;
Tags

e-commerce

( 474 )

Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, Menuju Era Baru E-Commerce Di Asean

HR1 29 Aug 2021 Bisnis Indonesia, 27 Agustus 2021

Pemerintah dan Komisi VI DPR sepakat untuk segera menyelesaikan pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Persetujuan Asean tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (Asean Agreement on E-Commerce/AAEC). Komisi VI DPR sepakat membawa RUU AAEC ke pembicaraan tingkat II pada sidang paripurna DPR. “Persetujuan ini merupakan payung kerja sama perdagangan melalui sistem elektronik antarpemerintah di Asean dan sebagai upaya meningkatkan nilai perdagangan barang dan jasa, daya saing pelaku usaha dalam negeri, dan memperluas kerja sama melalui pemanfaatan niaga elektronik di Asean,” tutur Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Rabu (25/8) .Lutfi mengemukakan ratifikasi persetujuan ini memiliki urgensi tinggi karena secara tidak langsung akan mempercepat upaya transformasi perdagangan secara digital. “Dengan makin pesatnya pertumbuhan perusahaan rintisan di Indonesia, Indonesia bahkan menjadi kiblat pertumbuhan niaga elektronik di Asean,” jelasnya.


Indonesia Pimpin Pertumbuhan E-commerce Asean

KT1 29 Aug 2021 Investor Daily, 27 Agustus 2021

Indonesia menjadi pemimpin pertumbuhan sekaligus kiblat perdagangan elektronik (e-commerce) di kawasan Asean. Hal ini ditopang besarnya jumlah penduduk, penetrasi internet yang kuat, menjamurnya perusahaan rintisan (startup), perilaku belanja daring, dan  keberadaan startup dengan valuasi diatas US$ 1 milliar (unicorn). Seiring dengan itu, pemerintah dan Komisi VI DPR sepakat segera menyelesaikan pengesahan RUU tentang Persetujuan Asean tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (Asean Agreement on Electronic Commerce/AAEC). Komisi VI akan membawa RUU  AAEC  Asean sebagai upaya peningkatan pembicaraan tingkat II pada sidang paripurna DPR. Hal tersebut mengemuka dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan pemerintah, Rabu (25/8).

Menteri perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menerangkan, persetujuan ini merupakan payung kerja sama perdagangan melalui sistem elektronik antar pemerintah di Asean sebagai upaya meningkatkan nilai perdagangan barang dan jasa, daya saing pelaku usaha dalam negeri, dan memperluas kerjasama melalui pemanfaatan niaga elektronik di Asean. "Manfaat tersebut diharapkan juga akan mendorong proses transformasi Indonesia menjadi ekonomi digital yang maju dan pada akhirnya mewujudkan kesejahteraan masyarakat sesuai amanat UUD," kata Mendag Lutfi.

Dalam rapat kerja ini, perwakilan dari sembilan fraksi memberikan dukungan penuh untuk segera menyelesaikan proses ratifikasi RUU AAEC. Arus ekonomi digital telah masuk gelombang kedua dan ketiga dengan munculnya pemain-pemain di sektor baru. Contohnya, health tech yang diisi Halodok, Aido health, lalu educatioin technology seperti ruang guru, Zenius, serta financial technology, seperti Dana, Ovo, dan link aja. "Kami optimistis, target transaksi Rp 395 trilliun tahun ini tercapai. Ada dua yang kami ukur, yakni aktivitas nilai transaksi dan juga total onboarding new UKM ke platform," kata Lutfi. (YTD)

BI Luncurkan SNAP dan Uji COba QRIS Antarnegara

KT1 18 Aug 2021 Investor Daily, 18 Agustus 2021

Bank Indonesia meluncurkan Standar Nasional Open Api Pembayaran (SNAP) serta uji coba sandbox QR Code Indonesian Standard (QRIS) antar negara dengan Thailand (Thai QR Payment). Kegiatan peluncuran tersebut mempercepat akselerasi digital untuk mendorong kemajuan ekonomi dan keuangan nasional.  SNAP merupakan standar nasional yang ditetapkan BI atas seperangkat protokol dan instruksi yang memfasilitasi  interkoneksi antaraplikasi secara terbuka dalam  pemrosesan transaksi pembayaran. Penetapan SNAP bertujuan mencipatakan industri pembayaran sistem yang sehat , kompetitif dan inovatif sehingga dapat menyediakan layanan sistem pembayaran kepada masyarakat yang efisien, aman dan andal. Penyusunan SNAP dilakukan oleh Asosiasi Sistem Pembayaran  Indnesia (ASPI) dengan membentuk Working Group nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, inisiatif yang dilakukan BI merupakan bentuk sinergi inovasi digitalisasi untuk kemajuan negeri sebagai hadiah untuk peringatan kemerdekaan RI. "Kita sedang menoreh sejarah, tidak hanya untuk masa sekarang, juga untuk masa yang akan datang. Semoga inovasi sinergi bagi negeri ini semakin nyata untuk mengisi kemerdekaan RI serta memajukan perekonomian Indonesia," tutur Perry secara virtual, bertepatan dengan HUT kemerdekaan RI, Selasa (17/8). Demikian juga dengan pengguna dari Thailand kini dapat melakukan aplikasi pembayaran selular untuk memindai QRIS, untuk pembayaran barang dan jasa di merchant layanan ini untuk transaksi e-commerce lintas batas.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Bank Himpunan Nasional Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan, penerapan standar nasional dalam digitalisasi sistem pembayaran dapat mendorong optimalisasi inovasi layanan perbankan sekaligus mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional. Implementasi SNAP merupakan salah satu tahapan penting dalam rangka mengakselerasi open banking di area sistem pembayaran. Layanan ini akan membantu bisnis e-commerce selama masa-masa sulit ini dan mendorong usaha di bidang pariwisata," Ujar Deputi Gubernur BOT Ronaldo Numnonda.(YTD)

Tren IPO, Merger dan Akuisisi Startup Diramal Berlanjut hingga 2022

KT2 18 Aug 2021 Katadata

Bukalapak mencatatkan saham perdana alias IPO dua pekan lalu (6/8). Sedangkan Gojek dan Tokopedia merger menjadi GoTo. Investor dari kalangan modal ventura memperkirakan, IPO, merger dan akuisisi startup masih akan menjadi tren tahun depan. 

CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro memprediksi, banyak startup menjalankan exit strategy pada tahun depan. Exit strategy adalah pendekatan yang direncanakan untuk mengakhiri investasi dengan cara yang berfokus memaksimalkan keuntungan dan/atau meminimalkan kerugian, seperti IPO, merger, dan akuisisi. "Banyak startup yang merasa bahwa IPO menjadi salah satu opsi menarik. Opsi ini bisa memberikan likuiditas ke investor atau pendiri," ujar Eddi kepada Katadata.co.id, Senin (16/8).

Co-Founder sekaligus Managing Partner di Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani sepakat bahwa tren IPO akan berlanjut tahun depan. "Unicorn akan go public. Ini menjadi tren positif," ujar Edward

Ernst & Young (EY) mencatat bahwa perusahaan teknologi mendominasi IPO secara global selama semester I tahun ini. Volume IPO secara global meningkat 140% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 1.070. Dari sisi nilai meningkat 215% yoy atau US$ 222 miliar. Sebanyak 27% di antaranya atau 284 IPO merupakan perusahaan teknologi. Nilainya US$ 90,2 miliar. “Sektor teknologi memimpin dari sisi jumlah transaksi sejak kuartal III 2020,” demikian dikutip dari keterangan resmi EY, pada Juli (28/7). Di Indonesia, Bukalapak sudah IPO. Harga saham emiten dengan kode BUKA ini melejit 24,71% menjadi menjadi Rp 1.060 saat melantai di bursa. 

Selain IPO, Edward memperkirakan bahwa merger dan akuisisi menjadi tren tahun depan. "Masih akan dilakukan oleh startup," ujarnya. Setelah Bukalapak, setidaknya ada lima startup yang berencana IPO yakni Kredivo, GoTo, Traveloka, Tiket.com, dan Tanihub. Penyelenggara teknologi finansial (fintech) Kredivo mempertimbangkan IPO di dua bursa yakni Amerika Serikat (AS) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).


Peraturan Ketat Dapat Memicu Big Tech Bubar

KT1 16 Aug 2021 Investor Daily, 16 Agustus 2021

Perusahaan-perusahaan informasi teknologi informasi AS yang disebut Big Tech sedang menghadapi tekanan yang meningkat seiring penerapan aturan yang ketat di Washington dan tempat lain. Hal ini memungkinkan dapat memicu resiko bubarmya platform-platform terbesar itu. Bahkan, pemerintahan Presiden Joe Biden telah memberikan tanda tentang regulasi yang lebih agresif dengan menunjuk kritikus Big Tech di Komisi Perdagangan Federal. Sebagai informasi, para kritikus Big Tech di AS dan Uni Eropa  menginginkan Apple dan Google melonggarkan cengkraman pasar aplikasi daring (online) mereka, lebih banyak persaingan di pasar periklanan digital yang di dominasi oleh Google dan Facebook, dan akses yang lebih baik ke platform e-comemerce Amazon oleh penjual pihak ketiga.

Tercatat bahwa keempat perusahaan telah mencapai valuasi pasar di atas US$ 1 trilliun. Sementara itu, Apple memiliki valuasi pasar lebih dari US$ 2 trilliun. Saham Alpabhet juga naik sekitar 80% dari tahun lalu. Sedangkan Facebook naik sekitar 40% dan Apple naik hampir 30%. Ada pun pasar saham Amazon secara kasar setara dengan level tahun lalu setelah memecah record pada  bulan Juli. Namun para analisis mengatakan setiap tindakan agresif, baik ranah hukum atau legislatif, bisa memakan wakktu bertahun-tahun untuk dimainkan dan menghadapi tantangan.

"Pembubaran hampir mustahil," ujar analisi Daniel Newman di Futurum Research, ketika menanggapi perlunya perubahan legislatif yang kontroversial terhadap undang-undang antimonopoli. Faktor lain yang mendukung Big Tech, termasuk pergeseran besar-besaran ke komputasi awan dan aktivitas daring yang memungkinkan para pemain terkuat diuntungkan, serta tindakan tegas di Tiongkok terhadap perusahaan teknologi besarnya. "Tindakan tegas dari peraturan Tiongkok memiliki skala dan ruang lingkup yang begitu besar sehingga mendorong para investor dari teknologi Tiongkok menuju teknologi AS. Meskipun ada resiko regulasi di AS, itu berarti jika dibandingkan tindakan keras yang kami lihat dari Beijing," Kata Dan Ives dari Wedbush Security. (YTD)

GIC Naikkan Kepemilikan Jadi 11% di Bukalapak

KT2 12 Aug 2021 Investor Daily, 12 Agustus 2021

JAKARTA – GIC Private Limited membeli 1,6 miliar saham PT Bukalapak.com Tbk atau setara1,55% pada harga Rp 850 per unit, senilai sekitar Rp 1,4 triliun. Pasca transaksi, kepemilikan saham sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah Singapura di Bukalapak menjadi 11,33 miliar unit atau setara 11% dengan status kepemilikan langsung. GIC Private Limited adalah lembaga dana investasi pemerintah Singapura (GOS) dan Otoritas Keuangan Singapura (MAS), yang merupakan subsidiary Archipelago Investment Pte Ltd. "Aksi pembelian yang dilakukan Archipelago Investment untuk tujuan investasi," papar manajemen GIC Private Limited

Struktur pemegang saham Bukalapak terbaru setelah IPO akhir pekan lalu tercatat adalah PT Kreatif Media Karya (KMK Online) yang merupakan anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), Ant Group’s API Investment Ltd, dan GIC, yang secara bersama-sama memegang 46% saham di Bukalapak. Adapun Microsoft dan Mirae Asset memegang saham minoritas 2,7% di startup teknologi unicorn tersebut.

Direktur Utama Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengatakan, seluruh dana IPO akan menjadi modal kerja perseroan dan entitas anak. Fokus pendanaan ke depan adalah pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menjadi misi Bukalapak di masa depan. Berdasarkan prospektus Bukalapak, seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan sebesar 66%. Sisanya untuk modal kerja entitas anak, yaitu 15% untuk PT Buka Mitra Indonesia (BMI) dan 15% untuk PT Buka Usaha Indonesia (BUI). Selebihnya, sekitar 1% untuk PT Buka Investasi Bersama (BIB), 1% untuk PT Buka Pengadaan Indonesia (BPI), 1% untuk Bukalapak Pte Ltd (BLSG), dan sekitar 1%
untuk PT Five Jack (Five Jack Indonesia).

Pengamat pasar modal Fendi Susiyanto mengatakan, secara teknikal, harga saham Bukalapak berpeluang besar untuk terus meningkat dalam waktu dekat, sejalan dengan tingginya minat investor pada saham teknologi dan digital. Di sisi lain, tingginya gain yang diberikan oleh saham Bukalapak sejak listing juga membuat para investor cenderung melakukan profit taking. “Tampaknya, para investor terutama trader saat ini tidak terlalu mempedulikan harga saham dari segi valuasi. Sehingga, tingginya minat para investor secara teknikal dapat mendorong harga saham Bukalapak ke level Rp 2.000,” tuturnya. Dengan begitu, kata Fendi, bukan hal yang sulit bagi Bukalapak untuk masuk 10 besar market cap. Apabila proyeksi ini tercapai, kapitalisasi pasar Bukalapak dapat melesat menjadi Rp 250 triliun. “Selain tingginya minat para investor, saham Bukalapak juga menjadi ikon pertama saham teknologi yang melantai di pasar modal Indonesia. Hal itu menjadi pengaruh yang besar bagi para investor. Market cap Bukalapak bisa ke posisi tujuh, dengan target harga saham Rp 2.000,”


Ambyar Saham Lapak Online

Sajili 11 Aug 2021 Koran Tempo

Harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) terus ambles sejak awal pekan kedua Agustus atau hingga hari ketiga setelah e-commerce itu menggelar initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan kemarin, harga saham berkode BUKA ini menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) dengan penurunan 7 persen menjadi Rp 1.035 per lembar.

Direktur Ekuator Swarna Investama, Hans Kwee, mengatakan kondisi tersebut dipicu aksi ambil untung atau profit taking para investor. Sebelum IPO digelar, saham Bukalapak mengalami oversubscribed atau kelebihan pesanan hingga empat kali lipat karena diburu investor. Sesaat setelah IPO dan harganya melejit hingga batas atas atau auto rejection atas (ARA), investor menjual saham-saham tersebut demi menarik keuntungan.

Investor terpantau berlomba-lomba melepas saham BUKA, terbukti dari antrean jual yang menumpuk hingga 7,2 juta lot atau setara dengan nilai Rp 745 miliar. Investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp 123 miliar di pasar reguler, sehingga total akumulasi aksi jual bersih asing dalam tiga hari perdagangan mencapai Rp 1 triliun.

Saham BUKA baru sekali menyentuh ARA, yaitu pada hari pertama debutnya di Bursa Efek Indonesia. Ini kontras dengan perdagangan pada Senin lalu, saat harga saham BUKA melorot karena terjadi net sell investor asing Rp 492 miliar. "ARA yang terjadi pada hari pertama IPO merupakan euforia sesaat. Dan ketika harga sudah mulai naik, investor retail memilih ambil untung," kata Hans.


RI Ratifikasi Perjanjian E-Commerce Asean

HR1 10 Aug 2021 Investor Daily, 10 Agustus 2021

Pemerintah Indonesia segera merampungkan ratifikasi Perjanjian E-Commerce Asean atau Asean Agreement on E-Commerce untuk meningkatkan nilai perdagangan barang dan jasa serta iklim usaha yang semakin kondusif bagi pengembangan perdagangan secara elektronik di kawasan Asia Tenggara. “Saat ini, Indonesia tercatat sebagai satu-satunya negara Asean yang belum menyelesaikan proses ratifikasi Asean Agreement on E-Commerce. Kemendag akan mengintensifkan proses penyelesaian ratifikasi persetujuan ini secepatnya tahun ini agar dapat mengoptimalkan manfaatnya,” kata Direktur Perundingan Asean Kementerian Perdagangan Dina Kurniasari dalam keterangan resminya, Senin (9/8). Menurut Dina, pelaksanaan kesepakatan Asean Agreement on E-Commerce juga dibahas dalam rangkaian Pertemuan ketiga Pejabat Ekonomi Senior Asean ke-52 (Senior Economic Officials Internal/ SEOM 3/52) pada 2–4 Agustus 2021 secara virtual. Agenda lain yang dibahas pada SEOM kali ini yaitu upaya fasilitasi untuk meningkatkan ekspor ke Asean dengan melakukan review kebijakan nontarif yang berpotensi menghambat.

Selanjutnya, hasil rangkaian pertemuan SEOM akan dilaporkan pada Per temuan Tingkat Menteri Asean pada 9 September 2021 mendatang. Saat ini, Brunei Darusalam menjabat sebagai ketua Asean 2021 dan telah mengusulkan 13 prioritas ekonomi. Beberapa usulan utamanya yaitu untuk meningkatkan integrasi perekonomian di kawasan dan membantu mendorong pemulihan ekonomi. Di antaranya melalui Asean Investment Facilitation Framework (AIFF), Comprehensive Assessment to Streamline Non-Tariff Measures (NTMs), dan Launch of the Negotiations for the Asean-Canada Free Trade Agreement.

(Oleh - HR1)

Unicorn-Decacorn, Gairah Baru di Lantai Bursa

KT1 10 Aug 2021 Investor Daily, 10 Agustus 2021

Masuknya Unicorn dan decacorn ke lantai bursa Domestik bakal membuat pasar modal indonesia semakin bergairah. Sebesar apa animo para investor?. Pencatatan saham (listing) perusahaan rintisan (start-up) teknologi berstatus unicorn atau decacorn berpotensi mendongkrak nilai perdagangann saham di BEI ke depan. Hal ini juga berpotensi menaikkan jumlah investor, sehingga berdampak positif terhadap perkembangan industri pasar modal di Tanah Air. Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengatakan, emiten unicorn dan decacorn  berpotensi memiliki kapitalisasi pasar besar, seperti GoTo yang valuasinya di private market  sudah mencapai level US$ 25-30 milliar.

"Secara sektoral, teknologi memang sedang digemari  investor, termasuk investor asing. Salah satunya karena adanya outflow besar dari raksasa teknologi Tiongkok yang terbentur masalah keamanan data oleh pemerintah Tiongkok. Apabila perusahaan teknologi akan memuncaki klasemen di BEI? Tergantung besarnya IPO dan animo investor serta berbagai faktor seperti makro ekonomi." kata dia kepada IInvestor Daily.

Dengan melantainya unicorn  dan decacorn di bursa, Andreas mengatakan  bahwa pembobotan Indonesia di indeks, seperti MSCI, juga bisa kembali dinaikkan. Dengan demikian, dampak positif bukan hanya pada emiten teknologi tersebut, tapi juga liquiditas dan transaksi pasar secara keseluruhan di bursa. Pandangan senada diungkapkan oleh analis saham LBP Institute Lucki Bayu Purnomo. Menurut dia, melantainya unicorn dan decacorn berpotensi mengalahkan market  cap emiten konvensional yang ada saat ini. Namun, sentimen positi IPO saham unicorn dan decacorn diprediksi bersifat jangka pendek. Sebab baru Bukalapak saja yang listing, kecuali banyak emiten sejenis  yang melantai.

"Jadi kalau melantai di bursa sendirian itu tidak begitu kompetitif, tidak ada dua emiten sejenis masuk pasar untuk bisa dinilai emiten mana yang unggul. Kalau dibandingkan, pemodal belum  bisa  membandingkan, Bukalapak dengan emiten yang mana di bursa efek," ujar Lucky. Karena itu, dia mengatakan, BEI perlu mendorong unicorn dan decacorn lainnya untuk segera melantai di bursa saham Indonesia. Dengan semakin banyak emiten pembanding, arus transaksi investor akan meningkat. Pemodal tentu akan memiliki pilihan pembanding dalam tawar menawar saham di pasar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa potensi Bukalapak termasuk 10 besar market cap belum stabil. Sebab pada akhirnya para investor akan realistis dan memilih saham-saham yang memiliki fundamental yang terjaga ketimbang yang sedang menjadi tren. (YTD)

Bukalapak Bersiap Masuk 10 Besar Market Cap

KT1 10 Aug 2021 Investor Daily, 10 Agustus 2021

Saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sangat berpeluang masuk 10 besar market cap di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan senin (9/8), nilai market cap atau kapitalisasi pasar saham Bukalapak mencapai Rp 114,39 trilliun, menempati urutan ke-12. Market cap Bukalapak berada di atas PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang sebesar 102,72 trilliun atau di posisi 13. Namun, di bawah PT HM Sampoerna Tbk dengan market cap Rp 123,87 trilliun atau di posisi 11. Adapun emiten dengan market cap terbesar di BEI masih ditempati PT Bank Central Asia Tbk Rp 756,64 trillin. Disusul, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Rp 474, 87 trilliun. dan PT Telkom Indonesia Tbk Rp 321,95 trilliun.

Founder traferindo.com Wahyu Laksono mengatakan, harga saham Bukalapak masih memiliki potensi naik seiring tren sektor teknologi yang masih kuat, " Saham Bukalapak tahun ini ditergetkan mencapai Rp 2.000-3.000," kata Wahyu pada Investor Daily, kemarin. Secara terpisah, pengamat pasar modal Fendi Susiyanto mengatakan, secara teknikal, harga saham Bukalapak berpeluang besar untuk terus meningkat dalam waktu dekat, sejalan dengan tingginya minat investor pada saham teknologi dan digital.

Dengan begitu, kata Fendi, bukan hal yang sulit bagi Bukalapak untuk masuk 10 besar market cap. Apabila proyeksi ini tercapai , kapitalisasi Bukalapak dapat melesat menjadi Rp 250 trilliun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa potensi Bukalapak masuk 10 besar market cap belum stabil. Sebab pada akhirnya para investor akan realistis dan memilih saham-saham yang memiliki foundamental yang terjaga ketimbang yang sedang menjadi trend. (YTD)