Ekonomi Internasional
( 635 )PERTUMBUHAN EKONOMI, Sukses dan Gagal Argentina
Argentina bisa dibilang sebagai negara yang gagal mengelola ekonominya dengan baik. Seusai pandemi Covid-19, saat ekonomi negara-negara lain mulai pulih dan bangkit kembali, ekonomi Argentina tetap terpuruk. Berdasar data IMF, pertumbuhan ekonomi Argentina selama triwulan I-2023 hanya 0,2 %. Inflasinya melambung tinggi hingga 108,8 %, menjadikan Argentina sebagai salah satu negara dengan inflasi tertinggi di dunia. Argentina juga masuk dalam kelompok negara yang mengalami stagflasi, yakni pertumbuhan ekonominya stagnan, tetapi inflasinya sangat tinggi. Ketergantungan yang tinggi terhadap minyak dan kegagalan otoritas moneter mengelola likuiditas yang melimpah merupakan sejumlah faktor yang membuat ekonomi Argentina terjerembab.
Berbeda dengan di sepak bola, di sektor ekonomi, Indonesia saat ini jelas lebih baik dibandingkan dengan Argentina. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun ini 5,03 %, dengan inflasi hanya 4,97 %. Indonesia bisa belajar dari kegagalan Argentina keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Pada dekade 80 dan 90, Argentina digadang-gadang bakal menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Argentina saat itu memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk produktif lebih besar ketimbang non-produktif. Namun, 2-3 dekade berselang, Argentina tak kunjung lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah. Argentina gagal memanfaatkan bonus demografi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi. (Yoga)
Keberhasilan Diversifikasi Ekonomi Arab Saudi
JAKARTA,ID-Bagi Arab Saudi bulan haji adalah bulan mendulang pendapatan. Arab Saudi bisa mandulang ratusan triliun rupiah dari perjalanan haji. Belum lagi dari perjalanan umroh. Sedangkan penjualan minyak mentah, masih menjadi pendapatan terbesar Arab Saudi. Berdasarkan laporan Global Destination Cities Index yang dirilis Mastercard, Arab Saudi mendapatkan sekitar US$ 20 miliar atau sekitar Rp300 triliun pada 2018. Jumlah ini diperkirakan meningkat pada 2022 yang mencapai Rp 450 triliun. Sedangkan pendapatan dari minyak mentah menyumbang 31% pendapatan total Arab Saudi. Namun melalui "Visi 2030", Arab Saudi tidak mau terlalu bergantung dari pendapatan minyak bumi dan perjalanan haji-umroh. Arab Saudi mencoba melakukan diversifikasi melalui program 2030 dengan mengembangkan sektor pendidikan, kesehatan dan pariiwisata. Hasilnya, Arab berhasil meningkatkan daya saing. Program yang diluncurkan pada 2016 ini bertujuan untuk diversifikasi perekonomian dari berbasis komoditas minyak dan perjalanan reliji haji maupun umroh. (Yetede)
Indonesia Mewaspadai Melambatnya Ekonomi Negara Mitra Dagang
Realisasi pertumbuhan ekonomi sejumlah negara lain yang cenderung lemah dan datar perlu diwaspadai oleh Indonesia dengan memperhatikan negara mitra dagangnya. Di sisi lain, ketahanan ekonomi nasional diperkirakan tetap kuat karena didukung surplus neraca perdagangan, aliran dana investasi asing, dan kecukupan cadangan devisa. Hal tersebut diungkapkan Wakil Menkeu Suahasil Nazara dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (5/6). Rapat itu turut dihadiri Menkeu Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, serta Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. Suahasil mengutip data Bloomberg 2023 yang mencatat pertumbuhan ekonomi AS pada triwulan I-2023 secara tahunan (year-on-year) 1,6 %, Jerman 0,5 %, Inggris 0,2 %, China 4,5 %, Vietnam 3,3 %, dan India sebesar 6,1 %.
”Realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I-2023 di banyak negara cenderung melemah atau datar. Hal ini harus diwaspadai karena negara yang menjadi mitra dagang Indonesia perlu diperhatikan,” ujar Suahasil. Pertumbuhan ekonomi negara maju, tertahan akibat pengetatan moneter yang berlangsung jangka panjang, sedangkan China akan menghadapi tantangan geopolitik, sektor properti, dan penuaan populasi. Sementara itu, India dan negara Asia Tenggara memiliki potensi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi domestik. Komoditas terdampak Tren perlambatan ekonomi ini dinilai berdampak pada sejumlah harga komoditas di Indonesia. (Yoga)
Prospek Ekonomi Asia & RI
Laporan World Economic Outlook IMF yang terbit menjelang pertengahan 2023 menggambarkan lanskap ekonomi global yang penuh tantangan. Pengetatan moneter yang sedang berlangsung di negara-negara maju dan berkembang, efek dari perang Rusia di Ukraina yang terus berlanjut dan masalah sektor keuangan di AS dan Eropa, menimbulkan tantangan besar bagi perkembangan ekonomi dunia. Bagaimana dengan Asia? Meskipun tantangan global turut memengaruhi kawasan, kami memperkirakan kawasan Asia-Pasifik akan menjadi titik terang dalam ekonomi global, yang menyumbang sekitar 70% pertumbuhan global tahun ini. Laporan Regional Economic Outlook IMF untuk Kawasan Asia-Pasifik periode April 2023 menunjukkan bahwa permintaan domestik sejauh ini tetap kuat, terlepas dari melemahnya permintaan eksternal dan pengetatan moneter.
Di Indonesia, pemulihan juga diperkirakan akan tetap kuat, mencapai 5% pada 2023, meskipun sedikit melambat dari tahun 2022 yang tercatat 5,3%. Meskipun prospek kawasan Asia-Pasifik kuat, risiko cenderung bias ke bawah. Dalam jangka pendek, tekanan harga dari global dan regional tetap menjadi risiko utama. Pengetatan moneter oleh bank sentral di kawasan yang diiringi dengan penurunan harga komoditas dan biaya pengangkutan telah berkontribusi meredam dinamika inflasi. Namun, inflasi inti masih tinggi dan inflasi umum masih di atas target bank sentral di banyak negara.
Tekanan inflasi membutuhkan kewaspadaan yang berkelanjutan. Di negara-negara yang masih mengalami inflasi yang tinggi, kebijakan moneter perlu tetap ketat hingga inflasi turun kembali sesuai target. Di Indonesia, tekanan inflasi dari sisi fundamental relatif terbatas. Data terkini menunjukkan bahwa inflasi diperkirakan akan turun ke kisaran target Bank Indonesia pada paruh kedua tahun ini, sementara inflasi inti diperkirakan berada sedikit di bawah titik tengah sasaran inflasi.
Masalah sektor keuangan di Eropa dan AS menjadi berita utama dalam beberapa bulan terakhir. Sejauh ini, dampaknya ke kawasan Asia relatif terbatas, meski terdapat kerentanan di sektor rumah tangga dan korporasi yang dapat terdampak pengetatan keuangan global dan gejolak pasar. Di Indonesia, sektor keuangan berhasil bangkit dari pandemi dengan kondisi yang kuat, tetapi pengawasan yang ketat tetap diperlukan.
Isu Debt Ceiling Amerika Ikut Menekan Rupiah
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) sedang merampungkan pembahasan mengenai plafon utang AS (
debt ceiling
). Langkah ini merupakan response kekhawatiran global akan potensi gagal bayar utang Negeri Paman Sam, yang berpotensi memunculkan perubahan peringkat utang negara itu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, tensi tinggi di AS akan memberikan dampak terhadap Indonesia. Terlebih, kesepakatan belum dicapai. Alhasil, ada kemungkinan ambang batas utang yang tinggi atau ambang batas utang ditetapkan rendah.
"Ini menimbulkan ketidakpastian pasar keuangan global, akibat isu negosiasi ini dolar AS kemudian menguat dan memengaruhi nilai tukar, termasuk Indonesia," terang dia dalam konferensi pers, belum lama ini.
Namun dia memastikan, bank sentral akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal tersebut akan dilakukan lewat triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, pasar domestic non deliverable forward (DNDF) dan pasar surat berharga negara (SBN) sekunder.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, dalam masa pembicaraan, akan ada ketidakpastian di pasar keuangan global sehingga banyak investor yang akan mengambil langkah untuk menghindari risiko ( risk off ).
Perkiraan Faisal, nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp 15.000 per dolar AS dalam jangka pendek. Namun, ada kemungkinan rupiah menguat kembali ke kisaran Rp 14.800 hingga Rp 14.900 per dolar AS pada Juni 2023.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat pembicaraan mengenai batas utang AS tak memberikan dampak signifikan terhadap Indonesia, terutama di pasar obligasi.
Ekonomi Jerman dan AS Krisis, Indonesia Terkendali
Dua negara maju dengan perekonomian yang kuat, AS danJerman, tengah menghadapi krisis. Bahkan, AS masih terkurung dalam perundingan penetapan pagu utang antara Gedung Putih selaku pemerintahan eksekutif dan DPR selaku pembuat undang-undang. Sementara itu, di Jerman, baik pemerintah maupun pakar keuangan memperkirakan tak akan ada kemerosotan ekonomi secara drastis. Namun, juga tak akan ada kenaikan yang menentukan. Intinya, perekonomian hingga tahun 2024 diduga akan landai. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan, Jumat (26/5) menilai transmisi risiko dari potensi krisis di AS dapat memengaruhi sektor moneter dan keuangan Indonesia, sementara resesi di Jerman berpotensi menambah tekanan kinerja ekspor Indonesia.
Dari sisi moneter, gagal bayar utang AS dapat mendorong depresiasi nilai tukar rupiah yang berdampak pada kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Indonesia. ”Risikonya, yield yang meningkat bisa menambah beban APBN,” kata Abdul. Meski demikian, ia meyakini dampak dari krisis di kedua negara itu ke Indonesia masih akan terkendali. Hingga Jumat (26/5), Gedung Putih dan DPR AS masih terus merundingkan penetapan pagu utang. Jubir Gedung Putih Karine Jean Pierre mengatakan, perundingan itu berlangsung lancar dan produktif. Kedua pihak menyepakati keputusan mengenai pagu utang harus ditetapkan paling lambat 1 Juni 2023. Dalam perundingan, pagu utang bisa dinaikkan, tetapi harus ada pembatasan belanja dengan menetapkan batas atas. (Yoga)
Biaya Hidup Tinggi Perlambat Pemulihan
Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC mengingatkan ada tiga faktor yang akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini, yaitu biaya hidup yang lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19, permintaan ekspor melemah, dan fiskal negara makin ketat. Direktur Unit Kebijakan (PUC) APEC Carlos Kuriyama mengatakan, saat ini, biaya hidup lebih tinggi dari sebelum pandemi Covid-19. Bersamaan dengan itu, tingkat pendapatan masyarakat di banyak negara anggota APEC belum pulih ke level prapandemi. Kondisi itu membuat ketimpangan pendapatan kian meluas. Populasi yang paling rentan menjadi yang paling terpukul. Biaya hidup yang tinggi itu akan memperlambat pemulihan ekonomi pada tahun ini.
”Salah satu tujuan APEC didirikan pada 1989 adalah untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup. Namun, saat ini, dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa standar hidup masyarakat telah turun karena kehilangan pekerjaan dan pendapatan,” ujarnya dalam pertemuan APEC di Detroit, AS, yang berlangsung pada 24-25 Mei 2023, melalui siaran pers. APEC juga melihat, banyak negara anggota APEC yang ruang fiskalnya menyempit dan utangnya melonjak, lantaran negara-negara tersebut banyak mengeluarkan biaya untuk memberikan stimulus besar-besaran untuk mempertahankan ekonomi, serta kehidupan dan mata pencarian masyarakat selama Covid-19. Di sisi lain, APEC menilai momentum pemulihan kinerja perdagangan telah hilang akibat gangguan penawaran dan permintaan karena efek gabungan konflik geopolitik. Akumulasi tindakan pembatasan perdagangan, terutama terkait pembatasan dan larangan ekspor, juga meningkat. (Yoga)
Masyarakat Ekonomi Digital Asean 2045
Seratus besar topik yang paling banyak dicari dan diperbicangkan belakangan ini terkait dengan satu kata: digital! Semua yang Anda pikirkan, lihat, katakan, dan kerjakan pasti sedikit banyak ada kaitannya dengan digital – dalam era di mana digital telah mengisi semua sudut hidup kita. Salah satu isu penting dari 125 pasal dalam Pernyataan Ketua Asean termaktub di Pasal 60, yang menyebutkan, “…demi mencapai transformasi digital yang inklusif menuju Masyarakat Ekonomi Digital Asean 2045.” Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean telah digelar pada tanggal 9 hingga 11 Mei lalu, dan masih ada satu lagi KTT pada 5-7 September 2023.
Pertama, mari renungkan sejenak makna penting KTT Asean dalam upaya membentuk visinya. Pada 2003, Asean sepakat untuk membentuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan tenggat pada 2020, yang kemudian dipercepat menjadi 2015. Pada 2011, Asean memutuskan untuk mewujudkan integrasi dengan Asia Timur melalui skema Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang mencakup 10 negara anggota Asean dan lima negara mitra dagang dan investasi. Jika digabungkan, 15 negara tersebut mencakup sepertiga populasi global. Negara-negara dalam RCEP juga mewakili 30% PDB global, 27% perdagangan global, dan 30% investasi asing langsung (FDI), sehingga menjadikan kelompok ini sebagai blok ekonomi yang pengaruhnya makin kuat di perekonomian global. Kedua, kita coba pahami logika di balik pembentukan Masyarakat Digital Asean 2045. Asean secara umum punya sejarah panjang tentang kolonialisme dan imperialisme, yang berlangsung sejak abad ke-17 hingga abad ke-20. (Yetede)
Ekonom Prediksikan Era Baru Inflasi Tinggi
LONDON, ID – Para ekonom terkemuka memprediksi penaikan suku bunga berkepanjangan akan memperlihatkan kelemahan-kelemahan lebih lanjut di sektor perbankan, dan berpotensi membahayakan kapasitas bank sentral untuk mengendalikan inflasi. Proyeksi era baru inflasi tinggi disampaikanmenyusul kabar penyelamatan First Republic Bank oleh JPMorgan Chase pada akhir pekan lalu. The Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbarunya pada Rabu (03/05/2023) siang waktu setempat, diikuti oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (04/05/2023). Seperti diberitakan, perbankan sentral di seluruh dunia telah sedemikian agresif menaikkan suku bunga selama lebih dari setahun untuk meredam laju inflasi yang sangat tinggi. Namun, dalam beberapa hari terakhir, para ekonom memperingatkan bahwa te kanan harga tampaknya masih lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Sebelumnya, laporan “WEF Chief Economists Outlook” yang dirilis pada Senin (01/05/2023) telah menyoroti isu tingkat inflasi tetap menjadi perhatian utama. (Yetede)
China Akan Menjadi Lokomotif Ekonomi Global
Lima tahun lagi, China diprediksi menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi global. Kontribusinya akan lebih besar dari kontribusi perekonomian Amerika Serikat. Kalkulasi itu dihitung Bloomberg, Selasa (18/4/2023), berdasarkan data proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang dirilis pekan lalu. Kontribusi China terhadap produk domestik bruto global akan mencapai 22,6 %. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022









