Ekonomi Internasional
( 642 )Prospek Konservatif Pertumbuhan Ekonomi
IMF merevisi ramalan pertumbuhan global dari pesimistis berhati-hati ke positif-konservatif. Prediksi pertumbuhan ekonomi dunia 2023 direvisi dari angka sebelumnya 2,7 % ke 2,9 %. Meski demikian, IMF juga tetap konservatif, dengan melakukan smoothing prediksi, pada 2023 dinaikkan, tetapi tetap konservatif di 2024 pada 3,1 %. Selain itu, inflasi di 84 % negara-negara di dunia juga diperkirakan turun dari 8,8 % pada 2022 ke 6,6 % pada 2023, dan 4,1 % pada 2024. Beberapa faktor memengaruhi perubahan prediksi ini. Pertama adalah pertumbuhanpositif AS yang mengejutkan di triwulan III dan IV 2022 masing-masing sebesar 3,2 % dan 2,9 %. Faktor penting lain adalah relaksasi kebijakan nol Covid-19 di China. Faktor terakhir adalah musim dingin yang relat ”hangat’’ di Eropa sehingga beberapa obyek wisata ski di pegununganAlpen terpaksa tutup karena hampir tidak ada salju. Sebagai konsekuensinya, harga energi global terutama gas alam dunia cenderung turun karena permintaan energi untuk kebutuhan menghangatkan rumah turun.
Menghadapi prospek resesi global 2023, IMF bertindak seperti petugas air traffic control yang membimbing pendaratan pesawat ke arah jalur udara yang aman (approach and landing phase of flight). Ide kredibel membimbing soft landing perekonomian global ini dan anjuran moderasi dalam kenaikan suku bunga global untuk memerangi inflasi mulai muncul dalam artikel Maurice Obsfeld mantan Chief Economist IMF. Ia menulis artikel dengan judul ”Central banks are raising interest rate nearly everywhere, risking a global recession”. Cara pandang di luar pakem (out of the box) ini juga muncul dalam narasi pada satu konferensi pendamping pra-pertemuan G20 di Bali. Seorang narasumber IMF mengusulkan posisi seimbang dalam mengambil kebijakan, mengendalikan ekspektasi inflasi tanpa mengganggu pertumbuhan karena dunia sedang dalam proses pemulihan dari resesi dunia akibat pandemi Covid-19. Pernyataan yang lebih eksplisit diumumkan dalam World Economic Outlook bulan Oktober 2022. Sepertiga negara-negara di dunia akan mengalami resesi, memberi sinyal dua pertiga lainnya dengan kebijakan yang tepat akan dapat menghindari resesi. Akhirnya adalah publikasi World Economic 2023 yang bernada positif-konservatif dengan merevisi pertumbuhan ke atas. (Yoga)
SINYAL CERAH BAGI PASAR
Sederet kelas aset, mulai dari saham, obligasi, hingga emas dan kripto, mengalami apresiasi harga setelah Federal Reserve memberi sinyal untuk segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga yang agresif. Dalam Rapat Komite Pasar Terbuka (FOMC) pada 1 Februari 2023 atau Kamis (2/2) waktu Indonesia, The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,5%-4,75%. The Fed memperlambat laju kenaikan dari 50 basis poin pada Desember 2022 dan 75 basis pada empat pertemuan sebelumnya. “Komite mengantisipasi bahwa kenaikan berkelanjutan dalam kisaran target akan sesuai untuk mencapai sikap kebijakan moneter yang cukup ketat guna mengembalikan inflasi menjadi 2% dari waktu ke waktu,” kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pernyataannya. Keputusan The Fed itu direspons positif oleh pelaku pasar keuangan. Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,41% ke level 6.890,57 pada perdagangan kemarin. Laju IHSG didongkrak oleh kinerja sektor teknologi dan kesehatan yang masing-masing memantul 4,48% dan 1,84%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan kenaikan suku bunga The Fed yang tidak agresif memberikan optimisme bagi investor pasar saham, meningkatkan risk appetite, sekaligus meredam risiko volatilitas di lantai bursa. Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya menyebut fokus pasar berikutnya adalah tingkat inflasi yang dalam tren turun tapi masih jauh dari target bank sentral. Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan sektor finansial yang merupakan tulang punggung IHSG menjadi yang paling diuntungkan dari kebijakan bank sentral global dan Indonesia. “Kenaikan laba sampai dua digit disebabkan oleh net interest margin yang meningkat ketika tren kenaikan suku bunga berlangsung,” paparnya.
Proyeksi Dunia Sedikit Lebih Optimistis
Memasuki tahun 2023, proyeksi pertumbuhan ekonomi global sedikit lebih optimistis kendati masih dibayangi perlambatan. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2,9 % tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di 2,7 %, yang diungkapkan pada laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2022. Dalam laporan terbarunya, World Economic Outlook Update edisi Januari 2023 yang dipublikasikan pada Selasa (31/1) IMF memprediksi, secara umum pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,4 % pada 2022 menjadi 2,9 % pada 2023, lalu naik ke 3,1 % pada 2024. Kembali dibukanya perekonomian China setelah ditutup akibat penyebaran Covid-19 diyakini akan mendorong pemulihan lebih cepat. Kondisi keuangan global juga dinilai mulai membaik dengan menurunnya inflasi serta dollar AS yang mulai turun dari level tertingginya.
Inflasi global diperkirakan turun dari 8,8 % pada 2022 menjadi 6,6 % pada 2023, lalu menjadi 4,3 % pada 2024. Kendati trennya terus menurun, proyeksi itu di atas level prapandemi Covid-19 ketika inflasi di angka 3,5 %. Laporan itu memaparkan, risiko perlambatan lain, seperti perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung serta kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral negara maju,tetap akan membawa ketidakpastian ekonomi sepanjang tahun ini. Namun, berbagai risiko itu dinilai sudah lebih reda ketimbang Oktober 2022 lalu. Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas dalam konferensi pers secara virtual, Selasa mengatakan, ekonomi global terbukti kuat menghadapi tekanan sepanjang triwulan III-2022 dengan pasar ketenagakerjaan yang tangguh, permintaan (demand) yang tetap tinggi, serta kemampuan beradaptasi yang baik dalam menyikapi krisis energi di Eropa. (Yoga)
IMF Naikkan Prospek Pertumbuhan Global 2023
SINGAPURA, ID – Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (31/1/2023) menaikkan sedikit prospek pertumbuhan global 2023. Faktor pendorongnya adalah permintaan yang sangat tangguh di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Juga penurunan biaya energi serta pembukaan kembali ekonomi Tiongkok setelah pemerintahnya mencabut kebijakan nol-Covid. Menurut IMF, tingkat pertumbuhan global masih akan turun dari 3,4% pada 2022 menjadi 2,9% pada 2023. Tetapi prakiraan Outlook Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) terbaru menunjukkan prediksi pertumbuhan itu naik dari 2,7% pada proyeksi Oktober tahun lalu. Prakiraan ini turut disertai peringatan bahwa dunia dapat dengan mudah mengarah ke resesi. Sementara untuk 2024, IMF menyatakan tingkat pertumbuhan global bakal sedikit naik menjadi 3,1% tapi angka tersebut masih sepersepuluh poin persentase di bawah perkiraan Oktober. Hal ini disebabkan dampak menyeluruh dari kenaikan suku bunga bank sentral yang curam sehingga memperlambat permintaan. (Yetede)
Meski Berkurang, Potensi Resesi Masih Terbuka
Inflasi di AS dan Uni Eropa mulai berkurang meskipun tetap tinggi. Kendati memberi harapan, penurunan itu tetap disikapi dengan hati-hati. Sejumlah pihak di AS menyebut, potensi resesi masih terbuka di negara itu. ”Mungkin pada triwulan ketiga atau keempat,” kata pemimpin Starwood Capital Group, Barry Sternlicht, kepada CNBC, Kamis (26/1). (Yoga)
Indonesia Bertahan di Tengah Krisis
Cedera dunia diperkirakan semakin dalam tahun ini dan mulai menggerogoti sisi sosial-ekonomi masyarakat. Indonesia diperkirakan dapat bertahan di tengah cedera dunia tersebut. Dalam laporan tentang Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia 2023 yang dipublikasikan pada Rabu (25/1) Lembaga Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) memperkirakan ekonomi dunia tahun ini tumbuh 1,9 %, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 3 %. Tingkat inflasi dunia diperkirakan mereda tahun ini meskipun angka dan risikonya masih tinggi. UNCTAD memproyeksikan inflasi dunia sepanjang 2022 mencapai 9 % dan pada 2023 sebesar 6,5 %. Proyeksi ekonomi makro itu mempertimbangkan serangkaian guncangan yang parah dan saling memperkuat pada 2022 yang imbasnya akan merambat pada tahun ini, yaitu pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, perubahan iklim, inflasi tinggi akibat krisis pangan dan energi, serta pengetatan suku bunga acuan dan peningkatan utang.
”Ini bukan waktunya untuk berpikir jangka pendek dan menghemat fiskal secara spontan. Jika dilakukan justru akan semakin memperburuk ketimpangan dan membuat SDGs semakin jauh dari jangkauan,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres. Kendati begitu, Indonesia diperkirakan dapat bertahan menghadapi imbas krisis ekonomi global pada tahun ini. UNCTAD memperkirakan, ekonomi Indonesia akan tumbuh melambat menjadi 5 % pada 2023 setelah tumbuh 5,3 % pada 2022. Tingkat inflasi Indonesia pada 2023 diperkirakan 5,5 %. Tingkat inflasi itu akan kembali pada kisaran target bank sentral pada 2024. Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri(Persero)Tbk Dendi Ramdani menuturkan, kinerja ekspor Indonesia tahun ini masih tertopang harga komoditas yang relative tinggi dan perbaikan permintaan di China. Namun, agar tidak hanya dinikmati segelintir orang, pemerintah perlu memastikan agar buah dari ekspor itu dapat memberikan trickle down effect (tetesan ekonomi) yang optimal ke masyarakat bawah. (Yoga)
Ada Optimisme dari Forum Ekonomi Dunia
Forum Ekonomi Dunia semakin tak relevan, demikian sindiran CNN, 16 Januari 2023. Namun, lebih tepatnya semboyan America First yang sangat tidak relevan. Para pakar Center for Strategic and International Studies (CSIS) AS sendiri mengernyit saat mendengar pertama kali America First diusung Presiden Donald Trump. Lebih tak relevan lagi ialah langkah AS di bawah Biden yang mengupayakan unilateralisme AS dalam geopolitik, serta upaya Biden membentuk Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik atau Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) untuk melakukan decoupling ekonomi global. Di balik semua upaya AS itu, untunglah perekonomian dunia tidak mengalami decoupling. Perdagangan dunia mencapai 32 triliun USD sepanjang 2022 saat dunia diwarnai isu pertarungan keras geopolitik, invasi Rusia, dan perang cip. Perdagangan tetap dinamis dan meningkat dari 28,5 triliun USD pada 2021 berdasarkan laporan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD), 17 Februari 2021. Mekanisme pasar tetap jalan di tengah hiruk-pikuk global. Korporasi global tetap bisa mengelakkan berbagai hambatan dalam perdagangan global. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyerukan agar korporasi global terus mendorong perdagangan. Senada dengan itu, tidak semua pihak di AS sepakat dengan decoupling.
Kepala Perwakilan Dagang AS, Katherine Tai mengingatkan, rezim perdagangan global hanya butuh sentuhan baru. Ini menunjukkan AS tidak seragam soal isu decoupling. Itulah suara-suara yang bermunculan dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF), 16-20 Januari 2023, yang juga dihadiri Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Bahwa Uni Eropa (UE) tetap ingin mendorong globalisasi. Sebab, menurut Dirjen WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, asas multilateral tetap lebih penting. Hal itu akan melancarkan urusan perdagangan dan investasi global. ”Jika tidak ada sistem multilateral, perdagangan dunia bisa anjlok 5 %,” kata Okonjo-Iweala di WEF, 21 Januari 2023. Untuk mendorong multilateralisme, Ketua WEF Klaus Schwab, yang juga pendiri WEF pada 1971, mengatakan bahwa tema WEF tahun ini adalah ”kerja sama di tengah dunia yang mengalami perpecahan”. Dengan demikian, seruan-seruan WEF tetap relevan. Untunglah, perdagangan global dan aliran investasi tetap jalan, tidak terhambat decoupling. Maka, Georgieva tetap optimistis bahwa ekonomi global tidak akan menghadapi resesi parah, hanya mengalami penurunan pertumbuhan. ”Sikap saling memahami adalah syarat untuk kerja sama internasional,” demikian seruan Wakil Perdana Menteri China Liu He di WEF, 17 Januari 2023. (Yoga)
TANTANGAN EKONOMI Simpul Gordian
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, di Davos, Swiss, Senin (16/1) mengawali acara tahunan WEF dengan Simpul Gordian, sebuah legenda Frigia dimana Simpul Gordian merupakan beberapa simpul tali yang saling terikat erat yang susah dibuat dan tak mudah dilepas. Simpul Gordian jadi gambaran situasi dunia yang penuh ketidakpastian saat ini. Ekonomi global tengah menghadapi meningkatnya risiko perpecahan yang dipicu konflik dagang AS-China dan perang Rusia-Ukraina. Fragmentasi itu muncul dalam bentuk pembatasan perdagangan, hambatan penyebaran teknologi, pembatasan lintas sektor yang memicu berkurangnya aliran modal, dan penurunan kerja sama internasional. Dalam skenario terbatas, fragmentasi perdagangan global bisa menyebabkan 0,2 % PDB global hilang. Dalam skenario parah, dunia akan kehilangan 7 % PDB. IMF mengajak para pembuat kebijakan dan pimpinan bisnis yang menghadiri WEF memecahkan tantangan Simpul Gordian dalam konteks terkini melalui pemikiran dengan sudat pandang berbeda (out of the box), yang kreatif, tegas, dan membangun.
Meski diperkirakan tak berdampak besar, rambatan Simpul Gordian dunia akan memengaruhi perlambatan ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terdepresiasi, inflasi tinggi, dan pasar utama ekspor melemah sehingga berujung PHK di sejumlah industri padat karya berbasis ekspor. Terbaru, pada 16 Januari 2023, BPS merilis, inflasi tinggi imbas kenaikan harga pangan dan energi menyebabkan garis kemiskinan (GK) naik dari 9,54 % penduduk pada Maret 2022 menjadi 9,57 % pada September 2022, yang menunjukkan RI punya Simpul Gordian sendiri yang perlu dipecahkan. Sejumlah langkah telah dilakukan pemerintah dan otoritas untuk mengatasi Simpul Gordian itu, seperti menaikkan suku bunga acuan, menambah cadangan devisa melalui devisa hasil ekspor, mencari pasar ekspor baru, memberikan jaring pengaman sosial, dan melanjutkan restrukturisasi kredit di sejumlah sektor. (Yoga)
Wamenkeu: Peringatan IMF 'Sepertiga Dunia Akan Resesi' Itu Serius
Dunia tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja tahun ini. Di hari pertama 2023, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan, kontraksi ekonomi tiga kekuatan besar ekonomi dunia—AS, Tiongkok, dan Uni Eropa—bakal menyeret sepertiga ekonomi dunia masuk ke jurang resesi pada tahun ini. Pekan lalu, Bank Dunia pun memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2023 menjadi 1,7%, turun hampir setengah dari estimasi yang disusun enam bulan lalu di angka 3%. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menilai, pesan dua lembaga multilateral itu sebagai peringatan yang serius dan perlu diantisipasi. “Kalau IMF mengatakan, 'Sepertiga dunia akan resesi’, pasti (target pertumbuhan ekonomi 5,3%) akan berubah. Di dalam implementasi pasti akan ada dampaknya ke Indonesia. Seberapa besar? Kita minimalkan. Tapi, statment IMF itu serius,” tegas Wamenkeu dalam wawancara khusus dengan wartawan Investor Daily Nasori dan Triyan Pangastuti di kantornya, Kamis (12/01/2023). (Yetede)
Krisis Biaya Hidup Jadi Risiko
Krisis biaya hidup merupakan risiko terbesar yang akan mendominasi dunia selama dua tahun ke depan dipicu peningkatan pengeluaran rumah tangga akibat kenaikan harga pangan dan energi, serta belum pulihnya daya beli masyarakat selama pandemi Covid-19. Risiko krisis itu tak hanya terjadi di beberapa negara maju, tetapi juga di sejumlah negara berpenghasilan menengah dan rendah. Negara-negara itu antara lain Kanada, Inggris, UEA, Arab Saudi, Qatar, Bostwana, Pantai Gading, Kamerun, Kostarika, Yunani, Israel, dan Malaysia. Adapun Indonesia, lima besar risiko yang harus dihadapi adalah krisis utang, konflik kepentingan, kenaikan tingkat inflasi, ketimpangan digital, dan kontestasi geopolitik. Poin-poin itu mengemuka dalam Laporan Risiko Global Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2023 yang dirilis di Geneva, Swiss, pada 11 Januari 2023 Dalam laporan itu, WEF menyebutkan, risiko global itu muncul lantaran pandemi Covid-19 masih berlanjut di beberapa negara, perang Rusia-Ukraina, dan ketegangan ekonomi sejumlah negara.
Konflik geopolitik dan ketegangan ekonomi ini memicu krisis rantai pasok pangan dan energi, inflasi, dan keamanan. Hal itu menciptakan risiko lanjutan yang akan mendominasi dua tahun ke depan, seperti resesi, utang, dan krisis biaya hidup. Situasi itu menunjukkan pandemi dan konflik geopolitik menyebabkan rangkaian risiko global yang saling berhubungan. Krisis berpotensi merusak upaya mengatasi risiko jangka panjang terkait perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan SDM. ”Dalam menghadapi krisis itu, masyarakat paling rentan sedang menderita. Masyarakat yang masuk kategori rentan juga bertambah banyak, baik di negara maju maupun miskin. Setiap negara diharapkan meningkatkan daya tahan terhadap berbagai guncangan di sejumlah sektor ekonomi dan kehidupan tersebut,” tutur Managing Director WEF Saadia Zahidi melalui siaran pers. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022 -
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022









