Ekonomi Internasional
( 635 )Dongkrak Investasi Asing, Presiden Xi Bertemu Pengusaha AS
Presiden China Xi Jinping bertemu dengan para pengusaha Amerika Serikat (AS) pada Rabu (27/03/2024) di Beijing. Pertemuan bertujuan untuk meningkatkan arus masuk investasi asing ke Negeri Tirai Bambu. Sebagai informasi, minggu ini para eksekutif dan pengusaha lain dari perusahaan-perusahan besar internasional berada di beijing untuk menghadiri acara tahunan Forum Pembangunan China atau China Development (CDF), yang berlangsung pada Minggu (24/03/2024) hingga Senin (25/03/2024). Jajaran eksekutif puncak perusahaan multinasional biasanya menghadiri forum pemerintah, yang disebut konferensi internasional tingkat negara besar pertama setelah pertemuan parlemen tahunan China pada awal Maret. Adapun forum tahun ini bertepatan dengan upaya-upaya lain menarik pengusaha asing. (Yetede)
Menandingi Singapura?
Berita tentang konser eksklusif Taylor Swift di Singapura
pada awal bulan ini didominasi pernyataan kontroversial pejabat tinggi dari
negara tetangganya. Aspek finansial dari konser dinilai lebih penting ketimbang
yang lain-lain. Sementara, beda politikus dan pengusaha semakin kabur. Seorang
menteri kabinet RI berambisi bikin konser tandingan. Menteri yang lain mencari
peluang menumpang keunggulan Singapura dalam bentuk kerja sama. Sebagian pihak
meragukan kemampuan Jakarta menjadi tuan rumah untuk konser sekelas Taylor
Swift. Kalaupun Jakarta mampu, apakah perlu? Sudah berpuluh tahun dan dalam
berbagai bidang Singapura supergesit dalam kompetisi transaksi global.
Walau unggul dalam sejumlah bidang, Singapura ditakdirkan
hidup dalam keterbatasan. Sumber daya alam dan sumber daya manusia di sana
sangat terbatas. Uniknya, Singapura berhasil membalik keterbatasan itu menjadi pemicu
kerja secara cerdas. Demi bertahan hidup, Singapura sangat bergantung pada tambahan
berbagai sumber daya dari luar. Untuk mendapat tambahan sumber daya unggul,
sejumlah persyaratan harus dipenuhi. Pertama, dibutuhkan jaringan
transportasi-komunikasi-finansial canggih dan andal agar sumber daya dari luar negeri
bisa masuk dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Kedua, Singapura harus memikat
calon mitra kerja dari luar dengan imbalan besar bagi mitra asingnya.
Tak perlu kaget atau kecewa jika pentas Taylor Swift untuk
Asia Tenggara berhari-hari hanya di Singapura. Daripada bikin konser tandingan,
mengapa tidak bersemangat membina universitas dengan kualitas tandingan? Siapa
tahu Indonesia berhasil naik ke urutan setara atau mendekati Singapura dalam
peringkat global universitas dan anak presiden tak perlu jauh-jauh berkuliah di
sana? Mengapa Pemerintah RI tidak terpacu membenahi layanan kesehatan di negeri
sendiri sehingga para menteri yang sakit bisa merasa nyaman dirawat di dalam
negeri? Tenaga kerja Indonesia berbondong-bondong sebagai PRT di Singapura.
Mengapa pejabat tinggi negara tidak bertekad memperbaiki kondisi kerja di Tanah
Air sendiri? Apakah konser tandingan dinilai lebih penting daripada semua hal
itu. (Yoga)
UE Minta Visi Ekonomi Hijaunya Dipahami Dunia
Uni Eropa (UE) mengajak semua negara mitra, termasuk
Indonesia, untuk memahami visi ekonomi berkelanjutan UE yang bernama European
Green Deal, karena visi tersebut membuat standar produksi barang dan jasa yang
dapat dijual di UE menjadi tinggi hingga dinilai menjadi penghalang
perdagangan. Perlu dialog yang intensif agar tercipta kerja sama yang saling menguntungkan
antara UE dan mitranya. Executive Vice-President of the European Commission for
an Economy that Works for People & Commissioner for Trade Valdis
Dombrovskis mengatakan, pihaknya ingin mengajak semua negara mitra UE untuk bersama-sama
bergerak menuju aktivitas ekonomi yang berkelanjutan, karena UE punya program
European Green Deal yang berkomitmen menjadikan Eropa sebagai benua pertama yang
netral karbon.
Salah satunya dengan langkah ambisius menekan emisi hingga 55
% pada 2030. European Green Deal tidak hanya bicara tentang kawasan Uni Eropa
sendiri, tetapi juga memberikan mandat untuk menjalin relasi yang kuat dengan
negara-negara non-Uni Eropa. Tujuannya untuk menghadirkan aktivitas ekonomi yang
lebih hijau dan melakukan transisi energi dengan adil. Ekonom UI, Fithra
Faisal, mengatakan, sudah sejak lama kerja sama perekonomian Indonesia dengan Uni
Eropa belum optimal.
Fithra menilai salah satu penghambat perdagangan Indonesia dengan
UE adalah banyaknya non-tariff barrier yang ditetapkan UE. Salah satunya soal
isu lingkungan yang menghambat ekspor produk minyak kelapa sawit Indonesia ke
kawasan tersebut. Padahal baik Indonesia maupun UE membutuhkan satu sama lain.
Indonesia butuh banyak investasi teknologi maju dari UE untuk mendukung
perkembangan industrialisasi Tanah Air. Selain itu, Indonesia juga bisa memanfaatkan
UE untuk membuka banyak pasar ekspor baru di kawasan Eropa. (Yoga)
Deindustrialisasi Dini
Ekonomi Indonesia pernah mengalami industrialisasi pada masa
Orde Baru yang diawali dengan pembangunan berencana 1970-an. Sejak 1996, Indonesia
sudah tergolong negara berkembang yang berhasil menjalankan industrialisasi
meski masih tahap awal. Peranan sektor industri yang tinggi itu bahkan masih bertahan
setelah Indonesia mengalami krisis moneter 1997/1998. Peranan sektor industri
meningkat sampai 29,6 % PDB pada 2001 karena sektor tersier dan primer melambat
lebih besar. Pasca-2001, peranan sektor industri terus menurun. Deindustrialisasi dini yang terjadi di Indonesia
mirip beberapa negara Amerika Latin. Di Brasil, peranan sektor industri
terhadap PDB mencapai puncaknya sebesar 34 % tahun 1984, kemudian menurun tajam
hanya 11 % pada 2022.
Deindustrialisasi dini, termasuk yang terjadi di Indonesia,
disebabkan beberapa faktor pokok, antara lain, pertama, fenomena Dutch disease,
dimana industrialisasi negara yang kaya SDA terhambat karena naiknya harga
komoditas di pasar global, mengakibatkan perdagangan komoditas primer jauh
lebih menguntungkan daripada membangun industri. Pembangunan ekonomi yang
sebelumnya mulai bertumpu pada industri beralih kembali ke sektor primer. Kedua,
meningkatnya persaingan global di bidang manufaktur. Sejak awal dekade 1990-an,
persaingan produk manufaktur dunia meningkat dengan pesatnya pembangunan
industri di China. Industri manufaktur China yang awalnya mengandalkan biaya
murah jadi pesaing berat produk manufaktur global. Ketiga, tidak adanya
strategi pengembangan industri yang terarah.
Dari perkembangan manufaktur global dan Indonesia, pemerintah
mendatang perlu mengembalikan sektor industri sebagai penggerak utama ekonomi. Tak
ada jalan lebih cepat dari industrialisasi untuk jadi negara pendapatan tinggi
dan maju. Dua langkah pokok perlu diambil. Pertama, revitalisasi industri secara
konkret dan berspektrum luas (broad based). Kedua, pengembangan industri berbasis
SDA. Hilirisasi yang dijalankan perlu dikembangkan lebih lanjut. Tidak hanya
berhenti pada barang antara, tetapi juga pada barang akhir yang bernilai tinggi
agar nilai tambah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh nasional. Di sini
penguasaan teknologi menjadi tantangan besar. Dengan posisi tawar berupa
penguasaan SDA yang kuat, transfer teknologi bisa diwujudkan dengan baik. (Yoga)
Roda Ekonomi Si Lajang
Banyaknya warga Di China pada medio 2017 yang memutuskan
hidup sendiri dituding menghambat pertumbuhan ekonomi. Mereka bahkan dianggap
lebih malas bekerja karena tidak punya motivasi untuk menghidupi keluarga dan
membesarkan anak. Rama (32), pekerja swasta asal Jakarta, pernah memasang
target ingin menikah di usia 27 tahun. Namun, setelah ayahnya meninggal pada
tahun 2014, rencana hidup Rama berubah. Kini, Rama masih hidup lajang dan
santai. ”Sepertinya gue single itu lebih karena faktor mental. Gue merasa bokap
pergi terlalu cepat dan gue harus menggantikan posisinya di rumah. Sekarang jadi
lebih pengin habisin waktu sama nyokap dulu mumpung masih bisa bareng,”
ujarnya, Kamis (14/3). Sebagai pria lajang, Rama merasa pengeluarannya terhitung
tinggi.
Dalam sebulan, ia menghabiskan Rp 8 juta-Rp 10 juta hanya
untuk diri sendiri, seperti memenuhi hobi, bergaul, serta merawat dan
membahagiakan diri sendiri (self-care). Ia juga mengeluarkan uang untuk
keperluan rutin, seperti membayar tagihan listrik, air, dan internet. Meski tidak
menikah, ia juga punya tanggungan tidak langsung karena mesti membantu menghidupi
saudaranya. Gabriella Tessa (34) yang masih lajang karena pertimbangan mental
dan finansial merasa pengeluarannya terhitung banyak. Tidak hanya menghidupi
diri sendiri, ia juga membiayai perawatan ayahnya yang sakit dan membayar
berbagai kebutuhan rutin keluarganya. ”Kayaknya kalau jomblo itu konsumsinya
sedikit, tidak juga, ya. Generasi sekarang bukannya banyak yang hedon? Justru
karena single, semakin banyak duit dihabiskan untuk kesenangan pribadi. Jadi,
konsumsinya enggak kalah banyak sama yang berkeluarga,” ujarnya.
Seseorang yang lajang, bisa terimpit keharusan menjadi tulang
punggung keluarga, alias generasi sandwich, yang kini tidak memandang status
marital. Meski tanpa tanggungan resmi, belanjanya dapat menyerupai mereka yang
sudah berkeluarga karena mesti menghidupi anggota keluarga yang lain. Di sisi
lain, kesadaran untuk lebih merawat diri, menyenangkan diri, dan menikmati hidup
yang hanya sekali juga mendorong budaya konsumtif yang masif di kalangan
penduduk lajang. Apalagi, jika mereka memang sanggup secara finansial. Tren
melajang justru kini membuka peluang ekonomi baru yang menyasar konsumen
single. Mengutip kajian McKinsey Global Institute pada 2021, ada tren
kebangkitan ekonomi lajang (solo economy) secara global dengan ceruk pasar
menggiurkan, terutama di sektor hiburan, perawatan diri, horeka (hotel,
restoran, dan kafe), serta turisme.
Di Jepang, misalnya, tempat karaoke untuk satu orang dan restoran
barbeku dengan satu kursi dan satu alat pemanggang muncul di mana-mana. Di
China, penjualan produk rumah tangga berukuran kecil dan ringkas serta robot
pembersih bagi rumah tangga lajang naik berkali-kali lipat. Kaum single yang
awalnya dicela karena dianggap minim kontribusi mulai bangkit menjadi kekuatan
ekonomi baru yang menggerakkan konsumsi. Akan tetapi, untuk jangka panjang,
hidup menjomblo bukannya tanpa konsekuensi. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi
dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, bangkitnya
populasi lajang bisa menghambat pertumbuhan penduduk baru dan mengubah struktur
demografi. Dampaknya, potensi produktivitas dan suplai tenaga kerja di masa
depan bisa semakin rendah. (Yoga)
China Pasang Target Ambisius 5 Persen
China menetapkan target pertumbuhan 5 % untuk 2024. Di tengah
kondisi ekonomi China yang lesu, target ini terbilang ambisius. Presiden China
Xi Jinping dan pemerintahannya menyadari hal ini. Kini, tantangan China adalah menemukan
jalan baru untuk memulihkan perekonomian. Salah satunya, membangun industri
yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi
ruang angkasa. China juga menawarkan pembukaan akses ke sektor manufaktur dan
beberapa macam jasa untuk membendung mundurnya investor asing. Pesannya jelas,
China ingin swasembada dan terbuka untuk bisnis selama hal itu sesuai dengan keinginan
mereka.
Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan
ekonomi itu dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan China yang dimulai
Selasa (5/3) di Beijing. Ia juga memaparkan keseluruhan anggaran dan kebijakan
utama pemerintah untuk 2024. ”Fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi
China yang berkelanjutan tidak cukup kokoh. Upaya mencapai target tahun ini
tidak akan mudah,” kata Li kepada ribuan delegasi dan anggota Partai Komunis China
(PKC). Agenda itu dinilai penting bagi para pemimpin untuk mengomunikasikan
kebijakan yang menjadi prioritas kepada rakyat. Li menjanjikan pemerintah akan
mengubah model pembangunan China dan mengurangi risiko yang dipicu pengembang properti
yang bangkrut dan kota-kota yang terlilit utang. Target pertumbuhan 5 % itu mempertimbangkan
kebutuhan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan serta mencegah
atau mengurangi risiko.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan
China pada 2024 sebesar 4,6 % dan turun menuju 3,5 % pada 2028. Pertumbuhan
yang tidak merata tahun lalu menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang
mendalam di China. Ini terlihat dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga
semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi. Karena itulah, China perlu
model pertumbuhan baru. China mengawali tahun ini dengan kemerosotan pasar saham
dan deflasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global
pada 2008-2009. Krisis properti dan permasalahan utang pemerintah daerah terus
berlanjut. Jika pemerintah tidak ber- gerak cepat, para ahli khawatir keajaiban
ekonomi China akan memudar dengan cepat. Pemerintah didesak melakukan reformasi
propasar dan meningkatkan pendapatan penduduk. (Yoga)
Berharap Dampak Positif dari Resesi Jepang
Alarm Tanda Bahaya dari Negara Adidaya
Pekan lalu, Pemerintah Jepang mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2023 terkontraksi sebesar 0,4%. Dengan demikian, secara teknikal Negeri Sakura masuk ke dalam jurang resesi, sebab kuartal sebelumnya telah mengalami kontraksi. Pada kuartal III/2023, Jepang mencatatkan kinerja ekonomi mengalami kontraksi 3,3%. Akibat resesi, Negeri Matahari Terbit itu terlempar dari peringkat tiga besar ekonomi dunia. Posisi ketiga direbut oleh Jerman, padahal negeri Der Panzer sedang dirundung kenaikan subsidi energi. Inggris pun mengikuti Jepang. Pemerintahan PM Inggris Rishi Sunak menyampaikan bahwa pada kuartal IV/2023, kinerja ekonomi mengalami kontraksi 0,3%. Britania Raya masuk ke dalam fase resesi teknis setelah pada kuartal sebelumnya mengalami kontraksi 0,1%. Kontraksi kuartal keempat ini lebih dalam daripada perkiraan semua ekonom. Mereka semula diramalkan ekonomi turun 0,1%. Sinyal perlambatan ekonomi kelompok negara-negara G7 ini tanda bahaya bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Apalagi, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2024 mulai terkontraksi sebesar 8,34% dibandingkan dengan posisi Desember 2023. Bahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tercatat -8,06%. Nilai ekspor RI pada Januari 2024 hanya sebesar US$20,52 miliar. Adapun, ekspor Indonesia ke Jepang pangsa pasarnya mencapai 7,63% dari total ekspor Januari 2024.
Sementara itu, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) Jepang ke Indonesia pada 2023 juga berada pada peringkat ke-4 dengan total sebesar US$4,63 miliar. Inggris masuk dalam daftar negara 10 besar tujuan ekspor Indonesia. Lima sektor utama realisasi investasi asal Inggris yaitu tanaman pangan, perkebunan dan peternakan (24%); pertambangan (20%); industri makanan (9%); industri kimia dan farmasi (8%); serta hotel dan restoran (7%). Dengan adanya resesi itu, otomatis akan berpengaruh terhadap pasar ekspor dan investasi ke Indonesia. Apalagi China sebagai mitra dagang utama RI, dengan porsi ekspor 23,9% dari total ekspor terkontraksi 12,92% secara tahunan, dan minus 20,73% secara bulanan. Pemerintah RI mencoba berkelit dari ancaman resesi beberapa negara raksasa dunia tersebut. Pemerintah bakal memacu ekspor pada 12 negara prioritas, seperti Arab Saudi, Belanda, Brazil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, UEA, dan Vietnam. Masalah klasik untuk memperluas akses pasar melalui perjanjian khusus pun tak kunjung tuntas. Seperti perjanjian Indonesia-EU CEPA untuk masuk blok perdagangan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Dunia Kembali di Ambang Resesi
Jerman Kini Jadi Negara Ekonomi Terkuat Ketiga
Sama-sama terpangkas pertumbuhannya, perekonomian Jepang
lebih buruk daripada Jerman. Dampaknya, Jepang yang menyerap 10 % ekspor
Indonesia itu kini disingkirkan Jerman dari tiga besar negara terkaya. Kabinet
Jepang pada Kamis (15/2) mengungkap, total PDB Jepang 2023 bernilai 4,21
triliun USD. Adapun PDB Jerman tercatat 4,46 triliun USD. Karena itu, Jerman
kini menjadi negara terkaya ketiga setelah AS dan China. PDB Jepang susut dua
triwulan berturut-turut sepanjang 2023, turun 3,3 % pada triwulan III-2023 dan
0,4 % pada triwulan IV-2023. Secara teknis, Jepang bisa disebut dalam resesi. Menurut
Dana Moneter Internasional (IMF), PDB Jerman terpangkas 0,9 % pada 2023.
Mengacu data IMF, PDB Jepang pada 2012 bernilai 6,2 triliun USD.
Sementara pada 2023, hanya 4,2 triliun USD. Dengan kata lain, PDB Jepang hilang
2 triliun USD dalam satu dekade terakhir. Menurut kantor berita Kyodo,
pelemahan nilai tukar yen terhadap dollar AS berkontribusi pada penurunan nilai
PDB Jepang tahun 2023. Pada 2012, setiap USD setara 79,82 yen. Tahun lalu, kurs
rata-rata USD terhadap yen mencapai 140,5. Dengan demikian, dalam satu dekade
terakhir, kurs yen terhadap USD melemah 100 %.
Sejatinya, kondisi ekonomi Jerman juga tak berada dalam
kondisi yang baik. Nilai PDB Jerman mengalami kontraksi 0,3 % pada tahun 2023
seiring tingginya angka inflasi sepanjang tahun lalu yang disebabkan harga energi
yang tinggi dan lemahnya permintaan dari luar negeri. Tak hanya itu, krisis
anggaran yang mendorong penghilangan subsidi besar-besaran untuk sejumlah
sektor juga mendorong memburuknya situasi perekonomian Jerman. Situasi ini, menurut
Presiden Institut Riset Ekonomi Ifo, Clemens Fuest, sudah bisa dimasukkan dalam
kategori resesi ekonomi. Kepala Staf Pemerintah Jerman Wolfgang Schmidt, Selasa
(13/2) mengatakan ”Jerman tidak sedang mengalami resesi. Pasar tenaga kerja
sangat stabil, upah riil meningkat. Kita akan melihat pertumbuhan tahun ini,”
katanya. Perekonomian diperkirakan mulai pulih tahun ini. Bank sentral Jerman,
Bundesbank, baru-baru ini memperkirakan pertumbuhan 0,4 %. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022









