;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Tantangan Berat 2024

KT3 15 Jan 2024 Kompas

Tahun ini tidak mudah bagi banyak negara. Menurut Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi global 2024 turun menjadi 2,4 % dari 2,6 % pada 2023, lebih rendah satu poin dibandingkan rata-rata pertumbuhan pada 2010-an. Bank Dunia juga memperkirakan, negara-negara berkembang hanya tumbuh 3,9 %n tahun ini, lebih dari satu poin di bawah rata-rata pertumbuhan pada dekade sebelumnya. Turut merefleksikan pelemahan perekonomian dunia, pertumbuhan perdagangan global tahun 2024 diperkirakan hanya setengah rata-rata pertumbuhan perdagangan global pada dekade lalu (The World Bank, ”Global Economy Set for Weakest Half-Decade Performance in 30 Years”, 9/1/2024).

Seperti ditulis dalam Kompas.id edisi 12 Januari 2024, perlambatan ekonomi dunia itu adalah dampak dari kebijakan moneter ketat yang diambil negara maju guna mengelola inflasi. Suku bunga tinggi membuat investasi global terhambat. Kenaikan harga bahan pokok akibat kekeringan yang dipicu El Nino dan konflik berlarut-larut, terutama di Timur Tengah, mengganggu suplai di pasar komoditas sehingga turut mendorong inflasi. Dalam situasi itu, negara-negara berkembang perlu memberi perhatian khusus pada upaya menarik investasi agar dapat menjaga pertumbuhan mereka.

Laporan Bank Dunia, ”Global Economic Prospects”, menyebut pentingnya peningkatan kualitas institusi agar investasi mengalir masuk lebih cepat. Disebutkan, di negara dengan kualitas institusi yang baik, ada peluang lebih besar tercipta percepatan investasi setelah perbaikan kebijakan fiskal dan reformasi perdagangan. Institusi yang dibangun secara politik menentukan distribusi kekayaan dan sumber daya. Institusi yang tak berkeadilan menyebabkan hanya segelintir elite yang menikmati kue pembangunan. Kita berharap pemilu Februari mendatang membantu kita memiliki pemerintahan yang mampu membangun institusi yang baik: berkeadilan, tidak korup, hukumnya tak memihak, dan penegakannya obyektif. (Yoga)

Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Ekonomi Global

KT3 12 Jan 2024 Kompas
Terjangan cuaca ekstrem akibat degradasi lingkungan menjadi ancaman serius yang dapat memengaruhi  perekonomian global di sepanjang tahun 2024. Direktur Pelaksana Forum Ekonomi Dunia (WEF) Saadia Zahidi, seperti dilansir Reuters, Kamis (11/1/2024), mengatakan, ancaman lingkungan akibat pemanasan global saat ini menjadi tantangan sangat serius untuk segera diatasi oleh semua negara di dunia. (Yoga)

Prospek dan Tantangan Ekonomi Global 2024

KT3 28 Dec 2023 Kompas

Rilis Economic Outlook terbaru dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 29 November 2023 menyatakan, proyeksi ekonomi global 2024 diprediksi bakal melambat ke level pertumbuhan 2,7 %, setelah pada 2023 diprognosis mencapai 2,9 %. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melandai pada 2024, juga risiko terjadinya hard landing perekonomian global mereda meski tingkat utang masih tinggi dan ketidakpastian suku bunga masih bertahan tinggi. Setelah melandai di 2024, pada 2025 ekonomi dunia diprediksi tumbuh 3,0 %. Pertumbuhan di 38 negara anggota OECD diperkirakan mengalami soft landing. AS diperkirakan bertahan lebih baik dengan prediksi pertumbuhan melambat dari 2,4 % tahun ini menjadi 1,5 % di 2024. Proyeksi ini naik dari 2,2 % pada 2023 dan 1,3 % pada 2024 dalam outlook edisi September 2023.

OECD memandang risiko resesi tidak hilang begitu saja, karena lemahnya pasar perumahan, harga minyak yang tinggi, dan lesunya penyaluran pinjaman. China, perekonomian terbesar di Asia, diperkirakan melambat karena terus bergulat dengan gelembung real estat yang pecah dan rendahnya pengeluaran konsumen menghadapi meningkatnya ketidakpastian prospek ekonomi. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi China turun dari 5,2 % (2023) menjadi 4,7 % (2024) meski naik tipis dari proyeksi September 2023 sebesar 5,1 % dan 4,2 %. Dizona euro, pertumbuhan ekonomi diproyeksi meningkat dari 0,6 % (2023) menjadi 0,9 % (2024) dan 1,1 % (2025) karena Jerman sebagai ekonomi terbesar di Eropa mampu keluar dari resesi tahun ini. OECD memperingatkan, dampak dari kenaikan suku bunga acuan masih belum pasti karena tingginya tingkat pembiayaan bank di zona euro. Hal ini dapat membebani pertumbuhan yang eksesif dari yang diekspektasikan

Perkiraan OECD lebih kompromis ketimbang perkiraan Bank Dunia yang memproyeksikan pertumbuhan global melambat secara signifikan dari 3,1 % pada 2022 menjadi 2,1 % tahun ini, sebelum mengalami pemulihan moderat pada 2024 menjadi 2,4 %. Perlambatan ini dipicu oleh kebijakan moneter yang terus diperketat guna mengendalikan inflasi tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) juga memberikan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah, menurun dari 3,5 % (2022) menjadi 3 % (2023) dan 2,9 % (2024), di bawah rata-rata historis 3,8 % (2000-2019). Secara umum, meskipun prospek pertumbuhan negara-negara berbeda damembentuk fragmentasi atau divergensi, hampir seluruhnya memiliki tekanan fiskal yang sama dengan beban utang negara-negara maju (termasuk G7) dan negara-negara berkembang diproyeksikan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Inilah yang menjadi concern IMF yang menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang kredibel, berkelanjutan dan inklusif, disertai kolaborasi antarnegara dalam memulihkan ekonomi dunia yang divergen. (Yoga)

Tarif Pengiriman Kargo Mencapai US$ 10.000

KT1 23 Dec 2023 Investor Daily (H)
Para manajer  logistik global dihadapkan pada dua tantangan, yaitu kenaikan harga angkutan  laut dan udara serta kargo yang tertahan. Kondisi ini terjadi setelah ada pengalihan rute di Laut Merah oleh perusahaan pelayaran termasuk, Maersk karena serangan oleh Houthi. Dua tantangan tersebut di klaim menjadi ancaman bagi rantai pasok global pasca tiga tahun penuh gejolak akibat tekanan  inflasi, dan penundaan akibat gangguan Covid yang baru-baru ini tampaknya berhasil ditangani.  Tercatat dalam hitungan  jam saja, pada Kamis (21/12/2023), harga tertinggi angkutan laut  telah melonjak karena makin banyak kapal mengalihkan rute dari Laut Merah. Menurut pernyataan Manajer Logistik yang dikutip, tarif angkutan laut sebesar US$ 10.000 per kontainer ukuran 40 kaki dari Shanghai ke Inggris. (Yetede)

Fragmentasi Dagang Global

HR1 18 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Era perdagangan bebas kini tampaknya sudah tinggal cerita. Ketergantungan ekonomi memudar dan perdagangan dunia cenderung makin tertutup. Kerja sama antarnegara cenderung makin terfragmentasi dalam kelompok kecil berdasar persamaan ideologi dan kepentingan ekonomi. Banyak negara lebih memikirkan kepentingan internalnya sendiri dan berebut untuk mengamankan rantai pasokan strategis. Perdagangan bebas tidak lagi populer. Banyak negara kini lebih memilih melakukan distorsi perdagangan.Keunggulan liberalisasi perdagangan seperti digagas Adam Smith tidak lagi dirasakan manfaatnya. Untuk kelangsungan usaha dan memastikan keuntungan yang bisa dipetik, banyak negara akhirnya lebih memilih mengembangkan aliansi hanya kepada kelompoknya sendiri. Sistem perdagangan global kini berkembang makin renik dan terfragmentasi. Keputusan investor tidak lagi berdasarkan upah murah di sebuah negara, tetapi lebih pada kesamaan geopolitik. Inilah yang menyebabkan kondisi perekonomian global cenderung meredup.Meningkatnya restriksi dagang dan proteksionisme yang berkembang di berbagai negara menyebabkan perdagangan global tahun ini diperkirakan hanya tumbuh 0,8%. Angka ini lebih rendah daripada proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia sebelum yang optimis mencapai 1,7%. Akibat fragmentasi perdagangan global, kemungkinan untuk mengembangan perdagangan bebas menjadi terhambat. Pintu-pintu perdagangan antarnegara kini tidak lagi terbuka.Pertama, fragmentasi perdagangan global niscaya akan menyebabkan peta aliansi perdagangan antarnegara niscaya berubah total. Kedua, fragmentasi perdagangan global akan menyebabkan terjadinya inefisiensi karena kenaikan harga dari produk-produk yang dihasilkan berbagai negara. Munculnya peraturan-peraturan baru yang menghambat ekspor produk dari sebuah negara ke negara lain, bisa atas nama kelestarian lingkungan, melawan ancaman deforestasi dan lain sebagainya. Apa pun bentuknya penerapan kebijakan perdagangan global yang terfragmentasi menyebabkan peluang Indonesia untuk mengembangkan perdagangan ke level dunia menjadi lebih sulit. Menurut data, bulan Januari—Oktober 2023, total ekspor nonmigas Indonesia hanya senilai US$201,25 miliar atau turun 12,74% dibandingkan periode sama 2022. Komoditas penyumbang penurunan ekspor tersebut adalah bahan bakar mineral, terutama batu bara, serta lemak dan minyak hewani/nabati, terutama minyak sawit. Walau pun masih termasuk surplus, yakni pada Januari—Oktober 2023 sebesar US$47,02 miliar. Tetapi, surplus tersebut sebetulnya turun cukup signifikan dibandingkan surplus neraca perdagangan nonmigas pada Januari—Oktober 2023 yang mencapai US$66,41 miliar.Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, secara keseluruhan, ekspor Indonesia pada Juni 2023 turun 5,08% dibanding Mei 2023, menjadi sebesar US$20,61 miliar.

Tantangan Globalisasi di Tahun 2024

KT1 11 Dec 2023 Investor Daily (H)
Menjelang akhir tahun 2023 yang diwarani oleh berbagai tantangan, sebuah kajian menarik  mengungkapkan bahwa mata-rantai pasok dunia  (global value chains) ternyata tetap berkembang di tahun 2022 walaupun terjadi  disrupsi karena efek lanjutan dari perang dagang, Covid-19 dan perang di Ukraina. Namun, disrupsi yang terjadi  juga menyingkap kerawanan mata rantai-pasok dunia selama ini, yakni konsentrasi  maupun ketergantungan yang berlebihan pada satu negara  tau  kelompok negara atas produk-produk tertentu, yang belakangan di perparah ketegangan geo politik di beberapa kawasan. Hal diatas diungkap oleh kajian kolaboratif antara Bank Perdagangan Luar Negeri Jepang, Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional Beijing dan Organisasi Perdagangan Dunia yang dirilis pertengahan November lalu. (Yetede)  

Memperkuat Ekosistem Usaha Koperasi & UMKM

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Tantangan ekonomi global datang silih berganti dan makin berat pada masa mendatang. Di antaranya terjadi disrupsi teknologi, residu pandemi Covid-19, perubahan iklim, perang Rusia-Ukraina, dan yang paling menyedihkan perang Israel dan Palestina. Patut kita syukuri, perekonomian Indonesia sudah kembali pulih dan stabil. Kendati pada kuartal III/2023 terjadi perlambatan, ekonomi masih tumbuh 4,9% YoY (BPS, 2023). Ini tidak lepas dari peran UMKM dan koperasi. Namun, kita patut waspada dengan terus menjaga inflasi jangan sampai melambung tinggi yang akan mengancam daya beli masyarakat. Menurut Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, jalan utama agar ekonomi Indonesia tetap kokoh adalah dengan pengembangan UMKM dan koperasi yang terintegrasi dan terencana, serta harus keluar dari jebakan pendekatan survival ke pendekatan kewirausahaan. Adanya PP No. 7/2021 makin berpihak kepada UMKM dan Koperasi, yakni perizinan sederhana, regulasi tidak tumpang-tindih, akses pembiayaan mudah dan murah, on boarding ke digital, perlindungan hukum, dan berbagai insentif lainnya. Pemerintah juga serius dalam pengembangan kewirausahaan nasional dengan menerbitkan Perpres No. 2/2022 tentang Kewirausahaan dengan target meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95% pada 2024 atau 8% pada 2045. Ini menjadi tantangan besar, karena rasio kewirausahaan kita masih di bawah 3%. Pada koperasi, ekosistem terus dibangun melalui pendampingan digitalisasi, berbasis komoditas, dan adanya pembiayaan murah. Pendampingan dilakukan melalui lembaga inkubator; kemudahan administrasi dan digitalisasi perizinan Koperasi; serta pengembangan sistem digitalisasi bagi Koperasi. Kemitraan diperkuat melalui pengembangan rantai nilai industri melalui kemitraan usaha kecil dengan usaha besar sesuai amanat UU Cipta Kerja. Kemitraan diperluas awalnya hanya enam BUMN menjadi 17 BUMN, begitupun dengan Swasta. Idealnya, produk UMKM haruslah menyuplai industri pada core bisnis utamanya. Misalnya di Jepang industri otomotifnya butuh baut, hal itu dikerjakan oleh UMKM-nya. Jangan usaha kesehatan, tapi yang dibina UMKM kerajinan, sehingga terkesan ini hanya pelepas tanggung jawab perusahaan. Tantangan besar kita bagaimana menggelorakan bangga dengan produk buatan sendiri. Jangan sampai anak-anak negeri bangga memakai baju buangan atau bekas dari luar negeri. Dari sisi pembiayaan dan investasi dilakukan melalui perluasan akses investasi UKM melalui securities crowd funding, saham dan sukuk, pendampingan KUR klaster dan kecil, serta pembiayaan ekspor UKM oleh BNI Xpora dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

Ekonomi Dunia Terbelah

KT3 07 Dec 2023 Kompas

Ekonomi dunia semakin terfragmentasi dan terbelah ke berbagai blok kawan atau lawan. Indonesia mesti bersiap menghadapi kemungkinan pergeseran kekuatan global di masa depan dan hati-hati menyusun strategi aliansi ekonomi agar tidak tertinggal dalam rantai pasok global. Pemilu 2024 pun jadi pertaruhan agar reputasi Indonesia di panggung global tetap terjaga setelah rezim berganti. Diskursus mengenai masa depan tatanan ekonomi dunia akhir-akhir ini semakin sering mencuat dalam berbagai forum internasional di tengah kondisi geopolitik yang semakin terfragmentasi. Ajang Annual International Forum of Economic Development and Public Policy (AIFED) ke-12 pada 6-7 Desember 2023 pun ikut mengangkatnya dengan tema ”The Fragmented World: Recalibrating Development Strategies”. Saat membuka forum AIFED, Rabu (6/12/2023), di Nusa Dua, Badung, Bali, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, dunia yang dulunya saling terkoneksi dalam panggung globalisasi kini semakin terbelah ke dalam kubu-kubu geopolitik dan geoekonomi, khususnya di lingkup perdagangan, investasi, dan  keuangan.

Kerja sama ekonomi antarnegara tidak lagi dibangun berdasarkan efisiensi atau hitung-hitungan paling menguntungkan, tetapi kawan atau lawan. Negara-negara menjadi lebih inward looking atau mengutamakan kepentingan domestiknya. Kebijakan bernuansa proteksionisme dan populisme pun semakin menguat di sejumlah negara. Gelagat dunia yang semakin mengarah ke deglobalisasi itu sebenarnya mulai tampak sejak krisis keuangan global pada tahun 2008, tetapi semakin menjadi-jadi pascapandemi Covid-19, terutama setelah perang Rusia-Ukraina dan Hamas-Israel. Ke depan, ketegangan politik global itu diperkirakan akan terus berlanjut dan berpotensi menggeser poros   kekuatan ekonomi global. ”Perdagangan bebas yang semestinya seimbang dan saling menguntungkan, kini menjadi urusan menang atau kalah, kawan atau lawan. Ini menciptakan dinamika ekonomi yang benar-benar baru. Entah teori yang dulu kita pelajari sudah usang dan perlu diubah, atau cara kita memandang dunia yang memang sudah berubah,” kata Sri Mulyani. (Yoga)

EFEK POSITIF RELAKSASI AS-CHINA

HR1 18 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)

Momentum membaiknya hubungan dagang Amerika Serikat dan China menjadi bekal bagi Indonesia untuk memacu geliat ekonomi domestik dan penguatan daya saing industri yang lebih baik. Optimisme itu terlihat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping berkomitmen menstabilkan hubungan ekonomi dan perdagangan. Sinyal perbaikan hubungan dagang AS-China menjadi highlight pada gelaran Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit di San Francisco pada Kamis (16/11). Normalisasi hubungan AS-China juga diperkirakan membuka peluang untuk memacu investasi di sejumlah industri strategis seperti kendaraan listrik dan ekosistemnya. Peneliti Departemen Ekonomi (Centre for Strategic and International Studies) CSIS Dandy Rafitrandi mengatakan Indonesia memang potensial mendapat benefit dari relaksasi hubungan AS-China, asalkan beberapa faktor seperti kemudahan investasi, kualitas logistik dan fasilitasi perdagangan dapat dipenuhi. Kendati demikian, momentum penting ini masih diragukan dapat memberi hasil konkret yang menguntungkan bagi ekonomi global. Pasalnya, masih banyak isu yang saling bertabrakan antara AS-China, seperti Taiwan, yang bisa memanaskan kembali perang dingin. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan stabilisasi hubungan AS-China akan membuat perang tarif dan sikap proteksionisme kedua negara mereda.  Menteri Keuangan Sri Mulyani yang ikut menghadiri konferensi tahunan APEC 2023 menjelaskan bahwa membaiknya hubungan AS-China diharapkan dapat berdampak positif bagi AS yang sedang mengalami tekanan inflasi. Tekanan tersebut dapat menyebabkan melonjaknya suku bunga untuk waktu lebih lama. Hal ini bisa berdampak pada kenaikan suku bunga dan penurunan aliran modal asing ke Indonesia. Sepanjang kuartal III/2023 saja, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing baik di pasar obligasi maupun pasar modal cenderung berkurang dengan arus modal keluar masing-masing hingga US$972 juta atau setara Rp14,95 triliun dan US$1,52 miliar atau Rp23,37 triliun. Pada Oktober 2023, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$3,48 miliar, naik dibandingkan dengan neraca dagang pada September 2023 sebesar US$3,41 miliar (month-to-month/MtM). Namun, nilai tersebut turun 2,12% (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan Oktober 2022 sebesar US$5,59 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia terbesar adalah ke China dengan nilai US$5,78 miliar, sedangkan AS merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar ketiga Indonesia dengan nilai US$1,82 miliar. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan pernyataan Presiden Biden soal 'diktator' yang merujuk pada pemimpin China seusai pertemuan bilateral, bisa berpotensi menjadi sumber tensi baru. Dalam perhelatan yang sama, Presiden Joko Widodo mendapat kesempatan untuk berbicara di depan eksekutif korporasi AS dalam APEC CEO Summit pada Kamis, sebuah peluang untuk menjaring investor terutama untuk mengisi kekosongan penanam modal di Ibu Kota Negara (IKN).

Harga Energi Tertekan Kelesuan Permintaan dan Geopolitik

HR1 14 Nov 2023 Kontan

Harga energi tertekan dalam sebulan terakhir. Kelesuan harga energi tertekan pelemahan permintaan global dan kondisi geopolitik di Timur Tengah yang tengah bergejolak. Melansir Bloomberg , harga minyak WTI masih bertengger di bawah US$ 80 per barel sejak pekan lalu. Kemarin (13/11), minyak sudah turun 10,41% ke US$ 77,36 per barel dalam sebulan. Nasib batubara juga serupa. Harga batubara bergerak di bawah US$ 130 per ton dalam dua pekan terakhir. Dalam sebulan, harga batubara sudah turun 14,8% ke US$ 129,50 per ton, kemarin (13/11). Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, harga energi pada umumnya tertekan oleh penurunan permintaan. Selain itu, Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva menambahkan, tertekannya harga energi juga akibat situasi geopolitik. Dengan situasi geopolitik saat ini, kedua analis juga menilai tekanan pada harga energi masih berpotensi berlanjut. Bbila perang Israel-Hamas tereskalasi akan berpotensi memberikan dukungan pada harga. Lukman memproyeksikan harga minyak mentah di akhir tahun berpotensi kembali ke US$ 80 per barel–US$ 85 per barel. Support harga minyak berada di level US$ 75 per barel, sehingga harga saat ini berada di level lower range. Sementara gas alam diperkirakan berada di level US$ 3 per mmbtu. Sedangkan target harga batubara di kisaran US$ 110 per ton–US$ 120 per ton.