;
Tags

Ekonomi Internasional

( 642 )

Roda Ekonomi Si Lajang

KT3 16 Mar 2024 Kompas

Banyaknya warga Di China pada medio 2017 yang memutuskan hidup sendiri dituding menghambat pertumbuhan ekonomi. Mereka bahkan dianggap lebih malas bekerja karena tidak punya motivasi untuk menghidupi keluarga dan membesarkan anak. Rama (32), pekerja swasta asal Jakarta, pernah memasang target ingin menikah di usia 27 tahun. Namun, setelah ayahnya meninggal pada tahun 2014, rencana hidup Rama berubah. Kini, Rama masih hidup lajang dan santai. ”Sepertinya gue single itu lebih karena faktor mental. Gue merasa bokap pergi terlalu cepat dan gue harus menggantikan posisinya di rumah. Sekarang jadi lebih pengin habisin waktu sama nyokap dulu mumpung masih bisa bareng,” ujarnya, Kamis (14/3). Sebagai pria lajang, Rama merasa pengeluarannya terhitung tinggi.

Dalam sebulan, ia menghabiskan Rp 8 juta-Rp 10 juta hanya untuk diri sendiri, seperti memenuhi hobi, bergaul, serta merawat dan membahagiakan diri sendiri (self-care). Ia juga mengeluarkan uang untuk keperluan rutin, seperti membayar tagihan listrik, air, dan internet. Meski tidak menikah, ia juga punya tanggungan tidak langsung karena mesti membantu menghidupi saudaranya. Gabriella Tessa (34) yang masih lajang karena pertimbangan mental dan finansial merasa pengeluarannya terhitung banyak. Tidak hanya menghidupi diri sendiri, ia juga membiayai perawatan ayahnya yang sakit dan membayar berbagai kebutuhan rutin keluarganya. ”Kayaknya kalau jomblo itu konsumsinya sedikit, tidak juga, ya. Generasi sekarang bukannya banyak yang hedon? Justru karena single, semakin banyak duit dihabiskan untuk kesenangan pribadi. Jadi, konsumsinya enggak kalah banyak sama yang berkeluarga,” ujarnya.

Seseorang yang lajang, bisa terimpit keharusan menjadi tulang punggung keluarga, alias generasi sandwich, yang kini tidak memandang status marital. Meski tanpa tanggungan resmi, belanjanya dapat menyerupai mereka yang sudah berkeluarga karena mesti menghidupi anggota keluarga yang lain. Di sisi lain, kesadaran untuk lebih merawat diri, menyenangkan diri, dan menikmati hidup yang hanya sekali juga mendorong budaya konsumtif yang masif di kalangan penduduk lajang. Apalagi, jika mereka memang sanggup secara finansial. Tren melajang justru kini membuka peluang ekonomi baru yang menyasar konsumen single. Mengutip kajian McKinsey Global Institute pada 2021, ada tren kebangkitan ekonomi lajang (solo economy) secara global dengan ceruk pasar menggiurkan, terutama di sektor hiburan, perawatan diri, horeka (hotel, restoran, dan kafe), serta turisme.

Di Jepang, misalnya, tempat karaoke untuk satu orang dan restoran barbeku dengan satu kursi dan satu alat pemanggang muncul di mana-mana. Di China, penjualan produk rumah tangga berukuran kecil dan ringkas serta robot pembersih bagi rumah tangga lajang naik berkali-kali lipat. Kaum single yang awalnya dicela karena dianggap minim kontribusi mulai bangkit menjadi kekuatan ekonomi baru yang menggerakkan konsumsi. Akan tetapi, untuk jangka panjang, hidup menjomblo bukannya tanpa konsekuensi. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, bangkitnya populasi lajang bisa menghambat pertumbuhan penduduk baru dan mengubah struktur demografi. Dampaknya, potensi produktivitas dan suplai tenaga kerja di masa depan bisa semakin rendah. (Yoga)

China Pasang Target Ambisius 5 Persen

KT3 06 Mar 2024 Kompas

China menetapkan target pertumbuhan 5 % untuk 2024. Di tengah kondisi ekonomi China yang lesu, target ini terbilang ambisius. Presiden China Xi Jinping dan pemerintahannya menyadari hal ini. Kini, tantangan China adalah menemukan jalan baru untuk memulihkan perekonomian. Salah satunya, membangun industri yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi ruang angkasa. China juga menawarkan pembukaan akses ke sektor manufaktur dan beberapa macam jasa untuk membendung mundurnya investor asing. Pesannya jelas, China ingin swasembada dan terbuka untuk bisnis selama hal itu sesuai dengan keinginan mereka.

Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan ekonomi itu dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan China yang dimulai Selasa (5/3) di Beijing. Ia juga memaparkan keseluruhan anggaran dan kebijakan utama pemerintah untuk 2024. ”Fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi China yang berkelanjutan tidak cukup kokoh. Upaya mencapai target tahun ini tidak akan mudah,” kata Li kepada ribuan delegasi dan anggota Partai Komunis China (PKC). Agenda itu dinilai penting bagi para pemimpin untuk mengomunikasikan kebijakan yang menjadi prioritas kepada rakyat. Li menjanjikan pemerintah akan mengubah model pembangunan China dan mengurangi risiko yang dipicu pengembang properti yang bangkrut dan kota-kota yang terlilit utang. Target pertumbuhan 5 % itu mempertimbangkan kebutuhan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan serta mencegah atau mengurangi risiko.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan China pada 2024 sebesar 4,6 % dan turun menuju 3,5 % pada 2028. Pertumbuhan yang tidak merata tahun lalu menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang mendalam di China. Ini terlihat dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi. Karena itulah, China perlu model pertumbuhan baru. China mengawali tahun ini dengan kemerosotan pasar saham dan deflasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global pada 2008-2009. Krisis properti dan permasalahan utang pemerintah daerah terus berlanjut. Jika pemerintah tidak ber- gerak cepat, para ahli khawatir keajaiban ekonomi China akan memudar dengan cepat. Pemerintah didesak melakukan reformasi propasar dan meningkatkan pendapatan penduduk. (Yoga)

Berharap Dampak Positif dari Resesi Jepang

HR1 21 Feb 2024 Kontan
Resesi ekonomi Inggris dan Jepang berisiko mengganggu perekonomian global dan akan merambat ke negara-negara berkembang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, beberapa lembaga internasional telah memprediksi bahwa perekonomian negara-negara maju akan cukup tertekan. Penyebabnya, kenaikan suku bunga yang tinggi dalam waktu yang sangat singkat di berbagai negara. Ditambah lagi, adanya resesi Inggris dan Jepang yang berpotensi semakin menekan perekonomian, termasuk terhadap negara-negara anggota G7. Meski resesi ekonomi Jepang akan berdampak terhadap perdagangan Indonesia lantaran merupakan salah satu mitra utama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap perekonomian Indonesia berpotensi mendapatkan keuntungan dari sisi investasi.

Alarm Tanda Bahaya dari Negara Adidaya

HR1 20 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Pekan lalu, Pemerintah Jepang mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2023 terkontraksi sebesar 0,4%. Dengan demikian, secara teknikal Negeri Sakura masuk ke dalam jurang resesi, sebab kuartal sebelumnya telah mengalami kontraksi. Pada kuartal III/2023, Jepang mencatatkan kinerja ekonomi mengalami kontraksi 3,3%. Akibat resesi, Negeri Matahari Terbit itu terlempar dari peringkat tiga besar ekonomi dunia. Posisi ketiga direbut oleh Jerman, padahal negeri Der Panzer sedang dirundung ke­naikan subsidi energi. Inggris pun mengikuti Jepang. Pemerintahan PM Inggris Rishi Sunak menyampaikan bahwa pada kuartal IV/2023, kinerja ekonomi mengalami kontraksi 0,3%. Britania Raya masuk ke dalam fase resesi teknis setelah pada kuartal sebelumnya mengalami kontraksi 0,1%. Kontraksi kuartal keempat ini lebih dalam daripada perkiraan semua ekonom. Mereka semula diramalkan ekonomi turun 0,1%. Sinyal perlambatan ekonomi kelompok negara-negara G7 ini tanda bahaya bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Apalagi, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2024 mulai terkontraksi sebesar 8,34% dibandingkan dengan posisi Desember 2023. Bahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tercatat -8,06%. Nilai ekspor RI pada Januari 2024 hanya sebesar US$20,52 miliar. Adapun, ekspor Indonesia ke Jepang pangsa pasarnya mencapai 7,63% dari total ekspor Januari 2024.

Sementara itu, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) Jepang ke Indonesia pada 2023 juga berada pada peringkat ke-4 dengan total sebesar US$4,63 miliar. Inggris masuk dalam daftar negara 10 besar tujuan ekspor Indonesia. Lima sektor utama realisasi investasi asal Inggris yaitu tanaman pangan, perkebunan dan peternakan (24%); pertambangan (20%); industri makanan (9%); industri kimia dan farmasi (8%); serta hotel dan restoran (7%). Dengan adanya resesi itu, otomatis akan berpengaruh terhadap pasar ekspor dan investasi ke Indonesia. Apalagi China sebagai mitra dagang utama RI, dengan porsi ekspor 23,9% dari total ekspor terkontraksi 12,92% secara tahunan, dan minus 20,73% secara bulanan. Pemerintah RI mencoba berkelit dari ancaman resesi beberapa negara raksasa dunia tersebut. Pemerintah bakal memacu ekspor pada 12 negara prioritas, seperti Arab Saudi, Belanda, Brazil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, UEA, dan Vietnam. Masalah klasik untuk memperluas akses pasar melalui perjanjian khusus pun tak kunjung tuntas. Seperti perjanjian Indonesia-EU CEPA untuk masuk blok perdagangan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Dunia Kembali di Ambang Resesi

HR1 17 Feb 2024 Kontan (H)
Tidak ada bulan madu bagi calon presiden dan wakil presiden pemenang Pemilu 2024. Memburuknya kondisi ekonomi sejumlah negara maju, bakal menmenjadi batu sandungan pemulihan ekonomi global. Bahkan kini dunia di ambang resesi lagi. Dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia bahkan kini sudah masuk jurang resesi. Salah satunya Jepang, dengan mencatatkan penurunan produk domestik bruto (PDB) periode Oktober -Desember 2023 sebesar 0,4% secara tahunan. Sementara pada kuartal sebelumnya, ekonomi Jepang turun 3,3%. Bank of Japan menyebutkan, perekonomian negara tersebut melemah akibat perlambatan belanja dunia usaha. Sementara sektor ritel bergulat dengan inflasi yang kini berada di level tertinggi dalam empat dekade terakhir. Jepang juga dihadapkan pada melemahnya yen dan kenaikan harga pangan. Hal ini membuat Jepang turun peringkat dan kini di posisi keempat sebagai ekonomi terbesar dunia setelah Jerman. Di Eropa, kondisi buruk juga dialami Inggris. Ekonomi  Inggris berkontraksi sebesar 0,3% dalam tiga bulan hingga Desember, setelah sebelumnya turun 0,1% pada periode Juli-September 2023. Data ini memperlihatkan, Inggris sebagai bagian dari negara maju kelompok tujuh (G7) mengalami resesi. Bagi Indonesia, efek pelemahan ekonomi Jepang misalnya, berdampak besar. Masalah ini juga  menjadi tantangan bagi pemerintahan baru. Ekonom sekaligus Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira berpendapat, komoditas ekspor Indonesia ke Jepang yang terdampak di antaranya, batubara dengan nilai ekspor US$ 8,8 miliar. Tidak hanya itu, masih ada ekspor komponen elektronik ke Jepangsebesar US$ 1,5 miliar. Termasuk eksor nikel senilai US$ 1,2 miliar. Kondisi ini makin parah karena penyebab utama pelemahan ekonomi ini  adalah China. Meski belum masuk jalur resesi, China diperkirakan akan mengikut Jepang. Berdasarkan konsesus analis di kuartal I-2024, China akan kontraksi ke 0,9% dari kuartal sebelumnya yang berada di posisi 1%. Cara lain, menurut Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P. Sasmita, Indonesia  bisa mencari pasar baru seperti di kawasan  Timur Tengah, India, Afrika, dan Amerika Latin.

Jerman Kini Jadi Negara Ekonomi Terkuat Ketiga

KT3 16 Feb 2024 Kompas

Sama-sama terpangkas pertumbuhannya, perekonomian Jepang lebih buruk daripada Jerman. Dampaknya, Jepang yang menyerap 10 % ekspor Indonesia itu kini disingkirkan Jerman dari tiga besar negara terkaya. Kabinet Jepang pada Kamis (15/2) mengungkap, total PDB Jepang 2023 bernilai 4,21 triliun USD. Adapun PDB Jerman tercatat 4,46 triliun USD. Karena itu, Jerman kini menjadi negara terkaya ketiga setelah AS dan China. PDB Jepang susut dua triwulan berturut-turut sepanjang 2023, turun 3,3 % pada triwulan III-2023 dan 0,4 % pada triwulan IV-2023. Secara teknis, Jepang bisa disebut dalam resesi. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), PDB Jerman terpangkas 0,9 % pada 2023.

Mengacu data IMF, PDB Jepang pada 2012 bernilai 6,2 triliun USD. Sementara pada 2023, hanya 4,2 triliun USD. Dengan kata lain, PDB Jepang hilang 2 triliun USD dalam satu dekade terakhir. Menurut kantor berita Kyodo, pelemahan nilai tukar yen terhadap dollar AS berkontribusi pada penurunan nilai PDB Jepang tahun 2023. Pada 2012, setiap USD setara 79,82 yen. Tahun lalu, kurs rata-rata USD terhadap yen mencapai 140,5. Dengan demikian, dalam satu dekade terakhir, kurs yen terhadap USD melemah 100 %.

Sejatinya, kondisi ekonomi Jerman juga tak berada dalam kondisi yang baik. Nilai PDB Jerman mengalami kontraksi 0,3 % pada tahun 2023 seiring tingginya angka inflasi sepanjang tahun lalu yang disebabkan harga energi yang tinggi dan lemahnya permintaan dari luar negeri. Tak hanya itu, krisis anggaran yang mendorong penghilangan subsidi besar-besaran untuk sejumlah sektor juga mendorong memburuknya situasi perekonomian Jerman. Situasi ini, menurut Presiden Institut Riset Ekonomi Ifo, Clemens Fuest, sudah bisa dimasukkan dalam kategori resesi ekonomi. Kepala Staf Pemerintah Jerman Wolfgang Schmidt, Selasa (13/2) mengatakan ”Jerman tidak sedang mengalami resesi. Pasar tenaga kerja sangat stabil, upah riil meningkat. Kita akan melihat pertumbuhan tahun ini,” katanya. Perekonomian diperkirakan mulai pulih tahun ini. Bank sentral Jerman, Bundesbank, baru-baru ini memperkirakan pertumbuhan 0,4 %. (Yoga) 

Isu Global Berimbas ke Bahan Baku

HR1 14 Feb 2024 Kontan
Laju saham di sektor barang baku (basic materials) masih tertinggal. Indeks barang baku, Selasa (13/2), minus 2,01%. Ini menjadikan indeks sektoral dengan penurunan paling dalam. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Ade Muchlis Ilyasa memandang laju saham di sektor barang baku masih kena adang sejumlah kendala, terutama eksternal. Ade menyoroti ketidakstabilan geopolitik akibat konflik di Ukraina ditambah Timur Tengah. Prospek terhadap kinerja bisnis emiten dan sentimen pada pergerakan sahamnya juga akan terpengaruh oleh kondisi ekonomi global. Dus, aktivitas ekonomi di negara maju yang memerlukan pasokan barang baku turut menjadi penentu. Dalam hal ini, Ade melihat perlambatan ekonomi China menjadi salah satu pemberat bagi sektor barang baku. Apalagi China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menimpali, kinerja emiten dan pergerakan saham di sektor barang baku akan dipengaruhi oleh perkembangan industri utama. Dia mencontohkan ketika industri properti melonjak, akan mengangkat kinerja sektor barang baku seperti baja,  semen dan kayu. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyoroti program hilirisasi tambang yang juga menjadi katalis krusial bagi sektor barang baku. Terutama untuk nikel, dimana pemerintah telah menggenjot hilirisasi pada komoditas ini. Menurut Nico, masih perlu kebijakan lebih lanjut untuk mendorong akselerasi program hilirisasi. Termasuk pada komoditas lainnya, seperti peningkatan nilai tambah batubara. "Masih ada sektor lain yang akan lebih ciamik. Untuk memilih, perhatikan durasi investasi serta profil risiko yang dimiliki," saran Nico. Reza juga menyarankan untuk tetap fokus mencermati kondisi fundamental dan likuiditas sejumlah  saham di sektor barang baku. Sementara ini Reza melihat saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) layak mendapat perhatian.

Langkah Antisipasi Risiko Ekonomi Global 2024

HR1 05 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Baru saja kita memasuki 2024 dengan penuh optimisme karena prospek ekonomi nasional makin membaik dibandingkan sebelumnya. Hal ini terlihat dari beberapa indikator makroekonomi antara lain pertumbuhan ekonomi dengan trend meningkat, inflasi yang stabil serta terjaganya stabilitas eksternal. Namun, pada 2024 situasi ekonomi global tampaknya masih belum sepenuhnya pulih. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan menyusut menjadi 2,9% (year-on-year/YoY) pada 2024, lebih rendah dari proyeksi 2023 yang tumbuh sebesar 3,00% (YoY). Fenomena risiko penurunan ekonomi global beserta dampaknya telah dipotret oleh World Economic Forum (WEF) melalui “The Global Risks Report 2024”. Dalam laporannya, disebutkan bahwa economic downturn masuk sepuluh besar risiko global yang akan berdampak pada peningkatan ketidakpastian dalam dua tahun ke depan. Salah satu pemicu yang menurunkan kinerja ekonomi global saat ini yaitu gejolak perekonomian di dua raksasa ekonomi dunia yang sedang mengalami masa transisi pascapandemi yaitu Amerika Serikat (AS) dan China.

 Di sektor keuangan, terjadinya gagal bayar utang pemerintah akan mendorong peningkatan imbal hasil US treasury untuk menjaga pasar keuangan tetap menarik. Kenaikan yield tersebut dapat memicu terjadinya capital outflow portfolio modal asing yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Bloomberg mencatat, imbal hasil US treasury saat ini untuk tenor 10 tahun berada di kisaran 4,1% atau masih lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya di kisaran 3,5%, meskipun mulai turun secara bertahap. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih adanya risiko tekanan nilai tukar yang dipicu oleh naiknya yield US treasury meskipun sudah mulai melandai.Pada periode yang sama, di China sedang mengalami penurunan konsumsi rumah tangga dan kinerja investasi sebagai dampak lanjutan dari krisis properti yang terjadi sejak 3 tahun terakhir. Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi China membawa konsekuensi terhadap turunnya permintaan komoditas dan bahan baku impor di Negara Panda. Selanjutnya, kondisi ini akan berdampak pada penyusutan permintaan ekspor bahan baku termasuk dari Indonesia. Data BPS menunjukkan nilai ekspor nonmigas nasional pada Desember 2023 sebesar US$242,90 miliar, mengalami penurunan 11,96% (YoY) dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencapai US$275,91 miliar.Perlu dicermati, porsi ekspor komoditas nonmigas nasional sebesar 25,66% bertujuan ke China pada 2023. 

 Di sisi regulasi, pemerintah telah mengatur penempatan devisa hasil ekspor dari pengelolaan dan/atau pengolahan sumber daya alam (DHE SDA) untuk meningkatkan likuiditas valas dalam negeri melalui PP No. 36 tahun 2023. Bank Indonesia juga menerbitkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUKBI). Kedua jenis sekuritas tersebut merupakan instrumen operasi pasar valas yang pro-market untuk mendukung pendalaman pasar keuangan sekaligus menarik capital inflows dan mendukung stabilitas nilai tukar.

Mitigasi Risiko Ketidakpastian Global

KT3 01 Feb 2024 Kompas

Belum reda tekanan akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, saat ini perekonomian global kembali dihadapkan pada ketidakpastian baru yang disebabkan perang Israel-Palestina. Krisis Timur Tengah yang menyeret AS dan sekutunya ini langsung membuat harga minyak dunia bergejolak. Keterlibatan AS dan sekutunya dalam pusaran konflik dengan menyerang Yaman langsung menaikkan harga minyak dunia jenis Brent sebesar 4 % menjadi 80 USD / barel dan jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,79 % menjadi 74,03 USD / barel. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga gas alam, sekitar 25 % pada 12 Januari 2024. Sebelumnya, ekonom Bank Investasi AMP di Australia, Shane Oliver, mengingatkan, serangan AS dan sekutunya terhadap Yaman meningkatkan peluang Iran terlibat langsung dalam konflik di kawasan (Kompas, 13/1/2024).

Akibatnya, pasokan minyak global akan terancam sehingga menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan dan inflasi global. Berakhirnya era suku bunga tinggi yang ditunggu-tunggu oleh pelaku usaha dan konsumen kembali buyar. Proyeksi bahwa inflasi AS akan turun signifikan sehingga memberi ruang bagi The Fed dan bank sentral secara global melonggarkan suku bunga acuan pada semester pertama 2024 mengalami ketidakpastian. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memperkirakan harga minyak dunia akan meningkat pada 2024 akibat perang Timteng yang dimulai dari konflik Hamas-Israel. Kenaikan harga minyak dunia akan mendongkrak inflasi dan menggerus pertumbuhan ekonomi global. Hasil simulasi Fitch Rating (2023) menunjukkan kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 % akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global 0,4 % menjadi 2,7 % pada 2024, dan 0,1 % tahun 2025 ke level 3,0 %.

Proyeksi ini didasarkan pada asumsi rata-rata harga minyak dunia 75 USD / barel tahun 2023 serta 70 USD / barel tahun 2024 dan 2025. Terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang di Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik  signifikan, menjadi 120 USD / barel pada 2024 dan 100 USD / barel pada 2025 (Fitch Rating, 2023). Kenaikan harga minyak dunia akibat perang Timteng membuat arah pergerakan suku bunga global menjadi tidak menentu. The Fed dan bank sentral negara-negara EMEs berpotensi menunda menurunkan suku bunga acuan hingga semester kedua 2024. Respons kebijakan dari otoritas moneter EMEs, khususnya BI, adalah tetap konsisten pada kerangka kebijakan inflation targeting (IT) dengan target inflasi 2,5 % plus-minus 1 %. Dengan demikian, BI dituntut berhati-hati melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga acuan. (Yoga)

MANUVER INVESTASI INVESTOR INSTITUSI

HR1 26 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian tinggi pada tahun ini membuat investor institusi harus mengatur strategi lebih jitu, guna mencari instrumen yang aman, tetapi tetap memberikan imbal hasil yang menarik. Belakangan, ekspektasi pemburukan ekonomi global mendorong penurunan suku bunga acuan. Selain ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, bank sentral China rupanya juga mengirim sinyal yang sama. People's Bank of China (PBoC) siap menurunkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase pada awal Februari 2024. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan sepanjang 2023, investor asing dan investor institusi lokal mengakumulasi infl ow, kecuali industri bank yang menarik dananya sebesar Rp202,24 triliun. Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon mengatakan bahwa investasi asuransi jiwa pada tahun ini menitikberatkan pada SBN. Kebijakan investasi ini mempertimbangkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua. Budi mengatakan, dari sisi imbal hasil, SBN pun berada pada posisi yang menarik sehingga menjadi salah satu instrumen investasi andalan. Dihubungi terpisah, Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi mengatakan dana pensiun masih memiliki minat terhadap SBN terlepas dari kewajiban alokasi aset pada surat utang negara itu. SBN menjadi pilihan karena stabilitas imbal hasil dan risiko rendah gagal bayar. Sementara itu, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan SBN tenor pendek menjadi pengaman dari risiko seiring dengan masih tingginya ketidakpastian. Sementara itu, SBN tenor panjang memberikan peluang yield tinggi di tengah proyeksi perlambatan ekonomi. Adapun, Director & Chief Investment Offi cer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula memprediksi tahun 2024 menjadi periode konstruktif bagi pasar obligasi Indonesia. Faktor-faktor makroekonomi yang mendukung termasuk inflasi yang terjaga dan potensi pemangkasan suku bunga. Tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun sebesar 6,7% dianggap sebagai titik masuk menarik bagi investor.