Ekonomi Internasional
( 635 )Risiko Geopolitik Masih Membayangi Ekonomi Dunia
Dalam berbagai rilis hasil survei lembaga-lembaga internasional terkait pandangan para pengambil kebijakan dan pelaku bisnis global terhadap perekonomian saat ini dan ke depannya, mayoritas responden menjawab bahwa risiko geopolitik menduduki peringkat pertama. Disusul kemudian kebijakan moneter ketat sebagai respons atas inflasi tinggi sebagai risiko tertinggi kedua. Risiko tertinggi ketiga adalah melemahnya perekonomian China, dan risiko tertinggi adalah besarnya utang negara terhadap produk domestik bruto (PDB)-nya. Sesungguhnya isu tentang meningkatnya risiko geopolitik sudah mencuat ketika perang Ukraina versus Rusia yang mengejutkan dunia pada Februari 2022. Risiko geopolitik bukan hanya semata terkait dengan aksi perang antarnegara, melainkan juga risiko politik di sejumlah negara. Dengan adanya agenda pemilihan umum (pemilu) nasional—baik untuk presiden maupun perdana menteri (PM)—di lebih dari 70 negara tahun ini, maka setengah populasi dunia akan pergi ke tempat-tempat pemungutan suara.
Tahun 2024 menjadi tahun yang sangat penting bagi perdagangan global dan stabilitas (geo) politik, dengan peringatan indeks risiko sosial dan politik terkait lingkungan ekonomi berisiko tinggi dan labil di seluruh dunia. Semuanya berujung pada tiga isu besar ini, yaitu demam pemilu, meningkatnya populisme dan ketidakstabilan geopolitik. Memang, di dunia yang sedang membentuk kembali tatanan geopolitik global, beberapa pemilu akan terbukti menentukan prospek ekonomi setiap negara dan berakumulasi pada prospek ekonomi dunia. Di beberapa negara, para pemilih hanya akan diberikan pilihan terbatas. Pada saat yang sama, pada fase pra dan pasca pemilu akan memberikan peluang munculnya tiga tren risiko. Pertama, pergeseran politik dan ketidakpastian. Lingkungan sosial ekonomi saat ini membawa aura ketidakpastian dengan volatilitas tinggi bagi pelaku bisnis selama periode pemilihan. Kedua, potensi kerusuhan sosial. Di sejumlah negara, terutama negara dunia ketiga atau negara sedang berkembang dan berpendapatan rendah, potensi eskalasi kerusuhan sosial dipicu oleh kenaikan harga, erosi kepercayaan pada politisi dan ketidakpuasan pemilih yang meluas. Ketiga, risiko geopolitik. Dengan adanya kebuntuan agenda gencatan senjata dan/atau perjanjian perdamaian terkait perang antara Rusia dan Ukraina, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dan perluasan keanggotaan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) untuk memasukkan lima anggota baru, jelas akan mempengaruhi konstelasi ekonomi politik global dan kawasan yang mengarah pada fragmentasi global sebagaimana dikhawatirkan oleh Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, dalam berbagai kesempatan.
Akan Pulihkan Ekonomi Dunia
Disrupsi Rantai Pasok Ubah Preferensi Belanja Konsumen
Gangguan rantai pasok global, baik akibat konflik geopolitik dan geoekonomi maupun dampak perubahan iklim, telah berujung pada krisis biaya hidup. Krisis itu dialami mata rantai terakhir rantai pasok global, yakni konsumen. Kala isi dompet terbatas, preferensi konsumen bakal menjadi penentu laku atau tidaknya sebuah produk. Hal itu bakal menjadi bumerang bagi para pelaku industri, termasuk UMKM. Situasi itu menjadi perhatian sejumlah kalangan yang terlibat dalam Forum Rantai Pasok Global (GSCF) yang digelar di Bridgetown, Barbados, 21-24 Mei 2024. Forum tersebut diharapkan dapat menghasilkan sejumlah solusi bersama untuk mengatasi disrupsi rantai pasok dunia.
Dalam Barbados Today, Kamis (23/5) waktu setempat, Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah (ASB) Barbados menyebutkan, baik dunia usaha maupun konsumen terkena dampak buruk gangguan rantai pasokan. Dunia usaha terbebani kenaikan biaya produksi dan mengalami penurunan pendapatan, bahkan kerugian. Mereka juga terpaksa membeli bahan baku dari pemasok lain dengan harga lebih mahal. Banyak juga yang kehilangan pembeli akibat harga produk olahan naik dan keterlambatan atau penundaan pengiriman. Adapun dampaknya ke konsumen, biaya hidup menjadi lebih tinggi karena harga barang menjadi lebih mahal akibat kenaikan biaya produksi.
Konsumen juga terlambat mendapatkan barang pesanan, bahkan sampai tidak bisa membelinya karena stok habis. Mengutip Survei Konsumen 2023 yang dilakukan o9 Solutions, ASB Barbados menyebutkan, 52 % dari 1.000 konsumen AS mengaku terdampak disrupsi rantai pasokan dalam 12 bulan terakhir. Sebagai respons terhadap gangguan itu, 38 % responden berhenti membeli barang karena kenaikan harga. Selain itu, mereka juga menyesuaikan kebiasaan belanja bulanan dengan memprioritaskan produk yang paling diperlukan (33 %). Fenomena serupa juga dialami konsumen di Indonesia. Salah satunya akibat kenaikan harga bahan pangan pokok, baik yang bersumber dari impor maupun produksi dalam negeri.
Kenaikan harga pangan di dalam negeri juga disebabkan kenaikan biaya produksi dan dampak El Nino. Berdasarkan data Mandiri Spending Indeks, rata-rata penghasilan bersih masyarakat hanya meningkat 15 % selama 2017-2023. Sementara kenaikan harga (indeks harga konsumen) lebih tinggi, yakni 18,5 %. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman, Jumat (24/5) mengaku, pelaku industri makanan-minuman terbebani kenaikan biaya produksi, tapi mereka tidak bisa menaikkan harga produk karena daya beli masyarakat lemah. Karena itu, kami berharap pemerintah memahami kondisi itu dan menunda menaikkan PPN dari 11 % menjadi 12 % pada 2025,” katanya. (Yoga)
PDB Jepang Akan Kontraksi
Data Ekonomi AS Jadi Sentimen Negatif
Indeks Harga Saham Gabungan kembali tertekan pada hari
terakhir perdagangan pekan ini, Jumat (26/4). Perkembangan ekonomi AS menimbulkan
ketakutan pasar akan dampaknya pada ekonomi global, termasuk Indonesia. IHSG
ditutup ambrol 119 poin atau 1,67 % ke level 7.036. Harga 422 saham turun
dibandingkan dengan 153 harga saham yang mengalami kenaikan. Secara sektoral,
seluruh indeks saham tumbuh negatif dengan sektor teknologi mengalami pelemahan
terdalam sebesar 40,93 poin atau 1,23 %. Penurunan ini menggagalkan tren
kenaikan melewati level 7.100 sejak Selasa (23/4), yang terjadi bersamaan
dengan keluarnya penolakan MK terhadap tuntutan sengketa Pemilihan Presiden
2024 yang disusul penetapan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai
presiden dan wapres terpilih oleh KPU.
Penguatan IHSG di atas 7.150 juga terjadi setelah BI
memutuskan menaikkan suku bunga acuan dari 6 % menjadi 6,25 % pada Rabu (24/4).
Kebijakan ini diputuskan sebagai strategi moneter dalam menghadapi pelemahan
rupiah yang terjadi pada dua minggu belakangan. Phintraco Securitas, dalam
laporan analisisnya, Jumat, membaca bahwa pasar mengkhawatirkan tren perekonomian
di luar negeri, khususnya dari AS. Tren ini terbaca dari rilis terkait indeks
harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang mencapai 3,4 % pada triwulan
pertama 2024.
”Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan inflasi yang lebih
persisten dan memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The
Fed) akan menahan suku bunga acuan lebih lama,” kata mereka. Situasi ini juga
terbaca pada kinerja pasar saham AS yang bergerak melemah sejak Kamis (25/4).
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lamban dan tingkat inflasi yang tinggi
menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed. Ekonomi AS tercatat
hanya tumbuh sebesar 1,6 % secara tahunan pada triwulan I-2024 dibandingkan 3,4
% pada triwulan sebelumnya. Angka pertumbuhan di bawah perkiraan sebesar 2,5 %
ini merupakan yang terendah sejak paruh pertama 2022. (Yoga)
Peluang di Tengah Ketidakpastian
Dalam bahasa Mandarin, krisis disebut weiji, ’wei’ yang
artinya bahaya dan ’ji’ yang berarti peluang. Jadi, dalam setiap krisis, tak
hanya ada bahaya, tetapi juga peluang. Saat ini dunia dilanda ketidakpastian
yang tinggi. Dalam webinar yang digelar IDN Times pekan lalu, ekonom senior
Mari Elka Pangestu mengatakan, memanasnya konflik antara Israel dan Iran akan
meningkatkan tensi ketidakpastiaan ekonomi. Fenomena ini memicu serangkaian
tindakan yang makin menekan perekonomian. Hal ini akan membuat harga minyak
dunia terkerek naik. Sebab, Israel dan Iran adalah negara di jazirah Timur
Tengah, yang merupakan kawasan pemasok minyak dunia. Ketika terjadi ketegangan
di kawasan itu, pasokan akan berkurang, sementara permintaan minyak dunia
tetap. Harga pun segera naik, yang bakal memicu inflasi global, termasuk di
Indonesia. Hal ini akan menggerus daya beli masyarakat sehingga laju ekonomi
bakal melambat.
Selain ketegangan geopolitik, tekanan untuk perekonomian
Indonesia bertambah seiring depresiasi rupiah. Mengutip kurs Jakarta Interbank
Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada perdagangan Senin (22/4) ditutup di level
Rp 16.224 per USD. Ekonom Senior Bambang Brodjonegoro mengatakan, sebelum
konflik Iran dan Israel memanas, sejatinya kurs USD menguat dibandingkan mata
uang dunia lainnya, termasuk Indonesia dikarenakan bank sentral AS, The Federal
Reserve (The Fed), diprediksi belum akan menurunkan suku bunga acuannya dalam
waktu dekat. Karena suku bunga The Fed masih tinggi, investor menilai investasi
dalam aset berdenominasi USD lebih menguntungkan. Akhirnya, pemodal di seluruh
dunia menarik uangnya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dipindah
ke AS. Dampaknya, terjadi arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia. Pasokan
dollar AS di dalam negeri pun menurun, yang membuat nilainya menguat terhadap
rupiah.
Baik Bambang maupun Mari mengatakan, dalam kondisi seperti
ini akan muncul fenomena ”flight to safety” dari para pemodal dunia. Para pemodal
akan memindahkan asetnya ke instrumen yang risikonya lebih rendah. Investor
akan cenderung memindahkan dananya pada aset-aset berdenominasi USD, seperti US
Treasury Bond atau Obligasi Negara AS. Dengan suku bunga acuan The Fed yang
masih tinggi, ’memegang’ instrumen itu akan jadi keuntungan bagi investor. Selain
itu, instrumen yang selalu laris manis di kala dunia penuh ketidakpastian
adalah logam mulia atau emas. Mengutip Logammulia.com, harga emas pada Minggu
(21/4) Rp 1,34 juta per gram, meningkat Rp 37.000 per gram atau 2,82 %
dibanding harga pekan sebelumnya (Minggu, 14/4). Jika ditarik dari awal tahun, harga
emas sudah naik Rp 218.000 atau 19,30 %. (Yoga)
Indonesia Mengantisipasi Dampak Konflik Iran-Israel
Ketegangan antara Iran dan Israel dikhawatirkan memicu krisis
bagi kawasan dan global, apalagi jika berlangsung terbuka dan terus berkepanjangan.
Pemerintah Indonesia diharapkan menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi
dampak buruk krisis, terutama bagi rakyat di dalam negeri. Iran menyerang
Israel dengan 300 pesawat nirawak (drone) dan rudal pada 13 April 2024 sebagai
balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas diplomatik Iran di Damaskus, Suriah,
pada 1 April 2024. Israel menyatakan berhasil mencegat serangan tersebut dan
hanya mengalami kerusakan ringan. Namun, dunia mengkhawatirkan kelanjutan
konflik Iran dan Israel setelah serangan tersebut. Jika tidak ditangani dengan
baik, bukan tidak mungkin konflik dan kekerasan di sana bakal bereskalasi dan
menyeret banyak negara ke perang besar.
Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mengatakan,
serangan Iran terukur dan langsung berakhir. ”Namun, Iran menyatakan, jika ada
serangan balasan (dari Israel), Iran akan menyerang secara lebih besar dan
masif,” katanya dalam acara bincang-bincang Satu Meja The Forum bertajuk
”Israel-Iran Adu Kekuatan, Indonesia Terancam?”, Rabu (17/4) di Jakarta. Menurut
ekonom senior Indef Didik J Rachbini, jika sampai pecah perang, apalagi
mengarah menjadi perang dunia ketiga, semua akan habis. Dampak paling krusial
adalah pada perekonomian Indonesia. ”Perdagangan internasional akan terganggu.
Ada pelaku usaha yang terdampak. Maka, sekarang saatnya menyelamatkan daya beli
masyarakat,” katanya.
Hikmahanto membenarkan, perlambatan perekonomian dunia akibat
potensi konflik terbuka Iran-Israel harus diantisipasi. Saat ini, nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS sudah lebih dari Rp 16.000. Harga minyak dunia juga
merambat naik dan dikhawatirkan bisa melebihi 100 dollar AS per barel. Melihat
konflik tersebut, para pengusaha juga bersikap melihat dan menunggu saja. Hal
itu akan berdampak terhadap investasi dan penyerapan tenaga kerja. Hal
terpenting saat ini dalam pandangan Hikmahanto adalah memperkuat perekonomian
di dalam negeri. Didik sependapat, Indonesia perlu melihat ke negara dan
kawasan terdekat dalam menguatkan perekonomian, seperti ASEAN, Asia Timur (China,
Jepang, dan Korsel), serta India. (Yoga)
BERKELIT DARI EFEK KONFLIK
Serangan rudal Iran ke Israel yang dilakukan pekan lalu menambah deretan panjang dinamika geopolitik yang menjadi virus ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Maklum, perang di Timur Tengah itu kembali melahirkan kecemasan di kalangan pelaku ekonomi lantaran efeknya yang cukup besar. Misalnya, kenaikan harga minyak, pelemahan mata uang, hingga lesatan inflasi. Indonesia pun tak luput dari risiko itu. Buktinya, nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin, Selasa (16/4) ditutup melemah 2,07% ke Rp16.175,5 per dolar Amerika Serikat (AS). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun merosot 1,68% atau 122,07 poin menjadi 7.164,80. Pemerintah pun menyadari betul adanya potensi guncangan dari dinamika tersebut. Tak ayal, kemarin Presiden Joko Widodo, menggelar rapat bersama sejumlah menteri guna merumuskan skenario untuk memitigasi dampak dari perang tersebut ke perekonomian nasional. Sebab jika tak segera direspons, efek negatif di pasar keuangan akan mengganggu stabilitas ekonomi. Misalnya, pelemahan rupiah yang akan memacu inflasi barang impor sehingga menekan daya beli masyarakat.
Apalagi, dalam kajian yang dilakukan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia US$5 per barel maka akan menambah subsidi bahan bakar minyak (BBM) Rp0,19 triliun. Soal rupiah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, menegaskan komitmen otoritas moneter untuk siap siaga menjaga mata yang Garuda sehingga tidak memicu kenaikan inflasi dan tekanan daya beli. Fungsi bank sentral memang cukup krusial, karena bertugas menjaga ekspektasi inflasi dan rupiah agar seiring sejalan. Jika rupiah bergerak liar, inflasi pun lebih sulit dikendalikan. Dari sisi fiskal, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan telah menyiapkan beberapa siasat untuk meredam efek dinamika geopolitik itu. Salah satunya mengimprovisasi postur fiskal untuk belanja subsidi apabila harga minyak terus bergerak ke atas. Akan tetapi, pemerintah masih terus memantau perkembangan terkini sebelum mengutak-atik belanja APBN 2024.
Airlangga menambahkan, dalam konteks subsidi pemerintah masih optimistis mampu bertahan dengan postur anggaran yang telah disusun sebelumnya. Setidaknya, sampai Juni 2024 tidak ada perubahan harga BBM. Jika dicermati, sejatinya ada gelagat kegalauan di lingkungan pemangku kebijakan dalam merespons efek dari dinamika di Timur Tengah ini. Di satu sisi, pemerintah menyadari adanya bahaya yang muncul sehingga perlu mitigasi. Namun di lain sisi, aksi konkret terutama dari sisi fiskal masih belum difinalisasi. Menteri ESDM Arifin Tasrif, tak memungkiri kesulitan pemerintah dalam mencegah lonjakan subsidi energi apabila konflik di Timur Tengah makin memanas. Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, menambahkan potensi eskalasi konflik itu berdampak ke manufaktur nasional yang sebagian besar bahan baku/penolong masih dipenuhi dengan importasi. Adapun, PT Pertamina Patra Niaga tengah mengantisipasi tren pelemahan nilai tukar rupiah dan reli harga minyak mentah di tengah konflik Iran-Israel. Manager Media dan Stakeholder Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari, mengatakan perseroan tengah mengkaji situasi yang berkembang ihwal rebound harga minyak serta komponen produksi BBM dalam negeri lainnya. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, menambahkan BI patut lebih aktif dalam menggunakan instrumen kebijakan seperti Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mengguyur pasar valas sehingga bisa meredam depresiasi rupiah.
Timteng Memanas, Ekonomi Rawan Terguncang
Imbas Global dari Divergensi Ekspektasi
Bank sentral AS (TheFed) menggunakan suku bunga untuk
manajemen makro karena dua variabel penting dalam permintaan agregat, yaitu konsumsi
dan investasi. Ini misalnya merujuk pada pengeluaran untuk kendaraan, rumah,
dan mesin, yang umumnya dibiayai kredit. The Fed menahan suku bunga acuan pada
tingkatnya sekarang karena persistensi inflasi di AS. Inflasi tidak kunjung
turun di bawah 3 % sehingga target tradisional 2 % belum kunjung tercapai. Di
luar dugaan, inflasi Februari 2024 naik tipis ke 3,2 % dari 3,1 % pada bulan
sebelumnya. Sektor perumahan (beli dan sewa) serta transportasi menyumbang 60 %
kenaikan inflasi Februari. Kepemilikan rumah umumnya dibiayai oleh kredit (KPR).
Masyarakat mencicilnya dalam tenor 20-30 tahun.
Bagian dari pendapatan yang harus disisihkan tergantung suku
bunga kredit yang dipengaruhi suku bunga acuan The Fed, kecuali untuk yang
memilih suku bunga tetap dari awal. Kebijakan suku bunga tinggi The Fed untuk
meredam inflasi AS dilakukan sejak pertengahan Maret 2022. Secara bertahap,
suku bunga naik dari 0,25 % ke 5,5 %. Penjualan rumah baru yang baru saja mulai
pulih dari dampak pandemi Covid-19 pun turun drastis, dari 830.000 unit di
Desember 2021 ke 530.000 unit di Juli 2022. Walaupun kemudian dengan pemulihan
ekonomi pascapandemi sempat naik ke 728.000 unit di Juli 2023, tingginya suku
bunga menyebabkan penjualan turun kembali ke 607.000 unit di November 2023. Hasilnya
pasokan rumah baru turun drastis. Sementara mereka yang sudah memiliki rumah
juga enggan menjualnya karena untuk membeli rumah baru harganya tidak
terjangkau. Lagi pula bunga KPR-nya terlalu mahal.
Dampak positifnya bagi Indonesia adalah ekspor nonmigas ke AS
tumbuh 6 % secara tahunan di tengah penurunan pertumbuhan ekspor nonmigas
sebesar minus 9,24 % di Februari 2024 akibat perlambatan sektor manufaktur dunia.
Sementara The Fed masih menahan suku bunga, modal portepel global mengalir ke
AS mengantisipasi potensi capital gain baik dari obligasi maupun pasar saham.
Akibatnya, indeks dollar AS meningkat signifikan dari 102.73 di pekan pertama Maret
ke 104.59 di pekan terakhir Maret. Dampaknya adalah depresiasi mata uang
negara-negara lain termasuk rupiah yang membawa inflasi yang diimpor. Antara pertengahan
sampai pekan terakhir Maret, rupiah bergerak dari kisaran Rp 15.600-an ke Rp
15.800-an per USD. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









