;

EFEK POSITIF RELAKSASI AS-CHINA

Sosial, Budaya, dan Demografi Hairul Rizal 18 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)
EFEK POSITIF RELAKSASI AS-CHINA

Momentum membaiknya hubungan dagang Amerika Serikat dan China menjadi bekal bagi Indonesia untuk memacu geliat ekonomi domestik dan penguatan daya saing industri yang lebih baik. Optimisme itu terlihat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping berkomitmen menstabilkan hubungan ekonomi dan perdagangan. Sinyal perbaikan hubungan dagang AS-China menjadi highlight pada gelaran Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Summit di San Francisco pada Kamis (16/11). Normalisasi hubungan AS-China juga diperkirakan membuka peluang untuk memacu investasi di sejumlah industri strategis seperti kendaraan listrik dan ekosistemnya. Peneliti Departemen Ekonomi (Centre for Strategic and International Studies) CSIS Dandy Rafitrandi mengatakan Indonesia memang potensial mendapat benefit dari relaksasi hubungan AS-China, asalkan beberapa faktor seperti kemudahan investasi, kualitas logistik dan fasilitasi perdagangan dapat dipenuhi. Kendati demikian, momentum penting ini masih diragukan dapat memberi hasil konkret yang menguntungkan bagi ekonomi global. Pasalnya, masih banyak isu yang saling bertabrakan antara AS-China, seperti Taiwan, yang bisa memanaskan kembali perang dingin. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan stabilisasi hubungan AS-China akan membuat perang tarif dan sikap proteksionisme kedua negara mereda.  Menteri Keuangan Sri Mulyani yang ikut menghadiri konferensi tahunan APEC 2023 menjelaskan bahwa membaiknya hubungan AS-China diharapkan dapat berdampak positif bagi AS yang sedang mengalami tekanan inflasi. Tekanan tersebut dapat menyebabkan melonjaknya suku bunga untuk waktu lebih lama. Hal ini bisa berdampak pada kenaikan suku bunga dan penurunan aliran modal asing ke Indonesia. Sepanjang kuartal III/2023 saja, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing baik di pasar obligasi maupun pasar modal cenderung berkurang dengan arus modal keluar masing-masing hingga US$972 juta atau setara Rp14,95 triliun dan US$1,52 miliar atau Rp23,37 triliun. Pada Oktober 2023, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$3,48 miliar, naik dibandingkan dengan neraca dagang pada September 2023 sebesar US$3,41 miliar (month-to-month/MtM). Namun, nilai tersebut turun 2,12% (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan Oktober 2022 sebesar US$5,59 miliar. Ekspor nonmigas Indonesia terbesar adalah ke China dengan nilai US$5,78 miliar, sedangkan AS merupakan pasar ekspor nonmigas terbesar ketiga Indonesia dengan nilai US$1,82 miliar. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan pernyataan Presiden Biden soal 'diktator' yang merujuk pada pemimpin China seusai pertemuan bilateral, bisa berpotensi menjadi sumber tensi baru. Dalam perhelatan yang sama, Presiden Joko Widodo mendapat kesempatan untuk berbicara di depan eksekutif korporasi AS dalam APEC CEO Summit pada Kamis, sebuah peluang untuk menjaring investor terutama untuk mengisi kekosongan penanam modal di Ibu Kota Negara (IKN).

Download Aplikasi Labirin :