Modal
( 192 )Perkuat Modal Pinjaman, IFG Usul PNM Rp 3 T
Indah Kiat Agresif Cari Pendanaan Eksternal
Emiten Kertas Grup Sinar Mas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) aktif mencari pendanaan eksternal untuk mendukung pembangunan pabrik di Karawang, Jawa Barat senilai US$ 3,6 miliar (setara Rp 56 triliun) dan pembiayaan modal kerja. Sejak awal tahun, perseroan telah beberapa kali menawarkan surat utang dalam bentuk obligasi konvensional, sukuk, hingga obligasi dolar AS dengan total nilai sekitar Rp 10 triliun. Terbaru perseroan sukses mengantongi kredit dari Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 1,3 triliun. Pada bulan januari 2024, Indah Kita mengumumkan penawaran obligasi berkelanjutan IV Tahap IV Tahun 2024 senilai Rp 4 triliun, serta sukuk mudharabah berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2024 sebesar Rp695,09 miliar. Perseroan juga berencana menerbitkan obligasi dolar AS berkelnajutan I Tahap III Tahun 2024 senilai US$ 25 juta atau setara Rp409,88 miliar. "Sekitar 75% (dana hasil obligasi dolar AS) akan digunakan untuk pembiayaan sebagian dari pembelian equipment dan equipment yang dibeli perseroan untuk keperluan pabrik yang sedang dibangun. Dan sekitar 25% akan digunakan untuk pembiayaan sebagian dari pekerjaan sipil diantaranya namun tidak terbatas pada pekerjaan persiapan lahan, pondasi, tiang pancang, pembangunan jalan, akses dan drainese," tulis manajemen Indah Kiat. (Yetede)
Penarikan Modal Investor Masih Tinggi
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menurun signifikan dalam sebulan terakhir hingga akhir Mei 2024. Aksi penarikan modal oleh investor pasar modal masih tinggi disebabkan kekhawatiran kebijakan suku bunga yang akan turun lebih lama. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menyampaikan, IHSG melemah 3,64 % dalam sebulan terakhir. Tren koreksi tersebut menyumbang penurunan signifikan sepanjang 2024. ”Di pasar saham IHSG terkoreksi 4,15 % year to date ke level 6.970,74,” papar Inarno dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (10/6) di Jakarta.
Pelemahan sepanjang tahun berjalan bersamaan dengan nilai penjualan bersih saham atau net sell sebesar Rp 6,25 triliun. Nilai kapitalisasi di pasar modal pun hanya naik 1,29 % menjadi Rp 11.825 triliun sejak awal tahun 2024. Sementara pada penutupan perdagangan Senin (10/6), IHSG ditutup di level 6.921,54 atau sedikit menguat dari perdagangan pada hari terakhir pekan lalu yang sebesar 0,34 %. Kapitalisasi saham tercatat turun menjadi Rp 11.637 triliun per hari ini. Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam laporan analisisnya menjelaskan, pergerakan IHSG mengikuti tren bursa regional Asia yang cenderung masih tertekan sikap pelaku pasar saham yang berhati-hati menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS, The Fed, di pekan ini. (Yoga)
Dana Asing Kembali Masuk Rp 2,42 Triliun di Awal Juni
Gelar Startup Demo Day, LLV Pikat Puluhan Modal Ventura
Menadah Berkah Saham Syariah
Pasar modal syariah Indonesia masih bertumbuh. Tercermin dari pertumbuhan jumlah saham yang tersedia di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan jumlah investor syariah. Mengutip data BEI, jumlah saham syariah yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) naik 61% dalam lima tahun terakhir dari 20182024. Pada periode yang sama, kapitalisasi pasar saham syariah mencapai 60% dari total kapitalisasi pasar di BEI. Kemudian Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH), saham syariah berkontribusi sebesar 54%. Iman Rachman, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun Anggota Bursa Sistem Online Trading Syariah (SOTS), jumlah investor syariah tumbuh lebih dari 250% dalam lima tahun terakhir. Adapun pada 2018, jumlah investor syariah dalam negeri mencapai 44.536 investor. Per April 2024, investor syariah di Indonesia mencapai 144.913 investor. Kendati jumlah investor syariah makin banyak, tapi performa saham syariah belum terlalu istimewa. Dari lima indeks syariah yang ada di BEI, semuanya terkoreksi. Hingga Kamis (6/6), Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) turun 0,06% year to date (ytd).
Kemudian Jakarta Islamic Index (JII) dan JII 70 masing-masing melemah 3,71% dan 1,96%. Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan mengatakan, sektor telekomunikasi, teknologi dan saham bahan baku menjadi pemberat dari seluruh indeks syariah di dalam negeri. "Potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa dan The Fed, diharapkan dapat mengurangi capital outflow di pasar modal sehingga berpotensi menopang nilai tukar rupiah," kata Valdy kepada KONTAN, Kamis (6/6). Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mencermati, secara teknikal pergerakan indeks ISSI, JII dan JII70 berdasarkan daily chart masih berada dalam tren sideways. Sebagai pilihan investasi, Nafan menyarankan mencermati saham syariah di sektor bahan baku dan energi. Investor bisa akumulasi saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dengan target harga terdekat di Rp 7.800. Kemudian buy on weakness PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (AMDR) dengan target di Rp 1.410 dan trading buy PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC) dengan target terdekat di Rp 1.365.
Dana Asing Rp 4,75 Triliun Masuk ke Pasar Domestik
Indonesia Serukan Perairan Berkelanjutan di WWF 2024
BREN Siapkan Dana Belanja US$ 160 Juta
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyiapkan dana jumbo untuk ekspansi tahun ini. Total belanja modal atau capital expenditure (capex) yang dianggarkan pada 2024 sebesar US$ 160 juta atau sekitar Rp 2,57 triliun. Direktur Barito Renewables Energy Merly mengatakan, hingga kuartal I 2024 realisasi capex BREN masih sekitar US$ 13 juta. Jumlah itu baru mencapai 8,12% dari anggaran capex tahun ini. Dana tersebut dialokasikan untuk persiapan aktivitas pengeboran (drilling) aset BREN, seperti di aset panas bumi Darajat.Rencananya, BREN baru akan intensif mengucurkan capex pada kuartal berikutnya. Presiden Direktur Barito Renewables Energy Hendra Soetjipto Tan menambahkan, BREN juga mengalokasikan capex untuk perawatan dan belanja rutin, terutama untuk pengeboran sumur.
Supaya tingkat ketersediaan uap pada pembangkit listrik panas bumi bisa terjaga. Secara bersamaan, BREN sedang mengembangkan aset geotermal untuk mengejar tambahan kapasitas sebanyak 116 Megawatt (MW). Saat ini, BREN mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas 886 MW. Sumbernya dari tiga aset, yakni Salak, Wayang Windu dan Darajat. Nah, BREN ingin menambah kapasitas 116 MW dari ketiga aset tersebut. Selain geotermal, emiten milik Prajogo Pangestu ini juga getol merambah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) atau angin. BREN telah mengakusisi sejumlah aset listrik tenaga angin yakni di Sidrap, Sukabumi, dan Lombok. PLTB Sidrap 1 sudah beroperasi sebesar 78 MW. Nah, terkait harga saham BREN, analis Stocknow.id, Sinta Dwi Untari mengatakan, harga saham BREN saat ini sudah tinggi dan overvalue. Sehingga, lebih baik melakukan trading jangka pendek-menengah.
PASAR SBN : Aliran Keluar Modal Asing Mencapai Rp46,61 Triliun
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran keluar modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) telah mencapai Rp46,61 triliun hingga 7 Mei 2024. “Selama tahun 2024, berdasarkan data settlement sampai dengan 7 Mei 2024, nonresiden jual neto Rp46,61 triliun di pasar SBN,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Fadjar Majardi dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/5). Aliran modal asing yang masuk ke pasar saham tercatat sebesar Rp3,83 triliun hingga 7 Mei 2024. Sementara itu, infl ow di SRBI lebih tinggi, mencapai Rp31,43 triliun. Adapun, khusus pada pekan kedua Mei 2024, Fadjar menyampaikan terjadi aliran masuk modal asing sebesar Rp4,04 triliun. Perinciannya, pembelian SBN oleh nonresiden di pasar keuangan domestik sebesar Rp2,36 triliun pada 6—7 Mei 2024.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyampaikan bahwa kembali masuknya aliran modal asing di pasar keuangan domestik, salah satunya didorong oleh kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada April lalu. Pada perkembangan lain, Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) menyepakati kerja sama penggunaan mata uang lokal masing-masing negara dalam transaksi perdagangan antara kedua negara. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Gubernur Bank Sentral UEA Khaled Mohamed Balama.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









