Ekonomi Internasional
( 646 )DOVISH THE FED REDAM GEJOLAK PASAR
Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada 5,25% hingga 5,5% memberikan sinyal lampu hijau bagi masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan meskipun sementara. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat itu mendapatkan respons positif dari pasar keuangan di Tanah Air. Hal itu tecermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,64% ke level 6.751,38 pada Kamis, (2/11). Begitu pula dengan kinerja rupiah terhadap dolar AS yang terapresiasi 0,51% ke Rp15.855. Di pasar surat utang, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun kompak mengalami penurunan yang mengindikasikan kenaikan minat sehingga menggerus imbal hasil. Lebih lanjut, penurunan imbal hasil paling dalam dialami oleh instrumen tenor 5 tahun sebesar 1,2% ke 6,89%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan respons positif pasar keuangan sejalan dengan sinyal dovish (lebih longgar) Federal Reserve. Situasi ini akan memicu masuknya dana asing ke pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat sikap The Fed melunak, investor diyakini akan kembali berminat melirik aset berisiko. Bersamaan dengan keputusan suku bunga acuan, The Fed juga mengumumkan lelang surat berharga AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Sementara itu, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 1 November 2023 mencatat dana asing sebesar Rp49,63 triliun secara tahun berjalan atau lebih tinggi dari kondisi pada 26 Oktober 2023 dengan Rp47,14 triliun. Risiko lainnya yang diperhitungkan pasar yakni transaksi berjalan Indonesia. Bila defisit transaksi berjalan melebar, hal itu menjadi pemberat di mata investor asing. Risiko defisit transaksi berjalan lebih lebar bertolak pada penurunan permintaan ekspor yang terdampak oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi China. Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Central Asia David E. Sumual mengatakan kinerja moncer pasar keuangan setelah pengumuman Federal Reserve merupakan euforia sesaat. Dia menilai kinerja inflasi Negeri Paman Sam berada di atas target The Fed sehingga bank sentral tersebut masih memiliki amunisi menaikkan suku bunga acuan. Inflasi AS pada September mencapai 3,7% secara tahunan, sedangkan target The Fed menurunkan inflasi ke 2%.
Setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi dalam hasil risetnya menuturkan pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter ketat Federal Reserve telah mencapai puncaknya. Dari dalam negeri, pasar turut melihat risiko dari ketidakpastian politik dan peluang BI menaikkan suku bunga acuan lagi. Seperti diketahui, BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 6% setelah mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% selama 8 bulan beruntun. Dari kalangan manajer investasi, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan aliran dana masuk ke pasar keuangan masih menanti waktu yang tepat. Kala pasar melihat gelagat kenaikan suku bunga acuan The Fed mencapai puncak, investor asing memiliki kepercayaan diri untuk kembali melirik aset berisiko. Investment Specialist Sinarmas Asset Management Mohit Lalchandani menambahkan aliran dana asing bakal kembali masuk ke pasar keuangan bila langkah The Fed sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Sebagai imbasnya, pasar saham dan surat utang bisa menikmati sentimen positif. Di lain sisi, Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari Indra mengatakan keputusan Th Fed menahan kenaikan suku bunga masih harus dicermatii mengingat masih ada risiko gejolak jangka pendek dari pergerakan nilai tukar rupiah, likuiditas pasar dan perbankan, serta risiko perlambatan ekonomi.
Gejolak Harga Minyak Memicu Kenaikan Inflasi
Menjadi Tua Sebelum Kaya
Tulisan di The Economist bertajuk
”Poor Asian Countries Face An Ageing Crisis”, 12 Oktober 2023, menyebutkan,
penduduk Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia menjadi
tua sebelum menjadi kaya. Untuk memahami potensi buruknya masalah ini, The
Economist memberikan ilustrasi perbandingan transformasi yang terjadi di
Thailand dengan negara-negara lain yang terkenal dengan populasinya yang mulai
menua. Antara tahun 2002 dan 2021, jumlah penduduk Thailand berusia 65 tahun ke
atas meningkat dari 7 % jadi 14 %. Transisi yang sama memakan waktu 24 tahun
bagi Jepang, AS 72 tahun, dan Perancis 115 tahun. Tidak seperti negara-negara tersebut,
Thailand menjadi tua sebelum menjadi kaya. PDB per kapita Thailand pada 2021
adalah 7.000 USD.
Ketika populasi Jepang
memiliki usia yang sama, pada tahun 1994, PDB per kapita mereka hampir lima
kali lipat lebih tinggi. Permasalahan yang terjadi di Thailand itu menggaris bawahi
bahwa tren regional memiliki signifikansi ekonomi dan sosial yang sangat besar.
Kekayaan orang Vietnam sekitar setengah kekayaan orang Thailand. Penduduk Vietnam
dan Thailand mungkin hanya butuh waktu sekitar 17 tahun untuk berubah dari
”menua” menjadi ”tua”. Di negara-negara yang penuaannya memakan waktu lebih
lama, seperti Indonesia (26 tahun) dan Filipina (37 tahun), tingkat
pendapatannya bakal jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Asia
Tenggara sebagai suatu kawasan akan ”menua” pada 2042. Kecepatan transisi demografi
Asia merupakan konsekuensi dari perkembangan masyarakatnya. (Yoga)
KETEGANGAN TIMUR TENGAH RENTAN MELEMAHKAN EKONOMI ASIA PASIFIK
Konflik bersenjata antara Hamas dan Israel dikhawatirkan
memicu konflik lebih luas yang berisiko meningkatkan kerawanan di Timur Tengah.
Terlibatnya sejumlah negara rentan menimbulkan konflik yang dapat mengganggu
distribusi minyak ke seluruh dunia. Gangguan terutama bisa terjadi jika konflik
tersebut memicu perseteruan antar negara-negara Arab yang pada akhirnya
mendorong ketegangan di Teluk Persia, Teluk Oman, dan di sekitar Laut
Mediterania Timur. Aksi blokade laut dapat saja terjadi ketika sejumlah negara
menggunakan kekuatan geopolitiknya untuk membela kubu yang mereka dukung.Kekhawatiran
ini didasarkan pada hubungan diplomatik sejumlah negara Arab yang dekat dengan
AS. Beberapa negara Arab kini berdamai dengan Israel seperti Uni Emirat Arab,
Bahrain, Sudan, Maroko, Jordania, dan Mesir. Bahkan, Arab Saudi, pemimpin negara-negara
kawasan Teluk, juga semakin dekat dengan upaya pemulihan hubungan diplomatik
dengan Israel.
Ketegangan di Teluk Persia dan Teluk Oman berpotensi mengakibatkan
distribusi energi dari negara Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab,
Oman, Irak, dan Iran terganggu sehingga memicu lonjakan harga energi. Gangguan
di perairan Mediterania Timur juga dapat memicu kenaikan harga distribusi
barang dan jasa dari Eropa ke Timur Tengah. Rute melewati Terusan Suez di Mesir
menjadi lebih mahal. Sikap negara-negara Arab yang tidak solid dapat memunculkan
konflik kepentingan. Hal inilah yang sangat rawan memicu ketegangan lebih luas
dan berimbas pada distribusi minyak bumi beserta produk-produk turunannya
secara global. Apabila hal ini terjadi, gejolak ekonomi muncul karena harga minyak
bumi melambung. Biaya pengiriman barang dan
jasa semakin mahal sehingga rentan menggerus keuangan negara-negara
importir minyak demi menambal subsidi. (Yoga)
Dunia Baru: Ekonomi Kawan atau Lawan
Mekanisme pasar sebagai
rezim yang berlaku selama ini di bawah bayang-bayang menguatnya fragmentasi.
Kini ”rezim kawan atau lawan” mulai mendikte perekonomian. Fragmentasi sebagai ”pandemi”
mulai muncul ke permukaan sejak 2020. Ini, misalnya, terdokumentasikan
eksplisit dalam pidato yang dikemukakan Presiden Sidang Majelis Umum PBB Ke-74
Tijjani Muhammad Bande di New York, AS, 10 Juni 2020. Dalam pidato berjudul ”Multilateralisme
di Dunia yang Terfragmentasi”, Bande menyatakan, dunia semakin terpolarisasi.
”Ketegangan dan konflik geopolitik terus memengaruhi berbagai belahan dunia,”
katanya. Perang Ukraina-Rusia yang meletup pada Februari 2022 dan terus berkepanjangan
menjadi tangga eskalasi fragmentasi dunia. Demikian pula dengan perang hegemoni
antara AS dan China.
”Dunia terfragmentasi. Dulu,
kalau bicara misalnya perdagangan dan investasi, mekanisme pasar yang berlaku. Tapi,
sekarang tidak lagi,” kata pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, di ruang
kerjanya, di Jakarta, Kamis (26/10). Dalam mekanisme pasar, investasi akan
mencari lokasi aman dan paling menguntungkan. Perdagangan juga akan terjadi
dalam kemitraan yang paling menguntungkan. Namun, dengan menguatnya
fragmentasi, faktor geopolitik mendikte investasi dan perdagangan. Ini,
misalnya, terjadi ketika sejumlah perusahaan hengkang dari suatu negara karena
persoalan geopolitik. Semua negara juga cenderung protektif. (Yoga)
Menyiasati Krisis Minyak Mentah Global
Pertikaian antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza memicu risiko geopolitik di pasar keuangan berikut proyeksi bakal meroketnya harga minyak mentah global sejak invasi Rusia ke Ukraina. Eskalasi konflik yang terus memanas dikhawatirkan banyak negara bakal memengaruhi rantai pasok dan pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Indonesia, misalnya, menjadi salah satu negara yang mewaspadai risiko konflik karena banyak mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang 2022, Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 4,19 juta ton dari Arab Saudi, senilai US$3,12 miliar. Selain dari Arab Saudi, Indonesia juga mendatangkan minyak mentah dari Nigeria, Angola, Gabon, Aljazair, dan Azerbaijan.
Pemerintah langsung menjajaki peluang impor minyak mentah dan BBM di luar negara-negara penjual tradisional. Manuver pemerintah untuk menjajaki peluang impor dari sejumlah negara baru menjadi krusial untuk mengantisipasi dampak kurangnya pasokan dan melambungnya harga minyak sepanjang akhir tahun ini.
Secara menyeluruh, pemerintah turut menyiasati ketidakpastian global tersebut melalui pengelolaan migas dari sektor hulu hingga hilir. Beberapa strategi tersebut a.l. Pemerintah berupaya keras meningkatkan cadangan dan produksi migas melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Dalam hal ini, pemerintah memberikan fleksibilitas pemilihan jenis kontrak kerja sama baik berupa PSC Cost Recovery atau Gross Split kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Pemerintah juga terbuka untuk memberikan perbaikan syarat dan kondisi kontrak kerja sama. Strategi selanjutnya adalah mengakselerasi sejumlah proyek di wilayah kerja migas Indonesia, semberi mengoptimalisasikan pemanfaatan gas domestik.
Cadangan energi hijau yang sedemikian tumpah ruah di Tanah Air menjadi bekal untuk menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga kelancaran distribusi energi pada industri dan masyarakat.
Ekonomi Global Masih Menjadi Tantangan
ASEAN Tetap Tangguh di Era Suku Bunga Tinggi
Tren kenaikan suku bunga di negara maju pascapandemi
Covid-19 membuat perekonomian banyak negara di dunia terguncang. Namun,tidak
denganAsia Tenggara. Peningkatan nilai tambah dari produk ekspor dan digitalisasi
menjadi dasar kekuatan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Ekonom Senior
United Overseas Bank Limited (UOB) Enrico Tanuwidjaja menjelaskan, di tahun
keempat pascapandemi Covid-19, konsumsi masyarakat dunia terus meningkat dan
mengakibatkan kenaikan inflasi. Sayangnya, ini belum bisa diimbangi dengan
kuantitas produksi. Untuk mengendalikan hal ini, banyak negara di dunia, khususnya
negara maju, seperti AS dan Eropa, menaikkan suku bunga mereka.
”Era suku bunga tinggi akan berlangsung cukup lama, sepanjang
9-12 bulan ke depan. Tetapi, ASEAN tetap tangguh dan punya resiliensi.
Perekonomian ASEAN tidak perlu menaikkan suku bunga secara drastis,” ujar
Enrico dalam konferensi pers UOB Gateway to ASEAN Conference 2023 di Jakarta,
Senin (9/10). Tren suku bunga tinggi memukul perdagangan ekspor dan impor
belasan negara ASEAN pada 2023 setelah bangkit dari krisis akibat pandemi
Covid-19 pada 2020 dan 2021. Namun, data menunjukkan, kejatuhan ekonomi yang
difaktori perdagangan eksternal tidak sedalam pada krisis ekonomi global 2008
dan 2015. Menurut Enrico, hal ini ditopang 10 sektor komoditas perdagangan
unggulan ASEAN. Yang teratas, di antaranya, produk dari sektor mesin dan
kebutuhan kelistrikan yang unggul di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Lalu,
ada Indonesia dengan komoditas mineral, agrikultur, dan karet. (Yoga)
Pasar Berkembang Hadapi Berbagai Tantangan
Dari ”Wild Card” Inflasi hingga Penyelewengan Beras Bulog
Lembaga Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) menyebutkan
El Nino menjadi wild card atau faktor penentu inflasi di kawasan ASEAN+3. Meski
di Indonesia kenaikan harga beras yang berandil paling besar terhadap inflasi
tidak hanya akibat dampak El Nino, tetapi juga didorong ulah oknum yang menyelewengkan
beras Perum Bulog. AMRO, Rabu (4/10) merevisi naik proyeksi inflasi di kawasan ASEAN+3
serta pada 2023 dan 2024. ASEAN+3 merupakan negara-negara anggota ASEAN, serta
Jepang, China, dan Korea Selatan. Tingkat inflasi kawasan itu diperkirakan 6,5
% pada 2023 dan 3,8 % pada 2024, dinaikkan dari proyeksi inflasi pada Juli
2023, yakni 6,3 % pada 2023 dan 3,4 % pada 2024. Khusus Indonesia, AMRO justru
menurunkan perkiraan inflasi pada 2023 menjadi 3,8 % dari proyeksi Juli 2023
yang 3,9 %.
Proyeksi inflasi Indonesia pada 2024 tetap sama
dengan proyeksi tiga bulan lalu, yakni 2,8 %. Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor
mengatakan, kenaikan harga pangan dan energi global dalam beberapa bulan terakhir
telah memicu kekhawatiran terjadinya lonjakan harga komoditas. Lonjakan harga
komoditas itu dapat berimbas pada kenaikan inflasi. September 2023 harga
rata-rata beras nasional di tingkat eceran Rp 13.799 per kg, naik 5,61 % secara
bulanan dan 18,44 secara tahunan. Hal itu menjadikan beras sebagai komoditas
penyumbang utama inflasi September 2023 yang sebesar 0,19 % secara bulanan dan
2,28 % secara tahunan. Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan itu
masing-masing 0,18 % dan 0,55 %.
Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan harga beras di
pasar masih tinggi meskipun operasi pasar beras telah digulirkan. Faktor
tersebut adalah penyelewengan beras Perum Bulog, yakni mengemas ulang beras
Bulog kemudian dijual dengan harga lebih tinggi. Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyatakan,
ada oknum-oknum yang mengganti kemasan beras Bulog dengan kemasan beras premium.
Setelah itu, beras yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau itu dijual
kembali dengan harga lebih tinggi setara harga beras premium. (Yoga)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









