Emiten Atur Strategi Saat Rupiah Lemah
Fluktuasi nilai tukar rupiah masih cukup kencang. Masih adanya potensi pelemahan rupiah membuat para emiten mengutak-atik strategi agar tak terperangkap dalam rugi kurs. Belakangan ini, rupiah memang mulai menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tapi sejak awal tahun ini pelemahan rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai lebih 6% . Mata uang Garuda masih betah bergerak di rentang Rp 16.300 hingga Rp 16.400. Per Kamis (4/7), rupiah berada di posisi Rp 16.330 per dolar AS. Fluktuasi tinggi nilai tukar menjadi momok bagi emiten yang punya utang besar dalam USD. Salah satunya PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang tercatat memiliki utang obligasi sebesar US$ 131,96 juta atau setara Rp 2,09 triliun per 31 Maret 2024. Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Land Justini Omas menjelaskan ada beberapa strategi yang disiapkan APLN. Pertama, APLN mampu mengkonversi seluruh pembiayaan menjadi rupiah, sehingga sejalan dengan sumber pendapatan yang diperoleh. Kedua, memperkuat likuiditas, seiring hilangnya tekanan akibat peningkatan beban bunga utang valuta asing.
"Ketiga, dukungan kepercayaan bank dalam negeri dengan memberikan pinjaman dalam jumlah besar. Ini membuktikan value APLN, jelasnya kepada KONTAN, Rabu (3/7). Emiten properti lainnya seperti PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) juga masih tercatat punya utang jangka panjang sebesar US$ 3,60 miliar. Sekretaris Perusahaan ASRI Tony Rudiyanto mengatakan, untuk menekan eksposur pinjaman dolar, ASRI akan menggantinya ke pinjaman dalam rupiah. Di saat emiten lain menghindari utang dalam mata uang asing, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) justru punya rencana untuk menerbitkan obligasi global senilai US$ 900 juta. Pada kuartal I-2024, 44% dari total utang TBIG dalam bentuk rupiah dan sisanya dolar AS. Namun, manajemen TBIG optimistis pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi kinerja. Direktur TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan, saat menerbitkan surat utang dalam dolar AS dan pinjaman bank, TBIG telah memiliki hedging sepanjang tenor obligasi maupun pinjaman. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Adityo Nugroho menjelaskan, emiten yang punya pendapatan rupiah dan secara bersamaan memiliki komposisi utang dolar AS yang tinggi memang lebih berisiko terkena rugi kurs saat rupiah melemah.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Potensi Lonjakan Rasio Utang perlu Diwaspadai
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Afrika Tunjukkan Inovasi Pembayaran Bebas Dolar
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023