memperburuk tekanan jual dan menyebabkan harga saham terus turun," jelas dia kepada Investor Daily. Kedua, lanjut Hendra, saham yang masuk dalam papan pemantauan khusus akan diperdagangkan dengan mekanisme ini berarti saham hanya dapat diperdagangkan pada waktu-waktu tertentu, dalam sehari, yang mengurangi likuiditas dan membuat saham kurang menarik bagi investor yang mengingkan fleksibilitas dalam perdagangan. (Yetede)

Menakar Prospek IPO di Tengah Volatilitas Pasar Saham

KT1 20 Jun 2024 Investor Daily (H)


Volatilitas pasar yang tinggi dan tren bearish indeks harga saham gabungan (IHSG), tak menyurutkan langkah sejumlah perusahaan untuk  melakukan penawaran umum perdana (initial publik offering/IPO) saham di penghujung semester satu tahun ini. Tercatat, saat ini sudah ada enam perusahaan yang melakukan penawaran awal (bookbuilding) IPO, yakni PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES), PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART), PT Indo American Seafood Tbk (ISEA), PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS), dan PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF).

"Dalam kondisi saham volatile, tentu investor cenderung lebih berhati-hati untuk bertransaksi di pasar saham IPO. Namun, peluang tetap ada untuk perusahaan dengan fundamental yang kuat  dan sektor yang dianggap defensif  atau memiliki prospek pertumbuhan yang cerah," kata Analis Stocknow.id Muhammad Thoriq Fadila kepada Investaor daily. (Yetede)

Revisi Kebijakan FCA jadi Katalis IHSG

KT1 18 Jun 2024 Investor Daily (H)
Revisi Kebijakan Full Call Auction (FCA) yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini diharapkan bisa menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). meski demikian, pergerakan indeks akan dibayangi sejumlah sentimen negatif dari dalam dan luar negeri selama tiga hari perdagangan di pekan ini, antara lain pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang pada akhir pekan lalu ditutup di Rp 16.394. Tercatat IHSG ditutup melemah 1,40% ke level 6.734,83 pada akhir pekan lalu. Dalam jangka pendek IHSG akan berada di level support 6.696 dan resistance 6.846. Adapun hasil review penerapan mekanisme FCA dalam Papan Pemantauan Khusus yang berlaku sejak 25 Mei 2024 silam, terdapat penyesuaian pada empat kriteria utama yakni nomor 1,6,7, dan 10. (Yetede)

Laba 2023 Meroket, BRPT Siap Menyebar Dividen

HR1 15 Jun 2024 Kontan

Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) siap menyebar dividen sebesar US$ 5 juta dari laba bersih tahun buku 2023. Dengan menggunakan asumsi kurs pada penutupan pasar Jumat (14/6) Rp 16.412 per dolar Amerika Serikat, nilai dividen yang dibagi BRPT setara Rp 82,06 miliar. Pembagian dividen tersebut sudah direstui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BRPT yang digelar pada Jumat (14/6). Jika dihitung, rasio dividen BRPT jumlahnya setara 19,15% dari laba bersih tahun 2023 sebesar US$ 26,11 juta, naik dari US$ 1,75 juta pada 2022. Sekretaris Perusahaan & Direktur Barito Pacific David Kosasih bilang, para pemegang saham juga menyetujui alokasi sebesar US$ 20,85 juta sebagai laba ditahan untuk membiayai kegiatan usaha. Ini setara 79,85% dari laba bersih tahun buku 2023. Sisanya US$ 260.000 atau sekitar 1% disisihkan sebagai cadangan wajib. Selain RUPST, BRPT juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Direktur Barito Pacific Diana Arsiyanti mengungkapkan, dalam agenda tersebut para pemegang saham menyetujui pengalihan saham hasil pembelian kembali atau saham treasuri dengan cara pembagian saham bonus.

Dalam agenda itu, BRPT melaporkan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum yang terakhir, sisa dan hasil pelaksanaan waran Rp 117 miliar. Dana itu akan dipakai untuk modal kerja BRPT dan entitas anak. BRPT juga melaporkan hasil penawaran umum Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2023 sebesar Rp 972,7 miliar. Dana ini untuk membayar sebagian utang jangka panjang  dan obligasi. Dari dana itu, realisasi yang telah terpakai Rp 129,6 miliar. Sisa dana Rp 843,1 miliar ditempatkan pada rekening milik BRPT pada bank di Indonesia. Selain itu, BRPT menghimpun dana Rp 991,8 miliar dari Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2023. Dana itu akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang jangka panjang dan utang obligasi milik BRPT. Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas memproyeksi, prospek kinerja BRPT ada peluang membaik. Terutama, dari sisi perbaikan cost produksi jika harga komoditas bisnis BRPT turun. Dampaknya, harga bahan baku produk BRPT ikut turun, sehingga bisa memperbaiki margin emiten ini. Analis InvestasiKu, Cheril Tanuwijaya sepakat, kinerja BRPT ke depan masih relatif riskan terhadap potensi harga minyak yang volatile di tahun ini.

Group Astra Perkuat Dominasi, Sahamnya Bangkit

KT1 14 Jun 2024 Investor Daily (H)
Group Astra melalui PT Astra Internasional Tbk (ASII) memperkokoh dominasi di industri otomotif Tanah Air dengan penguasaan pasar (market share) 58% di bulan Mei 2024, naik dari 55% di bulan sebelumnya. Kenaikan penjualan yang yang mencapai 54%, dan menjadi yang  tertinggi 2024 tersebut, memberi bahan bakar baru bagi pergerakan saham perseroan di lantai bursa. Terbukti, harga saham ASII kembali bangkit, dan diyakini bakal terus melaju hingga Rp 5.900.  Pada perdagangan Kamis (13/06/2024) saham ASII ditutup menguat +2,29% ke posisi Rp 4.460 . Analis Indo Premier Sekuritas Giovanni Dustin dan Ryan Dimitry melihat bahwa pergerakan harga  saham ASII saat ini sudah mencerminkan sentimen negatif yang terjadi (price in). Di mana saham ASII telah turun -21,06% sejak awal tahun. "Kami mengulangi rekomondasi beli saham ASII dengan target harga Rp 5.900" kata Giovanni. (Yetede)

Suku Bunga Tinggi Masih Membayangi Pasar Saham

HR1 14 Jun 2024 Kontan (H)

Kegalauan pasar tentang arah suku bunga kini terjawab dalam hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Kamis (13/6). Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve kembali menahan tingkat suku bunga acuan di kisaran 5,25%-5,5%. Fed juga menegaskan sinyal suku bunga hanya akan dipangkas sekali pada tahun ini. Padahal sebelumnya, pelaku pasar memprediksikan ada tiga kali penurunan suku bunga tahun ini. Di awal perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di jalur hijau. IHSG baru berbalik arah ke zona merah sesaat sebelum tutup pasar, dengan koreksi 0,27% atau turun 18,53 poin ke level 6.831,56. Retail Analyst Maybank Sekuritas, Adi Wicaksono mengatakan, pasar nampaknya tak terlalu antusias merespons sikap The Fed karena sasaran inflasi di level 2% belum tercapai. Kepala Ekonom Bank Central Asia Tbk. (BCA) David Sumual menilai, arah kebijakan The Fed semakin jelas. Ini akan membawa sentimen positif terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Setali tiga uang, Kepala Ekonom Bank Mandiri , Andry Asmoro juga melihat potensi aliran masuk dana asing. Hal ini tentu akan memperkuat otot rupiah.

Bahkan, tak menutup kemungkinan rupiah menguat dan kembali ke bawah Rp 16.000, atau di kisaran Rp 15.813 per dolar AS pada akhir tahun ini. Lalu, imbal hasil surat berharga negara (SBN) diperkirakan berada di kisaran 6,82%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, sentimen global masih mendukung penguatan IHSG. Menurutnya, IHSG bisa berada di 7.350-7.460 pada akhir 2024. Target ini telah memperhitungkan penurunan suku bunga Fed sebanyak satu sampai dua kali. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan suku bunga acuan The Fed diperkirakan terlaksana paling cepat pada September 2024, seiringan dengan membaiknya data CPI AS. Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, ada potensi angin segar yang berhembus ke pasar obligasi. Hanya saja untuk pasar saham, dana asing kemungkinan baru masuk di bulan depan.

Review FCA dan Kebijakan The Fed Kunci Keberhasilan IHSG

KT1 13 Jun 2024 Investor Daily (H)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penurunan (-0,08%) pada Rabu (12/6/2024) ke level 6.850. Koreksi IHSG yang telah mencapai -5,81% sejak awal tahun ini (year to date/ytd), diharapkan terhenti apabila ada suntikan sentimen positif ke pasar  seperti peninjauan ulang (review) kebijakan metode papan pemantauan khusus (full call auction/FCA) dan potensi penurunan suku bunga The Fed. Kedua sentimen ini bisa mengembalikan kepercayaan investor  lokal dan asing untuk kembali masuk dan bertransaksi di pasar saham dalam negeri. 

Analis Stocknow.id Abdul Haq mengungkapkan, tren baearish IHSG dimulai sejak kebijakan FCA diterapkan terhadap saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Hal ini menjadi sentimen pemberat bagi IHSG, dan menunjukkan bahwa  investor kurang yakin terhadap kebijakan yang diterapkan oleh bursa saham BREN. "(IHSG berpotensi rebound)  dengan adanya sentimen pendukung seperti BREN yang keluar dari papan pemantauan khusus (FCA) hingga capital inflow dari asing, yang disebabkan oleh peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia, pasca peninjauan ulang kebijakan FCA bursa," ujar Abdul. (Yetede)

Biaya Lebih Efisien, Laba Emiten Mendaki

HR1 12 Jun 2024 Kontan

Mayoritas emiten telah merilis laporan keuangan kuartal I-2024. Hasilnya, sejumlah emiten di berbagai sektor industri berhasil membalikkan rugi menjadi laba bersih. Contoh emiten teknologi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Di kuartal I-2024, EMTK berhasil mendulang laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas sebesar Rp 259,39 miliar, dari sebelumnya rugi Rp 330,98 miliar di kuartal I-2023. Laba bersih EMTK disokong pertumbuhan pendapatan emiten ini di kuartal pertama jadi Rp 2,48 triliun, naik dari Rp 2,19 triliun di kuartal I-2023. Selain EMTK, emiten yang berhasil membalikkan kerugian menjadi laba adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Di sepanjang tiga bulan 2024, emiten nikel ini meraup keuntungan US$ 3,66 juta atau setara Rp 59,62 miliar, membalikkan kerugian sebesar US$ 7 juta atau sekitar Rp 114,03 miliar di periode yang sama tahun lalu. Tidak mau kalah, emiten tambang emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), membalikkan kerugian sebesar US$ 14,98 juta menjadi laba bersih US$ 2,23 juta di kuartal I-2024. Beberapa emiten tambang, kesehatan hingga konsumsi juga sukses melakukan hal serupa.

Research Analyst Stocknow.id, Emil Fajrizki mengamati, performa emiten yang mampu mengubah rugi jadi laba bersih, merupakan indikasi ada perbaikan strategi manajemen keuangan emiten. "Ada upaya perbaikan dari sisi pengelolaan biaya, optimalisasi pendapatan, dan efisiensi proses bisnis," ungkap Emil kepada KONTAN, Selasa (11/6). Investment Consultant Reliance SekuritasIndonesia, Reza Priyambada sepakat, perbaikan bottom line memang menjadi indikasi penting untuk mengukur kinerja emiten. Namun, para pelaku pasar juga mesti mencermati indikator lain seperti pertumbuhan pendapatan, capaian laba kotor dan laba operasi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menimpali, mayoritas emiten yang membalikkan rugi jadi laba di kuartal I-2024, mampu melakukan efisiensi biaya, sehingga mendongkrak profitabilitas. "Proyeksi kinerja emiten di kuartal dua ada peluang untuk kembali mencetak laba. Terutama jika mampu mempertahankan efesiensi cost dan pos beban lain," kata Sukarno. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto mengingatkan, capaian kinerja emiten tidak selalu sejalan dengan pergerakan harga sahamnya. Fundamental emiten menjadi faktor penting, namun bukan satu-satunya katalis penggerak harga saham.