Ekonomi Internasional
( 642 )Roda Ekonomi Si Lajang
Banyaknya warga Di China pada medio 2017 yang memutuskan
hidup sendiri dituding menghambat pertumbuhan ekonomi. Mereka bahkan dianggap
lebih malas bekerja karena tidak punya motivasi untuk menghidupi keluarga dan
membesarkan anak. Rama (32), pekerja swasta asal Jakarta, pernah memasang
target ingin menikah di usia 27 tahun. Namun, setelah ayahnya meninggal pada
tahun 2014, rencana hidup Rama berubah. Kini, Rama masih hidup lajang dan
santai. ”Sepertinya gue single itu lebih karena faktor mental. Gue merasa bokap
pergi terlalu cepat dan gue harus menggantikan posisinya di rumah. Sekarang jadi
lebih pengin habisin waktu sama nyokap dulu mumpung masih bisa bareng,”
ujarnya, Kamis (14/3). Sebagai pria lajang, Rama merasa pengeluarannya terhitung
tinggi.
Dalam sebulan, ia menghabiskan Rp 8 juta-Rp 10 juta hanya
untuk diri sendiri, seperti memenuhi hobi, bergaul, serta merawat dan
membahagiakan diri sendiri (self-care). Ia juga mengeluarkan uang untuk
keperluan rutin, seperti membayar tagihan listrik, air, dan internet. Meski tidak
menikah, ia juga punya tanggungan tidak langsung karena mesti membantu menghidupi
saudaranya. Gabriella Tessa (34) yang masih lajang karena pertimbangan mental
dan finansial merasa pengeluarannya terhitung banyak. Tidak hanya menghidupi
diri sendiri, ia juga membiayai perawatan ayahnya yang sakit dan membayar
berbagai kebutuhan rutin keluarganya. ”Kayaknya kalau jomblo itu konsumsinya
sedikit, tidak juga, ya. Generasi sekarang bukannya banyak yang hedon? Justru
karena single, semakin banyak duit dihabiskan untuk kesenangan pribadi. Jadi,
konsumsinya enggak kalah banyak sama yang berkeluarga,” ujarnya.
Seseorang yang lajang, bisa terimpit keharusan menjadi tulang
punggung keluarga, alias generasi sandwich, yang kini tidak memandang status
marital. Meski tanpa tanggungan resmi, belanjanya dapat menyerupai mereka yang
sudah berkeluarga karena mesti menghidupi anggota keluarga yang lain. Di sisi
lain, kesadaran untuk lebih merawat diri, menyenangkan diri, dan menikmati hidup
yang hanya sekali juga mendorong budaya konsumtif yang masif di kalangan
penduduk lajang. Apalagi, jika mereka memang sanggup secara finansial. Tren
melajang justru kini membuka peluang ekonomi baru yang menyasar konsumen
single. Mengutip kajian McKinsey Global Institute pada 2021, ada tren
kebangkitan ekonomi lajang (solo economy) secara global dengan ceruk pasar
menggiurkan, terutama di sektor hiburan, perawatan diri, horeka (hotel,
restoran, dan kafe), serta turisme.
Di Jepang, misalnya, tempat karaoke untuk satu orang dan restoran
barbeku dengan satu kursi dan satu alat pemanggang muncul di mana-mana. Di
China, penjualan produk rumah tangga berukuran kecil dan ringkas serta robot
pembersih bagi rumah tangga lajang naik berkali-kali lipat. Kaum single yang
awalnya dicela karena dianggap minim kontribusi mulai bangkit menjadi kekuatan
ekonomi baru yang menggerakkan konsumsi. Akan tetapi, untuk jangka panjang,
hidup menjomblo bukannya tanpa konsekuensi. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi
dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, bangkitnya
populasi lajang bisa menghambat pertumbuhan penduduk baru dan mengubah struktur
demografi. Dampaknya, potensi produktivitas dan suplai tenaga kerja di masa
depan bisa semakin rendah. (Yoga)
China Pasang Target Ambisius 5 Persen
China menetapkan target pertumbuhan 5 % untuk 2024. Di tengah
kondisi ekonomi China yang lesu, target ini terbilang ambisius. Presiden China
Xi Jinping dan pemerintahannya menyadari hal ini. Kini, tantangan China adalah menemukan
jalan baru untuk memulihkan perekonomian. Salah satunya, membangun industri
yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi
ruang angkasa. China juga menawarkan pembukaan akses ke sektor manufaktur dan
beberapa macam jasa untuk membendung mundurnya investor asing. Pesannya jelas,
China ingin swasembada dan terbuka untuk bisnis selama hal itu sesuai dengan keinginan
mereka.
Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan
ekonomi itu dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan China yang dimulai
Selasa (5/3) di Beijing. Ia juga memaparkan keseluruhan anggaran dan kebijakan
utama pemerintah untuk 2024. ”Fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi
China yang berkelanjutan tidak cukup kokoh. Upaya mencapai target tahun ini
tidak akan mudah,” kata Li kepada ribuan delegasi dan anggota Partai Komunis China
(PKC). Agenda itu dinilai penting bagi para pemimpin untuk mengomunikasikan
kebijakan yang menjadi prioritas kepada rakyat. Li menjanjikan pemerintah akan
mengubah model pembangunan China dan mengurangi risiko yang dipicu pengembang properti
yang bangkrut dan kota-kota yang terlilit utang. Target pertumbuhan 5 % itu mempertimbangkan
kebutuhan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan serta mencegah
atau mengurangi risiko.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan
China pada 2024 sebesar 4,6 % dan turun menuju 3,5 % pada 2028. Pertumbuhan
yang tidak merata tahun lalu menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang
mendalam di China. Ini terlihat dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga
semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi. Karena itulah, China perlu
model pertumbuhan baru. China mengawali tahun ini dengan kemerosotan pasar saham
dan deflasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global
pada 2008-2009. Krisis properti dan permasalahan utang pemerintah daerah terus
berlanjut. Jika pemerintah tidak ber- gerak cepat, para ahli khawatir keajaiban
ekonomi China akan memudar dengan cepat. Pemerintah didesak melakukan reformasi
propasar dan meningkatkan pendapatan penduduk. (Yoga)
Berharap Dampak Positif dari Resesi Jepang
Alarm Tanda Bahaya dari Negara Adidaya
Pekan lalu, Pemerintah Jepang mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2023 terkontraksi sebesar 0,4%. Dengan demikian, secara teknikal Negeri Sakura masuk ke dalam jurang resesi, sebab kuartal sebelumnya telah mengalami kontraksi. Pada kuartal III/2023, Jepang mencatatkan kinerja ekonomi mengalami kontraksi 3,3%. Akibat resesi, Negeri Matahari Terbit itu terlempar dari peringkat tiga besar ekonomi dunia. Posisi ketiga direbut oleh Jerman, padahal negeri Der Panzer sedang dirundung kenaikan subsidi energi. Inggris pun mengikuti Jepang. Pemerintahan PM Inggris Rishi Sunak menyampaikan bahwa pada kuartal IV/2023, kinerja ekonomi mengalami kontraksi 0,3%. Britania Raya masuk ke dalam fase resesi teknis setelah pada kuartal sebelumnya mengalami kontraksi 0,1%. Kontraksi kuartal keempat ini lebih dalam daripada perkiraan semua ekonom. Mereka semula diramalkan ekonomi turun 0,1%. Sinyal perlambatan ekonomi kelompok negara-negara G7 ini tanda bahaya bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Apalagi, pertumbuhan ekspor Indonesia pada Januari 2024 mulai terkontraksi sebesar 8,34% dibandingkan dengan posisi Desember 2023. Bahkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tercatat -8,06%. Nilai ekspor RI pada Januari 2024 hanya sebesar US$20,52 miliar. Adapun, ekspor Indonesia ke Jepang pangsa pasarnya mencapai 7,63% dari total ekspor Januari 2024.
Sementara itu, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) Jepang ke Indonesia pada 2023 juga berada pada peringkat ke-4 dengan total sebesar US$4,63 miliar. Inggris masuk dalam daftar negara 10 besar tujuan ekspor Indonesia. Lima sektor utama realisasi investasi asal Inggris yaitu tanaman pangan, perkebunan dan peternakan (24%); pertambangan (20%); industri makanan (9%); industri kimia dan farmasi (8%); serta hotel dan restoran (7%). Dengan adanya resesi itu, otomatis akan berpengaruh terhadap pasar ekspor dan investasi ke Indonesia. Apalagi China sebagai mitra dagang utama RI, dengan porsi ekspor 23,9% dari total ekspor terkontraksi 12,92% secara tahunan, dan minus 20,73% secara bulanan. Pemerintah RI mencoba berkelit dari ancaman resesi beberapa negara raksasa dunia tersebut. Pemerintah bakal memacu ekspor pada 12 negara prioritas, seperti Arab Saudi, Belanda, Brazil, Chile, China, Filipina, India, Kenya, Korea Selatan, Meksiko, UEA, dan Vietnam. Masalah klasik untuk memperluas akses pasar melalui perjanjian khusus pun tak kunjung tuntas. Seperti perjanjian Indonesia-EU CEPA untuk masuk blok perdagangan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Dunia Kembali di Ambang Resesi
Jerman Kini Jadi Negara Ekonomi Terkuat Ketiga
Sama-sama terpangkas pertumbuhannya, perekonomian Jepang
lebih buruk daripada Jerman. Dampaknya, Jepang yang menyerap 10 % ekspor
Indonesia itu kini disingkirkan Jerman dari tiga besar negara terkaya. Kabinet
Jepang pada Kamis (15/2) mengungkap, total PDB Jepang 2023 bernilai 4,21
triliun USD. Adapun PDB Jerman tercatat 4,46 triliun USD. Karena itu, Jerman
kini menjadi negara terkaya ketiga setelah AS dan China. PDB Jepang susut dua
triwulan berturut-turut sepanjang 2023, turun 3,3 % pada triwulan III-2023 dan
0,4 % pada triwulan IV-2023. Secara teknis, Jepang bisa disebut dalam resesi. Menurut
Dana Moneter Internasional (IMF), PDB Jerman terpangkas 0,9 % pada 2023.
Mengacu data IMF, PDB Jepang pada 2012 bernilai 6,2 triliun USD.
Sementara pada 2023, hanya 4,2 triliun USD. Dengan kata lain, PDB Jepang hilang
2 triliun USD dalam satu dekade terakhir. Menurut kantor berita Kyodo,
pelemahan nilai tukar yen terhadap dollar AS berkontribusi pada penurunan nilai
PDB Jepang tahun 2023. Pada 2012, setiap USD setara 79,82 yen. Tahun lalu, kurs
rata-rata USD terhadap yen mencapai 140,5. Dengan demikian, dalam satu dekade
terakhir, kurs yen terhadap USD melemah 100 %.
Sejatinya, kondisi ekonomi Jerman juga tak berada dalam
kondisi yang baik. Nilai PDB Jerman mengalami kontraksi 0,3 % pada tahun 2023
seiring tingginya angka inflasi sepanjang tahun lalu yang disebabkan harga energi
yang tinggi dan lemahnya permintaan dari luar negeri. Tak hanya itu, krisis
anggaran yang mendorong penghilangan subsidi besar-besaran untuk sejumlah
sektor juga mendorong memburuknya situasi perekonomian Jerman. Situasi ini, menurut
Presiden Institut Riset Ekonomi Ifo, Clemens Fuest, sudah bisa dimasukkan dalam
kategori resesi ekonomi. Kepala Staf Pemerintah Jerman Wolfgang Schmidt, Selasa
(13/2) mengatakan ”Jerman tidak sedang mengalami resesi. Pasar tenaga kerja
sangat stabil, upah riil meningkat. Kita akan melihat pertumbuhan tahun ini,”
katanya. Perekonomian diperkirakan mulai pulih tahun ini. Bank sentral Jerman,
Bundesbank, baru-baru ini memperkirakan pertumbuhan 0,4 %. (Yoga)
Isu Global Berimbas ke Bahan Baku
Langkah Antisipasi Risiko Ekonomi Global 2024
Baru saja kita memasuki 2024 dengan penuh optimisme karena prospek ekonomi nasional makin membaik dibandingkan sebelumnya. Hal ini terlihat dari beberapa indikator makroekonomi antara lain pertumbuhan ekonomi dengan trend meningkat, inflasi yang stabil serta terjaganya stabilitas eksternal. Namun, pada 2024 situasi ekonomi global tampaknya masih belum sepenuhnya pulih. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan menyusut menjadi 2,9% (year-on-year/YoY) pada 2024, lebih rendah dari proyeksi 2023 yang tumbuh sebesar 3,00% (YoY). Fenomena risiko penurunan ekonomi global beserta dampaknya telah dipotret oleh World Economic Forum (WEF) melalui “The Global Risks Report 2024”. Dalam laporannya, disebutkan bahwa economic downturn masuk sepuluh besar risiko global yang akan berdampak pada peningkatan ketidakpastian dalam dua tahun ke depan. Salah satu pemicu yang menurunkan kinerja ekonomi global saat ini yaitu gejolak perekonomian di dua raksasa ekonomi dunia yang sedang mengalami masa transisi pascapandemi yaitu Amerika Serikat (AS) dan China.
Di sektor keuangan, terjadinya gagal bayar utang pemerintah akan mendorong peningkatan imbal hasil US treasury untuk menjaga pasar keuangan tetap menarik. Kenaikan yield tersebut dapat memicu terjadinya capital outflow portfolio modal asing yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk Indonesia. Bloomberg mencatat, imbal hasil US treasury saat ini untuk tenor 10 tahun berada di kisaran 4,1% atau masih lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya di kisaran 3,5%, meskipun mulai turun secara bertahap. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih adanya risiko tekanan nilai tukar yang dipicu oleh naiknya yield US treasury meskipun sudah mulai melandai.Pada periode yang sama, di China sedang mengalami penurunan konsumsi rumah tangga dan kinerja investasi sebagai dampak lanjutan dari krisis properti yang terjadi sejak 3 tahun terakhir. Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi China membawa konsekuensi terhadap turunnya permintaan komoditas dan bahan baku impor di Negara Panda. Selanjutnya, kondisi ini akan berdampak pada penyusutan permintaan ekspor bahan baku termasuk dari Indonesia. Data BPS menunjukkan nilai ekspor nonmigas nasional pada Desember 2023 sebesar US$242,90 miliar, mengalami penurunan 11,96% (YoY) dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencapai US$275,91 miliar.Perlu dicermati, porsi ekspor komoditas nonmigas nasional sebesar 25,66% bertujuan ke China pada 2023.
Di sisi regulasi, pemerintah telah mengatur penempatan devisa hasil ekspor dari pengelolaan dan/atau pengolahan sumber daya alam (DHE SDA) untuk meningkatkan likuiditas valas dalam negeri melalui PP No. 36 tahun 2023. Bank Indonesia juga menerbitkan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUKBI). Kedua jenis sekuritas tersebut merupakan instrumen operasi pasar valas yang pro-market untuk mendukung pendalaman pasar keuangan sekaligus menarik capital inflows dan mendukung stabilitas nilai tukar.
Mitigasi Risiko Ketidakpastian Global
Belum reda tekanan akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, saat ini perekonomian global kembali dihadapkan pada ketidakpastian baru yang disebabkan perang Israel-Palestina. Krisis Timur Tengah yang menyeret AS dan sekutunya ini langsung membuat harga minyak dunia bergejolak. Keterlibatan AS dan sekutunya dalam pusaran konflik dengan menyerang Yaman langsung menaikkan harga minyak dunia jenis Brent sebesar 4 % menjadi 80 USD / barel dan jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,79 % menjadi 74,03 USD / barel. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga gas alam, sekitar 25 % pada 12 Januari 2024. Sebelumnya, ekonom Bank Investasi AMP di Australia, Shane Oliver, mengingatkan, serangan AS dan sekutunya terhadap Yaman meningkatkan peluang Iran terlibat langsung dalam konflik di kawasan (Kompas, 13/1/2024).
Akibatnya, pasokan minyak global akan terancam sehingga menimbulkan risiko terhadap pertumbuhan dan inflasi global. Berakhirnya era suku bunga tinggi yang ditunggu-tunggu oleh pelaku usaha dan konsumen kembali buyar. Proyeksi bahwa inflasi AS akan turun signifikan sehingga memberi ruang bagi The Fed dan bank sentral secara global melonggarkan suku bunga acuan pada semester pertama 2024 mengalami ketidakpastian. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memperkirakan harga minyak dunia akan meningkat pada 2024 akibat perang Timteng yang dimulai dari konflik Hamas-Israel. Kenaikan harga minyak dunia akan mendongkrak inflasi dan menggerus pertumbuhan ekonomi global. Hasil simulasi Fitch Rating (2023) menunjukkan kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 % akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global 0,4 % menjadi 2,7 % pada 2024, dan 0,1 % tahun 2025 ke level 3,0 %.
Proyeksi ini didasarkan pada asumsi rata-rata harga minyak dunia 75 USD / barel tahun 2023 serta 70 USD / barel tahun 2024 dan 2025. Terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang di Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik signifikan, menjadi 120 USD / barel pada 2024 dan 100 USD / barel pada 2025 (Fitch Rating, 2023). Kenaikan harga minyak dunia akibat perang Timteng membuat arah pergerakan suku bunga global menjadi tidak menentu. The Fed dan bank sentral negara-negara EMEs berpotensi menunda menurunkan suku bunga acuan hingga semester kedua 2024. Respons kebijakan dari otoritas moneter EMEs, khususnya BI, adalah tetap konsisten pada kerangka kebijakan inflation targeting (IT) dengan target inflasi 2,5 % plus-minus 1 %. Dengan demikian, BI dituntut berhati-hati melonggarkan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga acuan. (Yoga)
MANUVER INVESTASI INVESTOR INSTITUSI
Situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian tinggi pada tahun ini membuat investor institusi harus mengatur strategi lebih jitu, guna mencari instrumen yang aman, tetapi tetap memberikan imbal hasil yang menarik. Belakangan, ekspektasi pemburukan ekonomi global mendorong penurunan suku bunga acuan. Selain ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, bank sentral China rupanya juga mengirim sinyal yang sama. People's Bank of China (PBoC) siap menurunkan suku bunga sebesar 0,5 poin persentase pada awal Februari 2024. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan sepanjang 2023, investor asing dan investor institusi lokal mengakumulasi infl ow, kecuali industri bank yang menarik dananya sebesar Rp202,24 triliun.
Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon mengatakan bahwa investasi asuransi jiwa pada tahun ini menitikberatkan pada SBN. Kebijakan investasi ini mempertimbangkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada paruh kedua.
Budi mengatakan, dari sisi imbal hasil, SBN pun berada pada posisi yang menarik sehingga menjadi salah satu instrumen investasi andalan.
Dihubungi terpisah, Staf Ahli Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi mengatakan dana pensiun masih memiliki minat terhadap SBN terlepas dari kewajiban alokasi aset pada surat utang negara itu. SBN menjadi pilihan karena stabilitas imbal hasil dan risiko rendah gagal bayar.
Sementara itu, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan SBN tenor pendek menjadi pengaman dari risiko seiring dengan masih tingginya ketidakpastian. Sementara itu, SBN tenor panjang memberikan peluang yield tinggi di tengah proyeksi perlambatan ekonomi.
Adapun, Director & Chief Investment Offi cer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula memprediksi tahun 2024 menjadi periode konstruktif bagi pasar obligasi Indonesia. Faktor-faktor makroekonomi yang mendukung termasuk inflasi yang terjaga dan potensi pemangkasan suku bunga. Tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun sebesar 6,7% dianggap sebagai titik masuk menarik bagi investor.
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









