;

Saham Kembali Menjadi Primadona

Ekonomi Yoga 27 Sep 2024 Kompas
Saham Kembali Menjadi
Primadona
Pelonggaran kebijakan moneter global serta pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, dan Bank Indonesia telah menciptakan gelombang baru di pasar modal dan keuangan. Kebijakan ini mengubah profil risiko dan peluang imbal hasil instrumen investasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Pada Rabu (18/9/2024), Bank Indonesia (BI) mulai mengakhiri rezim suku bunga tinggi dengan memangkas 25 basis poin (bps) dari nilai suku bunga acuan 6,25 persen menjadi 6,0 persen. Kurang sehari, The Federal Reserve (The Fed) menyusul memangkas lebih banyak suku bunga yang telah setahun ditahan di level 5,25-5,50 persen sebesar 50 bps. Kebijakan monumental tersebut menciptakan dinamika dipasar keuangan dalam negeri. Kepercayaan para investor membuat arus modal asing kembali melimpah sejak awal paruh kedua 2024.

Dalam sepekan sampai Senin (23/9), pasar keuangan Indonesia kelimpahan arus modal masuk sebesar 81,6 juta dollar AS di produk saham dan 865,1 juta dollar AS ke produk obligasi. Bagi investor yang hendak masuk atau memilih instrumen investasi di pasar modal, saat ini investasi saham yang paling berpotensi memberikan keuntungan lebih. Head of Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang diikuti penguatan nilai tukar rupiah menandakan terkendalinya inflasi dan potensi peningkatan pembiayaan sektor riil yang ujungnya menggairahkan perekonomian. Hal ini menghasilkan sentimen positif yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sekitar 11 persen dalam tiga bulan terakhir hingga ke level 7.700-7.900. 

”Kami melihat peluang yang lebih tinggi bagi IHSG untuk mencapai skenario kenaikan indeks di 8.000 pada akhir tahun ini,” katanya, Rabu (25/9/2024). Keyakinan pada skenario itu didasari proyeksi Mandiri Sekuritas pada kelanjutan pemangkasan suku bunga BI hingga total 75 bps menjadi 5,5 persen hingga akhir tahun 2024 dan total 150 bps menjadi 4,75 persen di tahun depan. Siklus pemangkasan suku bunga, kata Adrian, akan dirasakan sektor-sektor yang cukup sensitif terhadap penurunan suku bunga dan penguatan nilai tukar rupiah, seperti keuangan, kebutuhan harian, dan properti. ”Saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah juga tetap menjadi pilihan kami,” ujarnya. Praktisi pasar modal dan dosen Pascasarjana Manajemen Keuangan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan, saham di sektor perbankan akan mendapat keuntungan dari siklus penuruna suku bunga selain pertambangan, perkebunan, dan teknologi. (Yoga)

Tags :
#Saham
Download Aplikasi Labirin :