;

Roda Ekonomi Si Lajang

Ekonomi Yoga 16 Mar 2024 Kompas
Roda Ekonomi Si Lajang

Banyaknya warga Di China pada medio 2017 yang memutuskan hidup sendiri dituding menghambat pertumbuhan ekonomi. Mereka bahkan dianggap lebih malas bekerja karena tidak punya motivasi untuk menghidupi keluarga dan membesarkan anak. Rama (32), pekerja swasta asal Jakarta, pernah memasang target ingin menikah di usia 27 tahun. Namun, setelah ayahnya meninggal pada tahun 2014, rencana hidup Rama berubah. Kini, Rama masih hidup lajang dan santai. ”Sepertinya gue single itu lebih karena faktor mental. Gue merasa bokap pergi terlalu cepat dan gue harus menggantikan posisinya di rumah. Sekarang jadi lebih pengin habisin waktu sama nyokap dulu mumpung masih bisa bareng,” ujarnya, Kamis (14/3). Sebagai pria lajang, Rama merasa pengeluarannya terhitung tinggi.

Dalam sebulan, ia menghabiskan Rp 8 juta-Rp 10 juta hanya untuk diri sendiri, seperti memenuhi hobi, bergaul, serta merawat dan membahagiakan diri sendiri (self-care). Ia juga mengeluarkan uang untuk keperluan rutin, seperti membayar tagihan listrik, air, dan internet. Meski tidak menikah, ia juga punya tanggungan tidak langsung karena mesti membantu menghidupi saudaranya. Gabriella Tessa (34) yang masih lajang karena pertimbangan mental dan finansial merasa pengeluarannya terhitung banyak. Tidak hanya menghidupi diri sendiri, ia juga membiayai perawatan ayahnya yang sakit dan membayar berbagai kebutuhan rutin keluarganya. ”Kayaknya kalau jomblo itu konsumsinya sedikit, tidak juga, ya. Generasi sekarang bukannya banyak yang hedon? Justru karena single, semakin banyak duit dihabiskan untuk kesenangan pribadi. Jadi, konsumsinya enggak kalah banyak sama yang berkeluarga,” ujarnya.

Seseorang yang lajang, bisa terimpit keharusan menjadi tulang punggung keluarga, alias generasi sandwich, yang kini tidak memandang status marital. Meski tanpa tanggungan resmi, belanjanya dapat menyerupai mereka yang sudah berkeluarga karena mesti menghidupi anggota keluarga yang lain. Di sisi lain, kesadaran untuk lebih merawat diri, menyenangkan diri, dan menikmati hidup yang hanya sekali juga mendorong budaya konsumtif yang masif di kalangan penduduk lajang. Apalagi, jika mereka memang sanggup secara finansial. Tren melajang justru kini membuka peluang ekonomi baru yang menyasar konsumen single. Mengutip kajian McKinsey Global Institute pada 2021, ada tren kebangkitan ekonomi lajang (solo economy) secara global dengan ceruk pasar menggiurkan, terutama di sektor hiburan, perawatan diri, horeka (hotel, restoran, dan kafe), serta turisme.

Di Jepang, misalnya, tempat karaoke untuk satu orang dan restoran barbeku dengan satu kursi dan satu alat pemanggang muncul di mana-mana. Di China, penjualan produk rumah tangga berukuran kecil dan ringkas serta robot pembersih bagi rumah tangga lajang naik berkali-kali lipat. Kaum single yang awalnya dicela karena dianggap minim kontribusi mulai bangkit menjadi kekuatan ekonomi baru yang menggerakkan konsumsi. Akan tetapi, untuk jangka panjang, hidup menjomblo bukannya tanpa konsekuensi. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, bangkitnya populasi lajang bisa menghambat pertumbuhan penduduk baru dan mengubah struktur demografi. Dampaknya, potensi produktivitas dan suplai tenaga kerja di masa depan bisa semakin rendah. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :