Yang Kaya Kian Kaya, yang Miskin Kian Merana
Sejak tahun 2020, kesenjangan ekonomi di dunia semakin lebar.
Lima orang terkaya di dunia, yakni CEO Tesla Elon Musk, Bernard Arnault dari
perusahaan mewah LVMH, pendiri Amazon Jeff Bezos, pendiri Oracle Larry Ellison,
dan pakar investasi Warren Buffett, menjadi lebih kaya dua kali lipat atau 114 %
sejak 2020, berkat lonjakan harga saham. Kekayaan mereka meningkat dari 405
miliar USD, sekitar Rp 6,3 ribu triliun atau kuadriliun pada 2020, menjadi 869
miliar USD atau Rp 13,5 kuadriliun pada 2022. Tapi, sejak 2020 pula, lima miliar
orang miskin di seluruh dunia menjadi semakin miskin. Dengan serentetan krisis
yang terjadi, perekonomian dunia runtuh akibat pandemi Covid-19. Laporan
tahunan mengenai kondisi kesenjangan di seluruh dunia dari lembaga amal Oxfam ini
dipublikasikan sebelum Forum Ekonomi Dunia dimulai di Davos, Swiss, Senin
(15/1). Untuk menghitung kekayaan lima miliarder terkaya, Oxfam menggunakan
angka dari Forbes per November 2023. Oxfam merupakan konfederasi internasional
yang terdiri atas 20 organisasi yang bekerja sama dengan 90 negara untuk
membangun masa depan yang bebas ketidakadilan akibat kemiskinan.
”Dunia sedang memasuki dekade perpecahan. Dalam waktu dekat,
kita perkirakan dalam satu dekade ke depan kita akan memiliki triliuner. Setidaknya
akan ada satu orang yang memiliki kekayaan sampai seribu miliar USD. Jika tren
ini terus meningkat, upaya memerangi kemiskinan di seluruh dunia baru bisa
tuntas 229 tahun lagi,” kata direktur eksekutif sementara Oxfam, Amitabh Behar,
di Swiss. Di sisi lain, ratusan juta orang di seluruh dunia kini harus bekerja
lebih keras, dengan jam kerja yang lebih lama dan upah yang rendah. Di 52
negara yang dianalisis, upah riil rata-rata dari hampir 800 juta pekerja turun.
Mereka kehilangan 1,5 triliun USD atau Rp 23 kuadriliun selama dua tahun
terakhir, atau setara dengan hilangnya gaji selama 25 hari untuk setiap
pekerja. Orang yang miskin akan bertambah lebih banyak lagi jika perang
Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas terus terjadi. Akibat konflik, harga energi dan
pangan melonjak dan ini sangat berdampak pada negara-negara termiskin. Ironisnya,
keuntungan bisnis justru meningkat tajam. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023