;

RI Perlu Berjaga-jaga

Ekonomi Yoga 12 Jan 2023 Kompas
RI Perlu
Berjaga-jaga

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia 2023 turun tajam menjadi 1,7 % dari semula 3 %. Meski demikian, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh positif 4,8 %. Untuk menjaga ekonomi domestik dari efek tekanan global, fleksibilitas pengelolaan fiskal dibutuhkan di tengah berlanjutnya tren pengetatan moneter. Laporan Global Economic Prospects edisi Januari 2023 yang dirilis Bank Dunia, Selasa (10/1) menilai, risiko resesi global akan makin nyata tahun ini. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2023 pun dipangkas dari proyeksi laporan sebelumnya pada Juni 2022 sebesar 3 % menjadi 1,7 %. Jika terjadi, ini akan menjadi pertama kalinya dalam 80 tahun terakhir dunia mengalami resesi dua kali dalam satu dekade. Inflasi yang meroket, kenaikan suku bunga tinggi, laju investasi yang merosot, dan disrupsi ekonomi akibat invasi Rusia ke Ukraina menambah risiko pelambatan. Untuk saat ini, ekonomi negara maju terkena imbas pelambatan paling signifikan, dengan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga 95 %. Pelambatan di negara berkembang diyakini tidak sedrastis di negara maju, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas 70 %. Namun, dampak yang dirasakan bakal lebih panjang.

Pada akhir 2024, level pertumbuhan ekonomi negara berkembang diperkirakan berada 6 % di bawah kondisi prapandemi, meski kondisi ekonomi global pada titik itu diperkirakan mulai membaik. ”Negara berkembang akan menghadapi pelambatan ekonomi yang panjang akibat beban utang dan investasi yang melemah. Apalagi, aliran modal global akan lebih banyak terserap ke negara maju yang juga sedang menghadapi krisis kenaikan suku bunga dan beban utang tinggi,” kata Presiden World Bank Group David Malpass dalam keterangannya, dikutip pada Rabu (11/1). Di tengah gejolak itu, Indonesia masih diyakini tumbuh positif di level 4,8 %, sama dengan proyeksi versi Desember 2022, meski melambat dari proyeksi versi Juni 2022, yaitu 5,2 %. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, membenarkan, daya tahan ekonomi Indonesia terhitung kuat, khususnya selama konsumsi rumah tangga bisa terus terjaga. Namun, potensi efek pelambatan ekonomi global itu tetap perlu diwaspadai. Pertama, kenaikan inflasi bisa berlanjut di dalam negeri akibat efek tingginya inflasi di AS. Kebijakan pengetatan moneter AS untuk mengontrol inflasi di negara itu akan berdampak pada kenaikan suku bunga acuan oleh BI. Selain itu, lesunya ekonomi C ina selaku mitra dagang utama Indonesia akan berdampak pada penurunan kinerja ekspor serta melandainya harga komoditas yang selama ini memberi ”keuntungan” bagi perekonomian Indonesia. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :