;

Menilai Daya Tarik Saham Defensif

Ekonomi Hairul Rizal 04 Sep 2024 Kontan
Menilai Daya Tarik Saham Defensif

Saham berkategori defensif berpotensi kembali unjuk gigi ketika alarm industri dan ekonomi mulai berdering. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali terkontraksi ketika ekonomi mengalami deflasi. S&P Global mencatat PMI Indonesia Agustus 2024 berada di level 48,9 atau turun 0,4 poin dari bulan sebelumnya di 49,3. Dua bulan beruntun industri manufaktur nasional berada di bawah level 50 alias di zona kontraksi. Sementara itu, inflasi bulan Agustus berada di level 2,12% secara tahunan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,06. IHK mengalami deflasi selama empat bulan beruntun, dengan tingkat deflasi 0,03% secara bulanan pada Agustus 2024. Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto mengamati ketika pasar sedang bullish, biasanya performa saham defensif cenderung tertinggal. Lantaran sering kurang diperhatikan oleh mayoritas investor yang ingin memanfaatkan euforia penguatan pasar. Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey turut melihat, saham defensif seperti di sektor konsumen primer belum menjadi pilihan menarik. 

Saham di sektor ini lebih sebagai diversifikasi aset bagi investor yang agresif. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa memprediksi, pemangkasan suku bunga acuan The Fed akan menjadi sentimen penting, termasuk bagi saham defenif. Langkah ini bisa mendorong konsumsi serta meringankan beban emiten yang memiliki utang dalam mata uang AS. Pandhu menilai, saham barang konsumsi dan ritel masih defensif, bersamaan saham telekomunikasi. Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki menambahkan, saham sektor kesehatan dan energi pada segmen utilitas juga tergolong defensif.

Tags :
#Saham
Download Aplikasi Labirin :