Modal
( 192 )Arus Deras Modal ke Pasar Saham
Arus modal ke pasar saham yang deras membuat IHSG BEI menguat tajam hingga 3,78, dari 7.114 ke 7.383 pada pekan pertama Desember 2024. Kondisi ini diyakini bakal berlanjut di tiga minggu tersisa 2024, seiring banyaknya sentimen positif yang masuk ke pasar, mulai dari window dressing, stabilitas ekonomi dalam negeri, arah kebijakan The Fed. hingga santa claus rally. "Aksi borong sama oleh investor diprediksi makin deras di tiga minggu terakhir tahun 2024. Hal ini di dorong oleh meningkatnya minat (investor) pada saham-saham unggulan, seiring dengan momentum window dressing dan santa claus rally," kata FOunder Stocknow.id Hendra Wardana. Hendra mengungkapkan, fundamental ekonomi Indonesia yang stabil dan prospek pertumbuhan positif di tahun depan, memberikan landasan kuat bagi investor asing untuk kembali masuk pasar di penghujung tahun ini. (Yetede)
Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham
Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.
Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.
Persiapan BPR Penuhi Ketentuan Modal Baru
IPO Jumbo Bertebaran di Penghujung 2024
Memperkuat Keuangan melalui Right Issue
Sentimen Positif Pasar Modal dari Pemanggilan Menteri Ekonomi
Bersama Mendanai UMKM
Salah Obat BUMN Sakit
Injeksi BUMN Karya untuk Apa
Penguatan Kinerja BUMN Mutlak
Keputusan Komisi VI DPR untuk menyetujui usulan penyertaan modal negara atau PMN kepada 16 BUMN senilai total Rp44,2 triliun harusnya menjadi bahan bakar untuk menggegas kontribusi perusahaan pelat merah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. PMN untuk tahun anggaran 2025 tersebut naik 60,7% dari injeksi modal tahun ini yang mencapai Rp27,5 triliun. Dengan nilai penyertaan yang tumbuh relatif tinggi, BUMN sudah sepantasnya meningkatkan peran dalam penerimaan negara. Proporsi dividen BUMN saat ini memang sudah lebih besar daripada nilai penyertaan modal negara. Dalam 5 tahun terakhir, dividen yang disetor BUMN ke negara mencapai Rp279,9 triliun. Angka itu melampaui penyertaan modal negara yang berjumlah Rp226,1 triliun pada periode yang sama. Namun, dari 65 BUMN yang beroperasi hingga akhir 2023, hanya segelintir perseroan yang memiliki kinerja sesuai dengan harapan. Sisanya masih terlalu sibuk dengan situasi sulit, sehingga belum berkontribusi optimal. Kami mencatat, dari sisi setoran dividen, ada 10 perusahaan pelat merah yang berkontribusi hingga 80% dari total dividen yang diperoleh negara dari BUMN. Ketimpangan ini menandai masih banyaknya problem yang harus diselesaikan.
Di antara 16 BUMN yang menerima PMN untuk tahun anggaran 2025, diskursus publik tertuju pada PT Hutama Karya (Persero) dan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) yang kini tengah tersandung masalah hukum. Hutama Karya akan menerima suntikan modal senilai Rp13,86 triliun dalam rangka melanjutkan pembangunan Tol Trans Sumatera Fase 2 dan 3. Adapun, Pelni bakal disuntik PMN sebesar Rp2,5 triliun untuk pengadaan kapal-kapal baru. Penanganan kasus korupsi di kedua BUMN itu tengah menjadi sorotan. Hutama Karya kini sedang bergelut dengan kasus pengadaan lahan di Kecamatan Bakauheni dan Kalianda, Lampung. Belum lagi, mereka juga tengah menghadapi gugatan PKPU dari tiga perusahaan vendor, yaitu PT Rekayasa Energi Bersama, PT Yuan Sejati, dan CV Adi Kencana Buana Raya. Tak hanya Hutama Karya dan Pelni, PT Biofarma (Persero) yang bakal menerima suntikan modal Rp2,2 triliun juga sedang tidak baik-baik saja. Perseroan tersandung dugaan fraud pada pelaporan keuangan yang melibatkan perusahaan teknologi finansial. Dengan kondisi itu, kita berharap Kementerian BUMN meningkatkan pengawasannya terhadap peruntukan modal tersebut, sehingga tepat sasaran dalam rangka peningkatan kinerja perseroan, serta kontribusinya terhadap penerimaan negara.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









