;
Tags

Saham

( 1717 )

Minim Emiten Baru di Bursa

KT1 10 Jul 2024 Tempo
JUMLAH emiten baru di Bursa Efek Indonesia anjlok. Pada paruh pertama 2024, hanya ada 25 perusahaan yang melakukan penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) dengan nilai US$ 248 juta. Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu, terdapat 44 perusahaan dengan total penggalangan dana sebesar US$ 2,28 miliar. 

Hasil analisis Deloitte dalam laporan bertajuk Southeast Asia Mid-Year IPO Snapshot 2024 yang terbit pada Juli ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah emiten dipicu oleh sikap investor dan perusahaan yang memilih menahan diri. Mereka menanti perubahan kebijakan ekonomi pemerintah. Pasalnya, pada paruh pertama 2024, Indonesia menghadapi kenaikan suku bunga yang sekarang mencapai 6,25 persen serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sudah menembus level Rp 16 ribu. 

Meski begitu, pasar saham Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan sejumlah negara di Asia Tenggara dari sisi jumlah IPO. Namun, dari sisi nilai yang diraih, Malaysia mengantongi dana lebih besar dengan total US$ 450 juta dari 21 IPO. Selain itu, ada Thailand dengan total penggalangan dana US$ 427 juta dari 17 IPO. 

Assurance Advisory Partner Deloitte Konsultan Indonesia, Jasmin Maranan, mengatakan performa bursa saham Indonesia tahun ini mungkin tak akan sebaik pada 2023. Saat itu banyak perusahaan melantai dengan dana jumbo. Rata-rata penggalangan dana pada semester I 2023 mencapai US$ 50 juta, sedangkan pada periode yang sama tahun ini hanya US$ 10 juta. "Tapi Indonesia tetap menjadi pilihan untuk perusahaan dengan pertumbuhan tinggi di bidang teknologi, pertanian, dan energi terbarukan," katanya. (Yetede)

Grup Astra Kuasai 60% Pasar Otomotif, Sahamnya Menjanjikan

KT1 10 Jul 2024 Investor Daily (H)
PT Astra Internasional (Tbk) (ASII) mencatatkan penjualan 231.792 unit mobil pada semester I-2024, atau mencapai 60% dari total penjualan mobil nasional yang sebesar 408.012 unit. Pengusaha  pasar (marker share) yang meningkat dari periode sama tahun lalu yang sebanyak 56% tersebut, menjadi indikasi kian kokohnya posisi Grup Astra di industri otomotif Tanah Air. Saham pun, diyakini perseroan yang sekarang bercokol di Rp 4.560 tersebut pun, diyakini bisa terkerek hingga Rp 6.500 di tahun ini. Berdasarkan data penjualan  mobil domestik Grup Astra, perseroan mencatatkan penjualan 43.908 unit pada bulan Juni Mei 2024, naik 6,3% dibandingkan bulan Mei 2024 yang sebanyak 41.314 unit. Sementara sepanjang Januari-Juni 2024, Grup Astra meraup penjualan 231.792 unit atau turun -16,59% dibanding semester I-2023 yang sebanyak 277.924 unit. (Yetede)

Terancam Delisitng 50 Emiten

KT1 10 Jul 2024 Tempo
BURSA Efek Indonesia (BEI) mengumumkan ada 50 saham yang berpotensi dicoret pencatatannya dari lantai bursa atau delisting. Peringatan dari otoritas bursa ini diumumkan pada 30 Juni 2024. BEI membeberkan penyebab perusahaan-perusahaan itu terancam delisting lantaran sudah lama mengalami suspensi atau penghentian sementara. "Suspensi perdagangan saham atas perusahaan tercatat telah mencapai enam bulan berturut-turut per 28 Juni 2024," tulis BEI.

Perusahaan yang masuk daftar BEI itu bergerak di bidang properti, perindustrian, hingga infrastruktur. Termasuk di antaranya emiten perusahaan pelat merah PT Waskita Karya Tbk. BUMN di bidang konstruksi dan pengembang infrastruktur itu telah mengalami suspensi sejak 8 Mei 2023 atau selama 13 bulan. Penyebabnya, BEI menilai emiten berkode WSKT tersebut terkena kondisi atau peristiwa negatif, baik secara finansial maupun hukum, yang mempengaruhi kinerja perusahaan.

Risiko delisting semakin menghantui Waskita bila tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Sebelumnya, perdagangan saham Waskita dibekukan karena gagal membayar bunga dan pokok obligasi atau surat utang. Saham WSKT didepak sementara dari perdagangan karena adanya penundaan pembayaran bunga ke-11 atas Obligasi Berkelanjutan IV Waskita Karya Tahap I Tahun 2020, yang jatuh tempo pada 6 Mei 2024. (Yetede)

Emiten Atur Strategi Saat Rupiah Lemah

HR1 05 Jul 2024 Kontan

Fluktuasi nilai tukar rupiah masih cukup kencang. Masih adanya potensi pelemahan rupiah membuat para emiten mengutak-atik strategi agar tak terperangkap dalam rugi kurs. Belakangan ini, rupiah memang mulai menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tapi sejak awal tahun ini pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai lebih 6% . Mata uang Garuda masih betah bergerak di rentang Rp 16.300 hingga Rp 16.400. Per Kamis (4/7), rupiah berada di posisi Rp 16.330 per dolar AS. Fluktuasi tinggi nilai tukar menjadi momok bagi emiten yang punya utang besar dalam USD. Salah satunya PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang tercatat memiliki utang obligasi sebesar US$ 131,96 juta atau setara Rp 2,09 triliun per 31 Maret 2024. Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Land Justini Omas menjelaskan ada beberapa strategi yang disiapkan APLN. Pertama, APLN mampu mengkonversi seluruh pembiayaan menjadi rupiah, sehingga sejalan dengan sumber pendapatan yang diperoleh. Kedua, memperkuat likuiditas, seiring hilangnya tekanan akibat peningkatan beban bunga utang valuta asing. 

"Ketiga, dukungan kepercayaan bank dalam negeri dengan memberikan pinjaman dalam jumlah besar. Ini membuktikan value APLN, jelasnya kepada KONTAN, Rabu (3/7).  Emiten properti lainnya seperti PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) juga masih tercatat punya utang jangka panjang sebesar US$ 3,60 miliar. Sekretaris Perusahaan ASRI Tony Rudiyanto mengatakan, untuk menekan eksposur pinjaman dolar, ASRI akan menggantinya ke pinjaman dalam rupiah. Di saat emiten lain menghindari utang dalam mata uang asing, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) justru punya rencana untuk menerbitkan obligasi global senilai US$ 900 juta. Pada kuartal I-2024, 44% dari total utang TBIG dalam bentuk rupiah dan sisanya dolar AS. Namun, manajemen TBIG optimistis pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi kinerja. Direktur TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan, saat menerbitkan surat utang dalam dolar AS dan pinjaman bank, TBIG telah memiliki hedging sepanjang tenor obligasi maupun pinjaman. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Adityo Nugroho menjelaskan, emiten yang punya pendapatan rupiah dan secara bersamaan memiliki komposisi utang dolar AS yang tinggi memang lebih berisiko terkena rugi kurs saat rupiah melemah.

Delisting Makin Marak, Perketat Seleksi IPO

KT1 04 Jul 2024 Investor Daily (H)
BEI mengeluarkan daftar 50 saham yang terancam dicoret dari pencatatan (delisting), karena sudah disusppensi selama enam bulan lebih. Sejumlah kalangan lantas meminta BEI memperketat seleksi  perusahaan yang berencana  menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Dengan memperketat seleksi IPO, hanya emiten berkualitas yang bisa melantai di bursa. Ini akan mencegah kerugian para investor ritel. Sebab, ketika suatu saham terkena delisting, pemegang saham ritel akan sulit  mendapatkan dananya kembali, apalagi jika perusahaan terkait bangkrut. Pada prinsipnya, perusahaan yang bangkrut dan dilikuidasi, prosesnya harus melalui penetapan pengadilan. (Yetede)

Jasa Marga dan Group Salim Kian Mesra

KT1 02 Jul 2024 Investor Daily (H)
Hubungan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan perusahaan afiliasi Grup Salim kian mesra. Jalinan spesial ini terungkap setelah Jasa marga resmi melepas 35% sahamnya di PT Jasamarga Transjawa Tolloroad (JJT), pengeola Tol Trans Jawa, kepada konsorsium Grup Salim selaku calon mitra strategis. Konsorsium Grup Salim yang siap membeli 35% atau mewakili 6,2 miliar saham JJT ini terdiri dari PT Metro Pacific Tollways Indonesia Services (MPTIS), kemudian Warrington Investment Pte. Ltd (WIPL)-anak usaha dari Sovereign Wealth Fund (WSF) Singapura yakni Goverment of Singapore Investment (GIC), dan META melalui anak usahanya PT Marga Utama Nusantara (MUN). Pembelian atas 35% saham JTT itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli (PPJB) oleh Jasa Marga dan konsorsium GIC-MPTIS tersebut pada 28 Juni 2024. Sebagai bagian dari rangkaian transaksi PPJB saham tersebut, kedua belah pihak juga telah meneken perjanjian pernyertaan saham bersyarat (PPSB) di mana JTT berencana menerbitkan sebanyak 1,20 miliar saham baru kepada MPTIS. (Yetede)

Beli Saham Bagus di Harga Diskon

KT3 25 Jun 2024 Kompas

Anjloknya mayoritas harga saham di Bursa Efek Indonesia telah membuat banyak investor ketar-ketir. Tahan atau lepaskan, cenderung menjadi pertimbangan ketika menatap portofolio saham mereka kali ini. Padahal, situasi ini bisa menjadi kesempatan emas untuk berinvestasi di produk berkualitas dengan harga diskon. Menjelang pengujung Juni 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tumbuh negatif 6 % sejak awal tahun. IHSG sempat mencapai titik terendah di kisaran 6.700 pada pertengahan Juni. Penurunan ini imbas dari keluarnya investor asing dari pasar saham (net foreign sell) di pasar reguler dan negosiasi senilai Rp 10 triliun sejak awal tahun.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menjelaskan, selama triwulan kedua 2024, perekonomian global masih diliputi ketidakpastian kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang berdampak tingginya suku bunga perbankan dan pelemahan nilai tukar rupiah. Faktor ini menjadi sentiment negatif bagi sebagian saham di BEI. Di antaranya saham dari sektor perbankan yang kempis setelah ditinggalkan banyak investor asing. Kemudian, saham dari sektor telekomunikasi, properti, dan sektor saham lain yang terpengaruh pelemahan rupiah dan suku bunga tinggi. Nafan menilai, mitigasi risiko terkait anjloknya harga saham beragam tergantung dari tujuan berinvestasi.Menjual saham di kala harganya turun bisa jadi dipilih investor jangka pendek atau trader.

Namun, ini bisa jadi tidak sebijak menahan saham, terlebih jika saham itu dimiliki perusahaan dengan fundamental yang baik dan menunjukkan tren pembalikan harga secara teknikal. ”Kalau saham di perusahaan yang punya fundamental bagus, juga secara teknikal sebenarnya sudah oversold (terlalu banyak dijual). Namun, di sisi lain downtrend-nya terbatas karena beberapa momentum. Hemat saya tahan sahamnya,” ujarnya di Jakarta, Kamis (20/6). Di sisi lain, faktor ekonomi global yang membuat banyak harga saham turun serentak justru menjadi momentum bagus baik untuk trader maupun investor jangka panjang membeli saham di harga diskon. Nafan menilai, pekan terakhir Juni menjadi waktu yang pas untuk memanfaatkan kesempatan ini. Hal ini mengingat IHSG mulai mengarah pada pembalikan indeks.

Sejak 19 Juni hingga 21 Juni 2024, IHSG kembali naik ke kisaran 6.900. Pada pembukaan perdagangan Senin (24/6), IHSG tumbuh 0,3 %. Meski masih ada ketidakpastian terkait ekonomi makro dunia dan peningkatan risiko ekonomi dalam negeri karena masa transisi pemerintahan, potensi penurunan suku bunga The Fed satu kali sampai akhir tahun, kemudian kebijakan BI menahan suku bunga di level 6,25 % bulan ini menjadi sentimen positif bagi IHSG. Pada saat bersamaan, pelemahan rupiah yang membuat untung pelaku usaha komoditas ekspor dan emiten terkait komoditas tersebut, seperti bahan dasar dan energi, mencegah IHSG turun lebih dalam. Tren pemulihan IHSG, kata Nafan, juga diprediksi berlanjut hingga bulan Juli yang akan lebih kondusif. Hal ini mengacu pada tren IHSG pada bulan tersebut delapan tahun terakhir yang selalu menghijau hingga maksimal 4 %. (Yoga)


PANAS CUAN SAHAM BATU BARA

HR1 25 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kontras dengan merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG), IDX Energy justru melaju dengan menjadi indeks sektoral paling cuan sepanjang tahun berjalan 2024. Tak heran, meski dibayangi risiko volatilitas harga batu bara, saham emiten-emiten energi yang getol mendiversifi kasi portofolio asetnya dinilai menarik untuk dilirik investor.IDX Energy telah menguat 7,91% secara year-to-date(YtD) hingga Senin (24/6) atau outperform terhadap IHSG yang tergelincir turun 5,27% pada periode yang sama ke posisi 6.889,16. Motor pertumbuhan IDX Energy berasal dari lonjakan harga saham sejumlah emiten batu bara a.l. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang melejit 198,75% dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) yang naik 14,29% secara YtD.Kinerja ciamik itu terjadi saat harga batu bara ICE Newcastle bertengger di level US$132,05 per ton atau menguat 8,5% secara tahunan. Merujuk DataIndonesia.id, level tersebut telah menjauh dari posisi harga batu bara yang menyentuh US$404,15 per ton pada akhir 2022. Sejak 2012, batu bara berjangka saat ini telah naik 18,64% dari posisi US$111,30 per ton.Menjelang paruh kedua 2024, mitigasi pun disiapkan emiten ketika normalisasi harga batu bara terus bergulir. Salah satunya, PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) yang tetap berfokus pada pengendalian biaya dan mengejar target produksi sebanyak 50 juta ton pada 2024."Strategi kami dengan melakukan pembelanjaan sesuai dengan prinsip cost consciousness dan menjaga kas perseroan dengan hati-hati," kata Corporate Secretary Golden Energy Mines Sudin, Senin (24/6).

Terpisah, Direktur Utama PT Baramulti Suksessarana Tbk. (BSSR) Widada mengungkapkan perseroan bakal memaksimalkan produksi pada tahun ini. Targetnya, BSSR membidik volume produksi hingga 18 juta ton atau lebih rendah dari realisasi 21,57 juta ton pada 2023.Menurut Widada, target produksi itu sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang disetujui Kementerian ESDM. Namun, BSSR tengah mempertimbangkan untuk merevisi naik target tersebut. Widada menambahkan harga batu bara yang cenderung stabil diharapkan berlanjut pada kuartal III/2024 sebelum berpotensi merangkak naik pada 3 bulan terakhir tahun ini.Untuk mendukung pencapaian target produksi tersebut, BSSR menganggarkan belanja modal sebesar US$81 juta pada 2024 yang bersumber dari kas internal. Direktur BSSR Wong Liong Tje menyebut 67% capital expenditureakan digunakan untuk keperluan land clearing, 26% untuk infrastruktur, dan sisanya untuk pembaruan alat-alat kerja. Menyoal prospek emiten batu bara, Deputi Head of Research Sinarmas Sekuritas Inav Haria Chandra memaparkan saham emiten komoditas energi itu masih cukup menarik minat investor pada semester I/2024 karena capaian laba bersih pada triwulan pertama tidak seburuk ekspektasi pasar. Sela-in itu, fenomena upgrade harga saham batu bara juga terpantik oleh kucuran dividen yang cukup tinggi.

Meski demikian, Inav mengatakan investor yang masih berminat untuk emiten di sektor ini dapat melirik korporasi yang giat mediversifikasi bisnis ke luar batu bara, seperti PT Harum Energy Tbk. (HRUM) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).Dihubungi terpisah, analis Mirae Asset Sekuritas Rizkia Darmawan menjelaskan saat ini harga komoditas energi tersebut memang tidak sebaik dari tahun lalu. Akan tetapi, hal itu cukup sesuai dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan harga batu bara tidak setinggi tahun lalu karena situasi yang berbeda. Darma memperkirakan harga batu bara bergerak di kisaran US$101—US$150 per ton. Selain harga, volume produksi, permintaan impor India dan China, serta kinerja keuangan masing-masing emiten pada kuartal selanjutnya menjadi sentimen yang akan memengaruhi manuver sahamnya di lantai bursa.

Menakar Dampak Tarif Cukai Terhadap Kinerja Emiten MBDK

HR1 24 Jun 2024 Kontan

Sentimen negatif membayangi kinerja emiten produsen minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Salah satunya, bisnis mereka dibayangi implementasi kebijakan tarif cukai minuman berpemanis di tahun ini. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, penerapan tarif cukai minuman berpemanis berpotensi menaikkan beban pokok penjualan. Ini akan memengaruhi kemampuan mereka menghasilkan laba. Meski begitu, kata Azis, porsi penjualan MBDK di beberapa emiten tidak begitu besar. Contohnya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Cisarua Mountain Diary Tbk (CMRY).

Penjualan makanan di ketiga emiten  tersebut justru memiliki porsi yang lebih besar. Meski begitu, saat ini daya beli masyarakat masih cenderung melambat. Terlebih, pada semester II-2024, ada sejumlah libur perayaan hari besar. "Kondisi ini cenderung membuat konsumsi masyarakat menurun," jelas Azis. Senada, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi mencermati, daya beli konsumen  kelas menengah semakin tergerus akibat aktivitas bisnis terus melemah. Seiring itu, permintaan barang konsumsi akan tertekan di kuartal dua hingga kuartal tiga tahun ini. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, ada sejumlah saham emiten MBDK yang patut dicermati. Secara teknikal, dia merekomendasikan speculatif buy saham MYOR dengan target harga Rp 2.480-Rp 2.540 dan saham PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dengan target Rp 1.875-1.925. 

Melirik EIDO Saat Pasar Saham Loyo

HR1 24 Jun 2024 Kontan

Kinerja indeks saham asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat (AS), iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) melanjutkan penguatan di akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (21/6), indeks EIDO ditutup menguat ke posisi 18,79, atau naik 2,57% dibanding penutupan di hari sebelumnya. Jika dihitung dalam sepekan, indeks EIDO naik 2,96%. Menguatnya indeks EIDO, salah satunya ditopang laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Jumat pekan lalu, IHSG menguat 0,89% ke posisi 6.879,97 dari hari sebelumnya. Dalam sepekan, IHSG menguat 0,44%. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, di tengah kencangnya volatilitas pasar saham domestik, EIDO jadi alternatif investor asing untuk melirik saham-saham emiten di Indonesia.

Head of Research STAR Asset Management David Arie Hartono menimpali, kinerja indeks EIDO masih terkoreksi di sepanjang tahun berjalan ini. "Sejak awal tahun ini sampai 17 Juni 2024, kinerja indeks EIDO sudah turun 14,37%," ujarnya, pekan lalu. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, kinerja indeks EIDO tergolong sideways secara major. Terutama, jika Bank Indonesia (BI) konsisten menjalankan strategi triple intervention, nilai rupiah akan kembali di bawah Rp 16.000 per dolar AS. "Jika  ekonomi domestik sudah stabil dan rupiah menguat, aliran dana asing akan masuk. Alhasil, prospek indeks EIDO masih bagus," tutur Nafan.