Saham
( 1722 )Konflik Timur Tengah: Saham Migas Ikut Terbakar
Eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah telah mendongkrak harga minyak mentah dunia. Dalam sepekan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent kompak menanjak lebih dari 9%. Dikutip dari Bloomberg , harga minyak WTI kontrak November 2024 meningkat 9,09% ke level US$ 74,38 per barel, Jumat (4/10). Pada periode yang sama, harga Brent menguat 9,10% ke posisi US$ 78,05 per barel. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa mengatakan, sebagai produsen terbesar di dunia, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah bakal memengaruhi harga komoditas minyak global. Jika eskalasi konflik berlanjut, pasokan minyak akan terganggu, sehingga harga akan lanjut menanjak. "Di sisi lain, rencana OPEC+ untuk melanjutkan peningkatan produksi minyak di Desember nanti dapat meredam kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan," jelas Heru kepada KONTAN, Minggu (6/10). Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya turut menyoroti kekhawatiran pasar jika serangan menyasar infrastuktur minyak di Iran atau negara-negara produsen lain Arinda memprediksi, dalam jangka pendek harga minyak mentah dunia bisa menyentuh level US$ 80 - US$ 90 per barel atau lebih,
jika situasi konflik semakin memburuk.
Pasar akan mencermati bagaimana langkah OPEC+ untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia. "Meskipun penguatan harga dalam jangka pendek bisa terjadi, pasar tetap akan bergantung pada perkembangan konflik serta kebijakan yang diambil oleh OPEC+," katanya.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengamati, situasi pasar dan harga saat ini bisa mengangkat kinerja mayoritas emiten minyak dan gas (migas) di sisa tahun 2024, atau minimal tidak menyusut dibandingkan periode tengah tahun. Toh, pelaku pasar pun telah merespons positif dengan kenaikan harga saham emiten migas dalam beberapa hari terakhir.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengingatkan, seberapa signifikan dan lama sentimen ini berlangsung akan bergantung pada dinamika geopolitik yang terjadi di sana. Namun, pelaku pasar tetap bisa memanfaatkan situasi ini untuk
trading
pada saham komoditas yang terdampak positif. Bagi saham yang terkait industri migas, Rizkia melirik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Sedangkan secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyodorkan saham ELSA dan MEDC.
Sentimen Negatif Terus Mengguncang Bursa Saham
Pekan pertama bulan Oktober kurang menggembirakan bagi pasar saham dalam negeri. Beragam sentimen negatif, mulai dari konflik geopolitik yang memanas hingga pelemahan nilai tukar rupiah, kembali membombardir bursa saham. Tak heran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian menjauhi level tertinggi yang dicapai tiga pekan lalu dan kembali ke bawah 7.500. Dalam tiga perdagangan beruntun, IHSG berkubang di zona merah, turun 2,61% sepekan ke 7.496,09, Jumat (4/10). Koreksi IHSG sejalan posisi jual bersih (net sell) asing yang mencapai Rp 4,87 triliun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, sentimen signifikan dari faktor eksternal. Terutama efek kucuran stimulus ekonomi di China serta ketegangan di Timur Tengah. Stimulus ekonomi menarik arus dana investor asing ke bursa China. Sebaliknya, langkah China ini memicu arus keluar dari bursa Indonesia sehingga menekan bursa saham lokal. Kombinasi berbagai sentimen itu berpotensi menekan pasar saham beberapa pekan ke depan. "Setidaknya hingga rilis kinerja kuartal ketiga dan dapat menjadi penopang pergerakan IHSG di tengah sentimen di atas," kata Audi kepada KONTAN, Minggu (6/10).
Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia, Wisnu Prambudi Wibowo melihat, konflik di Timur Tengah bisa mengerek harga komoditas, terutama minyak mentah. Pada penutupan akhir pekan lalu, harga minyak West Texas Intermedate (WTI) naik 0,91% menjadi US$ 74,38 per barel. Dalam sepekan, harga minyak naik 9,4%.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, selain kombinasi sentimen domestik dan global, aksi profit taking dan jenuh beli turut menekan IHSG usai menyentuh rekor tertinggi (all time high)
di level 7.910,86 pada bulan lalu. Pelemahan IHSG juga sejalan koreksi saham berkapitalisasi pasar besar, khususnya saham bank.
Ratih melihat, IHSG masih berpeluang
rebound
dalam perdagangan sepekan ke depan jika bisa bertahan di atas support 7.450, dengan resistance 7.650. Jika IHSG breakout 7.450, support selanjutnya berada di level 7.300.
Praktisi Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto sepakat, pelemahan IHSG juga akibat profit taking dan efek jenuh beli. William melihat, IHSG bergerak di 7.430-7.550. Menurut dia, saat ini masih menarik menerapkan buy on weakness.
Susahnya Mencapai Target Penerbitan Saham Perdana
Saatnya Koleksi Saham yang Harganya Sedang Turun
Emiten Kurang Menarik di Tengah Deflasi
Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali turun atau mengalami deflasi selama lima bulan beruntun. Ini menjadi yang terparah setelah tahun 1999. Bank Indonesia (BI) melaporkan pada September 2024 terjadi deflasi sebesar 0,12% secara bulanan. Laju deflasi itu lebih tinggi dibandingkan bulan Agustus di angka 0,03% secara bulanan. Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menganalisa, deflasi yang terjadi selama lima bulan beruntun, menunjukkan tren pelemahan daya beli konsumen. Kondisi itu bisa berdampak negatif pada pendapatan sejumlah emiten. Terutama, emiten di sektor konsumsi, seperti consumer goods dan ritel. Ini menjadi hambatan perusahaan untuk mempertahankan marjin keuntungannya. "Kami memandang emiten di sektor-sektor yang sensitif terhadap permintaan domestik, kemungkinan pendapatannya akan turun di kuartal III-2024," kata Vinko kepada KONTAN, Kamis (3/10). Emiten barang konsumsi seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) atau PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), berpeluang merasakan dampak penurunan permintaan domestik. Senasib, emiten saham di sektor otomotif dan properti, semisal PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), bakal terkena getah deflasi. Pendapatan emiten bisa turun.
Dus, saham-saham di sektor tersebut bisa mengalami volatilitas tinggi dan cenderung bearish. Sektor perbankan justru akan diuntungkan deflasi. Tren deflasi akan mendorong BI terus memangkas suku bunga acuan.
Sedangkan sektor utilitas dan infrastruktur lebih defensif dan tidak terlalu bergantung siklus ekonomi.
Senior Research Analyst BNI Sekuritas, Patricia Gabriela melihat, penjualan emiten barang konsumsi tumbuh kuat di kuartal III-2024, meski ada deflasi selama 5 bulan. Ini sejalan meningkatnya data retail sales index (RSI).
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menimpali, deflasi dapat memengaruhi pendapatan serta laba emiten. Sektor-sektor yang bergantung pada konsumsi seperti ritel serta makanan dan minuman, akan menghadapi tekanan pertumbuhan pendapatan akibat penurunan harga.
Namun, penurunan suku bunga BI pada September lalu berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat. Ini bisa mendukung pemulihan konsumsi menjelang akhir tahun. "Biasanya ada lonjakan belanja pada saat perayaan Natal dan liburan tahun baru," kata Hendra.
IHSG Tertekan Serangan Rudal Iran-Israel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (02/10/2024) ditutup melemah -78,87 poin atau -1,03% ke level 7.563. Hal ini sebagai dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisis geopolitik di Timur Tengah, pasca serangan rudal Iran ke Israel. Namun, sejumlah analis masih optimistik IHSG mampu kembali ke zona hijau. Meskpiun IHSG melemah, sektor basic materialis menjadi yang paling kuat dengan kenaikan tipis sebesar +0,03%.
aDi sini lain, sektor transportation & logistics mengalami penurunan terbesar dengan pelemahan -1,95%, yang mencerminkan dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisisi geoplitik di Timur Tengah. Dalam risetnya, Pilarmas Sekuritas menuturkan, situasi di Timur Tengah menjadi fokus perhatian para pelaku pasar setelah Iran meluncurkan serangan rudal terhadap Israel, yang kemudian di respons dengan ancaman pembalasan dari Israel dan Amerika Serikat. Ketegangan ini menambah tekanan pada pasar saham di Asia, termasuk Indonesia, yang ikut terseret dalam pelemahan. (Yetede)
Volatilitas yang Tinggi Berimbas ke Pergerakan IHSG
Indeks Bisnis-27 Melaju di Pasar Saham
Sepanjang kuartal III/2024, indeks Bisnis-27 menunjukkan kinerja yang positif dengan mencatatkan kenaikan sebesar 8,50%, mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tumbuh 5,65%. Katalis utama yang mendukung kenaikan ini adalah kebijakan The Fed yang memangkas suku bunga, serta keputusan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00%. Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) memimpin penguatan dalam indeks Bisnis-27 dengan kenaikan 17,73%, diikuti oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dengan 13,58%, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dengan 8,97%.
Keberhasilan indeks ini turut mendongkrak performa produk reksa dana terkait seperti Bahana ETF Bisnis-27 dan UOBAM Indeks Bisnis-27, yang mencatat imbal hasil positif selama setahun dan tiga tahun terakhir. Faktor lain yang mendukung pertumbuhan pasar adalah rendahnya inflasi Agustus 2024 sebesar 2,12% (YoY) serta surplus neraca perdagangan Indonesia selama 52 bulan berturut-turut.
IHSG Merana di Tengah Arus Dana Asing ke China
Dana investor asing menguap dari bursa saham dalam negeri. Pada perdagangan Senin (30/9), investor asing mencatat penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp 3,10 triliun di seluruh pasar. Dalam lima hari terakhir, net sell asing sudah mencapai Rp 7,7 triliun. Investor asing terpantau banyak melepas kepemilikannya di saham blue chip, terutama sektor perbankan. Aliran dana asing paling deras keluar dari saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net foreign sell Rp 3,99 triliun dalam lima hari terakhir. Menyusul saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan net sell lebih dari Rp 1 triliun. Dana asing di sejumlah negara termasuk Indonesia, ditengarai memang sedang pindah haluan ke bursa saham China. Investor global melihat kesempatan berburu saham-saham undervalue di China yang akan terdorong kebijakan stimulus. Hal ini juga terlihat dari pergerakan indeks saham di China yang menguat signifikan. Shanghai Composite Index (SSEC) melonjak 8,06% dalam satu hari ke 3.336,5. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah mengatakan, efek stimulus yang digelontorkan oleh People Bank of China (PBoC) memang cukup signifikan memengaruhi pasar saham regional belakangan ini. "Namun, kalau perekonomian China pulih, Indonesia yang akan diuntungkan karena pasar ekspor Indonesia ke China besar," jelasnya kepada KONTAN, Senin (30/9). Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan, penurunan indeks di pasar China selama ini telah membuat valuasi saham di Negeri Tirai Bambu semakin murah.
Selain itu, saat IHSG bulan September sudah naik kencang, pasar China yang masih berada di level bawah akan lebih menarik bagi investor asing. Menurut Nico, perlu kekuatan baru bagi China untuk bisa bangkit. "Namun ini hanya sentimen sesaat karena fundamental China belum membaik," katanya.
Nico menilai, saham-saham yang dilego investor asing masih menarik dan murah sehingga bisa dilirik. Saham pilihannya jatuh pada BBRI dengan target harga di Rp 5.750, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI ) dengan target harga Rp 7.850 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 11.550. Investor juga bisa mencermati saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
Sedangkan saham pilihan Fath ialah saham perbankan
blue chip. Selain itu, saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Adaro Energy Indonesia (ADRO) juga bisa dicermati.
Senior Investment Strategist
Bank DBS Joanne Goh menilai, aliran modal bisa kembali masuk, jika pemangkasan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserves kembali berlanjut di bulan November dan Desember 2024.
Logam Emiten: Katalis Baru untuk Permintaan Pasar
Paket stimulus People’s Bank of China (PBOC) diprediksi membawa dampak positif pada saham-saham emiten tambang logam, seperti yang disampaikan oleh Gubernur PBOC Pan Gongsheng. Stimulus ini melibatkan pemangkasan suku bunga reverse repo dan giro wajib minimum (GWM), yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan komoditas logam dari China.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus, memperkirakan stimulus ini akan mendorong permintaan logam, termasuk timah dan nikel. Mereka merekomendasikan beli untuk saham PT Timah Tbk. (TINS) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL). Analis Ciptradana Sekuritas Asia, Thomas Radityo, juga memperkirakan kenaikan harga logam hingga 2026, terutama untuk nikel dan timah.
Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas dan Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas melihat sentimen positif ini akan mendorong kinerja emiten tambang logam pada paruh kedua 2024. Nafan menyarankan akumulasi beli untuk saham ANTM dan MDKA. Namun, Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas berpendapat bahwa penguatan harga logam mungkin tidak akan signifikan hingga akhir tahun.
General Manager Corporate Communication MDKA, Tom Malik, mengonfirmasi bahwa stimulus PBOC telah meningkatkan permintaan dan harga logam, terutama emas, perak, dan tembaga. Selain itu, VP Tiger Warrior Maybank Sekuritas, Doni Setiowibowo, menilai bahwa sektor properti China yang didorong oleh stimulus ini akan meningkatkan permintaan nikel, memberikan keuntungan bagi saham-saham seperti INCO dan ANTM.
Pilihan Editor
-
John Riady: Jangan Khawatir Bubble Start-up
06 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021 -
Perusahaan Rokok Besar Menikmati Insentif Cukai
04 Sep 2021









