;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Isu Global Berimbas ke Bahan Baku

HR1 14 Feb 2024 Kontan
Laju saham di sektor barang baku (basic materials) masih tertinggal. Indeks barang baku, Selasa (13/2), minus 2,01%. Ini menjadikan indeks sektoral dengan penurunan paling dalam. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Ade Muchlis Ilyasa memandang laju saham di sektor barang baku masih kena adang sejumlah kendala, terutama eksternal. Ade menyoroti ketidakstabilan geopolitik akibat konflik di Ukraina ditambah Timur Tengah. Prospek terhadap kinerja bisnis emiten dan sentimen pada pergerakan sahamnya juga akan terpengaruh oleh kondisi ekonomi global. Dus, aktivitas ekonomi di negara maju yang memerlukan pasokan barang baku turut menjadi penentu. Dalam hal ini, Ade melihat perlambatan ekonomi China menjadi salah satu pemberat bagi sektor barang baku. Apalagi China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menimpali, kinerja emiten dan pergerakan saham di sektor barang baku akan dipengaruhi oleh perkembangan industri utama. Dia mencontohkan ketika industri properti melonjak, akan mengangkat kinerja sektor barang baku seperti baja,  semen dan kayu. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyoroti program hilirisasi tambang yang juga menjadi katalis krusial bagi sektor barang baku. Terutama untuk nikel, dimana pemerintah telah menggenjot hilirisasi pada komoditas ini. Menurut Nico, masih perlu kebijakan lebih lanjut untuk mendorong akselerasi program hilirisasi. Termasuk pada komoditas lainnya, seperti peningkatan nilai tambah batubara. "Masih ada sektor lain yang akan lebih ciamik. Untuk memilih, perhatikan durasi investasi serta profil risiko yang dimiliki," saran Nico. Reza juga menyarankan untuk tetap fokus mencermati kondisi fundamental dan likuiditas sejumlah  saham di sektor barang baku. Sementara ini Reza melihat saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) layak mendapat perhatian.

Langkah Antisipasi Risiko Ekonomi Global 2024

HR1 05 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Baru saja kita memasuki 2024 dengan penuh optimisme karena prospek ekonomi nasional makin membaik dibandingkan sebelumnya. Hal ini terlihat dari beberapa indikator makroekonomi antara lain pertumbuhan ekonomi dengan trend meningkat, inflasi yang stabil serta terjaganya stabilitas eksternal. Namun, pada 2024 situasi ekonomi global tampaknya masih belum sepenuhnya pulih. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan menyusut menjadi 2,9% (year-on-year/YoY) pada 2024, lebih rendah dari proyeksi 2023 yang tumbuh sebesar 3,00% (YoY). Fenomena risiko penurunan ekonomi global beserta dampaknya telah dipotret oleh World Economic Forum (WEF) melalui “The Global Risks Report 2024”. Dalam laporannya, disebutkan bahwa economic downturn masuk sepuluh besar risiko global yang akan berdampak pada peningkatan ketidakpastian dalam dua tahun ke depan. Salah satu pemicu yang menurunkan kinerja ekonomi global saat ini yaitu gejolak perekonomian di dua raksasa ekonomi dunia yang sedang mengalami masa transisi pascapandemi yaitu Amerika Serikat (AS) dan China.

 Di sektor keuangan, terjadinya gagal bayar utang pemerintah akan mendorong peningkatan imbal hasil US treasury untuk menjaga pasar keuangan tetap menarik. Kenaikan yield tersebut dapat memicu terjadinya capital outflow portfolio modal asing yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Bloomberg mencatat, imbal hasil US treasury saat ini untuk tenor 10 tahun berada di kisaran 4,1% atau masih lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya di kisaran 3,5%, meskipun mulai turun secara bertahap. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih adanya risiko tekanan nilai tukar yang dipicu oleh naiknya yield US treasury meskipun sudah mulai melandai.Pada periode yang sama, di China sedang mengalami penurunan konsumsi rumah tangga dan kinerja investasi sebagai dampak lanjutan dari krisis properti yang terjadi sejak 3 tahun terakhir. Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi China membawa konsekuensi terhadap turunnya permintaan komoditas dan bahan baku impor di Negara Panda. Selanjutnya, kondisi ini akan berdampak pada penyusutan permintaan ekspor bahan baku termasuk dari Indonesia. Data BPS menunjukkan nilai ekspor nonmigas nasional pada Desember 2023 sebesar US$242,90 miliar, mengalami penurunan 11,96% (YoY) dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencapai US$275,91 miliar.Perlu dicermati, porsi ekspor komoditas nonmigas nasional sebesar 25,66% bertujuan ke China pada 2023. 

 Di sisi regulasi, pemerintah telah mengatur penempatan devisa hasil ekspor dari pengelolaan dan/atau pengolahan sumber daya alam (DHE SDA) untuk meningkatkan likuiditas valas dalam negeri melalui PP No. 36 tahun 2023. Bank Indonesia juga menerbitkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUKBI). Kedua jenis sekuritas tersebut merupakan instrumen operasi pasar valas yang pro-market untuk mendukung pendalaman pasar keuangan sekaligus menarik capital inflows dan mendukung stabilitas nilai tukar.

Mitigasi Risiko Ketidakpastian Global

KT3 01 Feb 2024 Kompas

Belum reda tekanan akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, saat ini perekonomian global kembali dihadapkan pada ketidakpastian baru yang disebabkan perang Israel-Palestina. Krisis Timur Tengah yang menyeret AS dan sekutunya ini langsung membuat harga minyak dunia bergejolak. Keterlibatan AS dan sekutunya dalam pusaran konflik dengan menyerang Yaman langsung menaikkan harga minyak dunia jenis Brent sebesar 4 % menjadi 80 USD / barel dan jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,79 % menjadi 74,03 USD / barel. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga gas alam, sekitar 25 % pada 12 Januari 2024. Sebelumnya, ekonom Bank Investasi AMP di Australia, Shane Oliver, mengingatkan, serangan AS dan sekutunya terhadap Yaman meningkatkan peluang Iran terlibat langsung dalam konflik di kawasan (Kompas, 13/1/2024).

Akibatnya, pasokan minyak global akan terancam sehingga menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan dan inflasi global. Berakhirnya era suku bunga tinggi yang ditunggu-tunggu oleh pelaku usaha dan konsumen kembali buyar. Proyeksi bahwa inflasi AS akan turun signifikan sehingga memberi ruang bagi The Fed dan bank sentral secara global melonggarkan suku bunga acuan pada semester pertama 2024 mengalami ketidakpastian. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memperkirakan harga minyak dunia akan meningkat pada 2024 akibat perang Timteng yang dimulai dari konflik Hamas-Israel. Kenaikan harga minyak dunia akan mendongkrak inflasi dan menggerus pertumbuhan ekonomi global. Hasil simulasi Fitch Rating (2023) menunjukkan kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 % akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global 0,4 % menjadi 2,7 % pada 2024, dan 0,1 % tahun 2025 ke level 3,0 %.

Proyeksi ini didasarkan pada asumsi rata-rata harga minyak dunia 75 USD / barel tahun 2023 serta 70 USD / barel tahun 2024 dan 2025. Terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang di Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik  signifikan, menjadi 120 USD / barel pada 2024 dan 100 USD / barel pada 2025 (Fitch Rating, 2023). Kenaikan harga minyak dunia akibat perang Timteng membuat arah pergerakan suku bunga global menjadi tidak menentu. The Fed dan bank sentral negara-negara EMEs berpotensi menunda menurunkan suku bunga acuan hingga semester kedua 2024. Respons kebijakan dari otoritas moneter EMEs, khususnya BI, adalah tetap konsisten pada kerangka kebijakan inflation targeting (IT) dengan target inflasi 2,5 % plus-minus 1 %. Dengan demikian, BI dituntut berhati-hati melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga acuan. (Yoga)

MANUVER INVESTASI INVESTOR INSTITUSI

HR1 26 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian tinggi pada tahun ini membuat investor institusi harus mengatur strategi lebih jitu, guna mencari instrumen yang aman, tetapi tetap memberikan imbal hasil yang menarik. Belakangan, ekspektasi pemburukan ekonomi global mendorong penurunan suku bunga acuan. Selain ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, bank sentral China rupanya juga mengirim sinyal yang sama. People's Bank of China (PBoC) siap menurunkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase pada awal Februari 2024. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan sepanjang 2023, investor asing dan investor institusi lokal mengakumulasi infl ow, kecuali industri bank yang menarik dananya sebesar Rp202,24 triliun. Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon mengatakan bahwa investasi asuransi jiwa pada tahun ini menitikberatkan pada SBN. Kebijakan investasi ini mempertimbangkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua. Budi mengatakan, dari sisi imbal hasil, SBN pun berada pada posisi yang menarik sehingga menjadi salah satu instrumen investasi andalan. Dihubungi terpisah, Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi mengatakan dana pensiun masih memiliki minat terhadap SBN terlepas dari kewajiban alokasi aset pada surat utang negara itu. SBN menjadi pilihan karena stabilitas imbal hasil dan risiko rendah gagal bayar. Sementara itu, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan SBN tenor pendek menjadi pengaman dari risiko seiring dengan masih tingginya ketidakpastian. Sementara itu, SBN tenor panjang memberikan peluang yield tinggi di tengah proyeksi perlambatan ekonomi. Adapun, Director & Chief Investment Offi cer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula memprediksi tahun 2024 menjadi periode konstruktif bagi pasar obligasi Indonesia. Faktor-faktor makroekonomi yang mendukung termasuk inflasi yang terjaga dan potensi pemangkasan suku bunga. Tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun sebesar 6,7% dianggap sebagai titik masuk menarik bagi investor.

Manufaktur Dapat Tumbuh 5,6%

KT1 24 Jan 2024 Investor Daily (H)
Tren positif industri manufaktur pada 2023 lalu diperkirakan akan berlanjut pada tahun ini. Meskipun demikian, perlambatan ekonomi global akan menahan eskpansi industri manufaktur lebih kencang, membuat pertumbuhannya diperkirakan mencapai 5,6%. Ekonom Center of Reform on Ecomomics (CORE) Indonesia Ina Primiana menerangkan, melambatnya ekonomi mitra dagang utama Indonesia seperti China dan AS dan pengetatan moneter global dan domestik, menjadi tantangan utama industri manufaktur pada tahun ini. "Berdasarkan hal tersebut, pertumbuhan sektor industri manufaktur di tahun 2024 diperkirakan akan mencapai 5,4-5,6%," ucap dia.  

Kendati demikian perlambatan ekonomi global tahun lalu, menyebabkan  ekspor industri pengolahan turun 3,5% (yoy) dengan nilai impor mencapai US$ 16,07 miliar pada November 2023, meskipun pada saat yang sama volume ekspor meningkat 15,1% dengan volume  sebesar 12,30 juta ton. Investasi industri manufaktur pada 2023 juga meningkat, terutama di sektor makanan dasar, dan farmasi. Tren tersebut diharapkan berlanjut pada 2024. Investasi PMA dan PMDN juga meningkat, dengan sektor makanan dan farmasi mendominasi. "Indonesia terus menjadi tujuan investasi industri manufaktur tingkat satu yang tercermin dari kontribusi terhadap realisasi investasi mencapai 41,2%, dengan pertumbuhan signifikan  pada sektor-sektor tersebut," ucap Ina. (Yetede)

Mewaspadai Krisis Ekonomi China

HR1 22 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Pada Edisi 10 Januari 2024, Harian Bisnis Indonesia memberitakan rasa khawatir para pengusaha Indonesia setelah ada berita ekonomi China diprediksi melemah pada 2024 ini. Para pengusaha menyatakan bahwa perkembangan negatif ekonomi China bisa memberi dampak buruk terhadap perekonomian Indonesia. Alasannya adalah keterkaitan hubungan ekonomi Indonesi dan China sangat erat sehingga bisa memengaruhi ekonomi makro, khususnya kinerja ekspor, impor, dan investasi. Seperti diketahui, dunia internasional menyoroti terjadinya deflasi yang parah di China. Umumnya mereka menyatakan bahwa apa yang terjadi China adalah anomali alias tidak ‘lumrah’. Saat seluruh dunia sedang dilanda inflasi yang sangat parah, ternyata China malahan dilanda deflasi. Seperti diketahui, pascaterjadinya perang Rusia-Ukraina, dunia dikejutkan betapa rentannya ekonomi global saat terjadi krisis karena geopolitik. Dunia tidak menyangka bahwa komoditas gas dan gandum bisa mendadak langka. Akibatnya, harga energi dan pangan melonjak sangat tinggi dan di beberapa negara miskin menjadi ‘tak terbeli’. Inflasi global akhirnya meroket tajam.

Ironisnya, China saat ini sedang menghadapi deflasi yang sangat parah. Mengutip data dari Bank Sentral China, indeks harga barang keseluruhan (overall) pada Januari 2023 angkanya 100,4, tetapi pada November 2023 turun menjadi 97,9. Untuk produk pertanian, indeks turun dari 107,4 menjadi 93,8 yang berarti terjadi penurunan harga produk pertanian mencapai 14 poin. China yang dikenal sebagai pengguna energi terbesar di dunia, mengalami penurunan indeks harga energi yang cukup besar yaitu sebesar 9%. Ini berarti deflasi parah. Boleh dikatakan China mengalami tahun yang buruk pada 2023 dan prospek ekonominya pada 2024 juga tidak lebih baik. Ekspor 2023 secara keseluruhan turun untuk pertama kalinya sejak 2016 karena permintaan global untuk barang-barang buatan Cina menurun, kecuali ekspor mobil. Tahun 2023, surplus perdagangan China mencapai US$823 miliar atau terjadi penurunan dibandingkan 2022 karena penurunan harga sampai 20%.  Sinyal memburuknya ekonomi China juga dapat dilihat dari data pasar modal. Jika pada April 2023 indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Shanghai angkanya 3.385, pada awal Januari tinggal 2.886. Kalau dihitung secara tahunan, sudah terjadi penurunan nilai hampir 11%.

Dalam perdagangan awal 2024 saja, indeks sudah merosot 1,61%. Jika dihitung sejak 2021, nilai kapitalisasi pasar modal China sudah turun 40%. Kondisi lebih buruk di­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­alami sektor properti. Banyak developer yang gulung tikar karena penjualan properti merosot cukup drastis. Pengembang besar seperti Evergrande, Country Garden, dan Zhongzhi Enterprice Group menjadi korban krisis sektor properti dan mengalami kebangkrutan. Ini memicu krisis pada perekonomian China. Mencermati kondisi yang terjadi di China wajar jika para pengusaha khawatir. Seperti diketahui, deflasi menyebabkan perusahaan-perusahaan, khususnya perusahaan besar dengan stok barang yang banyak akan mengalami kerugian. Dampak penurunan ekonomi China ke Indonesia mulai tampak. Laporan BPS menyatakan, dalam sebulan, pangsa ekspor ke China turun 6% dari 36,55% pada Oktober 2023 menjadi 26,11% pada November 2023. Untuk impor, China juga partner dagang penting. Selain sebagai tujuan ekspor utama, China juga merupakan negara suplai barang impor penting Indonesia, khususnya untuk bahan baku dan bahan penolong untuk industri. Artinya, ketergantungan kita terhadap barang impor dari China juga berpotensi menimbulkan pro­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­blem pada industri manufaktur di Indonesia kalau sampai terjadi ‘shut down’ di China. Selain partner dagang penting, China adalah sumber penting investasi, khususnya untuk sektor pertambangan dan industri yang terkait dengan program penghiliran produk tambang. Berdasar Kata Data, total investasi China di Indonesia pada 2020 mencapai US$4,84 miliar, mencapai US$3,16 miliar pada 2021, dan pada 2022 meningkat drastis menjadi US$5,19 miliar.

China Waspada meski Pertumbuhan Melebihi Target

KT3 18 Jan 2024 Kompas

Perekonomian China tumbuh sedikit di atas harapan. Meski demikian, Bejing tetap waspada karena masalah properti dan perlambatan ekspor tetap melanda. Dalam pernyataan pada Rabu (17/1) Biro Statistik Nasional (NBS) China mengungkapkan, PDB 2023 tumbuh 5,2 %. Capaian itu selaras dengan taksiran Bank Dunia dan sejumlah lembaga investasi. Sementara Pemerintah China dan IMF menaksir PDB China 2023 hanya tumbuh 5 %. Kini, perekonomian China bernilai 17,6 triliun USD, dan mempertahankan status sebagai perekonomian terbesar kedua setelah AS. PDB AS hampir 26 triliun USD.

Pertumbuhan PDB China lebih baik dibandingkan dengan global dan berbagai negara Eropa Barat serta Amerika Utara. Analis makroekonomi China Tian Yun menyebut, perekonomian China terbantu industri otomotif, manufaktur dirgantara, dan kapal. Secara umum, pertumbuhan sektor industri China di atas 4 %. Tahun lalu, China menjadi eksportir mobil terbesar di dunia. Bahkan, pada triwulan IV 2023, BYD dari China menjual lebih banyak mobil listrik dibandingkan Tesla. China juga sukses mengatasi persoalan industri teknologi tinggi. ”Stimulus bekerja dan tepat sasaran bisa memperkuat,” ujar Tian kepada media China, Global Times.

Meski melebihi harapan, pertumbuhan PDB China tetap memicu kewaspadaan. Sejak 2011, PDB China tak pernah tumbuh lebih dari 10 %. Tian juga memperingatkan persoalan yang belum selesai. Sektor properti terus menjadi beban perekonomian China. Banyak warga China berinvestasi pada property, tapi belakangan, harga properti China anjlok dan sejumlah pengembang bangkrut. Persoalan lain adalah perlambatan ekspor. Bea dan Cukai China mencatat, ekspor 2023 hanya tumbuh 0,2 %. Merujuk data Bank Dunia, 40 % PDB China didapatkan dari ekspor-impor. Kondisi ini dikhawatirkan belum membaik di 2024. Sebab, berbagai mitra terus membatasi perdagangan dengan China. (Yoga)

Menjaga Kinerja Pedagangan dari Dampak Ketidakpastian Global

KT1 17 Jan 2024 Investor Daily (H)

Aktivitas ekonomi global  masih menghadapi risiko dan ketidakpastian, sehingga akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas perdagangan  Indonesia pada tahun ini. Berkaitan itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI)  memperkuat sinergi kebijakan guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pemulihan ekonomi nasional. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febri Nathan Kacaribu menjelaskan, prognosa tersebut tercermin pada proyeksi  perlambatan pertumbuhan ekonomi global oleh berbagai lembaga  internasional yang juga diikuti oleh  moderasi harga komoditas. " Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global  terhadap eskpor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan  hilirisasi SDA ( sumber daya alam) peningkatan daya saing produk ekspor nasional,  serta diverifikasi negara  mitra dagang utama," jelas Febrio. Aktivitas perdagangan Indonesia pada tahun lalu terjaga, neraca perdagangan  Indonesia secara total kembali mencatat surplus sebesar  US$ 36,93. (Yetede) 

Yang Kaya Kian Kaya, yang Miskin Kian Merana

KT3 16 Jan 2024 Kompas

Sejak tahun 2020, kesenjangan ekonomi di dunia semakin lebar. Lima orang terkaya di dunia, yakni CEO Tesla Elon Musk, Bernard Arnault dari perusahaan mewah LVMH, pendiri Amazon Jeff Bezos, pendiri Oracle Larry Ellison, dan pakar investasi Warren Buffett, menjadi lebih kaya dua kali lipat atau 114 % sejak 2020, berkat lonjakan harga saham. Kekayaan mereka meningkat dari 405 miliar USD, sekitar Rp 6,3 ribu triliun atau kuadriliun pada 2020, menjadi 869 miliar USD atau Rp 13,5 kuadriliun pada 2022. Tapi, sejak 2020 pula, lima miliar orang miskin di seluruh dunia menjadi semakin miskin. Dengan serentetan krisis yang terjadi, perekonomian dunia runtuh akibat pandemi Covid-19. Laporan tahunan mengenai kondisi kesenjangan di seluruh dunia dari lembaga amal Oxfam ini dipublikasikan sebelum Forum Ekonomi Dunia dimulai di Davos, Swiss, Senin (15/1). Untuk menghitung kekayaan lima miliarder terkaya, Oxfam menggunakan angka dari Forbes per November 2023. Oxfam merupakan konfederasi internasional yang terdiri atas 20 organisasi yang bekerja sama dengan 90 negara untuk membangun masa depan yang bebas ketidakadilan akibat kemiskinan.

”Dunia sedang memasuki dekade perpecahan. Dalam waktu dekat, kita perkirakan dalam satu dekade ke depan kita akan memiliki triliuner. Setidaknya akan ada satu orang yang memiliki kekayaan sampai seribu miliar USD. Jika tren ini terus meningkat, upaya memerangi kemiskinan di seluruh dunia baru bisa tuntas 229 tahun lagi,” kata direktur eksekutif sementara Oxfam, Amitabh Behar, di Swiss. Di sisi lain, ratusan juta orang di seluruh dunia kini harus bekerja lebih keras, dengan jam kerja yang lebih lama dan upah yang rendah. Di 52 negara yang dianalisis, upah riil rata-rata dari hampir 800 juta pekerja turun. Mereka kehilangan 1,5 triliun USD atau Rp 23 kuadriliun selama dua tahun terakhir, atau setara dengan hilangnya gaji selama 25 hari untuk setiap pekerja. Orang yang miskin akan bertambah lebih banyak lagi jika perang Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas terus terjadi. Akibat konflik, harga energi dan pangan melonjak dan ini sangat berdampak pada negara-negara termiskin. Ironisnya, keuntungan bisnis justru meningkat tajam.  (Yoga)

Ekspor RI Tertekan Perlambatan Global

KT3 16 Jan 2024 Kompas

Kinerja ekspor Indonesia pada 2023 menurun dibandingkan tahun 2022. Harga komoditas unggulan yang turun, ditambah perlambatan ekonomi global, memicu turunnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Mengutip data BPSk, total nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2023 mencapai 258,82 miliar USD, turun 11,33 % dibandingkan tahun 2022 senilai 275,96 miliar USD. Kontributor ekspor masih didominasi oleh ekspor nonmigas sebesar 242,89 miliar USD atau 93,85 % dari total ekspor, sisanya berasal dari ekspor migas yang nilainya 15,92 miliar USD. Dalam paparan kinerja ekspor-impor 2023, di Jakarta, Senin (15/1) Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, sepanjang 2023, ada sejumlah fenomena yang memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Harga komoditas unggulan penyumbang ekspor mengalami penurunan.

Harga minyak sawit yang pada Desember 2022 berada pada level 940,4 USD per metrik ton, akhir Desember 2023 turun jadi 813,5 USD per metrik ton. Dampaknya, kinerja ekspor lemak dan minyak hewani/nabati pada 2023 merosot 23,42 % dibandingkan 2022. Nilai ekspor komoditas ini pada 2023 sebesar 28,45 miliar USD, turun dibandingkan nilai ekspor pada 2022 di 35,15 miliar USD. Padahal, komoditas ini berkontribusi 11,71 % pada ekspor nonmigas atau 10,99 % dari total ekspor. Harga batubara pada Desember 2023 senilai 141,8 USD per metrik ton, merosot dari 379,2 USD per metrik ton pada Desember 2022, membuat kinerja ekspor batubara menurun 19,09 % secara tahunan. Padahal, kontribusinya 13,38 % total ekspor Indonesia.

Perlambatan ekonomi negara tujuan juga menurunkan permintaan ekspor. Perekonomian China, misalnya, yang pada triwulan tiga 2023 tumbuh 4,9 % turun dibandingkan triwulan dua, sebesar 6,3 %. Padahal, China adalah mitra dagang utama RI dengan kontribusi ekspor 25,66 %, senilai 62 miliar USD. Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, mengatakan, kendati mencatat penurunan ekspor, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan, 44 bulan terakhir. Namun surplus turun dari 3,92 miliar USD pada 2022 menjadi 3,31 miliar USD pada 2023. (Yoga)