Imbas Global dari Divergensi Ekspektasi
Bank sentral AS (TheFed) menggunakan suku bunga untuk
manajemen makro karena dua variabel penting dalam permintaan agregat, yaitu konsumsi
dan investasi. Ini misalnya merujuk pada pengeluaran untuk kendaraan, rumah,
dan mesin, yang umumnya dibiayai kredit. The Fed menahan suku bunga acuan pada
tingkatnya sekarang karena persistensi inflasi di AS. Inflasi tidak kunjung
turun di bawah 3 % sehingga target tradisional 2 % belum kunjung tercapai. Di
luar dugaan, inflasi Februari 2024 naik tipis ke 3,2 % dari 3,1 % pada bulan
sebelumnya. Sektor perumahan (beli dan sewa) serta transportasi menyumbang 60 %
kenaikan inflasi Februari. Kepemilikan rumah umumnya dibiayai oleh kredit (KPR).
Masyarakat mencicilnya dalam tenor 20-30 tahun.
Bagian dari pendapatan yang harus disisihkan tergantung suku
bunga kredit yang dipengaruhi suku bunga acuan The Fed, kecuali untuk yang
memilih suku bunga tetap dari awal. Kebijakan suku bunga tinggi The Fed untuk
meredam inflasi AS dilakukan sejak pertengahan Maret 2022. Secara bertahap,
suku bunga naik dari 0,25 % ke 5,5 %. Penjualan rumah baru yang baru saja mulai
pulih dari dampak pandemi Covid-19 pun turun drastis, dari 830.000 unit di
Desember 2021 ke 530.000 unit di Juli 2022. Walaupun kemudian dengan pemulihan
ekonomi pascapandemi sempat naik ke 728.000 unit di Juli 2023, tingginya suku
bunga menyebabkan penjualan turun kembali ke 607.000 unit di November 2023. Hasilnya
pasokan rumah baru turun drastis. Sementara mereka yang sudah memiliki rumah
juga enggan menjualnya karena untuk membeli rumah baru harganya tidak
terjangkau. Lagi pula bunga KPR-nya terlalu mahal.
Dampak positifnya bagi Indonesia adalah ekspor nonmigas ke AS
tumbuh 6 % secara tahunan di tengah penurunan pertumbuhan ekspor nonmigas
sebesar minus 9,24 % di Februari 2024 akibat perlambatan sektor manufaktur dunia.
Sementara The Fed masih menahan suku bunga, modal portepel global mengalir ke
AS mengantisipasi potensi capital gain baik dari obligasi maupun pasar saham.
Akibatnya, indeks dollar AS meningkat signifikan dari 102.73 di pekan pertama Maret
ke 104.59 di pekan terakhir Maret. Dampaknya adalah depresiasi mata uang
negara-negara lain termasuk rupiah yang membawa inflasi yang diimpor. Antara pertengahan
sampai pekan terakhir Maret, rupiah bergerak dari kisaran Rp 15.600-an ke Rp
15.800-an per USD. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023