;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

PERDAGANGAN-INDUSTRI Dunia dan Indonesia Makin ”Menghijau”

KT3 28 Mar 2023 Kompas

Perdagangan dan industri di dunia dan Indonesia tengah ”menghijau”. Produk-produk manufaktur ramah lingkungan marak diperdagangkan. Kluster-kluster industri hijau dirintis dan dikembangkan. Lembaga Konferensi Bidang Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) menyebutkan, total nilai perdagangan barang global pada 2022 mencapai 25 triliun USD. Dari nilai tersebut, 10,7 % atau Rp 1,9 triliun merupakan buah dari perdagangan produk-produk ramah lingkungan. Dibandingkan 2021, nilai perdagangan produk hijau itu bertambah 100 miliar USD. Beberapa produk ramah lingkungan yang menunjukkan kinerja sangat baik sepanjang 2022 itu adalah kendaraan listrik dan hibrida dengan laju pertumbuhan 25 % secara tahunan, kemasan nonplastik 20 %, dan turbin angin 10 %.

”Meskipun perdagangan barang secara umum masih tumbuh lambat, perdagangan barang ramah lingkungan justru tumbuh cukup signifikan,” sebut UNCTAD dalam ”Global Trade Update” yang dirilis pada 23 Maret 2023 di Geneva, Swiss. Sekjen UNCTAD Rebeca Grynspan menyatakan, hal itu menunjukkan komitmen dunia mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi karbon cukup tinggi. Ekonomi hijau perlahan-lahan terus terbangun berbasis teknologi dan industri ramah lingkungan. Adapun dalam ”Laporan Teknologi dan Inovasi 2023: Membuka Jendela Hijau” yang dirilis pada 16 Maret 2023, UNCTAD memperkirakan industri hijau akan berkembang pesat saat negara-negara meningkatkan upaya melawan perubahan iklim dan mengurangi emisi. Pola perdagangan internasional juga diantisipasi dan bertransisi menuju ekonomi global yang lebih ramah lingkungan. (Yoga)


Krisis Bank Terbesar Kedua AS: Runtuhnya Silicon Valley Bank Akibat Kenaikan Suku Bunga dan Bank Run

fahri 21 Mar 2023 Tim Labirin

Pada hari Jumat 10 Maret, Silicon Valley Bank (SVB), bank khusus terbesar di California, mengalami kebangkrutan akibat krisis modal dan bank run. Ini merupakan kegagalan bank terbesar kedua dalam sejarah AS setelah Washington Mutual pada tahun 2008. Fenomena ini membuat Regulator California menutup bank tersebut dan menempatkannya di bawah kurator Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) AS. SVB didirikan pada tahun 1983 dan telah menyediakan pembiayaan untuk hampir setengah perusahaan teknologi dan perawatan kesehatan di AS.

Runtuhnya SVB dipicu oleh kenaikan tingkat suku bunga yang dinaikkan oleh Federal Reserve AS, sehingga mengganggu proses penggalangan dana investasi dari perusahaan startup yang merupakan klien SVB. Suku bunga yang lebih tinggi juga menyebabkan erosi nilai obligasi jangka panjang yang diperoleh SVB dan bank-bank lain selama era ultra-low interest rates pandemi COVID-19. Hal ini juga memaksa perusahaan-perusahaan startup untuk menarik dana dari SVB, sehingga SVB mengalami kerugian besar dari obligasi dan laju penarikan dana nasabah yang meningkat. SVB mencoba memperbaiki kondisi keuangan mereka dengan menjual investasi obligasi jangka panjang dan saham baru, namun hal ini menyebabkan kepanikan di antara perusahaan-perusahaan pemodal utama yang menyarankan perusahaan lain untuk menarik dana mereka dari SVB. Akibatnya, saham SVB mulai anjlok pada hari Kamis, dan pada hari Jumat, perdagangan saham SVB dihentikan.

Fenomena ini serupa dengan kejadian pada tahun 2008, dimana bisnis pendanaan subprime mortgage Lehman Brothers mengalami kerugian hingga $2,8 miliar pada Juni 2008 akibat banyaknya klien yang gagal bayar akibat krisis pada tahun tersebut. Krisis ini membuat investor mulai memiliki pandangan negatif, sehingga saham Lehman Brothers turun hingga 77% pada September 2008, dan pada 15 September 2008 Lehman Brothers menyatakan kejatuhannya dengan nilai kerugian $3,9 miliar dan sisa nilai aset hanya $1 miliar.

Sementara itu, di tahun yang sama, bank konservatif Washington Mutual (WaMu) juga mengalami kejatuhan yang serupa, terutama dalam pendanaan subprime mortgage. Saat berita kejatuhan Lehman Brothers tersebar, investor WaMu mulai panik dan melakukan penarikan dana dalam jumlah besar, sehingga pada 25 September 2008 FDIC mengambil alih situasi dan menjual WaMu pada JPMorgan Chase dengan nilai $1,9 miliar. Dalam kedua kasus tersebut, kejatuhan perbankan disebabkan oleh kegagalan dalam melakukan investasi yang menggunakan dana deposit nasabah, namun penyebabnya berbeda. Investasi Lehman Brothers dan WaMu melalui subprime mortgage gagal karena jatuhnya harga properti tahun 2007, sedangkan SVB dan Silvergate mengalami kegagalan karena kerugian investasi long-term bonds akibat kenaikan tingkat suku bunga AS.

Pola kejadian yang teridentifikasi adalah ketika investor besar melihat atau menilai hal negatif yang terjadi akibat kegagalan investasi yang dilakukan oleh perbankan, maka mereka melakukan tindakan protektif seketika dengan mengeluarkan investasi mereka. Hal ini memicu kepanikan para investor dan nasabah untuk melakukan hal yang serupa, sehingga terjadi penarikan dana secara simultan yang menjadi bola salju bank run yang berujung pada kejatuhan seperti yang dialami oleh SVB, Lehman Brothers, dan WaMu.








Menakar Efek ”Tumpahan” China

KT3 06 Mar 2023 Kompas

Setelah mengalami tekanan kuat akibat pandemi dan kebijakan nihil Covid-19 yang ketat, China bersiap bangkit dengan berhati-hati. Dalam pembukaan siding pleno Kongres Rakyat Nasional, Minggu (5/3) China mengumumkan target pertumbuhan ekonomi yang moderat, 5 % di tengah masih banyaknya tantangan struktural yang perlu dijawab, walau di bawah target pertumbuhan ekonomi China 2022, yakni 5,5 %, tetapi tetap menunjukkan peningkatan. Saat menyampaikan laporannya di Aula Besar Rakyat, Lapangan Tiananmen, Beijing, Minggu, PM China Li Keqiang mengatakan, ekonomi China ada di jalur pemulihan yang stabil setelah tiga tahun terakhir terpukul oleh pandemi serta dampak kebijakan nihil Covid-19. Akhir tahun lalu, restriksi ketat itu dicabut, membuat China jadi negara dengan ekonomi be sar terakhir yang memutuskan hidup damai dengan Covid-19.

China mengandalkan permintaan dalam negeri sebagai motor pertumbuhan ekonomi tahun ini di tengah melemahnya permintaan ekspor global. Li mengatakan, dorongan memperkuat konsumsi domestik dan investasi jadi prioritas utama China tahun ini, sementara ekspor dan impor ditargetkan tumbuh lebih moderat. Pemerintah China disebut akan mendukung ekspansi korporasi swasta dan UMKM, sambil tetap mendorong reformasi sektor publik atau usaha milik negara. Peneliti Lembaga PenyelidikanEkonomi dan Masyarakat UI, Teuku Riefky, menilai, jika pertumbuhan ekonomi China selaku mitra dagang utama Indonesia tahun ini mencapai target, Indonesia akan kebagian untung, khususnya di jalur perdagangan, akan terjadi peningkatan permintaan atas produk RI yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, produksi yang meningkat di China mendorong turunnya harga bahan baku danpenolong bagi industri RI, membuat biaya impor lebih murah dan meringankan beban pelaku industri dalam negeri. (Yoga)


Ekonomi China Melejit

KT3 02 Mar 2023 Kompas

Perekonomian China tampaknya tumbuh melejit tertinggi dalam satu decade terakhir. Akan tetapi,  situasi lesu terjadi di negara-negara Asia lainnya sebagai efek kenaikan suku bunga global. Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, Rabu (1/3) melejitnya perekonomian China terlihat dari kenaikan Purchasing Managers Index (PMI) pada Februari 2023 ke level 52,6 dari 50,1 pada Januari. Indeks di atas angka 50 pertanda perekonomian tumbuh dan itu terjadi pertama kali dalam tujuh bulan terakhir. Yang lebih menarik, indeks PMI China yang diumumkan Biro Statistik Nasional (NBS) itu adalah yang tertinggi sejak April 2012. Kenaikan indeks PMI China itu sekaligus mengakhiri kemerosotan ekonomi terburuk yang terjadi pada 2022 akibat penguncian wilayah yang meluas saat pandemi Covid-19.

”Kami memang sudah menduga akan terjadi pemulihan,” kata Julian Evans-Pritchard, Kepala Capital Economics, biro China. Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan 5,5 % pada 2023. Namun, Pemerintah China tetap perlu meluncurkan kebijakan pendukung. ”PMI yang bagus itu merupakan sinyal positif. Kami berharap pemerintah meluncurkan kebijakan untuk memperkuat pemulihan,” kata Zhou Hao, ekonom dari Guotai Junan International. Akan tetapi, kenaikan PMI China itu juga sangat dimungkinkan karena perekonomian bangkit dari titik terlemah. ”Kemungkinan PMI akan melambat lagi seiring dengan berlanjutnya pemulihan pasca-Covid,” kata Pritchard. (Yoga)


Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Pertumbuhan

KT3 01 Mar 2023 Kompas

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global diprediksi bisa mengganggu target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tahun lalu banyak ditopang ekspor. Agar target tetap dapat tercapai, pemerintah mengalihkan focus pertumbuhan ke konsumsi dalam negeri, investasi, dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, ia optimistis Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 5,3 %, dengan berkaca pada tren baik pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu, yang mampu tumbuh 5,31 %. Tertinggi selama 10 tahun terakhir.

”Kita optimistis. Kita melihat kinerja baik tahun 2022 bisa dicapai di tengah keadaan ekonomi global yang pasang surut,” kata Airlangga di acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2023, di Jakarta, Selasa (28/2). IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,9 % di tahun 2023 karena permasalahan krisis iklim, perang, dan lainnya sehingga bisa berdampak ke Indonesia, khususnya di bidang ekspor. Mengantisipasi penurunan ekspor, pemerintah akan berfokus pada peningkatan konsumsi dalam negeri dan investasi. ”Mengantisipasi hal itu, kita harus mendorong konsum- si dan investasi karena ekspor diproyeksikan menurun. Target investasi tahun ini Rp 1.400 triliun dan pada tahun 2024 Rp 1.600 triliun,” ujarnya. (Yoga)


Sinyal Pemulihan Ekonomi China Jadi Peluang bagi RI

KT3 27 Feb 2023 Kompas

Aktivitas perekonomian China menunjukkan sinyal pemulihan. Indonesia dapat mengambil ancang-ancang mengoptimalkan peluang dari sinyal tersebut, khususnya dalam meningkatkan investasi yang berorientasi hilirisasi serta ekspor. Sinyal pemulihan China muncul dari Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) komposit yang dipublikasikan S&P Global dan Caixin pada Februari 2023. Data itu menyebutkan, PMI komposit China naik dari 48,3 pada Desember 2022 menjadi 51,1 pada Januari 2023. Posisi yang menandakan bisnis tengah berekspansi ini merupakan pertama kalinya setelah lima bulan berturut-turut PMI komposit China ada di zona kontraktif. Keyakinan pelaku bisnis di China terhadap prospek dalam 12 bulan ke depan juga meningkat.

Menurut Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, Indonesia dapat memanfaatkan momen kebangkitan China tersebut. ”Terdapat peluang ekspansi permodalan dan produksi (dari China) yang menyasar negara-negara berkembang. Indonesia mestinya bisa menjadi salah satu sasaran,” katanya saat dihubungi, Minggu (26/2). Berdasarkan tren sebelum pandemi, Andry menilai, China masih akan mencari negara tujuan investasi baru agar dapat mengalirkan produknya ke AS secara tidak langsung. Apalagi, Indonesia sedang fokus dalam program hilirisasi atau peningkatan nilai tambah. Investor dari China dapat berpartisipasi dalam program hiliriasi tersebut. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Sanny Iskandar mengatakan, China menguasai dana, teknologi, serta peran sebagai offtaker (pembeli) produk-produk hilirisasi sumber daya mineral. Oleh sebab itu, Indonesia dapat menjadi incaran investor China. (Yoga)


Restrukturisasi Utang Terkendala Perbedaan Pendapat G20

KT1 27 Feb 2023 Investor Daily

BENGALURU, ID – Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, perbedaan pendapat di antara negara-negara anggota kelompok G20 telah menciptakan rintangan-rintangan dalam restrukturisasi utang untuk negara yang ekonominya mengalami tekanan. Di sisi lain, IMF menyambut baik soal usulan pemberlakuan regulasi mata uang kripto. “Mengenaire - strukturisasi utang, untuk sementara masih ada beberapa ketidaksepakatan. Kami sekarang mendiskusikan utang negara global dengan pertimbangan semua kreditor publik dan swasta. Kami baru saja menyelesaikan sebuah sesi di mana terlihat jelas ada komitmen untuk menjembatani perbedaan-perbedaan demi kepentingan negara-negara,” ujar Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva kepada para wartawan setelah memimpin diskusi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) India Nirmala Sitharaman, yang dilansir Reuters pada Sabtu (25/02/2023). Sementara itu Menkeu Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan, tidak ada yang dihasilkan dari pertemuan, yang sebagian besar bersifat organisasi. (Yetede)

Setahun Perang Rusia-Ukraina Ekonomi Dunia Rugi US$ 1,6 Triliun

KT1 24 Feb 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID --Perang Rusia vs Ukraina yang Jumat (24/2/2023) ini genap setahun telah merugikan ekonomi global lebih dari US$ 1,6 triliun tahun lalu. Kerugian produksi global dapat mencapai US$ 1 triliun lagi atau lebih pada 2023 jika perang berkepanjangan. Hal itu terungkap dari hasil penelitian German Institute of Economics, seperti dilansir Anadolu Agency. Sementara itu, kalangan ekonom Indonesia menyebut bahwa perang berkepanjangan Rusia- Ukraina akan menyulut hiperinflasi yang membuat bank-bank sentral global memperlama periode bunga tinggi. Hal ini akibat berlanjutnya kenaikan harga energi dan pangan. Sedangkan Indonesia di satu sisi dituntungkan oleh kenaikan harga komoditas karena ekspor utama didominasi batu bara, CPO, dan mineral. Meskipun Indonesia juga terimbas negatif karena impor minyak. (Yetede)

Ekonomi Rusia Terkontraksi Lebih dari 10%

KT1 24 Feb 2023 Investor Daily (H)

MOSKOW, ID – Ekonomi Rusia diperkirakan terkontraksi lebih dari 10% pada 2022. Catatan ini melebihi kemerosotan yang terjadi setelah Uni Soviet runtuh dan selama krisis keuangan 1998. Ekonomi Rusia disebut terbukti tangguh dalam menghadapi sanksi-sanksi keras Barat pada tahun lalu. Meski demikian upaya mengembalikan tingkat kemakmuran ke periode sebelum konflik masih jauh dari harapan, karena pemerintah lebih banyak menggelontorkan pengeluaran untuk belanja militer. Bahkan proyeksi internal yang dibuat pasca Rusia mengirimkan pasukan ke Ukraina setahun lalu, telah memperkirakan ekonomi kontraksi lebih dari 10% pada 2022. Catatan ini melebihi kemerosotan yang terjadi setelah Uni Soviet runtuh dan selama krisis keuangan 1998. Sedangkan estimasi pertama dari badan statistik Rosstat menunjukkan kontraksi yang lebih ringan, yaitu 2,1% pada tahun lalu. “Ekonomi dan sistem pemerintahan Rusia terbukti jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan oleh Barat. Perhitungan mereka tidak terjadi,” ujar Presiden Vladimir Putin di hadapan para elit politik, militer dan bisnis Rusia minggu ini, yang dilansir Reuters pada Kamis (23/02/2023). (Yetede)

Menhub Dorong Penguatan Logistik

KT1 23 Feb 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mendorong penguatan logistik empat negara anggota Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines East Asean Growth Area (BIMP-EAGA). Hal itu dilakukan melalui kolaborasi pelabuhan-pelabuhan di negara-negara tersebut dengan pelabuhan internasional agar terjadi hubungan resiprokal yang saling menguntungkan. “Saya pikir kolaborasi dengan internasional, kerja sama dengan port-port yang ada di Spanyol, Tiongkok, itu bagus, karena barang-barang itu kalau sudah dikumpulkan di satu tempat di Eropa dan di Tiongkok, dia akan menjadi satu resiprokal dengan pelabuhan yang dimiliki Pelindo,” kata Menhub dalam Pameran dan Conference BIMP-EAGA Maritime 2023 di Jakarta, Rabu (22/02/2023). Menhub menjelaskan acara BIMPEAGA Maritime 2023 merupakan wujud kolaborasi di sektor maritim oleh empat negara untuk menjadi kekuatan logistik dunia. “Mandat dari empat action country harus berkolaborasi untuk mengimprove (meningkatkan) pelabuhanpelabuhannya  menjadi satu kekuatan tertentu yang akhirnya jadi kekuatan logistik dunia,” ujarnya. (Yetede)