Peluang di Tengah Ketidakpastian
Dalam bahasa Mandarin, krisis disebut weiji, ’wei’ yang
artinya bahaya dan ’ji’ yang berarti peluang. Jadi, dalam setiap krisis, tak
hanya ada bahaya, tetapi juga peluang. Saat ini dunia dilanda ketidakpastian
yang tinggi. Dalam webinar yang digelar IDN Times pekan lalu, ekonom senior
Mari Elka Pangestu mengatakan, memanasnya konflik antara Israel dan Iran akan
meningkatkan tensi ketidakpastiaan ekonomi. Fenomena ini memicu serangkaian
tindakan yang makin menekan perekonomian. Hal ini akan membuat harga minyak
dunia terkerek naik. Sebab, Israel dan Iran adalah negara di jazirah Timur
Tengah, yang merupakan kawasan pemasok minyak dunia. Ketika terjadi ketegangan
di kawasan itu, pasokan akan berkurang, sementara permintaan minyak dunia
tetap. Harga pun segera naik, yang bakal memicu inflasi global, termasuk di
Indonesia. Hal ini akan menggerus daya beli masyarakat sehingga laju ekonomi
bakal melambat.
Selain ketegangan geopolitik, tekanan untuk perekonomian
Indonesia bertambah seiring depresiasi rupiah. Mengutip kurs Jakarta Interbank
Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah pada perdagangan Senin (22/4) ditutup di level
Rp 16.224 per USD. Ekonom Senior Bambang Brodjonegoro mengatakan, sebelum
konflik Iran dan Israel memanas, sejatinya kurs USD menguat dibandingkan mata
uang dunia lainnya, termasuk Indonesia dikarenakan bank sentral AS, The Federal
Reserve (The Fed), diprediksi belum akan menurunkan suku bunga acuannya dalam
waktu dekat. Karena suku bunga The Fed masih tinggi, investor menilai investasi
dalam aset berdenominasi USD lebih menguntungkan. Akhirnya, pemodal di seluruh
dunia menarik uangnya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dipindah
ke AS. Dampaknya, terjadi arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia. Pasokan
dollar AS di dalam negeri pun menurun, yang membuat nilainya menguat terhadap
rupiah.
Baik Bambang maupun Mari mengatakan, dalam kondisi seperti
ini akan muncul fenomena ”flight to safety” dari para pemodal dunia. Para pemodal
akan memindahkan asetnya ke instrumen yang risikonya lebih rendah. Investor
akan cenderung memindahkan dananya pada aset-aset berdenominasi USD, seperti US
Treasury Bond atau Obligasi Negara AS. Dengan suku bunga acuan The Fed yang
masih tinggi, ’memegang’ instrumen itu akan jadi keuntungan bagi investor. Selain
itu, instrumen yang selalu laris manis di kala dunia penuh ketidakpastian
adalah logam mulia atau emas. Mengutip Logammulia.com, harga emas pada Minggu
(21/4) Rp 1,34 juta per gram, meningkat Rp 37.000 per gram atau 2,82 %
dibanding harga pekan sebelumnya (Minggu, 14/4). Jika ditarik dari awal tahun, harga
emas sudah naik Rp 218.000 atau 19,30 %. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023