;
Tags

Ekonomi Internasional

( 642 )

KETEGANGAN TIMUR TENGAH RENTAN MELEMAHKAN EKONOMI ASIA PASIFIK

KT3 31 Oct 2023 Kompas

Konflik bersenjata antara Hamas dan Israel dikhawatirkan memicu konflik lebih luas yang berisiko meningkatkan kerawanan di Timur Tengah. Terlibatnya sejumlah negara rentan menimbulkan konflik yang dapat mengganggu distribusi minyak ke seluruh dunia. Gangguan terutama bisa terjadi jika konflik tersebut memicu perseteruan antar negara-negara Arab yang pada akhirnya mendorong ketegangan di Teluk Persia, Teluk Oman, dan di sekitar Laut Mediterania Timur. Aksi blokade laut dapat saja terjadi ketika sejumlah negara menggunakan kekuatan geopolitiknya untuk membela kubu yang mereka dukung.Kekhawatiran ini didasarkan pada hubungan diplomatik sejumlah negara Arab yang dekat dengan AS. Beberapa negara Arab kini berdamai dengan Israel seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, Maroko, Jordania, dan Mesir. Bahkan, Arab Saudi, pemimpin negara-negara kawasan Teluk, juga semakin dekat dengan upaya pemulihan hubungan diplomatik dengan Israel.

Ketegangan di Teluk Persia dan Teluk Oman berpotensi mengakibatkan distribusi energi dari negara Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, Irak, dan Iran terganggu sehingga memicu lonjakan harga energi. Gangguan di perairan Mediterania Timur juga dapat memicu kenaikan harga distribusi barang dan jasa dari Eropa ke Timur Tengah. Rute melewati Terusan Suez di Mesir menjadi lebih mahal. Sikap negara-negara Arab yang tidak solid dapat memunculkan konflik kepentingan. Hal inilah yang sangat rawan memicu ketegangan lebih luas dan berimbas pada distribusi minyak bumi beserta produk-produk turunannya secara global. Apabila hal ini terjadi, gejolak ekonomi muncul karena harga minyak bumi melambung. Biaya pengiriman barang dan  jasa semakin mahal sehingga rentan menggerus keuangan negara-negara importir minyak demi menambal subsidi. (Yoga)

Dunia Baru: Ekonomi Kawan atau Lawan

KT3 27 Oct 2023 Kompas

Mekanisme pasar sebagai rezim yang berlaku selama ini di bawah bayang-bayang menguatnya fragmentasi. Kini ”rezim kawan atau lawan” mulai mendikte perekonomian. Fragmentasi sebagai ”pandemi” mulai muncul ke permukaan sejak 2020. Ini, misalnya, terdokumentasikan eksplisit dalam pidato yang dikemukakan Presiden Sidang Majelis Umum PBB Ke-74 Tijjani Muhammad Bande di New York, AS, 10 Juni 2020. Dalam pidato berjudul ”Multilateralisme di Dunia yang Terfragmentasi”, Bande menyatakan, dunia semakin terpolarisasi. ”Ketegangan dan konflik geopolitik terus memengaruhi berbagai belahan dunia,” katanya. Perang Ukraina-Rusia yang meletup pada Februari 2022 dan terus berkepanjangan menjadi tangga eskalasi fragmentasi dunia. Demikian pula dengan perang hegemoni antara AS dan China.

”Dunia terfragmentasi. Dulu, kalau bicara misalnya perdagangan dan investasi, mekanisme pasar yang berlaku. Tapi, sekarang tidak lagi,” kata pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, di ruang kerjanya, di Jakarta, Kamis (26/10). Dalam mekanisme pasar, investasi akan mencari lokasi aman dan paling menguntungkan. Perdagangan juga akan terjadi dalam kemitraan yang paling menguntungkan. Namun, dengan menguatnya fragmentasi, faktor geopolitik mendikte investasi dan perdagangan. Ini, misalnya, terjadi ketika sejumlah perusahaan hengkang dari suatu negara karena persoalan geopolitik. Semua negara juga cenderung protektif. (Yoga)

Menyiasati Krisis Minyak Mentah Global

HR1 27 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Pertikaian antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza memicu risiko geopolitik di pasar keuangan berikut proyeksi bakal meroketnya harga minyak mentah global sejak invasi Rusia ke Ukraina. Eskalasi konflik yang terus memanas dikhawatirkan banyak negara bakal memengaruhi rantai pasok dan pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Indonesia, misalnya, menjadi salah satu negara yang mewaspadai risiko konflik karena banyak mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang 2022, Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 4,19 juta ton dari Arab Saudi, senilai US$3,12 miliar. Selain dari Arab Saudi, Indonesia juga mendatangkan minyak mentah dari Nigeria, Angola, Gabon, Aljazair, dan Azerbaijan. Pemerintah langsung menjajaki peluang impor minyak mentah dan BBM di luar negara-negara penjual tradisional. Manuver pemerintah untuk menjajaki peluang impor dari sejumlah negara baru menjadi krusial untuk mengantisipasi dampak kurangnya pasokan dan melambungnya harga minyak sepanjang akhir tahun ini. Secara menyeluruh, pemerintah turut menyiasati ketidakpastian global tersebut melalui pengelolaan migas dari sektor hulu hingga hilir. Beberapa strategi tersebut a.l. Pemerintah berupaya keras meningkatkan cadangan dan produksi migas melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Dalam hal ini, pemerintah memberikan fleksibilitas pemilihan jenis kontrak kerja sama baik berupa PSC Cost Recovery atau Gross Split kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Pemerintah juga terbuka untuk memberikan perbaikan syarat dan kondisi kontrak kerja sama. Strategi selanjutnya adalah mengakselerasi sejumlah proyek di wilayah kerja migas Indonesia, semberi mengoptimalisasikan pemanfaatan gas domestik. Cadangan energi hijau yang sedemikian tumpah ruah di Tanah Air menjadi bekal untuk menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga kelancaran distribusi energi pada industri dan masyarakat.

Ekonomi Global Masih Menjadi Tantangan

KT1 24 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Upaya pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas sistem keuangan domestik masih dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global. Saat dunia belum selesai menghadapi dampak perang Rusia-Ukraina, ketegangan juga terjadi dengan adanya krisis geopolitik di Timur Tengah antara Israel-Palestina. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI)  Juda Agung mengatakan, ketegasan politik tersebut  mendorong kenaikan harga  pada komoditas energi dan pangan. Hal tersebut memberikan efek domino terhadap kenaikan inflasi global hingga di Eropa dan Amerika Serikat. Kenaikan laju inflasi diantisipasi melalui kebijakan moneter termasuk di Amerika Serikat yang kemudian  mendorong tetap tingginya suku bunga di global. "Apalagi, saat ini Amerika Serikat memerlukan pendanaan termasuk untuk perang. (Menteri keuangan AS) Janet Yellen secara eksplisit sudah menyebutkan bahwa akan membackup perang yang terjadi baik di Rusia mau pun Timur tengah, sehingga memerlukan pembiayaan politik, pembiayaan keamanan ini mendorong kenaikan yield suku bunga di AS," kata Juda. (Yetede)

ASEAN Tetap Tangguh di Era Suku Bunga Tinggi

KT3 10 Oct 2023 Kompas

Tren kenaikan suku bunga di negara maju pascapandemi Covid-19 membuat perekonomian banyak negara di dunia terguncang. Namun,tidak denganAsia Tenggara. Peningkatan nilai tambah dari produk ekspor dan digitalisasi menjadi dasar kekuatan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Ekonom Senior United Overseas Bank Limited (UOB) Enrico Tanuwidjaja menjelaskan, di tahun keempat pascapandemi Covid-19, konsumsi masyarakat dunia terus meningkat dan mengakibatkan kenaikan inflasi. Sayangnya, ini belum bisa diimbangi dengan kuantitas produksi. Untuk mengendalikan hal ini, banyak negara di dunia, khususnya negara maju, seperti AS dan Eropa, menaikkan suku bunga mereka.

”Era suku bunga tinggi akan berlangsung cukup lama, sepanjang 9-12 bulan ke depan. Tetapi, ASEAN tetap tangguh dan punya resiliensi. Perekonomian ASEAN tidak perlu menaikkan suku bunga secara drastis,” ujar Enrico dalam konferensi pers UOB Gateway to ASEAN Conference 2023 di Jakarta, Senin (9/10). Tren suku bunga tinggi memukul perdagangan ekspor dan impor belasan negara ASEAN pada 2023 setelah bangkit dari krisis akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021. Namun, data menunjukkan, kejatuhan ekonomi yang difaktori perdagangan eksternal tidak sedalam pada krisis ekonomi global 2008 dan 2015. Menurut Enrico, hal ini ditopang 10 sektor komoditas perdagangan unggulan ASEAN. Yang teratas, di antaranya, produk dari sektor mesin dan kebutuhan kelistrikan yang unggul di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Lalu, ada Indonesia dengan komoditas mineral, agrikultur, dan karet. (Yoga) 

Pasar Berkembang Hadapi Berbagai Tantangan

KT1 07 Oct 2023 Investor Daily
LONDON,ID-Negara-negara pasar berkembang menghadapi tantangan dari berbagai sisi, mulai dari aksi jual obligasi Amerika Serikat (AS) baru-baru ini dan perlambatan ekonomi di China. Semua itu menambah ketidakpastian, jelang pertemuan musim gugur Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), dan pada saat The Federal Reserve (The Fed) belum mencapai akhir dari siklus penaikan suku bunganya. Selain itu, upaya-upaya restrukturisasi untuk negara-negara gagal bayar diprediksi dapat mencapai terobosan sebelum akhir  tahun ini, seiring dengan berlanjutnya pembicaraan. "Latar belakang eksternal tetap menantang untuk pasar negara berkembang dan pasar negara maju secara keseluruhan dan hal ini berada diluar kendali mereka. Hal ini sangat bergantung pada kecepatan dan waktu dari posos Teh Fed," ujar Joseph Cuthbertson, analis Sovereign senior di Pine Bridge Investment, yang dilansir reuters pada jumat (06/10/2023). (Yetede)

Dari ”Wild Card” Inflasi hingga Penyelewengan Beras Bulog

KT3 06 Oct 2023 Kompas

Lembaga Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) menyebutkan El Nino menjadi wild card atau faktor penentu inflasi di kawasan ASEAN+3. Meski di Indonesia kenaikan harga beras yang berandil paling besar terhadap inflasi tidak hanya akibat dampak El Nino, tetapi juga didorong ulah oknum yang menyelewengkan beras Perum Bulog. AMRO, Rabu (4/10) merevisi naik proyeksi inflasi di kawasan ASEAN+3 serta pada 2023 dan 2024. ASEAN+3 merupakan negara-negara anggota ASEAN, serta Jepang, China, dan Korea Selatan. Tingkat inflasi kawasan itu diperkirakan 6,5 % pada 2023 dan 3,8 % pada 2024, dinaikkan dari proyeksi inflasi pada Juli 2023, yakni 6,3 % pada 2023 dan 3,4 % pada 2024. Khusus Indonesia, AMRO justru menurunkan perkiraan inflasi pada 2023 menjadi 3,8 % dari proyeksi Juli 2023 yang 3,9 %.

Proyeksi inflasi Indonesia pada 2024 tetap sama dengan proyeksi tiga bulan lalu, yakni 2,8 %. Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor mengatakan, kenaikan harga pangan dan energi global dalam beberapa bulan terakhir telah memicu kekhawatiran terjadinya lonjakan harga komoditas. Lonjakan harga komoditas itu dapat berimbas pada kenaikan inflasi. September 2023 harga rata-rata beras nasional di tingkat eceran Rp 13.799 per kg, naik 5,61 % secara bulanan dan 18,44 secara tahunan. Hal itu menjadikan beras sebagai komoditas penyumbang utama inflasi September 2023 yang sebesar 0,19 % secara bulanan dan 2,28 % secara tahunan. Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan itu masing-masing 0,18 % dan 0,55 %.

Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan harga beras di pasar masih tinggi meskipun operasi pasar beras telah digulirkan. Faktor tersebut adalah penyelewengan beras Perum Bulog, yakni mengemas ulang beras Bulog kemudian dijual dengan harga lebih tinggi. Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyatakan, ada oknum-oknum yang mengganti kemasan beras Bulog dengan kemasan beras premium. Setelah itu, beras yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau itu dijual kembali dengan harga lebih tinggi setara harga beras premium. (Yoga) 

UE Meluncurkan Batas Tarif Karbon

KT1 02 Oct 2023 Investor Daily (H)
BRUSSELS,ID-Uni Eropa (UE) pada Minggu (01/10/2023) meluncurkan fase pertama dari sistem pemberlakuan tarif emisi karbon dioksida (CO2) untuk baja, semen, dan barang-barang impor lainnya. Sistem yang diberlakukan pertama di dunia itu ditujukan menghentikan lebih banyak produk asing yang mencemari lingkungan, yang mengganggu tansisi menuju ramah lingkungan. Rencana pemberlakuan tarif tersebut menyebabkan kegelisahan diantara mitra dagang. Bahkan dalam forum bulan lalu, utusan iklim China Xie Zhenhua mendesak negara-negara untuk menggunakan langkah-langkah sepihak, seperti pengenaan tarif oleh Uni Eropa. Sebagai informasi, blok mata uang tunggal itu tidak akan mulai memungut  biaya emisi CO2 di perbatasan sampai 2026. Komisioner Ekonomi Eropa Paolo Gentilano mengatakan, tujuan dari CBAM adalah untuk mendorong pergeseran ke produksi yang lebih ramah lingkungan di seluruh dunia. (Yetede)

Menanti Realisasi Kesepakatan KTT Asean

HR1 11 Sep 2023 Bisnis Indonesia

Beragam kesepakatan dan terobosan berhasil dilahirkan melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 Asean yang digelar di Jakarta 5—7 September 2023. Mulai dari upaya bersama untuk menjadikan Asean sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik, hingga percepatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi alias local currency transaction (LCT). Ada pula kesepakatan senilai US$38,2 miliar yang mencakup 93 proyek dan 73 proyek potensial senilai US$17,8 miliar, hasil dari Asean Indo-Pacific Forum (AIPF). Melalui KTT tersebut, anggota Asean juga memperkuat kerja sama bidang ekonomi dengan sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, dan Jepang. Tak hanya soal ekonomi, dari perspektif geopolitik, Asean pun sepakat untuk mewujudkan perdamaian kawasan melalui kolaborasi antarnegara serta terus menyuarakan kepentingan negara berkembang di tingkat global. Salah satu langkah terdekat adalah membawa beragam hasil KTT ke-43 Asean tersebut ke forum G20 yang tengah berlangsung di India. Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik misalnya, menuntut kolaborasi aktif sesuai kompetensi masing-masing negara sesuai ketersediaan sumber daya alam dan maupun industri. Kesepakatan Asean Plus Three yakni kerja sama antara negara anggota Asean dengan Korea Selatan, Jepang, dan China, mengenai pembangunan ekosistem kendaraan listrik, harus dijadikan momentum untuk mengakselerasi perkembangan sektor ini di tingkat regional. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi perihal kesamaan visi dan misi untuk menjadikan Asean sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Digital economy framework agreement (DEFA) yang digadang-gadang menjadi pilar pertumbuhan ekonomi Asean di masa mendatang, membutuhkan penjabaran lanjutan sehingga dapat menjadi perjanjian nyata antarnegara anggota. Hal itu penting agar masterplan tersebut benar-benar dapat memacu ekonomi digital Asean yang diramal tembus US$2 triliun pada 2030.

Koridor Ekonomi akan Membentang dari India hingga Eropa

KT1 11 Sep 2023 Investor Daily (H)

NEW DELHI,ID-Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, Perdana Menteri  (PM) India Narendra Modi, dan sekutu-sekutunya dalam lingkup kelompok negara G20 pada Sabtu (09/09/2023) mengumumkan rencana untuk membangun koridor kereta api dan pelayaran yang akan menghubungkan India dengan Timur Tengah dan Eropa. Proyek ambisius ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga kerja sama politik. "Ini adalah kesepakatan yang sangat-sangat besar," kata Biden, seperti dikutip AP. Koridor ini, yang diuraikan pada pertemuan puncak tahunan negara-negara ekonomi utama dunia G20, akan membantu meningkatkan perdagangan, menyalurkan sumber daya energi, dan meningkatkan konektivitas digital. Koridor ini, yang diuraikan pada puncak tahunan negara-negara ekonomi utama G20, akan membantu meningkatkan perdagangan, menyalurkan sumber daya energi, dan meningkatkan konektivitas  digital. Koridor infrastruktur darat dan laut ini akan mencakup atau  melintasi India, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UE), Yordania, Israel, dan Uni Eropa (UE). (Yetede)