;
Tags

Ekonomi Internasional

( 642 )

Ekonomi ASEAN Tetap Bersinar

KT3 14 Apr 2023 Kompas

Perekonomian ASEAN bersinar, hanya kalah dari India dan China soal pertumbuhan. ASEAN diuntungkan dengan dinamika internal dan faktor China. Hanya saja, pertumbuhan ekonomi ASEAN, khususnya lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, diperkirakan tumbuh 4,5 % pada 2023 (laporan IMF, April 2023). Ini turun dari 5,5 % pada 2022. Perkiraan Bank Pembangunan Asia (ADB), April 2023, kurang lebih serupa walau lebih optimistis. Untuk seluruh ASEAN, pertumbuhan mencapai 4,7 % pada 2023. ”Bagi banyak perekonomian Asia yang terbuka, penurunan ekonomi global punya pengaruh kuat. Ini membuat revisi pertumbuhan ASEAN menurun,” kata ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF Pierre Olivier Gourinchas pada 31 Januari 2023.

Hal itu juga menjadi faktor penilaian dalam laporan April 2024. Negara-negara seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia paling terpengaruh penurunan ekonomi global pada 2023. Singapura hanya tumbuh 1,5 % pada 2023 (ADB). Dari sisi neraca transaksi berjalan, selisih antara ekspor barang dan jasa dengan impornya, mengalami defisit. Untuk Indonesia, defisit neraca transaksi berjalan -0,3 % terhadap PDB pada 2023. Namun, untuk Indonesia, defisit itu tidak sebesar periode 2015-2019. Faktor lain adalah kawasan masih harus memerangi inflasi. Bank-bank sentral akan menaikkan suku bunga dan inflasi diperkirakan akan turun. Namun, dalam jangka pendek permintaan domestik tetap terpengaruh, membuat pertumbuhan menurun, kata Daniel Leigh, Direktur Divisi Riset IMF. (Yoga)


IMF Ingatkan Kemungkinan Ekonomi AS Hard Landing

KT1 13 Apr 2023 Investor Daily

Dana Moneter Internasional atau IMF pada Rabu (12/04) mengingatkan bahwa potensi penurunan ekonomi AS tetap ada, meskipun data-data yang sudah keluar menggembirakan. Direktur Pelaksana Pertama IMF Gita Gopinath mengatakan, IMF terkejut dengan kekuatan pasar tenaga kerja AS dan belanja konsumen. Sehingga mendorong lembaganya untuk merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk AS. Komentarnya muncul tak lama setelah data inflasi AS terbaru menunjukkan tanda-tanda penurunan.

“Jika Anda melihat data terbaru, Anda melihat beberapa tanda pelemahan. Itu memberi kita kemungkinan bahwa kita bisa menghindari resesi,” kata dia kepada CNBC, di sela Pertemuan Musim  Semi Bank Dunia-IMF di Washington, DC, AS. IMF pada Selasa (11/04) merilis laporan World Economic Outlook terbarunya, yang mana ekonomi AS diprediksi tumbuh sebesar 1,6% tahun ini, naik dari perkiraan 1% pada 2022. “Jika Anda melihat angka pertumbuhan, kami melihat angka partumbuhan yang sangat rendah untuk AS, sehingga risiko hard landing tetap ada,” kata Gopinath. (Yetede)


Ekonomi ASEAN Melemah

KT3 13 Apr 2023 Kompas

IMF menaksir kinerja perekonomian kawasan Asia Tenggara 2023 lebih lemah dibandingkan dengan 2022.Hal yang sama terjadi pada taksiran perekonomian Indonesia meski relatif lebih baik dibandingkan dengan rata-rata global. IMF merevisi pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dari 2,9 % menjadi 2,8 %. Angka tersebut di bawah pertumbuhan ekonomi global tahun lalu 3,2 %. Taksiran itu dipaparkan IMF dalam World Economic Outlook edisi April 2023 pada Selasa (11/4) malam waktu Washington atau Rabu pagi WIB. IMF menaksir ASEAN tumbuh 4,5 % saja pada 2023. Meski lebih baik dari rata-rata global, pertumbuhan ASEAN 2023 lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Pada 2022, perekonomian ASEAN tumbuh 5,5 %. Meski demikian, dalam proyeksi April 2023, IMF lebih optimistis.

Pada Januari 2023, IMF menaksir ASEAN hanya tumbuh 4,3 %. Di versi lain, taksirannya naik 0,2 %. ”Pemulihan ekonomi global sudah pada jalurnya,” kata Ekonom Kepala IMF Pierre-Olivier Gourinchas. Asia termasuk kawasan yang terus tumbuh. Pelonggaran pembatasan pandemi di China menjadi faktor penting pemulihan perekonomian global. Pelonggaran itu mengurangi gangguan rantai pasok global yang dihantam pandemi, lalu krisis akibat perang Ukraina. China dan India masih akan menjadi penyelamat ekonomi dunia. Pada tahun ini, ekonomi China dan India diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 5,2 % dan 5,9 %. (Yoga)


Kurva Phillips dan Pelajaran SVB

KT3 04 Apr 2023 Kompas (H)

Kurva Phillips adalah visualisasi hubungan terbalik antara pengangguran dan inflasi yang  ditemukan Phillips (1958) dan disempurnakan oleh Samuelson dan Solow (1960). Konsep ini menjadi pegangan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Jika perekonomian mengalami resesi, dilakukan kebijakan ekspansif. Sebaliknya, jika inflasi terlalu tinggi (overheating), perekonomian perlu diresesikan dengan menaikkan suku bunga acuan. Friedman (1967) dan Phelps (1968) kemudian berpendapat, otoritas moneter tidak dapat menggunakan begitu saja trade-off dalam kurva Phillips untuk mengelola perekonomian. Ide ini berkembang menjadi NAIRU (non-accelerating inflation rate of unemployment). Kerancuan terjadi ketika laju inflasi 2 % dijadikan dogma. Karena pandemi Covid-19, pasar tenaga kerja berubah hibrida antara di rumah dan di kantor. Konflik Ukraina-Rusia juga diiringi perang sanksi, blok sekutu Barat dan Rusia saling mengisolasi diri dari globalisasi. Selama ini skala  ekonomi dari kolaborasi berperan menurunkan ongkos produksi dan inflasi dunia. Tren deglobalisasi kian menjadi ketika hubungan AS dan China memburuk, berdampak pada rantai pasokan dunia.

Efeknya di AS adalah akselerasi inflasi dari 1,7 % pada Maret 2021 mencapai puncaknya 9,1 % pada Juni 2022. Kemudian perlahan turun ke 6 % pada Februari 2023 setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan beberapa kali sejak Juni 2022. Kenaikan suku bunga acuan The Fed yang terlalu agresif mengandung risiko tinggi. Harga aset properti anjlok 20 %. Kombinasi biaya hidup yang makin tinggi akibat pandemi dan ketegangan geopolitik membuat daya beli  masyarakat turun. Kemampuan mencicil rumah juga turun drastis. Ini berdampak pada surat berharga MBS yang menjadi bagian signifikan dari portofolio bank-bank regional di AS. Gelembung pecah ketika Silicon Valley Bank (SVB) mengalami rush. Kepanikan ini menjalar ke tiga bank regional lain,yaitu First Republic, Signature Bank, dan Silvergate. SVB selama ini menjadi system integrator antara investor dan inovator yang didominasi oleh perusahaan  rintisan (start up). Tanda-tandanya sudah terlihat dengan PHK puluhan ribu karyawan di sektor teknologi sejak akhir 2022, termasuk perusahaan teknologi yang sudah mapan. Situasi ini mendorong terjadinya masalah likuiditas di SVB. (Yoga)


Tekanan Harga-harga Masih Tinggi

KT1 03 Apr 2023 Investor Daily (H)

Laju inflasi di zona euro melambat tajam pada Maret 2023, demikian pula kenaikan harga-harga di AS mereda bulan lalu. Tapi secara faktual, angkanya masih jauh di atas target inflasi yang diharapkan oleh masing-masing bank sentral, sehingga kalangan analis menganggap bahwa tekanan harga-harga masih tinggi. Kondisi ini diharapkan membaik di bulan-bulan mendatang. Data inflasi yang dirilis kedua bank sentral pada Jumat (31/03) pekan lalu itu sedikit memberi kelonggaran bagi para pengambil kebijakan. Bank Sentral Eropa (ECB) maupun The Federal Reserve (The Fed) berusaha menyeimbangkan upaya menjinakkan inflasi dengan menaikkan suku bunga, terhadap risiko bahwa penaikan suku bunga lebih lanjut dapat mengganggu sektor perbankannya. Harga-harga konsumen naik 6,9% dibandingkan tahun lalu di zona euro. Turun dari 8,5% pada Februari 2023. Itu adalah tingkat inflasi terendah dalam setahun di zona euro dan lebih rendah dari perkiraan kalangan analis.

Di AS, tolok ukur inflasi yang disukai The Fed, yakni indeks harga belanja konsumsi pribadi atau PCE, juga melambat pada Februari. Indeks harga PCE melambat jadi 5% pada Februari dari 5,3% pada bulan sebelumnya. Kenaikan belanja tercatat pada makanan, energi dan barang konsumsi. Tetapi PCE inti, yang tidak termasuk biaya makanan dan energi, hanya sedikit melambat menjadi 4,6% pada Februari, turun dari 4,7% pada Januari. Jumat lalu, Presiden AS Joe Biden menyambut positif data inflasi tersebut. “Kami membuat kemajuan dalam perang melawan inflasi,” kata dia seperti dikutip AFP. Namun begitu, baik di zona euro maupun di AS, tingkat inflasi masih jauh di atas target 2% oleh masing-masing bank sentral. “Tekanan harga tetap tinggi untuk saat ini, meskipun akan membaik dalam beberapa bulan mendatang,” kata ekonom senior ING Bert Colijn, kepada AFP. ( Yetede)


Brexit Rugikan Irlandia dan Inggris

KT3 28 Mar 2023 Kompas (H)

Tiga tahun setelah Inggris resmi mengeluarkan diri dari Uni Eropa atau Brexit, Irlandia berusaha memperluas pasarnya. Irlandia ingin mencari negara-negara sebagai mitra dagang baru agar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Inggris. Hal itu dikemukakan Dubes Irlandia untuk Indonesia Padraig Francis dalam wawancara khusus dengan Kompas, Senin (27/3) di Jakarta. Inggris menjadi anggota Uni Eropa (UE) sejak tahun 1973. Namun, sejumlah pihak tidak yakin dengan keanggotaan tersebut. Di satu sisi, pasar tunggal UE menguntungkan, tetapi di sisi lain, mereka tidak menyukai keharusan Inggris tunduk kepada hukum UE. Melalui referendum tahun 2016, sebanyak 51,89 % warga Inggris memilih keluar dari UE. Persiapan keluar dimulai sejak 2017 hingga pada akhirnya Brexit resmi terjadi per 31 Januari 2021.

”Disrupsi ekonomi bagi Irlandia besar sekali karena selama ini Inggris mitra dagang nomor satu kami,” kata Francis. Inggris juga merupakan pusat distribusi barang dan jasa dari Irlandia  maupun komoditas dari Eropa yang hendak diserbarluaskan ke Irlandia. Francis menjelaskan, muncul tarif-tarif baru untuk ekspor dan impor dengan segala jenis birokrasi yang mengiringi. Orang-orang menjadi tidak bebas bergerak. Para pengusaha sangat terpukul. Salah satu jalan keluar yang mereka ambil ialah mencari pasar-pasar baru. Selain semakin memperkuat pasar di daratan Eropa, Irlandia melirik negara-negara di Asia sebagai mitra potensial. Di Inggris, dampak Brexit juga merugikan. Kepala Badan Pertanggungjawaban Anggaran (OBR) Richard Hughes ketika diwawancara BBC mengungkapkan, perekonomian Inggris terkontraksi 4 % akibat Brexit. Ini sama parahnya dengan kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19. (Yoga)


PERDAGANGAN-INDUSTRI Dunia dan Indonesia Makin ”Menghijau”

KT3 28 Mar 2023 Kompas

Perdagangan dan industri di dunia dan Indonesia tengah ”menghijau”. Produk-produk manufaktur ramah lingkungan marak diperdagangkan. Kluster-kluster industri hijau dirintis dan dikembangkan. Lembaga Konferensi Bidang Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) menyebutkan, total nilai perdagangan barang global pada 2022 mencapai 25 triliun USD. Dari nilai tersebut, 10,7 % atau Rp 1,9 triliun merupakan buah dari perdagangan produk-produk ramah lingkungan. Dibandingkan 2021, nilai perdagangan produk hijau itu bertambah 100 miliar USD. Beberapa produk ramah lingkungan yang menunjukkan kinerja sangat baik sepanjang 2022 itu adalah kendaraan listrik dan hibrida dengan laju pertumbuhan 25 % secara tahunan, kemasan nonplastik 20 %, dan turbin angin 10 %.

”Meskipun perdagangan barang secara umum masih tumbuh lambat, perdagangan barang ramah lingkungan justru tumbuh cukup signifikan,” sebut UNCTAD dalam ”Global Trade Update” yang dirilis pada 23 Maret 2023 di Geneva, Swiss. Sekjen UNCTAD Rebeca Grynspan menyatakan, hal itu menunjukkan komitmen dunia mengatasi perubahan iklim dan mengurangi emisi karbon cukup tinggi. Ekonomi hijau perlahan-lahan terus terbangun berbasis teknologi dan industri ramah lingkungan. Adapun dalam ”Laporan Teknologi dan Inovasi 2023: Membuka Jendela Hijau” yang dirilis pada 16 Maret 2023, UNCTAD memperkirakan industri hijau akan berkembang pesat saat negara-negara meningkatkan upaya melawan perubahan iklim dan mengurangi emisi. Pola perdagangan internasional juga diantisipasi dan bertransisi menuju ekonomi global yang lebih ramah lingkungan. (Yoga)


Krisis Bank Terbesar Kedua AS: Runtuhnya Silicon Valley Bank Akibat Kenaikan Suku Bunga dan Bank Run

fahri 21 Mar 2023 Tim Labirin

Pada hari Jumat 10 Maret, Silicon Valley Bank (SVB), bank khusus terbesar di California, mengalami kebangkrutan akibat krisis modal dan bank run. Ini merupakan kegagalan bank terbesar kedua dalam sejarah AS setelah Washington Mutual pada tahun 2008. Fenomena ini membuat Regulator California menutup bank tersebut dan menempatkannya di bawah kurator Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) AS. SVB didirikan pada tahun 1983 dan telah menyediakan pembiayaan untuk hampir setengah perusahaan teknologi dan perawatan kesehatan di AS.

Runtuhnya SVB dipicu oleh kenaikan tingkat suku bunga yang dinaikkan oleh Federal Reserve AS, sehingga mengganggu proses penggalangan dana investasi dari perusahaan startup yang merupakan klien SVB. Suku bunga yang lebih tinggi juga menyebabkan erosi nilai obligasi jangka panjang yang diperoleh SVB dan bank-bank lain selama era ultra-low interest rates pandemi COVID-19. Hal ini juga memaksa perusahaan-perusahaan startup untuk menarik dana dari SVB, sehingga SVB mengalami kerugian besar dari obligasi dan laju penarikan dana nasabah yang meningkat. SVB mencoba memperbaiki kondisi keuangan mereka dengan menjual investasi obligasi jangka panjang dan saham baru, namun hal ini menyebabkan kepanikan di antara perusahaan-perusahaan pemodal utama yang menyarankan perusahaan lain untuk menarik dana mereka dari SVB. Akibatnya, saham SVB mulai anjlok pada hari Kamis, dan pada hari Jumat, perdagangan saham SVB dihentikan.

Fenomena ini serupa dengan kejadian pada tahun 2008, dimana bisnis pendanaan subprime mortgage Lehman Brothers mengalami kerugian hingga $2,8 miliar pada Juni 2008 akibat banyaknya klien yang gagal bayar akibat krisis pada tahun tersebut. Krisis ini membuat investor mulai memiliki pandangan negatif, sehingga saham Lehman Brothers turun hingga 77% pada September 2008, dan pada 15 September 2008 Lehman Brothers menyatakan kejatuhannya dengan nilai kerugian $3,9 miliar dan sisa nilai aset hanya $1 miliar.

Sementara itu, di tahun yang sama, bank konservatif Washington Mutual (WaMu) juga mengalami kejatuhan yang serupa, terutama dalam pendanaan subprime mortgage. Saat berita kejatuhan Lehman Brothers tersebar, investor WaMu mulai panik dan melakukan penarikan dana dalam jumlah besar, sehingga pada 25 September 2008 FDIC mengambil alih situasi dan menjual WaMu pada JPMorgan Chase dengan nilai $1,9 miliar. Dalam kedua kasus tersebut, kejatuhan perbankan disebabkan oleh kegagalan dalam melakukan investasi yang menggunakan dana deposit nasabah, namun penyebabnya berbeda. Investasi Lehman Brothers dan WaMu melalui subprime mortgage gagal karena jatuhnya harga properti tahun 2007, sedangkan SVB dan Silvergate mengalami kegagalan karena kerugian investasi long-term bonds akibat kenaikan tingkat suku bunga AS.

Pola kejadian yang teridentifikasi adalah ketika investor besar melihat atau menilai hal negatif yang terjadi akibat kegagalan investasi yang dilakukan oleh perbankan, maka mereka melakukan tindakan protektif seketika dengan mengeluarkan investasi mereka. Hal ini memicu kepanikan para investor dan nasabah untuk melakukan hal yang serupa, sehingga terjadi penarikan dana secara simultan yang menjadi bola salju bank run yang berujung pada kejatuhan seperti yang dialami oleh SVB, Lehman Brothers, dan WaMu.








Menakar Efek ”Tumpahan” China

KT3 06 Mar 2023 Kompas

Setelah mengalami tekanan kuat akibat pandemi dan kebijakan nihil Covid-19 yang ketat, China bersiap bangkit dengan berhati-hati. Dalam pembukaan siding pleno Kongres Rakyat Nasional, Minggu (5/3) China mengumumkan target pertumbuhan ekonomi yang moderat, 5 % di tengah masih banyaknya tantangan struktural yang perlu dijawab, walau di bawah target pertumbuhan ekonomi China 2022, yakni 5,5 %, tetapi tetap menunjukkan peningkatan. Saat menyampaikan laporannya di Aula Besar Rakyat, Lapangan Tiananmen, Beijing, Minggu, PM China Li Keqiang mengatakan, ekonomi China ada di jalur pemulihan yang stabil setelah tiga tahun terakhir terpukul oleh pandemi serta dampak kebijakan nihil Covid-19. Akhir tahun lalu, restriksi ketat itu dicabut, membuat China jadi negara dengan ekonomi be sar terakhir yang memutuskan hidup damai dengan Covid-19.

China mengandalkan permintaan dalam negeri sebagai motor pertumbuhan ekonomi tahun ini di tengah melemahnya permintaan ekspor global. Li mengatakan, dorongan memperkuat konsumsi domestik dan investasi jadi prioritas utama China tahun ini, sementara ekspor dan impor ditargetkan tumbuh lebih moderat. Pemerintah China disebut akan mendukung ekspansi korporasi swasta dan UMKM, sambil tetap mendorong reformasi sektor publik atau usaha milik negara. Peneliti Lembaga PenyelidikanEkonomi dan Masyarakat UI, Teuku Riefky, menilai, jika pertumbuhan ekonomi China selaku mitra dagang utama Indonesia tahun ini mencapai target, Indonesia akan kebagian untung, khususnya di jalur perdagangan, akan terjadi peningkatan permintaan atas produk RI yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, produksi yang meningkat di China mendorong turunnya harga bahan baku danpenolong bagi industri RI, membuat biaya impor lebih murah dan meringankan beban pelaku industri dalam negeri. (Yoga)


Ekonomi China Melejit

KT3 02 Mar 2023 Kompas

Perekonomian China tampaknya tumbuh melejit tertinggi dalam satu decade terakhir. Akan tetapi,  situasi lesu terjadi di negara-negara Asia lainnya sebagai efek kenaikan suku bunga global. Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, Rabu (1/3) melejitnya perekonomian China terlihat dari kenaikan Purchasing Managers Index (PMI) pada Februari 2023 ke level 52,6 dari 50,1 pada Januari. Indeks di atas angka 50 pertanda perekonomian tumbuh dan itu terjadi pertama kali dalam tujuh bulan terakhir. Yang lebih menarik, indeks PMI China yang diumumkan Biro Statistik Nasional (NBS) itu adalah yang tertinggi sejak April 2012. Kenaikan indeks PMI China itu sekaligus mengakhiri kemerosotan ekonomi terburuk yang terjadi pada 2022 akibat penguncian wilayah yang meluas saat pandemi Covid-19.

”Kami memang sudah menduga akan terjadi pemulihan,” kata Julian Evans-Pritchard, Kepala Capital Economics, biro China. Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan 5,5 % pada 2023. Namun, Pemerintah China tetap perlu meluncurkan kebijakan pendukung. ”PMI yang bagus itu merupakan sinyal positif. Kami berharap pemerintah meluncurkan kebijakan untuk memperkuat pemulihan,” kata Zhou Hao, ekonom dari Guotai Junan International. Akan tetapi, kenaikan PMI China itu juga sangat dimungkinkan karena perekonomian bangkit dari titik terlemah. ”Kemungkinan PMI akan melambat lagi seiring dengan berlanjutnya pemulihan pasca-Covid,” kata Pritchard. (Yoga)