;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Fenomena Jaring Laba-laba

KT3 15 Nov 2022 Kompas (H)

Inflasi tahunan di AS menurun signifikan dari 8,5 ke 8,2 % di bulan Agustus dan September ke 7,7 % di bulan Oktober. Sementara itu, inflasi di zona Euro belum ada tanda-tanda mereda. Inflasi bulan Oktober tercatat 10,7 %, lebih tinggi dari 9,9 % pada bulan sebelumnya. Inflasi di Inggris pada September 10,1 %,  tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Tekanan inflasi yang berbeda-beda ini terjadi karena interaksi yang berbeda antara sisi permintaan dan produksi, yang dinamikanya secara grafis dapat digambarkan dengan diagram yang mirip jaring laba-laba (Cobweb).

Prediksi dari model Cobweb adalah jika ekspektasi inflasi merupakan insentif bagi kenaikan produksi karena harga sisi permintaan yang lebih tinggi, maka tekanan inflasi akan mereda. Sebaliknya jika inflasi meningkatkan biaya produksi lebih cepat dan kenaikan harga sisi permintaan lebih lambat dari kenaikan biaya produksi, maka sebagai akibatnya inflasi akan semakin tinggi dan eksplosif bahkan mungkin sekali menjadi hiperinflasi jika tidak ditangani dengan baik

Fenomena Cobweb juga terlihat pada tingkat mikro di mana beberapa komoditas seperti cabai merah,  bawang merah, dan daging ayam yang bulan sebelumnya menjadi penyumbang inflasi sekarang justru menjadi penyumbang deflasi. Tampaknya jaringan pasokannya merespons kenaikan harga dengan  meningkatan pasokan. Kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 50 poin bukanlah point to point matchup dengan The Fed, tetapi lebih diarahkan untuk pengendalian ekspektasi inflasi dan tidak memberatkan pertumbuhan. Secara umum, pertumbuhan tahunan 5,72 % pada triwulan 3-2022 juga turut mendukung fenomena Cobwe. (Yoga)


Terang Indonesia di Tengah Prospek Suram Ekonomi Dunia

KT3 11 Nov 2022 Kompas (H)

Presidensi G20 Indonesia terselenggara di tengah suramnya prospek ekonomi dunia. Meski telah pulih dari pandemi Covid-19, negeri ini masih berhadapan dengan berbagai permasalahan dunia yang menantang. Kombinasi tiga guncangan yang terjadi di luar kelaziman membayangi prospek pemulihan. Pertama, berlanjutnya kebijakan nol Covid di China. Kebijakan China yang terus menerapkan pengujian Covid-19 secara masif serta penguncian wilayah secara berkala menggerus kepercayaan konsumen dan investasi. Kedua, sangat persistennya inflasi. Dislokasi rantai pasokan dan kenaikan harga komoditas menjadi masalah. Selain itu, banyak negara juga menjalankan kebijakan fiskal ekspansif, melakukan pembiayaan melalui utang guna menopang konsumsi rumah tangga saat pandemi. Ketiga, invasi Rusia ke Ukraina. Perang yang memicu kenaikan harga makanan, pupuk, dan energi di dunia memperburuk inflasi.

Masing-masing dari tiga faktor itu memengaruhi tiga ekonomi utama dunia. Di AS, kebijakan kenaikan suku bunga untuk menurunkan inflasi meningkatkan risiko resesi. DiChina, pembukaan kembali ekonomi secara lambat merusak kepercayaan masyarakat pada perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Di Eropa, krisis energi menekan rumah tangga dan membebani pertumbuhan. Kombinasi semuanya sangat mungkin menjadikan 2023 lebih sulit ketimbang 2022. Sedang di Indonesia, perekonomian RI pulih dengan baik. Pertumbuhan mulai kembali pada tahun lalu, dan tahun ini perekonomian berjalan baik. Pertumbuhan semester I-2022 tercatat 5,2 % (year on year/yoy). Pertumbuhan sebesar ini cukup kuat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Ekspor juga kuat. Hal ini mengesankan, mengingat pertumbuhan melambat di dua mitra dagang utama Indonesia: AS dan China.

Namun, sebagai negara dengan perekonomian terbuka, masalah dunia akan memengaruhi Indonesia.  IMF memperkirakan inflasi Indonesia 7,2 % (yoy) tahun ini, lebih rendah daripada banyak negara lain. Selain itu, meski di banyak negara lain inflasi didorong secara domestik, inflasi Indonesia sebagian besar dari luar negeri, inflasi yang diimpor. Penyebab utamanya, kenaikan harga komoditas akibat  pertumbuhan yang kuat tahun lalu dan invasi Rusia ke Ukraina. Bidang lain untuk melihat efek dari ekonomi global yang lemah ialah nilai tukar. Januari 2022, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ialah Rp 14.266. Per November, rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 15.698. Namun, depresiasi rupiah relatif rendah. Contohnya, di periode itu, pound sterling melemah 14,4 % terhadap dollar AS. Dengan kinerja rupiah lebih baik, RI mengalami tekanan inflasi impor lebih moderat. (Yoga)


Selamat Datang Generasi Alfa

KT3 07 Nov 2022 Kompas

Belum selesai membahas generasi Y dan Z, kita sudah harus mengamati kehadiran generasi Alfa. Mereka tentu belum masuk ke dunia kerja karena lahir antara 2011 dan 2025. Namun, sudah mulai  masuk ke pasar sebagai konsumen. Mark McCrindle, pendiri perusahaan konsultasi tentang generasi di Australia bernama McCrindle, mendefinisikan generasi Alfa sebagai generasi yang paling berlimpah materi, paling paham teknologi yang pernah ada, dan menikmati usia hidup yang lebih lama daripada generasi sebelumnya. Tambahan lain, mereka akan mengenyam pendidikan lebih lama, mulai mendapatkan penghasilan bertahun-tahun kemudian, dan tinggal di rumah bersama orangtua lebih lama daripada generasi Y dan Z. Kemungkinan besar generasi ini akan tinggal di rumah hingga akhir usia 20-an.

Meski ada perdebatan soal kriteria itu, kita melihat kenyataan bahwa generasi ini sejak lahir sudah mengenal perangkat teknologi digital, terbiasa mengakses internet serta terpapar berbagai kultur, nilai, dan budaya. Mereka merupakan pasar masa depan dunia bisnis. Menurut Direktur Pemasaran MarketerHire Tracey Wallace dalam salah satu tulisannya, jutaan anggota generasi Alfa akan lahir, sementara generasi  mereka sudah berjumlah 2,2 miliar pada 2024. Saat ini mereka adalah kelompok di bawah usia 12 tahun yang pada 2030 akan menjadi 11 % angkatan kerja. Untuk itu, pemilik merek perlu paham siapa generasi Alfa. Semua ciri yang melekat jadi bahan prediksi tentang bagaimana kelompok ini akan berbelanja, bekerja, dan lain- lain. Pengeluaran orangtua tak sedikit didorong oleh keinginan anak. Dalam konteks ini, generasi Alfa akan menjadi salah satu faktor penentu pengeluaran rumah tangga. Merek perlu kreatif membuat dan memasarkan produk dengan mengingat karakter mereka. (Yoga)


BoE: Inggris Akan Resesi 2 Tahun

KT3 04 Nov 2022 Investor daily

Bank of England (BoE) menaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) pada Kamis (3/11). Penaikan tunggal terbesarnya sejak 1989 ini disertai peringatan bahwa Inggris sudah resesi dan akan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Pengetatan moneter oleh bank sentral guna memerangi inflasi, kata BoE, mendorong Inggris ke dalam resesi yang akan berlangsung hingga pertengahan 2024. Risalah pertemuan BoE juga mengingatkan prospek yang menantang bagi ekonomi Inggris hingga diperkirakan berada dalam resesi untuk waktu yang lama. “Ekonomi telah menyusut sejak kuartal ketiga, (dan sekarang sudah) memasuki resesi teknikal yang diperkirakan akan berlangsung hingga paruh pertama tahun 2024,” kata BoE. Nilai tukar pound jatuh 2% terhadap dolar AS karena ekspektasi resesi jangka panjang.

“Perdagangan yang normal tidak terjadi karena mata uang biasanya bergerak lebih tinggi ketika bank sentral menaikkan suku bunga. Masa-masa sulit ada di depan, dan kita akan melihat ekonomi, pasar, dan penurunan mata uang dalam beberapa bulan mendatang.,” kata Naeem Aslam, kepala analis pasar di Avatrade, seperti dikutip AFP. Sebagai informasi, The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (9/11) menyetujui kenaikan tiga kuartal empat poin berturut-turut dan membawa tingkat pinjaman jangka pendek ke kisaran target 3,75% -4%. Ini adalah level tertingginya sejak Januari 2008. Sedangkan pekan lalu, Bank Sentral Eropa (ECB) juga menaikkan 75 basis poinda membuat acuan suku bunga menjadi 1,5%, yang mana ini merupakan level luar biasanya sejak 2009. Penaikkan 75 bps membawa suku bunga bank (bank rate) BoE menjadi 3% dan merupakan penaikkan kedelapan berturut-turut atas suku bunga pinjaman utama, setelah Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) memberikan suara 7-2 mendukung. (Yoga)


Jepang Gelontorkan Stimulus US$ 260 M untuk Lindungi Ekonomi

KT3 29 Oct 2022 Investor daily

PM Fumio Kishida mengumumkan pada Jumat (28/10) bahwa Jepang akan menggelontorkan paket stimulus US$ 260 miliar untuk melindungi perekonomian Negeri Matahari Terbit dari dampak inflasi dan pelemahan yen. Tetapi, Bank of Japan (BoJ) masih menolak bergerak dari kebijakan sangat longgar yang telah memukul mata uang Jepang tahun ini, dan menghilangkan nilai tukarnya terhadap dolar AS lebih dari 20%. Usai para menteri menyetujui anggaran tambahan untuk mendanai sebagian langkah-langkah bantuan, Kishida mengatakan bahwa pemerintah berharap belanja fiskal 39 triliun yen akan meningkat menjadi 72 triliun ketika investasi sektor swasta diperhitungkan. “Kami ingin melindungi mata pencaharian, pekerjaan dan bisnis masyarakat, sambil memperkuat ekonomi kami untuk masa depan,” ujar dia kepada awak media, yang dilansir AFP. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut membantu mendorong PDB sebesar 4,6%.

Sebagai informasi, harga-harga di Jepang sudah mengalami kenaikan dalam laju tercepatnya dalam delapan tahun. Padahal tingkat inflasi 3%, jauh di bawah AS dan di tempat lain. Jepang tercatat mempunyai salah satu rasio utang terhadap PDB tertinggi di dunia, telah menyuntikkan ratusan miliar dolar ke dalam ekonominya selama dua tahun terakhir guna membantu pemulihan dari pandemi Covid-19. Menurut laporan, paket stimulus yang diluncurkan Jumat, didanai dari anggaran khusus sebesar US$ 200 miliar dan akan mencakup langkah-langkah untuk mendorong pertumbuhan upah, juga membantu rumah tangga mengatasi tagihan energi, yang telah melonjak sejak invasi Rusia ke Ukraina. “Kami bertujuan menekan harga lebih dari 1,2% untuk tahun depan dengan menurunkan tagihan listrik sebesar 20% dan membatasi harga bensin,” tambah Kishida. Paket stimulus itu juga dirancang untuk membantu orang dan bisnis yang terkena dampak penurunan yen, yang saat ini di kisaran 147 per dolar. (Yoga)


Triwulan Tiga, Ekonomi AS Tumbuh 2,6%

KT3 28 Oct 2022 Investor daily

Kekhawatiran inflasi di AS diharapkan mereda setelah ekonomi mencatatkan kenaikan pertumbuhan pada kuartal ketiga 2022. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan pada Kamis (27/10) PDB periode Juli hingga September 2022 naik 2,6% dibandingkan tahun sebelummnya. Melebihi perkiraan Dow Jones yang sebesar 2,3%. Ekspansi ini membalikkan koreksi dua kuartal berturut-turut, yang sebetulnya memenuhi definisi resesi teknikal tapi belum menurut Biro Riset Ekonomi Nasional. Pertumbuhan pada kuartal III sebagian besar didorong penurunan defisit perdagangan, yang diperkirakan oleh para ekonom sebagai kejadian satu kali yang tidak akan terulang di kuartal mendatang. Peningkatan PDB itu juga berasal dari peningkatan belanja konsumen, investasi tetap non-perumahan, dan belanja pemerintah.

“Secara keseluruhan, rebound sementara 2,6% pada kuartal ketiga lebih dari sekedar membalikkan penurunan pada paruh pertama tahun ini, tapi kami perkirakan tidak bertahan lama,” kata Paul Ashworth, kepala ekonom Capital Economics untuk Amerika Utara, seperti dikutip CNBC. Menurut dia, ekspor akan segera menurun dan permintaan domestik semakin tertekan karena beban suku bunga tinggi. Laporan PDB itu keluar saat otoritas AS berjuang melawan inflasi, tertinggi dalam 40 tahun. Laporan BEA menunjukkan ekonomi melambat di sektor-sektor utama, terutama belanja konsumen dan investasi swasta. Belanja konsumen hanya naik 1,4% pada kuartal tersebut dan turun dari 2% pada kuartal II. Sedangkan investasi domestik swasta turun 8,5%, melanjutkan tren penurunan setelah jatuh 14,1% pada kuartal kedua. Sisi positifnya, ekspor naik 14,4% sementara impor turun 6,9%. (Yoga)


INGGRIS, PM Sunak Utamakan Pemulihan Ekonomi

KT3 26 Oct 2022 Kompas (H)

Rishi Sunak resmi dilantik menjadi PM Inggris oleh RajaCharles III di Istana Buckingham, Selasa (25/10). Meskipun dia etnis minoritas pertama yang menjabat kepala pemerintahan, masyarakat menanti terobosan yang akan dilakukan menkeu periode 2020-2022 itu. Sunak berjanji memperbaiki kesalahan pendahulunya, Liz Truss, yang hanya memerintah selama 44 hari. Setelah diambil sumpah oleh Raja, Sunak menggelar jumpa pers di depan Downing Street Nomor 10, kediaman resmi PM Inggris. Ia berterima kasih kepada Truss yang mengalahkan dia dalam pemilihan ketua Partai Konservatif atau biasa disebut Tory, Juli lalu. Namun, ia juga mengkritisi pemerintahan Truss. ”Saya memahami niat mulia Liz untuk memulihkan ekonomi ketika dunia sedang dilanda krisis akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina. Akan tetapi, kita harus mengakui ada kesalahan yang telah dilakukan,” ujarnya. Sunak mengacu pada kebijakan ekonomi Truss yang memotong pajak hingga 45 %.  Selain hanya menguntungkan pengusaha besar, keputusan ini membuat ekonomi Inggris kian terpuruk. Pemerintahan Truss dikabarkan tidak memiliki rencana mengganti pendapatan negara yang hilang akibat pemotongan pajak itu. Akibatnya, hanya dalam kurang dari dua bulan, Inggris kehilangan 65 miliar pound sterling.

Dalam debat memperebutkan kepemimpinan Tory, yang disiarkan salah satunya oleh Sky News, Sunak telah mengungkapkan bahwa pemotongan pajak adalah rencana yang tidak masuk akal. ”Inflasi membuat harga semua komoditas melonjak. Kita tidak bisa memotong pajak untuk menyelesaikan persoalan karena teori menyuruh rakyat semakin banyak berbelanja sementara pajak dikurangi selama inflasi itu dongeng belaka,” tuturnya. Sunak mengingatkan, dalam sambutan pertamanya sebagai PM, bahwa pemulihan ekonomi tetap menjadi agenda utama  pemerintah. Ini berarti rakyat harus siap saat pemerintah mengambil keputusan-keputusan yang sulit. Meski demikian, ia mengingatkan, masyarakat telah menyaksikan kiprahnya sebagai menkeu selama pandemic Covid-19 dengan berbagai skema bantuan untuk rakyat. ”Saya tidak akan meninggalkan utang yang harus ditanggung generasi mendatang, yaitu anak dan cucu kita. Saya akan bekerja keras demi kepercayaan Anda,” janjinya. (Yoga)


Jerman Menuju Resesi

KT3 25 Oct 2022 Investor Daily

Jerman semakin dekat menuju resesi ekonomi. Setelah hasil survei manufaktur yang dirilis Senin (24/10) menunjukkan kontraksi di sektor manufaktur zona euro semakin dalam. “Tanda-tandanya semakin kuat negara ekonomi terbesar zona euro ini menuju resesi,” kata S&P Global Market Intelligence saat merilis indeks pembelian para manajer atau PMI zona euro untuk Oktober 2022, seperti dikutip AFP. PMI zona euro pada Oktober 2022 turun menjadi 47,1 dari 48,1 bulan sebelumnya. PMI tersebut sudah empat bulan berturut-turut turun dan mencatatkan penurunan tercepat dalam dua tahun terakhir disebabkan  lonjakan inflasi serta kenaikan tajam harga energi. Pada saat yang sama, PMI Jerman turun menjadi 44,1 dari 45,7 pada September 2022. Angka ini PMI ini bila menunjukkan angka di bawah 50 berarti mengisyaratkan kontraksi ekonomi.

Penurunan kegiatan ekonomi di zona euro juga terdampak oleh perang Rusia di Ukraina. Yang sudah berlangsung delapan bulan dan telah merusak pasokan energi ke Eropa. Angka PMI Jerman itu dilaporkan adalah yang terendah sejak masa-masa penutupan kegiatan usaha akibat pandemi Covid-19. Penurunan kegiatan ekonomi di Jerman itu juga dialami oleh sektor barang dan jasa. Walaupun belum berdampak ke pasar tenaga kerja. Sebelumnya hasil sur vei terpisah menunjukkan bahwa para pengusaha di Jerman sangat pesimistis melihat prospek bisnis satu tahun ke depan. “Resesi zona euro semakin tidak terhindarkan. Krisis energi yang me[1]nimpa kawasan ini tetap menjadi sumber kecemasan besar dan menyeret turun kegiatan ekonomi, khususnya di sektor-sektor padat energi,” kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis S&P Global Market Intelligence. (Yoga)


Indonesia di Tengah Ancaman Resesi Global

KT3 25 Oct 2022 Tempo

Saat ini dunia dibayangi ancaman risiko resesi global. Bank Dunia telah melansir peringatan atas risiko tersebut dengan mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022, dari 4,1 % menjadi 2,0 %. Hal serupa dilakukan oleh IMF yang mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022, dari 3,6 % menjadi 3,2 %. Ancaman itu kini semakin nyata, contohnya, inflasi Argentina Agustus 2022 meroket menjadi 78,5 % dan nilai tukar mata uangnya melemah 47 % sepanjang tahun ini. Hal ini memaksa pemerintah Argentina meminta bantuan likuiditas kepada IMF sebesar US$ 44 miliar. Risiko resesi global dan ancaman stagflasi (inflasi tinggi serta laju perekonomian rendah) tersebut tidak hanya timbul akibat pandemi Covid-19 dan gangguan rantai pasok global akibat perang Rusia versus Ukraina, tapi juga dipicu kebijakan moneter bank sentral negara maju, terutama bank sentral AS, The Fed, yang meningkatkan suku bunga acuannya. Kebijakan tersebut direspons oleh bank sentral negara lain dengan turut meningkatkan suku bunga acuannya. Hal tersebut bertujuan agar selisih suku bunga tidak terlalu besar, yang dapat memicu arus keluar modal asing.

Sepanjang tahun ini, The Fed telah meningkatkan suku bunga acuannya dengan agresif sebesar 300 basis poin menjadi 3,08 %. Hal ini berdampak pada arus keluar modal asing dari Indonesia sebanyak US$ 2,05 miliar pada Juli lalu. Kondisi tersebut tentu akan menyebabkan tekanan pada nilai tukar rupiah dan cadangan devisa negara. Apabila kondisi ini terus berlanjut, hal itu dapat meningkatkan risiko likuiditas di pasar uang Indonesia. Kondisi likuiditas diukur dengan rasio keuangan, antara lain rasio kecukupan likuiditas (LCR), yang menggambarkan kemampuan industri perbankan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. LCR didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah aset likuid berkualitas tinggi dan jumlah kewajiban jangka pendek. Berdasarkan data OJK, LCR perbankan Indonesia tercatat sebesar 257,79 % dengan jumlah aset likuid sebesar Rp 2.585 triliun, jauh lebih tinggi dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia yang sebesar 154 persen, Thailand 186,8 persen, dan Filipina 200,6 persen. Kondisi ini menumbuhkan optimisme bahwa sistem keuangan perbankan Indonesia memiliki buffer likuiditas yang kuat dan memadai dalam menghadapi krisis keuangan atau resesi di masa mendatang dibanding negara lain di Asia Tenggara. (Yoga)


Ekspor Dipacu meski Ekonomi Melambat

KT3 21 Oct 2022 Kompas

Pemerintah terus berupaya mendongkrak ekspor, antara lain, melalui pameran perdagangan dan misi dagang yang membuahkan kontrak bisnis. Di sisi lain, pelaku industri tengah tertekan kenaikan inflasi dan suku bunga, serta depresiasi rupiah. Pada penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2022, Kemendag telah memfasilitasi 100 kontrak dagang pelaku usaha nasional dengan para pembeli dari 14 negara. Total nilai transaksi kesepakatan dagang pada hari pertama pameran perdagangan itu mencapai 1,19 miliar USD atau Rp 18,45 triliun. Ke-14 negara itu adalah Jepang, Malaysia, Belanda, Arab Saudi, Italia, Inggris, AS, Australia, Brasil, Spanyol, Jerman, Bangladesh dan Filipina. Komoditas yang diminati, antara lain, produk makanan dan minuman, perikanan, kertas, cangkang kelapa sawit, obat-obatan,  sayuran, briket, gula aren, kopi, furnitur, produk kecantikan, rempah-rempah, produk kayu, dan ban kendaraan bermotor.

Mendag Zulkifli Hasan, Kamis (20/10) mengatakan, penandatanganan 100  kesepakatan dagang tersebut menunjukkan antusiasme mitra dagang Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi, mereka tetap percaya dan berupaya memperkuat perdagangan untuk  memulihkan ekonomi global. TEI 2022 digelar secara luring pada 19-23 Oktober 2022 di Indonesia Convention Exhibition BSD City, Tangerang, Banten, dan daring pada 19 Oktober-19 Desember 2022. Pameran perdagangan itu diikuti 795 pelaku usaha dan dihadiri 2.288 pembeli potensial dari 176 negara. Transaksi ditargetkan mencapai 10 miliar USD atau meningkat 65 % realisasi transaksi TEI 2021 yaitu 6,1 miliar USD. (Yoga)