;
Tags

Saham

( 1717 )

Volatilitas yang Tinggi Berimbas ke Pergerakan IHSG

KT1 02 Oct 2024 Investor Daily (H)
Volatilitas yang tinggi di pasar modal dalam beberapa waktu terakhir, berimbas ke pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG yang sempat mencatatkan rekor tertinggi baru di 7.905 pada 19 September 2024 lalu, berbalik meroosot tajam ke level 7.500an di awal pekan ini. Meski demikian, kalangan analis menilai kondisi ini justru bisa dimanfaatkan oleh investor untuk mulai berburu saham-saham murah yang sudah terdiskon. Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, meskipun IHSG sempat tertekan cukup signifikan dengan penurunan hingga 2,2% pada awal pekan ini, prospek kinerja pasar saham Indonesia masih positif dalam jangka  menengah ke panjang. "Situasi ini mencerminkan ketidakpastian di pasar yang membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," ujar dia kepada Investaor Daily, Selasa (1/10/2024). Menurut Hendra, beberapa faktir global turut mempengarui sentimen negaitf ini. Dari kebijakan moneter AS, potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed membuat aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. (Yetede)

Indeks Bisnis-27 Melaju di Pasar Saham

HR1 02 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Sepanjang kuartal III/2024, indeks Bisnis-27 menunjukkan kinerja yang positif dengan mencatatkan kenaikan sebesar 8,50%, mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 5,65%. Katalis utama yang mendukung kenaikan ini adalah kebijakan The Fed yang memangkas suku bunga, serta keputusan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00%. Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) memimpin penguatan dalam indeks Bisnis-27 dengan kenaikan 17,73%, diikuti oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dengan 13,58%, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dengan 8,97%.

Keberhasilan indeks ini turut mendongkrak performa produk reksa dana terkait seperti Bahana ETF Bisnis-27 dan UOBAM Indeks Bisnis-27, yang mencatat imbal hasil positif selama setahun dan tiga tahun terakhir. Faktor lain yang mendukung pertumbuhan pasar adalah rendahnya inflasi Agustus 2024 sebesar 2,12% (YoY) serta surplus neraca perdagangan Indonesia selama 52 bulan berturut-turut.

IHSG Merana di Tengah Arus Dana Asing ke China

HR1 01 Oct 2024 Kontan

Dana investor asing menguap dari bursa saham dalam negeri. Pada perdagangan Senin (30/9), investor asing mencatat penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp 3,10 triliun di seluruh pasar. Dalam lima hari terakhir, net sell asing sudah mencapai Rp 7,7 triliun. Investor asing terpantau banyak melepas kepemilikannya di saham blue chip, terutama sektor perbankan. Aliran dana asing paling deras keluar dari saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net foreign sell Rp 3,99 triliun dalam lima hari terakhir. Menyusul saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan net sell lebih dari Rp 1 triliun. Dana asing di sejumlah negara termasuk Indonesia, ditengarai memang sedang pindah haluan ke bursa saham China. Investor global melihat kesempatan berburu saham-saham undervalue di China yang akan terdorong kebijakan stimulus. Hal ini juga terlihat dari pergerakan indeks saham di China yang menguat signifikan. Shanghai Composite Index (SSEC) melonjak 8,06% dalam satu hari ke 3.336,5. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah mengatakan, efek stimulus yang digelontorkan oleh People Bank of China (PBoC) memang cukup signifikan memengaruhi pasar saham regional belakangan ini. "Namun, kalau perekonomian China pulih, Indonesia yang akan diuntungkan karena pasar ekspor Indonesia ke China besar," jelasnya kepada KONTAN, Senin (30/9). Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan, penurunan indeks di pasar China selama ini telah membuat valuasi saham di Negeri Tirai Bambu semakin murah. 

Selain itu, saat IHSG bulan September sudah naik kencang, pasar China yang masih berada di level bawah akan lebih menarik bagi investor asing. Menurut Nico, perlu kekuatan baru bagi China untuk bisa bangkit. "Namun ini hanya sentimen sesaat karena fundamental China belum membaik," katanya. Nico menilai, saham-saham yang dilego investor asing masih menarik dan murah sehingga bisa dilirik. Saham pilihannya jatuh pada BBRI dengan target harga di Rp 5.750, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI ) dengan target harga Rp 7.850 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 11.550. Investor juga bisa mencermati saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Sedangkan saham pilihan Fath ialah saham perbankan blue chip. Selain itu, saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Adaro Energy Indonesia (ADRO) juga bisa dicermati. Senior Investment Strategist Bank DBS Joanne Goh menilai, aliran modal bisa kembali masuk, jika pemangkasan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves kembali berlanjut di bulan November dan Desember 2024.

Logam Emiten: Katalis Baru untuk Permintaan Pasar

HR1 01 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Paket stimulus People’s Bank of China (PBOC) diprediksi membawa dampak positif pada saham-saham emiten tambang logam, seperti yang disampaikan oleh Gubernur PBOC Pan Gongsheng. Stimulus ini melibatkan pemangkasan suku bunga reverse repo dan giro wajib minimum (GWM), yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan komoditas logam dari China.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus, memperkirakan stimulus ini akan mendorong permintaan logam, termasuk timah dan nikel. Mereka merekomendasikan beli untuk saham PT Timah Tbk. (TINS) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL). Analis Ciptradana Sekuritas Asia, Thomas Radityo, juga memperkirakan kenaikan harga logam hingga 2026, terutama untuk nikel dan timah.

Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas dan Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas melihat sentimen positif ini akan mendorong kinerja emiten tambang logam pada paruh kedua 2024. Nafan menyarankan akumulasi beli untuk saham ANTM dan MDKA. Namun, Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas berpendapat bahwa penguatan harga logam mungkin tidak akan signifikan hingga akhir tahun.

General Manager Corporate Communication MDKA, Tom Malik, mengonfirmasi bahwa stimulus PBOC telah meningkatkan permintaan dan harga logam, terutama emas, perak, dan tembaga. Selain itu, VP Tiger Warrior Maybank Sekuritas, Doni Setiowibowo, menilai bahwa sektor properti China yang didorong oleh stimulus ini akan meningkatkan permintaan nikel, memberikan keuntungan bagi saham-saham seperti INCO dan ANTM.

Saham Kembali Menjadi Primadona

KT3 27 Sep 2024 Kompas
Pelonggaran kebijakan moneter global serta pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, dan Bank Indonesia telah menciptakan gelombang baru di pasar modal dan keuangan. Kebijakan ini mengubah profil risiko dan peluang imbal hasil instrumen investasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Pada Rabu (18/9/2024), Bank Indonesia (BI) mulai mengakhiri rezim suku bunga tinggi dengan memangkas 25 basis poin (bps) dari nilai suku bunga acuan 6,25 persen menjadi 6,0 persen. Kurang sehari, The Federal Reserve (The Fed) menyusul memangkas lebih banyak suku bunga yang telah setahun ditahan di level 5,25-5,50 persen sebesar 50 bps. Kebijakan monumental tersebut menciptakan dinamika dipasar keuangan dalam negeri. Kepercayaan para investor membuat arus modal asing kembali melimpah sejak awal paruh kedua 2024.

Dalam sepekan sampai Senin (23/9), pasar keuangan Indonesia kelimpahan arus modal masuk sebesar 81,6 juta dollar AS di produk saham dan 865,1 juta dollar AS ke produk obligasi. Bagi investor yang hendak masuk atau memilih instrumen investasi di pasar modal, saat ini investasi saham yang paling berpotensi memberikan keuntungan lebih. Head of Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang diikuti penguatan nilai tukar rupiah menandakan terkendalinya inflasi dan potensi peningkatan pembiayaan sektor riil yang ujungnya menggairahkan perekonomian. Hal ini menghasilkan sentimen positif yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sekitar 11 persen dalam tiga bulan terakhir hingga ke level 7.700-7.900. 

”Kami melihat peluang yang lebih tinggi bagi IHSG untuk mencapai skenario kenaikan indeks di 8.000 pada akhir tahun ini,” katanya, Rabu (25/9/2024). Keyakinan pada skenario itu didasari proyeksi Mandiri Sekuritas pada kelanjutan pemangkasan suku bunga BI hingga total 75 bps menjadi 5,5 persen hingga akhir tahun 2024 dan total 150 bps menjadi 4,75 persen di tahun depan. Siklus pemangkasan suku bunga, kata Adrian, akan dirasakan sektor-sektor yang cukup sensitif terhadap penurunan suku bunga dan penguatan nilai tukar rupiah, seperti keuangan, kebutuhan harian, dan properti. ”Saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah juga tetap menjadi pilihan kami,” ujarnya. Praktisi pasar modal dan dosen Pascasarjana Manajemen Keuangan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan, saham di sektor perbankan akan mendapat keuntungan dari siklus penuruna suku bunga selain pertambangan, perkebunan, dan teknologi. (Yoga)

IHSG Menunggu Katalis Penggerak Baru

HR1 27 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve dan Bank Indonesia, serta sentimen positif yang diharapkan muncul dari faktor domestik dan global. Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, menyebutkan bahwa aksi profit-taking di pasar adalah wajar dan tetap ada potensi penguatan IHSG jika aliran modal asing berlanjut. Selain itu, stimulus dari pemerintah China diperkirakan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.

Adityo Nugroho, Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, menyoroti agenda politik di kuartal IV/2024, seperti pelantikan Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan pembentukan kabinet baru yang bisa mempengaruhi pasar. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo, juga optimis bahwa stabilitas politik akan mendorong penguatan IHSG, dengan prediksi IHSG bisa mencapai level 7.920 hingga 8.080 hingga akhir tahun. Selain itu, sektor-sektor potensial seperti perbankan, properti, dan ritel diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari situasi politik dan ekonomi tersebut.

Stock Split untuk Meningkatkan Likuiditas Saham

HR1 27 Sep 2024 Kontan

Aksi korporasi emiten dalam melakukan pemecahan nilai saham alias stock split kembali marak. Dalam catatan KONTAN, sepanjang tahun ini sudah ada 11 emiten yang melakukan stock split. Terbaru, PT Indosat Tbk (ISAT) alias Indosat Ooredoo Hutchinson telah mengantongi restu pemegang saham untuk melakukan stock split. Persetujuan itu dikantongi ISAT dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu 25 September 2024. PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) juga mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk stock split dalam RUPSLB pada 23 September 2024. Rencananya, MSIN akan stock split dengan rasio 1:5. 

Sebelumnya, ada PT Lippo General Insurance Tbk (LPGI) yang stock split pada awal September lalu dengan rasio 1:10. Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo bilang, stock split dilakukan agar saham MSIN dapat menjangkau basis investor yang lebih luas dan meningkatkan likuiditas pasar. Sesuai jadwal, stock split akan dieksekusi MSIN pada 7 Oktober 2024. Jika menggunakan harga penutupan Kamis (25/9) Rp 7.100 per saham, maka saham MSIN pasca stock split akan berada di kisaran Rp 1.420. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, stock split akan membuat saham emiten lebih murah dan likuid. Nico bilang investor yang mengincar cuan dalam jangka pendek, bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga saat rencana stock split diumumkan. Kalau sudah lewat, biasanya penguatan akan cenderung terbatas. Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengingatkan, meski harga sahamnya bakal lebih terjangkau pasca stock split, tapi aksi korporasi ini tidak akan memengaruhi fundamental kinerja emiten.
Dus, investor harus tetap cermat memilih saham.

Saham Emiten Besar Mengalami Perubahan Bobot

HR1 26 Sep 2024 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan kembali bobot emiten terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan indeks lain. Dalam evaluasi minor terbaru yang berlaku Oktober 2024, ada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar ( big cap ) yang mengalami perubahan bobot terhadap IHSG. Kebanyakan emiten big cap mengalami penurunan bobot terhadap IHSG. Termasuk saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang belakangan ini bergerak fluktuatif dan menyetir pergerakan IHSG. Bobot saham BREN terhadap IHSG turun dari 4,3% menjadi 4,25% setelah evaluasi. BREN tercatat memiliki saham free float sebanyak 11,73%. Bobot emiten big cap lainnya termasuk empat perbankan terbesar juga turun. Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana melihat, evaluasi bobot merupakan sesuatu yang secara reguler dilakukan BEI. Fokus utama yang dilihat BEI dalam menentukan bobot terhadap IHSG adalah dari rasio free float dan kapitalisasi pasar (market cap) emiten. "Untuk market cap, tidak seluruhnya dimasukkan, agar tidak ada emiten yang terlalu dominan terhadap IHSG. Free float dilihat faktor likuiditas," kata Wawan kepada KONTAN, Rabu (25/9). Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menilai, evaluasi berkala yang dilakukan BEI terhadap indeks, baik evaluasi mayor seperti perubahan konstituen maupun evaluasi minor, bertujuan untuk memastikan bahwa indeks-indeks tersebut tetap relevan terhadap kondisi pasar yang sebenarnya. 

Di sisi lain, bobot BREN di Indeks sektor infrastruktur atau IDXINFRA juga mengalami perubahan. Bobot BREN meningkat dari 8,74% menjadi 9%. Hal ini merupakan indikasi meningkatnya peran penting BREN di sektor infrastruktur, terutama di sektor energi terbarukan (EBT). Meningkatnya bobot BREN di IDXInfra ini berdampak netral atau bahkan positif terhadap kinerja saham perseroan itu. Wawan menilai, untuk memilih mana saham yang berkinerja baik, tiga faktor utama yang biasanya dilihat langsung oleh investor adalah fundamental emiten, prospek bisnis ke depan, dan likuiditas. Nah, ke depan Wawan melihat sektor perbankan masih menarik untuk dilirik investor. Hal ini berkaitan dengan penurunan suku bunga, sehingga permintaan kredit akan naik. Diharapkan dengan tren menurunnya suku bunga acuan, emiten-emiten bank yang selama ini memiliki rasio Current Account Saving Account (CASA), nonperforming loan (NPL), dan loan to deposit ratio (LDR) yang lebih inferior dibanding rata-rata industrinya, akan memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.

Saham Batubara Berpotensi Naik dengan Implementasi MIP

HR1 26 Sep 2024 Kontan

Skema pungut salur dana kompensasi batubara melalui Mitra Instansi Pengelola (MIP) segera terealisasi. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP batubara, yang diharapkan bisa dijalankan pada tahun ini. Emiten pertambangan batubara plat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) antusias menyambut kehadiran MIP. Sekretaris Perusahaan PTBA, Niko Chandra mengatakan pihaknya terus memonitor perkembangan mengenai skema ini, dan berharap Peraturan Presiden (Perpres) terkait MIP segera terbit. Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTBA Farida Thamrin dalam paparan publik beberapa waktu lalu menjelaskan, dampak yang akan diterima PTBA akan bergantung kepada indeks harga batubara saat MIP diberlakukan. Pada prinsipnya, semakin besar selisih harga antara harga cap dengan indeks, maka akan berdampak kepada margin perseroan yang lebih tinggi. Begitupula sebaliknya. Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira mengatakan, ADRO masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP. "Para pelaku industri menginginkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batubara dan ketahanan energi nasional," kata Nadira. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan mengatakan, penerapan MIP akan memberikan efek penyesuaian terhadap industri batubara Indonesia. Skema ini memungkinkan perusahaan berorientasi domestik, khususnya yang memenuhi wajib pasok dalam negeri alias Domestic Market Obligation (DMO) mendapatkan insentif dari iuran yang nantinya dikelola oleh MIP. Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki menambahkan, skema MIP bisa membawa dampak positif untuk menjaga ketersediaan batubara dalam negeri. Tapi di sisi lain, skema ini dapat menambah beban baru untuk produsen batubara yang dominan ekspor. Investment Analyst Stockbit, Hendriko Gani menyoroti, pembentukan MIP menjadi katalis positif bagi emiten yang banyak menjual ke pasar domestik seperti PTBA. Sebab, emiten kategori ini berpotensi mengalami kenaikan harga jual rata-rata setelah mengalami penyesuaian pasca subsidi dari MIP.

BEI Kaji Ulang Aturan Batas Minimal Saham

KT1 25 Sep 2024 Investor Daily (H)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk mengkaji ulang aturan batas minimal saham beredar di publik atau yang dikenal dengan istilah free float. Langkah ini diambil sebagai respons atau polemik yang terjadi seputar penghapusan PT Barito Renewabless Energy Tbk (BREN) dari konstituen indeks FTSE Russell. Keputusan FTSE ini tak hanya mengejutkan  pasar, tetapi juga mengejutkan indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup tajam. Saham BREN dikeluarkan dari indeks FTSE Russell katagori large cap pada September ini, sebuah kegagalan yang terjadi untuk yang kedua kalinya  setelah sebelumnya BREN juga gagal masuk indeks FTSE Russel disebabkan oleh tingginya konsetrasi  kepemilikan saham, dimana sekitar 9% saham BREN dikuasai oleh empat pemegang saham utama, termasuk pengendali dan asosiasinya. Hal ini menyebabkan saham BREN mengalami penurunan harga yang sangat tajam. Atau yang lebih dikenal dengan istilah auto reject bawah, selama dua hari berturut-turut. Dampak dari peristiwa ini tidak hanya dirasakan oleh BREN sendiri, tetapi juga memberikan beban berat bagi IHSG, yang gagal mempertahankan level psikologis 8.000. IHSG tertekan akibat  kontribusi negatif dari penurunan saham BREN, yang menambahkan tekanan pada pasar  secara keseluruhan. (Yetede)