Ekonomi Internasional
( 642 )Isu Debt Ceiling Amerika Ikut Menekan Rupiah
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) sedang merampungkan pembahasan mengenai plafon utang AS (
debt ceiling
). Langkah ini merupakan response kekhawatiran global akan potensi gagal bayar utang Negeri Paman Sam, yang berpotensi memunculkan perubahan peringkat utang negara itu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, tensi tinggi di AS akan memberikan dampak terhadap Indonesia. Terlebih, kesepakatan belum dicapai. Alhasil, ada kemungkinan ambang batas utang yang tinggi atau ambang batas utang ditetapkan rendah.
"Ini menimbulkan ketidakpastian pasar keuangan global, akibat isu negosiasi ini dolar AS kemudian menguat dan memengaruhi nilai tukar, termasuk Indonesia," terang dia dalam konferensi pers, belum lama ini.
Namun dia memastikan, bank sentral akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut akan dilakukan lewat triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, pasar domestic non deliverable forward (DNDF) dan pasar surat berharga negara (SBN) sekunder.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, dalam masa pembicaraan, akan ada ketidakpastian di pasar keuangan global sehingga banyak investor yang akan mengambil langkah untuk menghindari risiko ( risk off ).
Perkiraan Faisal, nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp 15.000 per dolar AS dalam jangka pendek. Namun, ada kemungkinan rupiah menguat kembali ke kisaran Rp 14.800 hingga Rp 14.900 per dolar AS pada Juni 2023.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat pembicaraan mengenai batas utang AS tak memberikan dampak signifikan terhadap Indonesia, terutama di pasar obligasi.
Ekonomi Jerman dan AS Krisis, Indonesia Terkendali
Dua negara maju dengan perekonomian yang kuat, AS danJerman, tengah menghadapi krisis. Bahkan, AS masih terkurung dalam perundingan penetapan pagu utang antara Gedung Putih selaku pemerintahan eksekutif dan DPR selaku pembuat undang-undang. Sementara itu, di Jerman, baik pemerintah maupun pakar keuangan memperkirakan tak akan ada kemerosotan ekonomi secara drastis. Namun, juga tak akan ada kenaikan yang menentukan. Intinya, perekonomian hingga tahun 2024 diduga akan landai. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan, Jumat (26/5) menilai transmisi risiko dari potensi krisis di AS dapat memengaruhi sektor moneter dan keuangan Indonesia, sementara resesi di Jerman berpotensi menambah tekanan kinerja ekspor Indonesia.
Dari sisi moneter, gagal bayar utang AS dapat mendorong depresiasi nilai tukar rupiah yang berdampak pada kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Indonesia. ”Risikonya, yield yang meningkat bisa menambah beban APBN,” kata Abdul. Meski demikian, ia meyakini dampak dari krisis di kedua negara itu ke Indonesia masih akan terkendali. Hingga Jumat (26/5), Gedung Putih dan DPR AS masih terus merundingkan penetapan pagu utang. Jubir Gedung Putih Karine Jean Pierre mengatakan, perundingan itu berlangsung lancar dan produktif. Kedua pihak menyepakati keputusan mengenai pagu utang harus ditetapkan paling lambat 1 Juni 2023. Dalam perundingan, pagu utang bisa dinaikkan, tetapi harus ada pembatasan belanja dengan menetapkan batas atas. (Yoga)
Biaya Hidup Tinggi Perlambat Pemulihan
Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC mengingatkan ada tiga faktor yang akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini, yaitu biaya hidup yang lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, permintaan ekspor melemah, dan fiskal negara makin ketat. Direktur Unit Kebijakan (PUC) APEC Carlos Kuriyama mengatakan, saat ini, biaya hidup lebih tinggi dari sebelum pandemi Covid-19. Bersamaan dengan itu, tingkat pendapatan masyarakat di banyak negara anggota APEC belum pulih ke level prapandemi. Kondisi itu membuat ketimpangan pendapatan kian meluas. Populasi yang paling rentan menjadi yang paling terpukul. Biaya hidup yang tinggi itu akan memperlambat pemulihan ekonomi pada tahun ini.
”Salah satu tujuan APEC didirikan pada 1989 adalah untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup. Namun, saat ini, dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa standar hidup masyarakat telah turun karena kehilangan pekerjaan dan pendapatan,” ujarnya dalam pertemuan APEC di Detroit, AS, yang berlangsung pada 24-25 Mei 2023, melalui siaran pers. APEC juga melihat, banyak negara anggota APEC yang ruang fiskalnya menyempit dan utangnya melonjak, lantaran negara-negara tersebut banyak mengeluarkan biaya untuk memberikan stimulus besar-besaran untuk mempertahankan ekonomi, serta kehidupan dan mata pencarian masyarakat selama Covid-19. Di sisi lain, APEC menilai momentum pemulihan kinerja perdagangan telah hilang akibat gangguan penawaran dan permintaan karena efek gabungan konflik geopolitik. Akumulasi tindakan pembatasan perdagangan, terutama terkait pembatasan dan larangan ekspor, juga meningkat. (Yoga)
Masyarakat Ekonomi Digital Asean 2045
Seratus besar topik yang paling banyak dicari dan diperbicangkan belakangan ini terkait dengan satu kata: digital! Semua yang Anda pikirkan, lihat, katakan, dan kerjakan pasti sedikit banyak ada kaitannya dengan digital – dalam era di mana digital telah mengisi semua sudut hidup kita. Salah satu isu penting dari 125 pasal dalam Pernyataan Ketua Asean termaktub di Pasal 60, yang menyebutkan, “…demi mencapai transformasi digital yang inklusif menuju Masyarakat Ekonomi Digital Asean 2045.” Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean telah digelar pada tanggal 9 hingga 11 Mei lalu, dan masih ada satu lagi KTT pada 5-7 September 2023.
Pertama, mari renungkan sejenak makna penting KTT Asean dalam upaya membentuk visinya. Pada 2003, Asean sepakat untuk membentuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan tenggat pada 2020, yang kemudian dipercepat menjadi 2015. Pada 2011, Asean memutuskan untuk mewujudkan integrasi dengan Asia Timur melalui skema Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang mencakup 10 negara anggota Asean dan lima negara mitra dagang dan investasi. Jika digabungkan, 15 negara tersebut mencakup sepertiga populasi global. Negara-negara dalam RCEP juga mewakili 30% PDB global, 27% perdagangan global, dan 30% investasi asing langsung (FDI), sehingga menjadikan kelompok ini sebagai blok ekonomi yang pengaruhnya makin kuat di perekonomian global. Kedua, kita coba pahami logika di balik pembentukan Masyarakat Digital Asean 2045. Asean secara umum punya sejarah panjang tentang kolonialisme dan imperialisme, yang berlangsung sejak abad ke-17 hingga abad ke-20. (Yetede)
Ekonom Prediksikan Era Baru Inflasi Tinggi
LONDON, ID – Para ekonom terkemuka memprediksi penaikan suku bunga berkepanjangan akan memperlihatkan kelemahan-kelemahan lebih lanjut di sektor perbankan, dan berpotensi membahayakan kapasitas bank sentral untuk mengendalikan inflasi. Proyeksi era baru inflasi tinggi disampaikanmenyusul kabar penyelamatan First Republic Bank oleh JPMorgan Chase pada akhir pekan lalu. The Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbarunya pada Rabu (03/05/2023) siang waktu setempat, diikuti oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (04/05/2023). Seperti diberitakan, perbankan sentral di seluruh dunia telah sedemikian agresif menaikkan suku bunga selama lebih dari setahun untuk meredam laju inflasi yang sangat tinggi. Namun, dalam beberapa hari terakhir, para ekonom memperingatkan bahwa te kanan harga tampaknya masih lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Sebelumnya, laporan “WEF Chief Economists Outlook” yang dirilis pada Senin (01/05/2023) telah menyoroti isu tingkat inflasi tetap menjadi perhatian utama. (Yetede)
China Akan Menjadi Lokomotif Ekonomi Global
Lima tahun lagi, China diprediksi menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Kontribusinya akan lebih besar dari kontribusi perekonomian Amerika Serikat. Kalkulasi itu dihitung Bloomberg, Selasa (18/4/2023), berdasarkan data proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang dirilis pekan lalu. Kontribusi China terhadap produk domestik bruto global akan mencapai 22,6 %. (Yoga)
Tugas Fed Menurunkan Inflasi Terlalu Berat
Misi Bank Sentral AS menurunkan suku bunga berat. Ini bukan saja soal stimulus ekonomi dengan jumlah dana berlebihan, penyebab inflasi. Kebijakan fiskal Pemerintah AS yang selalu defisit turut membebani. Ini masih ditambah dengan kebijakan luar negeri AS yang sangat menonjolkan konfrontasi dengan blok China dan berefek inflatoir. Ekonom Jeremy Siegel konstan menentang lanjutan kenaikan suku bunga. Sejak akhir 2022, Siegel memperingatkan kenaikan suku bunga harus diredam karena akan memukul perekonomian. Namun, suara umum menyebutkan inflasi sebesar 5 % masih terlalu tinggi dan suku bunga perlu dinaikkan lagi hingga inflasi mencapai 2 %. Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell terjepit di tengah dua opini: melanjutkan kenaikan suku bunga atau menghentikannya. Rapat Komite Kebijakan Pasar Terbuka Fed (FOMC), 21-22 Maret 2023, memperlihatkan kegamangan itu.
FOMC menghadapi trilema, terkait pertumbuhan, inflasi, dan krisis keuangan/perbankan yang tidak bisa dicapai bersamaan. Kenaikan suku bunga mencegah pertumbuhan ekonomi dan telah membuat Silicon Valley Bank (SVB) bangkrut. ”Beberapa pembuat kebijakan di Federal Reserve berpikir untuk menghentikan kenaikan suku bunga,” demikian hasil pertemuan itu. Dalam pertemuan itu, khususnya Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menyatakan suku bunga tetap perlu dinaikkan. Jika tidak, risikonya adalah kenaikan inflasi kembali. Goolsbee menyimpulkan, FOMC perlu menaikkan suku bunga ketimbang berpikir semata soal risiko pengetatan kucuran kredit perbankan AS akibat kenaikan suku bunga. Di akhir pertemuan FOMC diputuskan, kenaikan suku bunga hanya sebesar 0,25 %, menjadikan suku bunga naik di kisaran 4,75-5 %. (Yoga)
Metafora Ekonomi
Pada pidato Game of Thrones Presiden Jokowi dalam pembukaan Sidang Paripurna Pertemuan Tahunan Grup Bank Dunia-Dana Moneter Internasional di Nusa Dua, Bali, 12 Oktober 2018, Presiden mengilustrasikan kondisi ketidakpastian global dengan serial drama fantasi tentang perebutan kekuasaan, Game of Thrones karya David Benioff dan DB Weiss. Dalam konteks perang Rusia-Ukraina, Menlu Ukraina Dmytro Kuleba menyikapi secara kritis Rusia yang mengembargo ekspor biji-bijian atau bahan baku pangan Ukraina. Pada pertemuan ASEAN Summit 2022 di Phnom Penh, Kamboja, pada 12 November 2022, Kuleba menyebut Moskwa memainkan Hunger Games. Pada saat krisis biaya hidup akibat kenaikan harga pangan melanda sejumlah negara, muncul istilah lunchflation (lunch and inflation) yang menggambarkan inflasi atau kenaikan harga sekotak atau seporsi makan siang yang menggerus daya beli masyarakat. Itulah yang disebut metafora ekonomi.
Membahasakan dan membumikan situasi atau kondisi ekonomi tertentu tidak hanya dengan angka dan statistik, tetapi sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia. Belakangan ini, IMF kerap menggunakan metafora ekonomi. Pada Pertemuan Musim Semi Grup Bank Dunia-IMF di Washington, AS, IMF mengibaratkan kondisi pemulihan ekonomi dunia sebagai ”pemulihan berbatu”. Saat menjelaskan tentang laporan terbaru IMF ”Tinjauan Ekonomi Dunia: Pemulihan Berbatu” pada 11 April 2023, Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyatakan, pemulihan ekonomi global tetap bertahan pada jalurnya, tetapi jalannya semakin berbatu. Inflasi perlahan turun, tetapi pertumbuhan ekonomi tetap rendah secara historis dan risiko keuangan meningkat. Bahasa kiasan itu bukan sekadar memperindah retorika ekonomi, melainkan memang diperlukan dalam memahami dan menjelaskan teori ekonomi abstrak serta fenomena ekonomi yang kompleks. (Yoga)
Aksi Mogok Membebani Ekonomi Inggris
Data resmi yang dirilis Kantor Statistik Nasional (ONS) pada Kamis (13/04) menunjukkan, perekonomian Inggris stagnan pada Februari 2023 karena aksi mogok pegawai negeri berdampak menekan produksi. Tetapi, penaikan yang terjadi pada Januari lebih kuat dari perkiraan sebelumnya dan ini berarti resesi menjadi lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi pada awal 2023. ONS telah merevisi naik estimasi pertumbuhan Januari dari 0,3% menjadi 0,4%. Ini berarti Inggris kemungkinan besar menghindari kontraksi kuartaI yang diprediksi Bank of England (BOE) bulan lalu. Proyeksi IMF yang diterbitkan minggu ini menunjukkan, Inggris berada di posisi terbawah dari negara-negara besar dunia dalam pertumbuhan ekonomi 2023. Di mana proyeksi kontraksi sebesar 0,3%, atau turun 0,7% untuk basis per kapita.
Menurut Direktur Ekonomi di badan akuntan ICAEW Suren Thiru, kekhawatiran resesi bakal tetap ada karena pajak yang lebih tinggi, dan biaya pinjaman mengimbangi penurunan inflasi serta adanya bantuan pemerintah untuk tagihan energi. “Angka-angka itu juga menunjukkan, perekonomian telah kehilangan momentum karena inflasi yang sangat tinggi dan aksi mogok kerja terus menyeret pendorong-pendorong utama PDB Inggris, terutama industri jasa dan produksi,” tambah Thiru. Ia menambahkan, BoE harus mengakhiri kenaikan suku bunga bulan depan karena menaikkan suku bunga akan semakin melemahkan prospek pertumbuhan negara ini. (Yetede)
Beda Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,8 % pada 2023, turun dari sebelumnya 3,4 % pada 2022. Berdasarkan laporan bertajuk World Economic Outlook, penurunan proyeksi itu disebabkan oleh tekanan yang bersumber dari sistem finansial, yang di dalamnya kerentanan sistem keuangan dikhawatirkan dapat memicu krisis baru serta mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini.
“IMF tetap mendorong negara anggota tetap melaksanakan kebijakan moneter ketat guna melawan tingkat inflasi global yang masih tinggi,” begitu IMF menuliskan dalam laporan WEO, kemarin. Pelemahan juga diperkirakan masih berlangsung pada 2024, di mana pertumbuhan ekonomi global diprediksi sebesar 3 %. Direktur Departemen Pasar Modal dan Moneter IMF, Tobias Adrian, mengatakan “Prioritas saat ini adalah menjaga inflasi dan stabilitas harga, baru diikuti stabilitas keuangan untuk kebijakan moneter bank sentral,” ujar Tobias.
Berbeda dengan perekonomian global yang lesu, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru diproyeksi menguat pada tahun ini. IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 %, naik dari proyeksi sebelumnya 4,8 %, diikuti outlook pertumbuhan 2024 sebesar 5,1 %. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengungkapkan proyeksi optimistis itu tak lepas dari kondisi perekonomian domestik yang menunjukkan ketahanan dan penguatan di sejumlah indikator utama. “Kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh IMF ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu titik terang di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” katanya. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









