Peraturan Ketat Dapat Memicu Big Tech Bubar
Perusahaan-perusahaan informasi teknologi informasi AS yang disebut Big Tech sedang menghadapi tekanan yang meningkat seiring penerapan aturan yang ketat di Washington dan tempat lain. Hal ini memungkinkan dapat memicu resiko bubarmya platform-platform terbesar itu. Bahkan, pemerintahan Presiden Joe Biden telah memberikan tanda tentang regulasi yang lebih agresif dengan menunjuk kritikus Big Tech di Komisi Perdagangan Federal. Sebagai informasi, para kritikus Big Tech di AS dan Uni Eropa menginginkan Apple dan Google melonggarkan cengkraman pasar aplikasi daring (online) mereka, lebih banyak persaingan di pasar periklanan digital yang di dominasi oleh Google dan Facebook, dan akses yang lebih baik ke platform e-comemerce Amazon oleh penjual pihak ketiga.
Tercatat bahwa keempat perusahaan telah mencapai valuasi pasar di atas US$ 1 trilliun. Sementara itu, Apple memiliki valuasi pasar lebih dari US$ 2 trilliun. Saham Alpabhet juga naik sekitar 80% dari tahun lalu. Sedangkan Facebook naik sekitar 40% dan Apple naik hampir 30%. Ada pun pasar saham Amazon secara kasar setara dengan level tahun lalu setelah memecah record pada bulan Juli. Namun para analisis mengatakan setiap tindakan agresif, baik ranah hukum atau legislatif, bisa memakan wakktu bertahun-tahun untuk dimainkan dan menghadapi tantangan.
"Pembubaran hampir mustahil," ujar analisi Daniel Newman di Futurum Research, ketika menanggapi perlunya perubahan legislatif yang kontroversial terhadap undang-undang antimonopoli. Faktor lain yang mendukung Big Tech, termasuk pergeseran besar-besaran ke komputasi awan dan aktivitas daring yang memungkinkan para pemain terkuat diuntungkan, serta tindakan tegas di Tiongkok terhadap perusahaan teknologi besarnya. "Tindakan tegas dari peraturan Tiongkok memiliki skala dan ruang lingkup yang begitu besar sehingga mendorong para investor dari teknologi Tiongkok menuju teknologi AS. Meskipun ada resiko regulasi di AS, itu berarti jika dibandingkan tindakan keras yang kami lihat dari Beijing," Kata Dan Ives dari Wedbush Security. (YTD)
Tags :
#e-commercePostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023