;

Menunggu Performa Saham Blue Chip di Kuartal Akhir

Ekonomi Hairul Rizal 23 Sep 2024 Kontan
Menunggu Performa Saham Blue Chip di Kuartal Akhir

Bagi investor yang memiliki target investasi jangka panjang, saham keping biru atau blue chip kerap menjadi pilihan untuk mengincar pertumbuhan imbal hasil yang konsisten. Namun, beberapa saham yang kerap digadang sebagai saham blue chip, ternyata punya performa buruk dalam lima tahun terakhir. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, dalam lima tahun terakhir, imbal hasil negatif. Sejak awal tahun ini, ketiganya masih laggard atau tertinggal jauh dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejak awal tahun ini, harga ASII belum bisa kembali ke atas Rp 6.000. Apalagi, UNVR yang kini tersungkur di kisaran Rp 2.000-an. Tergerus 75% dalam lima tahun terakhir. Nasib lebih buruk dialami PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Saham GGRM yang pernah bertengger di Rp 90.000 per saham pada 2019 silam, kini berkubang di kisaran Rp 15.000-an. GGRM hilang pamor, terlebih beberapa kali puasa membagi dividen. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai, penurunan harga saham ini tak lepas dari kinerja emiten yang cenderung stagnan ataupun turun. Misalnya, UNVR mencatatkan compound annual growth rate (CAGR) untuk earnings per share (EPS) dalam 3 tahun terakhir -12,5%, lalu GGRM -11,4% dan HMSP -1,92%. 

Bukan cuma itu. Penyebab blue chip konvensional ini mulai tertinggal adalah bobot yang semakin tipis di IHSG. Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe menilai, berbagai saham baru yang memiliki market cap besar mulai menggeser bobot blue chip lawas. Hal ini membuat penyesuaian portofolio manajer investasi. "HMSP, GGRM dan UNVR sulit naik lagi, bobot terhadap IHSG mengecil," tuturnya. Kendati begitu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus optimistis beberapa blue chip ini masih bisa tumbuh positif. Misalnya, ASII dan TLKM terus berupaya diversifikasi bisnis. Target harga Nico untuk ASII di akhir tahun Rp 5.600 dan TLKM Rp 3.900.

Tags :
#Saham
Download Aplikasi Labirin :