;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

2023 Kembali jadi Tahun Mengerikan

KT1 23 Feb 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Tidak seperti laporan terakhir Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut kondisi ekonomi global tak sesuram yang dibayangkan semula, perkembangan terkini justru mengindikasikan bahwa tahun ini bakal kembali menjadi tahun yang mengerikan (annus horribilis). Seperti tahun 2022, dana berkelanjutan global kini menghadapi banyak hambatan kondisi ekonomi makro termasuk perang di Ukraina, kekurangan energi global, lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga, dan kekhawatiran akan resesi. Bahkan, dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian dan gejolak seperti saat ini, kabar baik yang semestinya mendatangkan sentimen positif, justru memberi dampak yang sebaliknya. Purchasing Managers’ Index (PMI) Amerika Serikat (AS) yang begitu kuat masuk ke level ekspansi, yakni 50,2, telah mendorong investor memberikan prediksi puncak suku bunga The Fed (Fed fund rate) yang lebih tinggi dari posisi saat ini 4,50% - 4,75% dengan kenaikan 2-3 kali lagi. (Yetede)

Hambatan Ekonomi Mereda

KT3 22 Feb 2023 Kompas

IMF menyebutkan hambatan ekonomi di Asia, termasuk Indonesia, mulai mereda. Pemulihan ekonomi China dan India akan mendorong perekonomian negara-negara di kawasan tersebut berangsur kembali pada kondisi sebelum pandemi Covid-19. Hal itu mengemuka dalam tinjauan ekonomi IMF bertajuk ”Hambatan Perekonomian Asia yang Mereda Membuka Jalan bagi Pemulihan yang Lebih Kuat”. Tinjauan yang disusun tim ekonom Departemen Asia Pasifik IMF itu dipublikasikan pada 20 Februari 2023. Laporan tersebut menyebutkan, hambatan ekonomi Asia mereda lantaran tekanan gejolak keuangan global melandai. Selain itu, harga pangan dan energi turun. Perekonomian China juga pulih kembali.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi India yang masih cukup tinggi akan turut menopang pemulihan Asia. Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam juga kembali ke  pertumbuhan pra-pandemi yang kuat. IMF memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Asia dapat meningkat dari 3,8 5 pada 2022 menjadi 4,7 % pada 2023.EkonomiChina dan India pada 2023 diproyeksikan tumbuh masing-masing 5,2 % dan 6,1 %. Adapun ekonomi RI diperkirakan tumbuh 4,8 % tahun ini, lebih rendah daritahun lalu di 5,31 %. ”Analisis terbaru kami menunjukkan, setiap ekonomi China tumbuh 1 poin persentase, output di seluruh Asia naik sekitar 0,3 %,” kata Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan. (Yoga)


Pasar Saham Cemaskan Suku Bunga Naik Lebih Lama

KT1 20 Feb 2023 Investor Daily (H)

NEW YORK, ID – Para investor di pasar saham global sekarang mengantisipasi kemungkinan siklus penaikan suku bunga acuan akan lebih lama. Data inflasi terbaru telah meningkatkan kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral akan berlanjut. Pasar saham global sebagian besar jatuh pada akhir perdagangan pekan lalu karena kekhawatiran tersebut. Setelah bursa saham di Eropa dan Asia ditutup melemah, pasar saham AS ditutup bervariasi setelah komentar bernada hawkish dari beberapa pejabat The Federal Reserve (The Fed). Setelah keluar data bahwa imbal hasil obligasi 10 tahun AS sedikit lebih rendah, penurunan di indeks Nasdaq berkurang dan Dow naik secara moderat sampai ditutup naik 100 poin lebih. Kalangan analis mencatat bahwa volume transaksi tipis di AS menjelang liburan pada Senin (20/02/2023) untuk memperingati Hari Presiden. “Bukan hanya ekspektasi terhadap The Fed yang meningkat, para pialang juga memperkirakan (Bank Sentral Eropa) menaikkan suku bunga jauh lebih tinggi,” kata Edward Moya dari Oanda. (Yetede)

Mesir bergabung dengan BRICS dalam langkah strategis dalam upaya De-dollarisasi pasar global

fahri 13 Feb 2023 Tim Labirin

Mesir telah menjadi anggota terbaru BRICS yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan pada tahun 2014. Langkah ini dapat diperhitungan sebagai poin penting dalam kampanye "de-dollarisasi" yang bertujuan untuk mengurangi dominasi dolar AS di pasar global dan mempromosikan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan internasional.

Fenomena de-dollarisasi ini muncul sehubungan dengan keinginan untuk melindungi bank sentral dari risiko geopolitik negara anggota BRICS dan untuk menantang kemampuan AS untuk menggunakan dolar sebagai senjata untuk menjatuhkan sanksi. Saat ini, 60% cadangan devisa bank sentral dan 70% perdagangan global dilakukan dengan menggunakan dolar AS.

BRICS memperkenalkan Russia-China payment system yang tidak melalui SWIFT dan merupakan gabungan antara the Russian System for Transfer of Financial Messages dengan the Chinese Cross-Border Interbank Payment System. Pada tahun 2021, Rusia mengurangi share of dollar-denominated assets menjadi 16% dan mengurangi ketergantungan perdagangannya pada dolar AS menjadi kurang dari 10%  dalam bentuk ekspor ke negara-negara BRICS. India juga telah menjajaki rencana untuk mengurangi ketergantungannya pada dolar, termasuk penggunaan Rupee India dalam perdagangan bilateral dengan negara-negara pengekspor minyak.

Kampanye de-dollarisasi ini mendapatkan momentum dengan semakin banyaknya negara-negara seperti Argentina, Aljazair, Iran, Indonesia, Turki, dan Arab Saudi yang menunjukkan ketertarikan mereka untuk bergabung dengan BRICS. Dengan Mesir sebagai anggota terbaru yang bergabung ke dalam BRICS, mengindikasikan bahwa Afrika juga mulai mendukung inisiatif ini.

Dengan masuknya Mesir ke dalam BRICS merupakan langkah signifikan untuk mengurangi dominasi dolar AS di pasar global. Kampanye de-dollarisasi didorong oleh keinginan untuk mengisolasi bank sentral dari risiko geopolitik dan menantang hegemoni dolar AS. Pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina telah meningkatkan pentingnya kemandirian dan dukungan negara-negara lain untuk inisiatif ini.

Prospek Konservatif Pertumbuhan Ekonomi

KT3 07 Feb 2023 Kompas (H)

IMF merevisi ramalan pertumbuhan global dari pesimistis berhati-hati ke positif-konservatif. Prediksi pertumbuhan ekonomi dunia 2023 direvisi dari angka sebelumnya 2,7 % ke 2,9 %. Meski demikian, IMF juga tetap konservatif, dengan melakukan smoothing prediksi, pada 2023 dinaikkan, tetapi tetap konservatif di 2024 pada 3,1 %. Selain itu, inflasi di 84 % negara-negara di dunia juga diperkirakan turun dari 8,8 % pada 2022 ke 6,6 % pada 2023, dan 4,1 % pada 2024. Beberapa faktor memengaruhi perubahan prediksi ini. Pertama adalah pertumbuhanpositif AS yang mengejutkan di triwulan III dan IV 2022 masing-masing sebesar 3,2 % dan 2,9 %. Faktor penting lain adalah relaksasi kebijakan nol Covid-19 di China. Faktor terakhir adalah musim dingin yang relat ”hangat’’ di Eropa sehingga beberapa obyek wisata ski di pegununganAlpen terpaksa tutup karena hampir tidak ada salju. Sebagai konsekuensinya, harga energi global terutama gas alam dunia cenderung turun karena permintaan energi untuk kebutuhan menghangatkan rumah turun.

Menghadapi prospek resesi global 2023, IMF bertindak seperti petugas air traffic control yang  membimbing pendaratan pesawat ke arah jalur udara yang aman (approach and landing phase of flight). Ide kredibel membimbing soft landing perekonomian global ini dan anjuran moderasi dalam kenaikan  suku bunga global untuk memerangi inflasi mulai muncul dalam artikel Maurice Obsfeld mantan Chief Economist IMF. Ia menulis artikel dengan judul ”Central banks are raising interest rate nearly everywhere, risking a global recession”. Cara pandang di luar pakem (out of the box) ini juga muncul dalam narasi  pada satu konferensi pendamping pra-pertemuan G20 di Bali. Seorang narasumber IMF mengusulkan posisi seimbang dalam mengambil kebijakan, mengendalikan ekspektasi inflasi tanpa mengganggu pertumbuhan karena dunia sedang dalam proses pemulihan dari resesi dunia akibat pandemi Covid-19. Pernyataan yang lebih eksplisit diumumkan dalam World Economic Outlook bulan Oktober 2022.  Sepertiga negara-negara di dunia akan mengalami resesi, memberi sinyal dua pertiga lainnya dengan kebijakan yang tepat akan dapat menghindari resesi. Akhirnya adalah publikasi World Economic 2023 yang bernada positif-konservatif dengan merevisi pertumbuhan ke atas. (Yoga)


SINYAL CERAH BAGI PASAR

HR1 03 Feb 2023 Bisnis Indonesia (H)

Sederet kelas aset, mulai dari saham, obligasi, hingga emas dan kripto, mengalami apresiasi harga setelah Federal Reserve memberi sinyal untuk segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga yang agresif. Dalam Rapat Komite Pasar Terbuka (FOMC) pada 1 Februari 2023 atau Kamis (2/2) waktu Indonesia, The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,5%-4,75%. The Fed memperlambat laju kenaikan dari 50 basis poin pada Desember 2022 dan 75 basis pada empat pertemuan sebelumnya. “Komite mengantisipasi bahwa kenaikan berkelanjutan dalam kisaran target akan sesuai untuk mencapai sikap kebijakan moneter yang cukup ketat guna mengembalikan inflasi menjadi 2% dari waktu ke waktu,” kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pernyataannya. Keputusan The Fed itu direspons positif oleh pelaku pasar keuangan. Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,41% ke level 6.890,57 pada perdagangan kemarin. Laju IHSG didongkrak oleh kinerja sektor teknologi dan kesehatan yang masing-masing memantul 4,48% dan 1,84%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan kenaikan suku bunga The Fed yang tidak agresif memberikan optimisme bagi investor pasar saham, meningkatkan risk appetite, sekaligus meredam risiko volatilitas di lantai bursa. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya menyebut fokus pasar berikutnya adalah tingkat inflasi yang dalam tren turun tapi masih jauh dari target bank sentral. Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan sektor finansial yang merupakan tulang punggung IHSG menjadi yang paling diuntungkan dari kebijakan bank sentral global dan Indonesia. “Kenaikan laba sampai dua digit disebabkan oleh net interest margin yang meningkat ketika tren kenaikan suku bunga berlangsung,” paparnya.

Proyeksi Dunia Sedikit Lebih Optimistis

KT3 01 Feb 2023 Kompas (H)

Memasuki tahun 2023, proyeksi pertumbuhan ekonomi global sedikit lebih optimistis kendati masih dibayangi perlambatan. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2,9 % tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di 2,7 %, yang diungkapkan pada laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2022. Dalam laporan terbarunya, World Economic Outlook Update edisi Januari 2023 yang dipublikasikan pada Selasa (31/1) IMF memprediksi, secara umum pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,4 % pada 2022 menjadi 2,9 % pada 2023, lalu naik ke 3,1 % pada 2024. Kembali dibukanya perekonomian China setelah ditutup akibat penyebaran Covid-19 diyakini akan mendorong pemulihan lebih cepat. Kondisi keuangan global juga dinilai mulai membaik dengan menurunnya inflasi serta dollar AS yang mulai turun dari level tertingginya.

Inflasi global diperkirakan turun dari 8,8 % pada 2022 menjadi 6,6 % pada 2023, lalu menjadi 4,3 % pada 2024. Kendati trennya terus menurun, proyeksi itu di atas level prapandemi Covid-19 ketika inflasi di angka 3,5 %. Laporan itu memaparkan, risiko perlambatan lain, seperti perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung serta kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral negara maju,tetap akan membawa ketidakpastian ekonomi sepanjang tahun ini. Namun, berbagai risiko itu dinilai sudah lebih reda ketimbang Oktober 2022 lalu. Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas dalam konferensi pers secara virtual, Selasa mengatakan, ekonomi global terbukti kuat menghadapi tekanan sepanjang triwulan III-2022 dengan pasar ketenagakerjaan yang tangguh, permintaan (demand) yang tetap tinggi, serta kemampuan beradaptasi yang baik dalam menyikapi krisis energi di Eropa. (Yoga)


IMF Naikkan Prospek Pertumbuhan Global 2023

KT1 01 Feb 2023 Investor Daily

SINGAPURA, ID – Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (31/1/2023) menaikkan sedikit prospek pertumbuhan global 2023. Faktor pendorongnya adalah permintaan yang sangat tangguh di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Juga penurunan biaya energi serta pembukaan kembali ekonomi Tiongkok setelah pemerintahnya mencabut kebijakan nol-Covid. Menurut IMF, tingkat pertumbuhan global masih akan turun dari 3,4% pada 2022 menjadi 2,9% pada 2023. Tetapi prakiraan Outlook Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) terbaru menunjukkan prediksi pertumbuhan itu naik dari 2,7% pada proyeksi  Oktober tahun lalu. Prakiraan ini turut disertai peringatan bahwa dunia dapat dengan mudah mengarah ke resesi. Sementara untuk 2024, IMF menyatakan tingkat pertumbuhan global bakal sedikit naik menjadi 3,1% tapi angka tersebut masih sepersepuluh poin persentase di bawah perkiraan Oktober. Hal ini disebabkan dampak menyeluruh dari kenaikan suku bunga bank sentral yang curam sehingga memperlambat permintaan. (Yetede)

Meski Berkurang, Potensi Resesi Masih Terbuka

KT3 28 Jan 2023 Kompas

Inflasi di AS dan Uni Eropa mulai berkurang meskipun tetap tinggi. Kendati memberi harapan, penurunan itu tetap disikapi dengan hati-hati. Sejumlah pihak di AS menyebut, potensi resesi masih terbuka di negara itu. ”Mungkin pada triwulan ketiga atau keempat,” kata pemimpin Starwood Capital Group, Barry Sternlicht, kepada CNBC, Kamis (26/1). (Yoga)

Indonesia Bertahan di Tengah Krisis

KT3 27 Jan 2023 Kompas

Cedera dunia diperkirakan semakin dalam tahun ini dan mulai menggerogoti sisi sosial-ekonomi masyarakat. Indonesia diperkirakan dapat bertahan di tengah cedera dunia tersebut. Dalam laporan tentang Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia 2023 yang dipublikasikan pada Rabu (25/1) Lembaga Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) memperkirakan ekonomi dunia tahun ini tumbuh 1,9 %, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 3 %. Tingkat inflasi dunia diperkirakan mereda tahun ini meskipun angka dan risikonya masih tinggi. UNCTAD memproyeksikan inflasi dunia sepanjang 2022 mencapai 9 % dan pada 2023 sebesar 6,5 %. Proyeksi ekonomi makro itu mempertimbangkan serangkaian guncangan yang parah dan saling memperkuat pada 2022 yang imbasnya akan merambat pada tahun ini, yaitu pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, perubahan iklim, inflasi tinggi akibat krisis pangan dan energi, serta pengetatan suku bunga acuan dan peningkatan utang.

”Ini bukan waktunya untuk berpikir jangka pendek dan menghemat fiskal secara spontan. Jika dilakukan justru akan semakin memperburuk ketimpangan dan membuat SDGs semakin jauh dari jangkauan,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres. Kendati begitu, Indonesia diperkirakan dapat bertahan menghadapi imbas krisis ekonomi global pada tahun ini. UNCTAD memperkirakan, ekonomi Indonesia akan tumbuh melambat menjadi 5 % pada 2023 setelah tumbuh 5,3 % pada 2022. Tingkat inflasi Indonesia pada 2023 diperkirakan 5,5 %. Tingkat inflasi itu akan kembali pada kisaran target bank sentral pada 2024. Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri(Persero)Tbk Dendi Ramdani menuturkan, kinerja ekspor Indonesia tahun ini masih tertopang harga komoditas yang relative tinggi dan perbaikan permintaan di China. Namun, agar tidak hanya dinikmati segelintir orang, pemerintah perlu memastikan agar buah dari ekspor itu dapat memberikan trickle down effect (tetesan ekonomi) yang optimal ke masyarakat bawah. (Yoga)