Ekonomi Internasional
( 635 )Pertumbuhan Rendah dan Utang Menumpuk Bebani EKonomi Global
Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional atau IMF Kristalina Georgieva mengingatkan bahwa pertumbuhan yang rendah dan utang yang menumpuk masih menjadi hambatan utama bagi perekonomian global. Meskipun ada kemajuan cukup siginfikan dalam pemulihan eknomi global, tapi pemerintah dibanyak negara telah menjadi terlalu terbiasa untuk berhutang. Hal tersebut diperparah dengan pertumbuhan rendah hingga beban pembayaran utang menjadi semakin berat. "Belum waktunya untuk merayakannya (kemajuan dalam pemulihan ekonomi global). Ketika kita melihat tantangan-tantangannya yang ada di depan kita, tantangan terbesar adalah pertumbuhan yang rendah dan utang yang tinggi.
Di sinilah kita bisa dan harus melakukan yang lebih baik," ujar Georgieva. Terlepas pujian Georgieva terhadap kinerja bank-bank sentral utama dalam meredam inflasi, ia mencatat bahwa pencapaian-pencapaian tersebut belum bersifat universal. Karena beberapa negara masih terus dengan kenaikan harga-harga. Termasuk perjuangannya untuk mengatasi dampaknya dalam kehidupan sosial maupun politik maing-masing. "Negara-negara ekonomi besar telah berhasil dengan sangat baik tapi ada beberapa negara di dunia yang tingkat inflasinya masih menjadi masalah. Dampak dari kenaikan harga-harga masih ada dan ini membuat orang di banyak negara itu merasa keadaan lebih buruk dan marah," kata dia. (Yetede)
Menekan Ketimpangan dan Kebocoran
Upaya Meningkatkan Perdagangan di Tengah Tantangan Global
Kinerja perdagangan Indonesia menghadapi tantangan besar akibat perang dagang dan restriksi impor dari 19 negara, yang membuat volume perdagangan global menyusut. Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Mardyana Listyowati, menyatakan bahwa pemerintah berupaya memperluas pasar melalui perjanjian perdagangan bebas (FTA) untuk menurunkan hambatan tarif dan nontarif serta meningkatkan daya saing produk Indonesia. Mardyana optimis kinerja ekspor Indonesia bisa tetap positif dengan upaya FTA dan pengakuan standar bersama (MRA).
Presiden Joko Widodo juga optimis bahwa meski banyak negara melakukan restriksi dan inflasi global tinggi, Indonesia tetap memiliki peluang meningkatkan ekspor. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mendukung optimisme ini, mencatat bahwa ajang seperti Trade Expo Indonesia (TEI) telah berhasil meningkatkan transaksi perdagangan hingga USD 30,5 miliar pada 2023, dibandingkan dengan USD 1,42 miliar pada 2014.
Ajib Hamdani dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti pentingnya dua langkah utama: meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor melalui hilirisasi dan memperluas pasar melalui diplomasi ekonomi. Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economic (Core) menyarankan pengembangan pasar di Afrika Utara dan Pakistan, mengingat potensi demografis dan prospek ekonomi di negara-negara ini. Namun, Yusuf juga mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam perjanjian perdagangan dengan China, yang tidak selalu memberikan keuntungan bagi Indonesia.
India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama di KEK Kesehatan
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam menjadi landasan baru kolaborasi investasi antara Indonesia dan India, terutama melalui penanaman modal oleh Apollo Hospitals India dan Mayapada Group. Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan rumah sakit internasional di kawasan tersebut dan berharap lebih banyak investor India berpartisipasi di Batam. Plh. Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Purwiyanto, mengonfirmasi bahwa diskusi mencakup rencana kerja sama di bidang pendidikan, tenaga medis, dan pembangunan fasilitas olahraga seperti lapangan kriket.
Presiden Joko Widodo menetapkan KEK ini melalui PP No. 39/2024, dengan luas 47,17 hektare di Sekupang dan Nongsa. KEK ini menargetkan investasi sebesar Rp6,91 triliun hingga 2032 dan diharapkan menciptakan lebih dari 100.000 lapangan kerja. Irfan Syakir Widiasa dari BP Batam optimis target ini dapat tercapai, terutama karena lahan telah tersedia untuk pengembangan. President Commissioner Mayapada Healthcare, Johanes Tahir, menegaskan komitmen Mayapada untuk melanjutkan proyek rumah sakit internasional berstandar tinggi yang dapat menarik wisatawan, dengan target awal investasi Rp3,3 triliun dan penciptaan hampir 20.000 lapangan pekerjaan dalam lima tahun pertama.
Strategi Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Korsel
Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia pada September tahun ini diprediksikan meningkat. Estimasi tersebut sejalan dengan tren nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS selama September dibandingkan bulan sebelumnya. Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada September 2024 menguat di atas US$ 150 miliar. Jumlah tersebut tetap terjaga dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar US$ 150,24 miliar. Selama September 2024, rata-rata nilai tukar rupiah di level Rp 15.325 per dolar AS. Angka tersebut menguat 2,74% dibandingkan rata-rata kurs rupiah selama Agustus tahun ini yang berada di kisaran Rp 15.756 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga meramal, cadangan devisa pada periode September 2024 akan berada di rentang antara US$ 148 miliar sampai dengan US$ 153 miliar. "Kemungkinan (cadangan devisa) September 2024 naik. Ini karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, investor cenderung risk on masuk ke aset-aset emerging market termasuk Indonesia," tutur David, Jumat (4/10). Tak jauh berbeda, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan, cadangan devisa pada September tahun ini meningkat ke kisaran US$ 150 miliar hingga US$ 152 miliar. Kenaikan ini lantaran rupiah stabil dan menguat pada September 2024.
"Juga adanya penerbitan sukuk global oleh pemerintah sekitar US$ 2 miliar," ucap dia.
Di samping itu, tekanan eksternal terhadap rupiah juga datang dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang mengguyur insentif fiskal bazooka sebesar US$ 1,4 triliun untuk mendorong perekonomian di negara tersebut. "Sentimen ini direspons positif oleh pasar, sehingga memberikan ruang pergeseran aset dari
emerging market
ke China pada bulan ini," ungkap Banjaran.
Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia juga melihat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi menekan cadangan devisa Indonesia pada Oktober tahun ini. Dia memprediksikan, cadangan devisa pada Oktober senilai US$ 143,2 miliar, atau lebih rendah dari estimasi September yang sebesar US$ 153,2 miliar.
Masukan untuk Indonesia Dari Bank Dunia
Guncangan ”Gempa” Ekonomi China
Kondisi ekonomi China, mudah mengguncang ekonomi global. Industri mobil Eropa mulai terdampak. September kelabu untuk Volkswagen Group. Raksasa otomotif Jerman itu mau menutup satu pabrik di Jerman. Rencana penutupan itu diungkap CEO Volkswagen Group Oliver Blume pada Rabu (4/9). Ia menyebut situasi memaksanya mempertimbangkan penutupan salah satu pabrik di Jerman. Kelompok usaha yang menaungi 10 jenama otomotif itu juga mengabarkan hal buruk lain kepada pekerja. Sejatinya, angka penjualan VW Group secara global sempat naik pada 2023. Paruh pertama 2023, nilai penjualan naik 18 % atau senilai 174 miliar USD, tapi, situasi tak terduga terjadi tahun ini (Kompas.id, 9/9/2024). Turunnya permintaan konsumen di China, pasar terbesar VW, memukul perusahaan.
Penjualan di China turun hingga 7 % dibanding periode yang sama tahun 2023 dan membuat laba perusahaan anjlok 11,4 % menjadi 11,2 miliar USD. Tak hanya VW, ketika perubahan ekonomi di China, banyak perusahaan yang pasarnya bergantung pada China terguncang. Beberapa industri yang melaporkan dampak itu antara lain industri mode kelas atas, industri makanan, industri minuman, dan jaringan ritel. Beberapa eksportir produk makanan asal Indonesia pernah menceritakan masalah ini. Begitu ekonomi China turun, mereka tak bisa menjual produk ke China. Permintaan pasar terhadap beberapa produk itu langsung turun dan bahkan menghilang. Bila penurunan ekonomi ini berlangsung lama, rantai pasok sudah berubah dan tidak mudah untuk memulihkan kembali. Mereka harus merintis dari awal lagi.
Masalah makin berlipat ketika China kemudian bisa memproduksi barang sejenis. VW terdampak karena China berhasil membuat mobil sejenis dengan harga terjangkau. Apalagi produsen China juga makin banyak memproduksi mobil masa depan, yaitu mobil listrik dengan harga lebih murah. Otomatis produsen dari luar negeri harus bersaing ketat di pasar China. Melihat contoh-contoh di atas, semua produsen Indonesia yang mempunyai pasar di China perlu mempersiapkan pasar lain sehingga guncangan pasar di China bisa dikompensasi di pasar baru. Upaya ini tak mudah karena pasar China sangat besar dan menggiurkan. Meski demikian, upaya mencari pasar baru harus terus dilakukan agar pasar bertambah besar dan berjaga-jaga bila ekonomi China berubah. (Yoga)
Ekonomi Paus Fransiskus
Kegusaran Paus Fransiskus terhadap sistem ekonomi saat ini yang menurut dia hanya didasarkan pada motif mencari keuntungan, yang meminggirkan warga masyarakat miskin, perusakan lingkungan, serta menyebabkan kesenjangan dan segresi sosial, mendorongnya menyerukan perbaikan rumah ekonomi bersama, yang disampaikan dalam berbagai dokumen, seperti Evangelii Gaudium (2013), Laudato Si (2015), Querida Amazonia (2020), termasuk dalam dokumen pesan Paus Fransiskus kepada peserta pertemuan bertajuk Economy of Francesco pada tahun 2020 silam. Menurut Paus Fransiskus, sistem ekonomi yang memengaruhi nasib mayoritas warga bumi saat ini sungguh merupakan model ekonomi yang membunuh (Evangelii Gaudium, 53). Ciri utamanya adalah adanya pengucilan dan ketidaksetaraan.
Sistem ekonomi itu, menurut Paus Fransiskus, membenarkan ”fetisisme uang” (Evangelii Gaudium, 55) dan pada dasarnya tidak adil dari akarnya (Evangelii Gaudium, 59) karena sistem tersebut membiarkan dan mempertahankan otonomi absolut pasar dan spekulasi uang (Evangelii Gaudium, 56; 202). Kelompok rentan terasing dari masyarakatnya, berada di pinggiran, dan hak-haknya tercabut (Evangelii Gaudium, 53). Dominasi dan penyingkiran tersebut amat kuat terjadi terhadap masyarakat adat di negara-negara berkembang. Paus Fransiskus menilai, sistem ekonomi saat ini telah menjadi instrumen baru kolonialisasi di mana kepentingan akumulasi ekonomi dari mereka yang kuat dan berkuasa terus memperluas, sekaligus mengusir serta meminggirkan penduduk asli dan masyarakat adat (Querida Amazonia, 9).
Akibatnya, para penduduk asli harus bermigrasi ke bagian periferi perkotaan, bahkan sampai ke luar negeri, tanpa kecukupan pengetahuan dan keterampilan. Di sana mereka tidak mengalami pembebasan atas masalah yang dihadapi, tetapi malah mengalami perbudakan, eksploitasi seksual, dan perdagangan manusia. Situasi ekonomi politik dunia yang sungguh predatoris dan membunuh itu mendorong Paus Fransiskus mengadakan pertemuan bertema Economy of Francesco pada 19-21 November 2020, yang mengundang dan melibatkan 20 negara, dari semua belahan dunia. Paus Fransiskus mengeluarkan pesan apostolik yang sangat menginspirasi. Paus Fransiskus merancang dan menyerukan suatu model dan tata ekonomi baru yang lebih inklusif, berkelanjutan, serta dijalin dalam dialog lintas batas.
Ia menegaskan agar umat beragama zaman ini untuk secara aktif membangun dan memperjuangkan norma baru untuk tata kelola politik dan ekonomi yang lebih baik (Economy of Francesco, 2020), juga untuk melawan ”ekonomi eksklusi dan ketidaksetaraan” (Evangelii Gaudium, 53). Menurut Paus Fransiskus, sistem ekonomi dan politik yang baik tak tunduk pada hasrat paradigma efisiensi teknokratis, tetapi mesti mengabdi kepentingan umum, terutama melayani umat manusia (Laudato Si, 169). Oleh karena itu, sistem ekonomi politik mesti mengarah pada upaya meminimalisasi kesenjangan, serta menghapus diskriminasi dan memerdekakan umat manusia dari aneka jenis perbudakan,pemiskinan, kesenjangan, dan polarisasi. (Yoga)
Transisi Dibayangi Tekanan Eksternal dan Internal
Transisi pemerintahan Jokowi ke Prabowo Subianto dibayangi tekanan eksternal dan internal. Ekonomi negara mitra dagang utama tumbuh lambat di tengah pelemahan konsumsi domestik. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Selasa (23/7) mengatakan, saat ini, Indonesia tengah dibayangi sejumlah risiko ekonomi di sektor perdagangan dan konsumsi rumah tangga. Di sektor perdagangan, permintaan negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia, seperti China dan AS, tengah melemah. China, sejak awal tahun ini, industri manufaktur di negara tersebut tengah mengalami pelemahan permintaan dan kelebihan pasokan.
Produk manufaktur China telah melebihi permintaan dalam negeri sehingga diekspor ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. ”Tak mengherankan jika Indonesia kebanjiran produk impor dari China, terutama tekstil dan produk tekstil,” ujarnya dalam webinar Tinjauan Tengah Tahun CORE Indonesia bertema ”Mitigasi Risiko Ekonomi Jelang Pemerintahan Baru,” di Jakarta. CORE Indonesia mencatat, pada Januari-Mei 2024, ekspor China meningkat 7,6 % secara tahunan, sedangkan impornya hanya tumbuh 1,8 %. Sebaliknya, ekspor Indonesia ke China pada triwulan II-2024 justru terkontraksi 4,2 %, sedang impor dari China tumbuh 5,1 %. Adapun nilai impor tekstil dan produk tekstil dari China meningkat signifikan 35,5 %.
Menurut Faisal, pelemahan permintaan China turut menyebabkan kinerja ekspor Indonesia tumbuh lambat. Nilai ekspor Indonesia sejak awal 2023 hingga triwulan II- 2024 hanya tumbuh 1,8 % secara tahunan. Ekspor sejumlah produk hasil hilirisasi tambang, seperti produk turunan nikel serta besi dan baja, ke China justru turun. Nilai ekspor besi dan baja, tumbuh negatif 26,9 % pada triwulan II-2024. ”Hal itu menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap China sangat besar. Porsi ekspor Indonesia ke China selama semester I-2024 sekitar 22,5 %, jauh lebih tinggi dari porsi ekspor Thailand, Filipina, dan Malaysia ke China di kisaran 10-12 %,” tuturnya.
Selain sektor perdagangan, Indonesia tengah dibayangi risiko pelemahan konsumsi rumah tangga, khususnya kelas menengah ke bawah, sejalan dengan minimnya peningkatan upah. Karena itu, lanjut Faisal, sejumlah langkah terobosan perlu dilakukan. Indonesia perlu serius menggarap pasar-pasar ekspor selain China. Indonesia juga perlu menggarap hilirisasi industri manufaktur selain tambang. Di antaranya adalah sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang sumber daya alam dan serapan tenaga kerjanya sangat besar. ”Ke depan, pastikan program Makan Bergizi Gratis dapat berdampak ganda pada perekonomian rakyat. Jangan hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan besar atau justru menambah impor,” ujarnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









