;

Imbas Global dari Divergensi Ekspektasi

Ekonomi Yoga 02 Apr 2024 Kompas (H)
Imbas Global dari
Divergensi Ekspektasi

Bank sentral AS (TheFed) menggunakan suku bunga untuk manajemen makro karena dua variabel penting dalam permintaan agregat, yaitu konsumsi dan investasi. Ini misalnya merujuk pada pengeluaran untuk kendaraan, rumah, dan mesin, yang umumnya dibiayai kredit. The Fed menahan suku bunga acuan pada tingkatnya sekarang karena persistensi inflasi di AS. Inflasi tidak kunjung turun di bawah 3 % sehingga target tradisional 2 % belum kunjung tercapai. Di luar dugaan, inflasi Februari 2024 naik tipis ke 3,2 % dari 3,1 % pada bulan sebelumnya. Sektor perumahan (beli dan sewa) serta transportasi menyumbang 60 % kenaikan inflasi Februari. Kepemilikan rumah umumnya dibiayai oleh kredit (KPR). Masyarakat mencicilnya dalam tenor 20-30 tahun.

Bagian dari pendapatan yang harus disisihkan tergantung suku bunga kredit yang dipengaruhi suku bunga acuan The Fed, kecuali untuk yang memilih suku bunga tetap dari awal. Kebijakan suku bunga tinggi The Fed untuk meredam inflasi AS dilakukan sejak pertengahan Maret 2022. Secara bertahap, suku bunga naik dari 0,25 % ke 5,5 %. Penjualan rumah baru yang baru saja mulai pulih dari dampak pandemi Covid-19 pun turun drastis, dari 830.000 unit di Desember 2021 ke 530.000 unit di Juli 2022. Walaupun kemudian dengan pemulihan ekonomi pascapandemi sempat naik ke 728.000 unit di Juli 2023, tingginya suku bunga menyebabkan penjualan turun kembali ke 607.000 unit di November 2023. Hasilnya pasokan rumah baru turun drastis. Sementara mereka yang sudah memiliki rumah juga enggan menjualnya karena untuk membeli rumah baru harganya tidak terjangkau. Lagi pula bunga KPR-nya terlalu mahal.

Dampak positifnya bagi Indonesia adalah ekspor nonmigas ke AS tumbuh 6 % secara tahunan di tengah penurunan pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar minus 9,24 % di Februari 2024 akibat perlambatan sektor manufaktur dunia. Sementara The Fed masih menahan suku bunga, modal portepel global mengalir ke AS mengantisipasi potensi capital gain baik dari obligasi maupun pasar saham. Akibatnya, indeks dollar AS meningkat signifikan dari 102.73 di pekan pertama Maret ke 104.59 di pekan terakhir Maret. Dampaknya adalah depresiasi mata uang negara-negara lain termasuk rupiah yang membawa inflasi yang diimpor. Antara pertengahan sampai pekan terakhir Maret, rupiah bergerak dari kisaran Rp 15.600-an ke Rp 15.800-an per USD. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :