;

Indonesia di Tengah Ancaman Resesi Global

Ekonomi Yoga 25 Oct 2022 Tempo
Indonesia di Tengah Ancaman Resesi Global

Saat ini dunia dibayangi ancaman risiko resesi global. Bank Dunia telah melansir peringatan atas risiko tersebut dengan mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022, dari 4,1 % menjadi 2,0 %. Hal serupa dilakukan oleh IMF yang mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022, dari 3,6 % menjadi 3,2 %. Ancaman itu kini semakin nyata, contohnya, inflasi Argentina Agustus 2022 meroket menjadi 78,5 % dan nilai tukar mata uangnya melemah 47 % sepanjang tahun ini. Hal ini memaksa pemerintah Argentina meminta bantuan likuiditas kepada IMF sebesar US$ 44 miliar. Risiko resesi global dan ancaman stagflasi (inflasi tinggi serta laju perekonomian rendah) tersebut tidak hanya timbul akibat pandemi Covid-19 dan gangguan rantai pasok global akibat perang Rusia versus Ukraina, tapi juga dipicu kebijakan moneter bank sentral negara maju, terutama bank sentral AS, The Fed, yang meningkatkan suku bunga acuannya. Kebijakan tersebut direspons oleh bank sentral negara lain dengan turut meningkatkan suku bunga acuannya. Hal tersebut bertujuan agar selisih suku bunga tidak terlalu besar, yang dapat memicu arus keluar modal asing.

Sepanjang tahun ini, The Fed telah meningkatkan suku bunga acuannya dengan agresif sebesar 300 basis poin menjadi 3,08 %. Hal ini berdampak pada arus keluar modal asing dari Indonesia sebanyak US$ 2,05 miliar pada Juli lalu. Kondisi tersebut tentu akan menyebabkan tekanan pada nilai tukar rupiah dan cadangan devisa negara. Apabila kondisi ini terus berlanjut, hal itu dapat meningkatkan risiko likuiditas di pasar uang Indonesia. Kondisi likuiditas diukur dengan rasio keuangan, antara lain rasio kecukupan likuiditas (LCR), yang menggambarkan kemampuan industri perbankan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. LCR didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah aset likuid berkualitas tinggi dan jumlah kewajiban jangka pendek. Berdasarkan data OJK, LCR perbankan Indonesia tercatat sebesar 257,79 % dengan jumlah aset likuid sebesar Rp 2.585 triliun, jauh lebih tinggi dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia yang sebesar 154 persen, Thailand 186,8 persen, dan Filipina 200,6 persen. Kondisi ini menumbuhkan optimisme bahwa sistem keuangan perbankan Indonesia memiliki buffer likuiditas yang kuat dan memadai dalam menghadapi krisis keuangan atau resesi di masa mendatang dibanding negara lain di Asia Tenggara. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :