Perdagangan, Efek Kupu-kupu
Perubahan iklim dan krisis rantai pasok global yang belakangan ini terjadi menciptakan efek kupu-kupu. Perubahan kecil, nyaris tak terlihat, yang digambarkan sebagai satu kepakan sayap kupu-kupu di salah satu titik bumi, dapat berdampak besar pada berbagai unsur kehidupan di belahan bumi lain. Dirjen Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala menggaungkan teori yang menjadi landasan efek domino itu dalam webinar ”Climate Change Priorities on Trade and Investment” yang digelar Pemerintah Bangladesh 14 Februari 2022. Okonjo menjelaskan, dunia semakin terkait dan terikat. Perubahan kecil di sebuah negara akibat pemanasan global dapat berdampak besar terhadap kehidupan, mata pencarian, bahkan perdagangan di berbagai belahan negara lain. Perubahan pola curah hujan, kejadian alam ekstrem, dan anomali cuaca mengganggu rantai pasok global sehingga memengaruhi perdagangan dan ekonomi. Gangguan rantai pasok itu menyebabkan harga komoditas melonjak tinggi.
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan, biaya adaptasi tahunan terhadap perubahan iklim dinegara-negara berkembang mencapai 140 hingga 300 miliar USD pada 2030. Pada 2050, biaya adaptasi itu diperkirakan meningkat menjadi 280 hingga 500 miliar USD. Gangguan rantai pasok pangan 2021 hingga awal 2022 tidak hanya disebabkan oleh pembatasan sosial untuk menekan lonjakan kasus Covid-19. Gangguan itu juga terjadi akibat anomali cuaca di sejumlah negara produsen pangan. Embun beku pernah melanda Brasil pada Juli 2021 sehingga merusak tanaman kopi, jagung, dan tebu. Hal itu menyebabkan harga ketiga komoditas di tingkat internasional melonjak tinggi. (Yoga)
Tags :
#PerdaganganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023