Saham
( 1722 )Risiko Tinggi Saham Papan Akselerasi
Indeks Papan Akselerasi tumbuh lumayan kencang sejak awal tahun ini. Meski begitu, perlu diingat kalau fluktuasi harga di indeks ini cukup tinggi. Sehingga risikonya juga besar. Sepanjang tahun berjalan, Indeks Papan Akselerasi sudah menguat 32,97%, Selasa (16/7). Angka ini jauh lebih tinggi daripada Indeks Papan Utama yang turun 0,64% dan Papan Pengembangan yang menguat 4,92%. Di tengah penguatan harga saham Indeks Papan Akselerasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut, kinerja keuangan emiten-emiten di papan ini juga membaik. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, ada peningkatan kualitas terhadap saham-saham di Papan Akselerasi. Berdasarkan data BEI, rata-rata pendapatan perusahaan di Papan Akselerasi menguat dari Rp 48,82 miliar di tahun 2020 menjadi Rp 49,26 miliar pada akhir 2023. Pada periode yang sama, emiten yang tercatat di Papan Akselerasi menghasilkan rata-rata keuntungan Rp 2,43 miliar di 2023.
Angka ini meningkat dari rata-rata Rp 46 juta pada tahun 2020 silam.
Kemudian pada 2023, aset yang dimiliki oleh emiten-emiten tersebut rata-rata meningkat menjadi Rp 111,43 miliar dari Rp 88,07 miliar pada 2020 lalu. Kautsar memastikan BEI terus berupaya untuk meningkatkan kualitas emiten agar dapat menjadi pilihan investasi yang menarik dan aman bagi investor pasar modal.
Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito mencermati, lonjakan yang terjadi pada saham-saham yang tercatat di papan akselerasi bisa jadi disebabkan oleh pengaruh dari pemodal, bahkan pemilik perusahaan.
Parto mengatakan,
annualized risk
saham-saham di Papan Akselerasi tercatat paling tinggi dibandingkan LQ45 dan IDX30. Catatan Infovesta,
annualized risk
Indeks Papan Akselerasi mencapai 19,50%. Tasrul Tanar,
Research Team
Mirae Asset Sekuritas menambahkan, kenaikan saham-saham di Papan Akselerasi ini bisa disebabkan oleh rotasi yang dilakukan oleh investor.
Tren Pertumbuhan Positif IHSG Belum Diiringi Kenaikan Kinerja Sektor Konsumen
Indeks Harga Saham Gabungan telah terpompa ke level 7.200-7.300 dalam sebulan terakhir dari level 6.700. Namun, pertumbuhan indeks belum diikuti perbaikan kinerja saham sektor konsumen. Per Senin (15/7) IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup pada level 7.278,863. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memprediksi, dengan kondisi pasar saat ini, IHSG akan menguji area psikologisnya di area 7.369-7.403 selama pecan ini. ”Jika data sepekan ke depan sesuai ekspektasi pasar, ada kemungkinan IHSG akan menembus area psikologis tersebut dan akan menguji level berikutnya di 7.454,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin. Tren dan prediksi pertumbuhan IHSG, menurut dia, ditopang sentimen kebijakan suku bunga, khususnya dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan CME FedWatch, yang mengukur tingkat kemungkinan penurunan suku bunga oleh The Fed, 86,4 % responden optimistis The Fed mulai akan memangkas suku bunganya pada September 2024, meningkat dibanding beberapa hari sebelumnya yang hanya 70 %. Hal ini didasarkan pada inflasi tahunan AS yang turun ke level 3 % secara tahunan pada Juni 2024. Tingkat inflasi ini sudah turun tiga bulan berturut-turut dan terendah sejak Juli 2023. Dari sisi inflasi inti, yang tidak memperhitungkan variabel energi dan makanan, juga mengalami penurunan ke level 3,3 %, terendah selama tiga tahun terakhir.
Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Abyan Yuntoharjo, dalam laporannya, sektor konsumen sebenarnya masih menghadapi banyak kendala. ”Perusahaan konsumen nonsiklikal (consumer non-cyclical/barang konsumen primer menghadapi lingkungan yang menantang dengan prospek pertumbuhan yang terbatas. Meskipun ada peristiwa besar, sebagian besar perusahaan di sektor ini berkinerja buruk,” kata Abyan. Sektor konsumen siklikal, yang menyangkut produk selain kebutuhan primer, juga masih mengalami perlambatan karena harga bahan baku yang tidak stabil dan rupiah yang melemah. (Yoga)
Menanti Laju IHSG Menuju Level Tertinggi
Setelah sempat tersungkur cukup dalam pada awal bulan Juni lalu, tenaga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai kembali kencang. IHSG telah menembus level psikologis 7.300 dan parkir di area 7.327,58 setelah mengakumulasi kenaikan 1,02% sepanjang pekan lalu. Arus masuk dana dari investor asing ( capital inflow ) masih mengalir dengan posisi beli bersih ( net buy ) Rp 1,56 triliun dalam sepekan. Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengamati, gerak menanjak IHSG terdongkrak oleh rebound saham big caps. Ada sejumlah katalis domestik dan eksternal yang meniupkan angin segar ke pasar saham. Pertama , penguatan nilai tukar rupiah yang sudah balik ke level Rp 16.154 per dolar Amerika Serikat (AS) ikut mendorong akselerasi IHSG. Kedua, reli IHSG terangkat oleh sinyal positif dari AS terhadap potensi pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada akhir kuartal III-2024.Pelaku pasar memproyeksikan, pemangkasan suku bunga akan berlangsung pada September 2024. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Riska Afriani menyoroti katalis domestik. Menurutnya, penguatan rupiah mengindikasikan kebijakan moneter dari Bank Indonesia ada di jalur yang tepat.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, evaluasi peraturan di pasar modal juga menjadi katalis penting.
Sementara itu,
Certified Elliott Wave Analyst Master
Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengamati, investor masih akan mengantisipasi rilis kinerja keuangan emiten periode kuartal II-2024.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi turut menyoroti, salah satu pemberat IHSG adalah jika kinerja emiten
bluechip
tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sebagai pilihan investasi jangka panjang, Riska menyarankan beli bertahap empat saham
big bank
. Saham properti dan konstruksi, yang sedang berusaha membentuk tren pembalikan arah juga bisa dicermati.
Stock Split Akhiri Predikat Dian Swastatika Sebagai Saham Termahal
PT Dian Swastika Sentosa Tk (DSSA) akan melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:10. Aksi ini mengakhiri predikat emiten batu bara Group Sinar Mas ini sebagai saham termahal di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai analis memberikan proyeksi beragam terkait masa depan DSSA selepas stock split. Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengestimasi, saham DSSA setelah stoc split akan mengalami perubahan signifikan, terutama menyangkut peningkatan likuiditas saham.
Soalnya, harga saham DSSA akan lebih menjadi terjangkau bagi para investor ritel. "Dengan harga yang lebih rendah. Volume perdagangan saham DSSA akan meningkat yang membuatnya lebih likuid di pasar," kata Hendra. Ditambah, secara analis fundamental, kinerja DSSA juga memperlihatkan hasil yang cukup positif. Dari sisi profitabilitas misalnya, return on equity (RoE) perseroan mencapai 23,02%, alias lebih tinggi daripada rata-rata industri dan sektornya yang sebesar 20,64%. (Yetede)
Buyback Memantik Asa Penguatan Harga
Sejumlah emiten sudah mulai mengeksekusi rencana pembelian kembali alias buyback saham. Salah satunya, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Berdasarkan dokumen laporan bulanan registrasi pemegang efek yang diterbitkan pada Selasa (9/7), jumlah saham treasuri GOTO mencapai 14,09 miliar atau setara 1,17%. Jumlah tersebut meningkat dari sebelumnya, yaitu 10,26 miliar saham. Nilai itu setara dengan 0,85% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor. Kenaikan jumlah saham treasuri ini mengindikasikan, GOTO telah membeli 3,83 miliar saham. Jika mengacu rata-rata harga saham belakangan ini, emiten teknologi itu telah merogoh kocek sekitar Rp 191,25 miliar untuk buyback. Selain GOTO, beberapa emiten dengan kapitalisasi pasar besar dan menengah juga tengah mengeksekusi buyback. Salah satunya adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang sudah menyiapkan dana buyback hingga Rp 400 miliar. Dari sektor farmasi, ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang menyiapkan Rp 1 triliun untuk membeli kembali sahamnya di pasar. Sedangkan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sudah mendapat izin buyback sejak 16 Mei 2024 lalu dengan dana sekitar Rp 4 triliun.
Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, aksi
buyback
saham mengurangi jumlah saham beredar, yang akan berdampak pada rasio keuangan perusahaan.
Senada,
Head of Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, aksi
buyback
emiten menunjukkan komitmen emiten dalam menjaga nilai perusahaan.
Memang kalau dicermati beberapa emiten yang berencana untuk
buyback
harga sahamnya sudah terkoreksi cukup dalam. Ambil contoh, saham GOTO sudah anjlok 41,86% secara tahunan hingga penutupan Rabu (10/7).
Pada periode yang sama, INTP ambles 22,07% secara year to date. Tekanan juga terjadi pada saham KLBF yang melemah 4,97%. Tapi,
buyback
juga belum tentu langsung mengangkat harga saham. Saham GOTO juga masih bertengger di level gocap.
Dari beberapa emiten yang telah mengantongi restu
buyback, Audi merekomendasikan
hold
KLBF dengan ADRO dengan masing-masing target harga Rp 1.650 dan Rp 3.320. Dia juga merekomendasikan beli INTP dengan target Rp 8.725.
Minim Emiten Baru di Bursa
Minim Emiten Baru di Bursa
Grup Astra Kuasai 60% Pasar Otomotif, Sahamnya Menjanjikan
Terancam Delisitng 50 Emiten
Emiten Atur Strategi Saat Rupiah Lemah
Fluktuasi nilai tukar rupiah masih cukup kencang. Masih adanya potensi pelemahan rupiah membuat para emiten mengutak-atik strategi agar tak terperangkap dalam rugi kurs. Belakangan ini, rupiah memang mulai menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tapi sejak awal tahun ini pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai lebih 6% . Mata uang Garuda masih betah bergerak di rentang Rp 16.300 hingga Rp 16.400. Per Kamis (4/7), rupiah berada di posisi Rp 16.330 per dolar AS. Fluktuasi tinggi nilai tukar menjadi momok bagi emiten yang punya utang besar dalam USD. Salah satunya PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang tercatat memiliki utang obligasi sebesar US$ 131,96 juta atau setara Rp 2,09 triliun per 31 Maret 2024. Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Land Justini Omas menjelaskan ada beberapa strategi yang disiapkan APLN. Pertama, APLN mampu mengkonversi seluruh pembiayaan menjadi rupiah, sehingga sejalan dengan sumber pendapatan yang diperoleh. Kedua, memperkuat likuiditas, seiring hilangnya tekanan akibat peningkatan beban bunga utang valuta asing.
"Ketiga, dukungan kepercayaan bank dalam negeri dengan memberikan pinjaman dalam jumlah besar. Ini membuktikan value APLN, jelasnya kepada KONTAN, Rabu (3/7). Emiten properti lainnya seperti PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) juga masih tercatat punya utang jangka panjang sebesar US$ 3,60 miliar. Sekretaris Perusahaan ASRI Tony Rudiyanto mengatakan, untuk menekan eksposur pinjaman dolar, ASRI akan menggantinya ke pinjaman dalam rupiah. Di saat emiten lain menghindari utang dalam mata uang asing, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) justru punya rencana untuk menerbitkan obligasi global senilai US$ 900 juta. Pada kuartal I-2024, 44% dari total utang TBIG dalam bentuk rupiah dan sisanya dolar AS. Namun, manajemen TBIG optimistis pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi kinerja. Direktur TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan, saat menerbitkan surat utang dalam dolar AS dan pinjaman bank, TBIG telah memiliki hedging sepanjang tenor obligasi maupun pinjaman. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Adityo Nugroho menjelaskan, emiten yang punya pendapatan rupiah dan secara bersamaan memiliki komposisi utang dolar AS yang tinggi memang lebih berisiko terkena rugi kurs saat rupiah melemah.
Pilihan Editor
-
Menkeu Terbitkan Aturan Jamin Pelaksanaan PSN
06 Apr 2021 -
Membangun Ekosistem Keuangan Digital
05 Apr 2021 -
Hegemoni Bank BUMN
19 Mar 2021 -
Crypto Art Jadi Peluang Usaha Seni di Indonesia
29 Mar 2021








