Beli Saham Bagus di Harga Diskon
Anjloknya mayoritas harga saham di Bursa Efek Indonesia telah membuat banyak investor ketar-ketir. Tahan atau lepaskan, cenderung menjadi pertimbangan ketika menatap portofolio saham mereka kali ini. Padahal, situasi ini bisa menjadi kesempatan emas untuk berinvestasi di produk berkualitas dengan harga diskon. Menjelang pengujung Juni 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tumbuh negatif 6 % sejak awal tahun. IHSG sempat mencapai titik terendah di kisaran 6.700 pada pertengahan Juni. Penurunan ini imbas dari keluarnya investor asing dari pasar saham (net foreign sell) di pasar reguler dan negosiasi senilai Rp 10 triliun sejak awal tahun.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menjelaskan, selama triwulan kedua 2024, perekonomian global masih diliputi ketidakpastian kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang berdampak tingginya suku bunga perbankan dan pelemahan nilai tukar rupiah. Faktor ini menjadi sentiment negatif bagi sebagian saham di BEI. Di antaranya saham dari sektor perbankan yang kempis setelah ditinggalkan banyak investor asing. Kemudian, saham dari sektor telekomunikasi, properti, dan sektor saham lain yang terpengaruh pelemahan rupiah dan suku bunga tinggi. Nafan menilai, mitigasi risiko terkait anjloknya harga saham beragam tergantung dari tujuan berinvestasi.Menjual saham di kala harganya turun bisa jadi dipilih investor jangka pendek atau trader.
Namun, ini bisa jadi tidak sebijak menahan saham, terlebih jika saham itu dimiliki perusahaan dengan fundamental yang baik dan menunjukkan tren pembalikan harga secara teknikal. ”Kalau saham di perusahaan yang punya fundamental bagus, juga secara teknikal sebenarnya sudah oversold (terlalu banyak dijual). Namun, di sisi lain downtrend-nya terbatas karena beberapa momentum. Hemat saya tahan sahamnya,” ujarnya di Jakarta, Kamis (20/6). Di sisi lain, faktor ekonomi global yang membuat banyak harga saham turun serentak justru menjadi momentum bagus baik untuk trader maupun investor jangka panjang membeli saham di harga diskon. Nafan menilai, pekan terakhir Juni menjadi waktu yang pas untuk memanfaatkan kesempatan ini. Hal ini mengingat IHSG mulai mengarah pada pembalikan indeks.
Sejak 19 Juni hingga 21 Juni 2024, IHSG kembali naik ke kisaran 6.900. Pada pembukaan perdagangan Senin (24/6), IHSG tumbuh 0,3 %. Meski masih ada ketidakpastian terkait ekonomi makro dunia dan peningkatan risiko ekonomi dalam negeri karena masa transisi pemerintahan, potensi penurunan suku bunga The Fed satu kali sampai akhir tahun, kemudian kebijakan BI menahan suku bunga di level 6,25 % bulan ini menjadi sentimen positif bagi IHSG. Pada saat bersamaan, pelemahan rupiah yang membuat untung pelaku usaha komoditas ekspor dan emiten terkait komoditas tersebut, seperti bahan dasar dan energi, mencegah IHSG turun lebih dalam. Tren pemulihan IHSG, kata Nafan, juga diprediksi berlanjut hingga bulan Juli yang akan lebih kondusif. Hal ini mengacu pada tren IHSG pada bulan tersebut delapan tahun terakhir yang selalu menghijau hingga maksimal 4 %. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023