;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Ekonomi China dan AS Tumbuh, Eropa Masih Terpuruk

HR1 01 Feb 2025 Kontan
Pertumbuhan ekonomi global pada kuartal IV 2024 menunjukkan hasil yang beragam. Amerika Serikat (AS) dan China masih mencatatkan pertumbuhan yang solid, sementara Uni Eropa mengalami stagnasi akibat krisis politik di Jerman dan Prancis.

Menurut laporan Bloomberg, PDB AS tumbuh 2,3% secara tahunan, didorong oleh belanja konsumen yang meningkat 4,2% year on year (yoy). Hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi AS meskipun inflasi masih tinggi dan biaya pinjaman mahal. The Fed pun tetap berhati-hati dalam memangkas suku bunga.

Sementara itu, PDB China tumbuh 5,4%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang 4,5%. Meski sesuai target pemerintah, ekonomi China masih menghadapi tantangan besar, terutama dari ancaman tarif baru yang akan diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Hal ini berpotensi memperlambat ekspor China di tengah krisis properti yang belum pulih.

Di sisi lain, PDB Uni Eropa stagnan, dengan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 hanya 0,7%, menurut laporan Eurostat. Krisis politik di Jerman dan Prancis menurunkan kepercayaan bisnis dan konsumen, sementara sektor manufaktur Jerman melemah. Italia dan Austria juga mengalami stagnasi. Untuk merespons situasi ini, Bank Sentral Eropa (ECB) menurunkan suku bunga deposito sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Meskipun AS dan China masih tumbuh cukup kuat, tantangan global seperti kebijakan proteksionis, inflasi, serta ketidakpastian politik di Eropa berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025.

KPPU Denda Google yang Melakukan Praktek Monopoli Sebesar Rp 202,5 Miliar

KT3 23 Jan 2025 Kompas
Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU menyatakan bahwa Google LLC terbukti melakukan praktik monopoli dan menyalahgunakan posisi dominan untuk membatasi pasar serta menghambat pengembangan teknologi. Menanggapi keputusan tersebut, Google dalam keterangan tertulis kepada media di Indonesia menyatakan ketidaksetujuannya dan menegaskan kesiapan untuk mengajukan banding. Atas pelanggaran melakukan praktik monopoli dan menggunakan posisi dominan untuk membatasi pasar dan pengembangan teknologi yang dilakukan GoogleLLC,Majelis Komisi KPPU menjatuhkan denda Rp 202,5 miliar dan memerintahkan perusahaan untuk menghentikan kewajiban penggunaan Google Play Billing dalam layanan toko aplikasi Google Play Store. Majelis Komisi KPPU juga memerintahkan Google LLC sebagai pihak terlapor untuk mengumumkan pemberian kesempatan kepada seluruh pengembang aplikasi untuk mengikuti sistem penagihan sesuai pilihan pengguna (user choice billing) dengan memberikan insentif berupa pengurangan service fee minimal 5 persen selama kurun 1 tahun.

Keputusan KPPU tersebut dibacakan Ketua Majelis Komisi KPPU Hilman Pujana dalam sidang pembacaan putusan Perkara Nomor 03/KPPU-I/2024 tentang Dugaan Pelanggaran Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 terkait Penerapan Google Play Billing System yang berlangsung di Gedung KPPU, Jakarta, Selasa (21/1/2024) sekitar pukul 22.00 WIB. ”Pembayaran denda di atas wajib dibayarkan selambat-lambatnya 30 hari sejak pembacaan putusan. Putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht),” kata Hilman. Google LLC bisa mengajukan keberatan ke pengadilan niaga dalam jangka selambat-lambatnya 14 hari setelah pembacaan putusan KPPU tersebut. Manajemen Google LLC beserta kuasa hukumnya, yakni firma pengacara Assegaf '& Partners dan Ginting & Reksodiputro yang berafiliasi dengan A&O Shearman, mangkir dalam sidang itu. Dalam putusan, Majelis Komisi KPPU menjelaskan bahwa pasar bersangkutan dalam perkara yang melibatkan Google LLC ini menggunakan analisis pasar multisisi, di mana Google Play Store merupakan platform toko digital yang menghubungkan antara pengembang dan pengguna aplikasi dengan menyediakan Google Play Billing System sebagai sistem penagihan dalam transaksi pembayaran untuk pembelian produk dan layanan digital dalam aplikasi (in-app purchase). (Yoga)


Sektor Saham Menjadi Pilihan Bagi Kebijakan Trump

HR1 21 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS ke-60 pada Senin, 20 Januari 2025, diprediksi akan membawa dampak signifikan terhadap pasar saham global, termasuk Indonesia. Meskipun pasar Indonesia sempat mengalami volatilitas pasca pemilu AS dan aksi jual investor asing yang menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) Indonesia, IHSG menunjukkan pemulihan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini sebagian besar dipengaruhi oleh keputusan mengejutkan Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan.

Menurut berbagai analis, pelantikan Trump kemungkinan akan berdampak pada berbagai sektor saham di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Fath Aliansyah dari Maybank Sekuritas menyatakan bahwa pasar Indonesia sudah terpengaruh oleh efek Trump, terutama dalam bentuk penguatan indeks dolar AS (DXY). Sektor perbankan, yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, diperkirakan akan mengalami dampak positif jika dana asing kembali masuk.

Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menyarankan bahwa kebijakan Trump yang berfokus pada peningkatan belanja domestik atau perdagangan internasional bisa memberi dampak pada sektor ritel Indonesia, meski lebih terkait dengan faktor eksternal seperti nilai tukar atau tarif impor. Sebaliknya, penurunan suku bunga Bank Indonesia dapat mendorong sektor ritel, dengan meningkatnya daya beli konsumen.

Di sisi lain, Reza Fahmi dari Henan Putihrai Asset Management (HPAM) memperkirakan bahwa sektor infrastruktur, media, dan properti akan mendapat sentimen positif dari kebijakan Trump yang mendukung pembangunan dan investasi. Angga Septianus dari Indo Premier Sekuritas dan Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas Indonesia juga melihat potensi keuntungan bagi sektor energi, terutama energi fosil dan minyak dan gas, sebagai dampak positif dari kebijakan Trump.

Namun, sejumlah analis, termasuk Abdul Azis, menyarankan untuk "wait and see" menjelang pelantikan Trump, mengingat ada potensi volatilitas pasar dan ketidakpastian yang menyertainya. Reaksi pasar terhadap pidato kebijakan Trump pasca pelantikan akan menjadi kunci bagi pergerakan saham dan obligasi di Indonesia.


Pekerjaan 2030 yang Akan Diprediksi Tumbuh

KT3 20 Jan 2025 Kompas
Melalui Future of Jobs Report 2025 yang dirilis pada 8 Januari 2025, Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) memprediksi bidang pekerjaan garis depan (frontline job roles) yang akan mengalami pertumbuhan terbesar dalam volume pada 2030 meliputi pekerjaan pertanian, pengemudi pengiriman, pekerja konstruksi, tenaga penjualan, dan pekerja pengolahan makanan. Pekerjaan ekonomi perawatan, seperti profesional keperawatan, profesional pekerjaan sosial dan konseling, dan asisten perawatan pribadi, juga diprediksi akan tumbuh secara signifikan selama lima tahun ke depan, bersamaan dengan peran guru pendidikan tinggi dan menengah. Lalu, bidang pekerjaan terkait dengan teknologi diprediksi sebagai bidang pekerjaan yang tumbuh paling cepat. Misalnya, spesialis mahadata (big data), insinyur teknologi finansial, spesialis akal imitasi atau kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin, serta pengembang perangkat lunak dan aplikasi.

Bidang pekerjaan terkait transisi hijau dan energi, termasuk spesialis kendaraan otonom dan listrik, insinyur lingkungan, dan insinyur energi terbarukan, juga termasuk bidang pekerjaan yang diprediksi akan tumbuh paling cepat. Di sisi lain, permintaan bidang-bidang pekerjaan yang diprediksi akan turun signifikan pada tahun 2030, yaitu pekerja administrasi dan sekretaris, kasir dan petugas tiket, asisten administrasi dan sekretaris eksekutif, petugas layanan pos, teller bank, dan petugas entri data. Rata-rata pekerja dapat memperkirakan bahwa 39 persen dari keahlian mereka yang ada akan berubah atau menjadi usang selama periode 2025-2030. Meski demikian, ukuran ”ketidakstabilan keterampilan” ini telah melambat dibandingkan dengan edisi laporan sebelumnya, dari 44 persen pada tahun 2023 dan titik tertinggi 57 persen pada tahun 2020 setelah pandemi Covid-19.

Pemikiran analitis tetap menjadi keterampilan inti yang paling dicari di kalangan pengusaha. Sebanyak 7 dari 10 perusahaan menganggapnya penting pada tahun 2025. Keterampilan lainnya adalah ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial. Keterampilan bidang AI dan mahadata menduduki puncak daftar keterampilan yang tumbuh paling cepat, diikuti jaringan dan keamanan siber serta literasi teknologi. Dalam laporan WEF yang dikutip pada Sabtu (18/1/2025), Direktur Pelaksana Forum Ekonomi Dunia Saadia Zahidi mengatakan, terobosan transformasional, khususnya dalam kecerdasan buatan generatif (GenAI), membentuk kembali industri dan bidang pekerjaan di semua sektor. ”Edisi tahun 2025 menangkap perspektif lebih dari 1.000 pemberi kerja yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 22 kluster industri dan 55 ekonom yang memberikan wawasan yang tak tertandingi tentang lanskap pekerjaan yang muncul untuk periode 2025-2030,” katanya. (Yoga)

Ekonomi Dunia 2025 Penuh Harap-harap Cemas

KT3 20 Jan 2025 Kompas
Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi dunia tahun ini masih tumbuh lambat. Forum Ekonomi Dunia bahkan menyebut bakal ada tiga risiko global yang membayangi ”perjalanan” ekonomi. Ekonomi dunia berada dalam situasi harap-harap cemas. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia pada 2025 dan 2026 tumbuh masing-masing 3,3 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global pada 2024 yang sebesar 3,2 persen. Namun, tingkat pertumbuhan itu berada di bawah rerata pertumbuhan ekonomi dunia pada 2000-2019 yang sebesar 3,7 persen. Kendati demikian, proyeksi itu lebih positif dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia yang dirilis pada Oktober 2024 yang sebesar 3,2 persen. Hal itu tertuang dalam World Economic Outlook Update Januari 2025 ”Global Growth: Divergent and Uncertain”. IMF merilis pemutakhiran tinjauan ekonomi tersebut di Washington, Amerika Serikat, Jumat (17/1/2025) waktu setempat.

IMF juga memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 5,1 persen pada 2025 dan 2026. Angka itu tidak berubah dari proyeksi sebelumnya dan sedikit lebih rendah daripada target pertumbuhan ekonomi 2025 Pemerintah Indonesia yang sebesar 5,2 persen. Tingkat inflasi global juga diperkirakan terus turun menjadi 4,2 persen pada 2025 dan 3,5 persen pada 2026. Pada  2024, tingkat inflasi global mencapai 5,7 persen. ”Ini berarti gangguan global yang sangat besar yang dimulai dengan pandemi Covid-19, kemudian perang di Ukraina yang memicu lonjakan inflasi global terbesar dalam 40 tahun terakhir, telah berlalu. Ini adalah akhir dari sebuah siklus dan awal dari siklus baru,” kata Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas melalui siaran pers. Namun, lanjut Gourinchas, ketidakpastian ekonomi dunia masih cukup besar. Ketidakpastian itu bakal dipicu konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, dan perubahan kepemimpinan di negara-negara ekonomi utama.

Ketidakpastian kebijakan perdagangan yang meningkat akan melemahkan permintaan di banyak negara, termasuk China. Tahun ini, ekonomi negara tersebut diperkirakan hanya tumbuh 4,6 persen. Forum Ekonomi Dunia (WEF) juga memotret kondisi global yang kurang lebih sama. Pada 15 dan 16 Januari 2025, WEF merilis dua laporan tentang risiko global dan pandangan para ekonom terhadap perekonomian global. Dalam Global Risk Report 2025, WEF menyebutkan ada tiga risiko global yang tengah dan bakal dihadapi dalam dua hingga 10 tahun ke depan. Teratas adalah konflik bersenjata berbasis negara. Kemudian, pada urutan kedua dan ketiga masing-masing adalah cuaca ekstrem dan konflik geoekonomi. Dalam Chief Economists Outlook 2025, WEF menunjukkan, situasi harap-harap cemas sebagian besar dari 900 responden yang merupakan kepala ekonom lembaga dan perusahaan besar di dunia. (Yoga)

Tertinggal dari Vietnam The Rising Dream

KT1 20 Jan 2025 Investor Daily (H)

Beberapa tahun terakhir ini, bahkan dalam beberapa bulan belakangan, banyak pengamat yang menyoroti pertumbuhan ekonomi Vietnam sebagai the Rising Dream, tidak saja dilingkungan ASEAN tetapi juga di Asia bahkan di antara sesama negara berkembang. Hal ini dapat dilihat dari peretumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam antara tahun 2016 hingga 2024 meski sempat melemah di tahun 2020 dan 2021 karena merebaknya pandemi Covid-19. Pertumbuhan PDB Vietnam sejauh ini sangat ditopang oleh investasi di sektor manufaktur untuk mendorong ekspor ke negara-negara yan secara langsung atau tidak langsung terjebak dalam geopolitik dan geo-ekonomi duia sejak tahun 2018.

Dalam hal ini, beberapa pengamat meyakini bahwa partisipassi Vietnam dalam sejumlah perjanjian perdagangan telah memainkan kunci perdagangan telah memainkan kunci keberhasilan ekonomi Vietnam. Dua dari sejumlah perjanjian perdagangan yang dimiliki  atau diikuti Vietnam patut mendapatkan sorotan. Pertama adalah European Union-Vietnam FTA atau EVFTA. Pada tahun 2012, ketika ASEAN bersama enam mitra FTA-nya baru membahas konsep Regional Comprehensive atau RCEP, secara pararel Vietnam memulai perundingan EVFTA dengan EU (efektif berlaku tanggal 1 Agustus 2020). Dan kedua, di waktu hampir bersamaan, Vietnam juga  ikut merundingkan Trans Pacific Partnership atau TPP, yang kemudian diubah menjadi Comprehensive and Progressive Trans Pacific Partnership atau CPTPP setelah AS keluar dari TPP pada Januari 2017 (efektif berlaku tanggal 30 Desember 2018). (Yetede)

Diskriminasi UE, Aturan Perdagangan Harus Diubah

HR1 18 Jan 2025 Kontan
Pemerintah Indonesia berhasil memenangkan sengketa dagang minyak kelapa sawit (CPO) melawan Uni Eropa (UE) di Badan Penyelesaian Sengketa WTO. Putusan Panel WTO yang disirkulasikan pada 10 Januari 2025 menyatakan bahwa UE melakukan diskriminasi terhadap biofuel berbahan baku kelapa sawit dari Indonesia dibandingkan dengan produk serupa dari UE, seperti rapeseed dan bunga matahari, serta kedelai dari negara lain.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa putusan ini mencegah kebijakan diskriminatif dan proteksionis yang berdampak pada perdagangan global. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah akan memantau perubahan regulasi UE untuk memastikan kepatuhan terhadap keputusan WTO.

Sengketa ini bermula pada Desember 2019, ketika Indonesia menggugat kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II dan Delegated Regulation UE yang menghambat akses pasar kelapa sawit Indonesia. Kebijakan tersebut membatasi konsumsi biofuel berbahan baku sawit hingga 7% dan mengategorikan sawit dalam risiko alih fungsi lahan tinggi (high ILUC-risk), yang dianggap proteksionis dengan dalih kelestarian lingkungan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyarankan agar Indonesia mengikuti langkah Malaysia dengan membahas lebih lanjut kebijakan UE berdasarkan putusan WTO. Jika laporan Panel WTO tidak diajukan banding, UE harus mengambil langkah konkret dalam waktu 60 hari untuk mematuhi kewajiban yang diatur WTO.

Keberhasilan ini, menurut Budi, adalah hasil koordinasi intensif antara pemerintah, pelaku industri, asosiasi kelapa sawit, tim ahli, dan kuasa hukum. Putusan ini diharapkan mengurangi hambatan perdagangan bagi CPO Indonesia di pasar internasional.

Wisata Cantik ke Timur Tengah

KT3 11 Jan 2025 Kompas
Wisata operasi untuk kecantikan terus tumbuh subur di Timur Tengah. Banyak negara Arab, khususnya Uni Emirat Arab, mengukuhkan diri sebagai tujuan baru bagi pencari layanan permak tubuh. Ada juga pasien dari Indonesia. Belakangan, pasiennya bukan hanya perempuan, banyak juga laki-laki Dalam sejarah Persia, operasi plastik sudah ada sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Tak mengherankan apabila kini Teheran tidak cuma dikenal sebagai ibu kota Iran. Teheran juga terkenal sebagai ”ibu kota operasi hidung dunia”. Seperti Iran, hal serupa terjadi di Uni Emirat Arab (UEA). Karena itu pula, popularitas praktik bedah kecantikan awet di Timur Tengah. UEA disebut pusat bedah plastik estetika di Timur Tengah. Dubai memiliki infrastruktur mapan, mengadopsi teknologi canggih, serta mempunyai pekerja profesional terampil. Mereka datang berkat keringanan pajak, ketersediaan pekerjaan, dan kualitas hidup yang baik.

Menurut Otoritas Kesehatan Dubai, UEA punya dokter bedah kosmetik per kapita tertinggi di kawasan, 50 dokter untuk satu juta orang. Tahun lalu, prosedur kosmetik yang paling populer adalah filler bibir, sedot lemak, microneedling, dan suntik botoks. Dokter Aiza Jamil, konsultan dermatologi di Mubadala Healthcare, Abu Dhabi, UEA, mengatakan, Timur Tengah telah menjadi tujuan utama perawatan kecantikan, estetika, dan kesehatan. Lokasinya pun di pintu gerbang antara Asia dan Eropa. ”Saya yakin banyak orang berbondong-bondong ke sini untuk mendapatkan penawaran kosmetik medis yang canggih dan pengalaman mewah, perpaduan yang tidak selalu dapat Anda temukan di tempat lain,” kata Jamil kepada Forbes, Oktober 2024. Mengutip kantor berita UEA, Emirates News Agency (WAM), Dubai menerima lebih dari 691.000 orang untuk wisata medis pada 2023.

Dubai juga merupakan kota yang paling multikultural di dunia karena ditinggali masyarakat dari sejumlah negara. Dokter Derrick Phillips, konsultan dermatologi dari Biolite Clinic, menambahkan, Dubai menerima beragam pasien dengan masalah klinis yang lebih luas. ”Kota ini jadi tujuan yang bagus untuk masalah kulit yang spesifik di wilayah tersebut serta negara-negara lain dengan kondisi atmosfer yang sama,” ucapnya. BeautyMatter dalam laporan bertajuk ”2024: Middle East Beauty Market Report” menyebutkan, pasar prosedur kosmetik di Timur Tengah dan Afrika diproyeksikan melejit. Dari 656,04 juta dollar AS pada 2021 menjadi 1,29 miliar dollar AS pada 2028. Pertumbuhan yang signifikan ini terjadi akibat perubahan ekonomi dan gaya hidup. Studi 2021 di The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology mendapati, 63 persen melihat prosedur kosmetik perlahan mulai diterima masyarakat UEA. Sementara 20 persen tidak suka pada prosedur itu. (Yoga)

Antisipasi Reaksi Diplomatik Barat

KT1 10 Jan 2025 Investor Daily (H)
Mansuknya Indonesia ke BRICS memang membuka  peluang menggenjot ekspor sekaligus investasi, yang berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, hal itu bisa memicu ketegangan geopolitik antara Indonesia dan negara-negara barat. Oleh sebab itu, pemerintah harus mengantisipasi reaksi negatif negara barat yang bisa berbentuk tekanan politik. Pada titik ini, menjaga keseimbangan diplomatik, terutama dengan AS dan UE harus dilakukan pemerintah. Indonesia juga harus tetap berjuang untuk masuk Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang digawangi AS. Masuknya Indonesia ke BRICS  bisa meningkatkan posisi tawar menawar masuk organisasi itu. Selama ini, negara barat menganggap BRICS  sebagai blok yang bisa mengancam hegemoni mereka di dunia. BRICS adalah representasi dua kekuatan ekonomi luar Barat, yakni Rusia  dan China. Ancaman ini makin menguat setelah Donald Trump menjadi Presiden AS. Trump disebut-sebut bakal kembali mengobarkan perang dagang dengan China. (Yetede)

Mendiversifikasi Mitra Dagang dan Investasi Ditengah Dinamika Ekonomi Global

KT1 09 Jan 2025 Investor Daily (H)
Keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS dinilai sebagai peluang strategis untuk mendiversifikasi mitra dagang dan investasi di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah, Sehingga, hal ini diprediksi mampu menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga sebesar 0,3% poin. Sebagai kelompok ekonomi multipolar, BRICS memungkinkan Indonesia memperkuat kerja sama ekomomi dengan negara-negara seperti China, India, dan Uni Emirat Arab (UEA), yang merupakan pasar potensial. Keanggotaan ini juga dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar nontradisional seperti Afrika dan Timur Tengah. Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty menyebut, BRICS memberikan dampak yang positif bagi perekonomian Indonesia. Selain itu, Indonesia juga bisa mengambil peranan kuat yang dalam organisasi tersebut bila disertai dengan iklim persaingan usaha yang baik. "Ada yang memprediksi dengan keterlibatan RI ke BRICS, pertumbuhan ekonomi bisa naik 0,3%. Jadi kalau kita punya target 5%, bisa nambah 0,3% menjadi 5,3% kalau dengan dampak BRICS," ujar Telisa. (Yetede)