;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Sri Mulyani Pastikan Dunia Jatuh ke Jurang Resesi Ekonomi Tahun Depan

KT3 27 Sep 2022 CNN Indonesia

Menkeu Sri Mulyani memprediksi ekonomi dunia jatuh ke jurang resesi pada tahun depan. Perkiraan itu ia buat berdasarkan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral di sejumlah negara seperti AS dan Inggris demi meredam lonjakan inflasi. Sri Mulyani memastikan kebijakan itu akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi sehingga ancaman resesi kian sulit dihindari. "Kenaikan suku bunga cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023," ungkap Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers, Senin (26/9). Berdasarkan catatan Ani, suku bunga bank sentral Inggris sudah naik 200 basis poin selama 2022. Begitu pula dengan AS yang sudah naik 300 bps sejak awal tahun. "(Bunga acuan) AS sudah 3,25 %, sudah naik 300 bps, ini terutama karena rapat September ini mereka menaikkan lagi 75 bps. Ini merespons inflasi AS 8,3 %," ungkapnya.

Mengutip AFP, Bank Dunia (World Bank) memproyeksi sejumlah negara resesi pada 2023. Hal ini karena suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi. Menurut Presiden Bank Dunia David Malpass, bank sentral terus mengerek bunga acuan demi menekan laju inflasi. Kenaikan suku bunga acuan akan menghambat proses pemulihan ekonomi global. Karenanya, Bank Dunia memprediksi ekonomi dunia melambat menjadi 0,5 % pada 2023 mendatang. "Pertumbuhan global melambat tajam dengan kemungkinan perlambatan lebih lanjut karena lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi," terang Malpass. Ia khawatir tren perlambatan ekonomi akan berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, Malpas mendesak seluruh negara untuk fokus meningkatkan produksi agar pasokan kembali melimpah, sehingga inflasi bisa ditekan. (Yoga)


Penyebab Resesi yang Disebut Sri Mulyani Jerat Ekonomi Global di 2023

KT3 27 Sep 2022 CNN Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan ekonomi global akan terjerembab ke jurang resesi tahun depan. Ia mengatakan resesi dipicu oleh satu sebab, kebijakan sejumlah bank sentral dunia yang agresif menaikkan bunga acuan demi meredam lonjakan inflasi. Sri Mulyani mengatakan kebijakan itu pasti akan menekan pertumbuhan ekonomi. Alhasil, resesi kian susah untuk dihindari. "Kenaikan suku bunga cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023," ungkap Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers, Senin (26/9). Berdasarkan catatan Ani, suku bunga acuan bank sentral Inggris naik 200 basis poin selama 2022. Begitu pula dengan AS yang sudah naik 300 bps sejak awal tahun. (Bunga acuan) AS 3,25 %, sudah naik 300 bps, terutama karena rapat September mereka menaikkan lagi 75 bps, merespons inflasi AS 8,3 %," ungkapnya.

Mengutip AFP, Bank Dunia (World Bank) juga memproyeksi sejumlah negara resesi pada 2023, karena suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi. Menurut Presiden Bank Dunia David Malpass, bank sentral terus mengerek bunga acuan demi menekan laju inflasi.
Kenaikan suku bunga acuan akan menghambat proses pemulihan ekonomi global. Karenanya, Bank Dunia memprediksi ekonomi dunia melambat menjadi 0,5 % pada 2023. "Pertumbuhan global melambat tajam dengan kemungkinan perlambatan lebih lanjut karena lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi," terang Malpass. (Yoga)


Tak Lekas Berbangga Diri dan Jaga Utang Kunci RI Selamat dari Resesi

KT3 27 Sep 2022 CNN Indonesia

Sri Mulyani menyoroti pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mulai melambat pada kuartal II 2022. Seperti AS, Jerman, China, hingga Inggris. "Tren pelemahan terlihat mulai kuartal II 2022 di beberapa negara dan akan lebih dalam kuartal III dan kuartal IV 2022, sehingga prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan, termasuk kemungkinan resesi mulai muncul," jelas Sri Mulyani.
Kendati demikian, ia masih percaya ekonomi RI baik-baik saja. Pasalnya, PDB RI tumbuh 5,44 % pada kuartal II 2022 atau lebih tinggi dari kuartal I 2022 yang sebesar 5,01 %. "Indonesia juga sampai semester I 2022 ini level dari PDB sudah 7,1 % di atas level sebelum terjadi pandemi," terang Sri Mulyani.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede sepakat dengan Sri Mulyani. Menurut dia, ekonomi RI masih sehat sampai sekarang,  kenaikan suku bunga acuan BI juga tak agresif seperti bank sentral di negara lain. "Resesi itu kemungkinan di negara-negara maju, contohnya AS karena menaikkan suku bunga acuan yang agresif, jadi risiko resesi paling besar," tutur Josua. BI sendiri, baru menaikkan suku bunga acuan total 75 basis poin sejak Januari sampai September 2022. Realisasi ini berbeda dengan bank sentral AS yang sudah mengerek suku bunga acuan hingga ratusan %.

"Kesimpulannya kalau dilihat Indonesia masih jauh dari potensi resesi," jelas Josua. Selain itu, utang luar negeri (ULN) Indonesia masih terkendali sampai sekarang, bahkan turun dari US$ 403,6 miliar menjadi US$ 400,4 miliar pada Juli 2022. Kendati begitu, ia mengingatkan pemerintah dan swasta untuk tetap berhati-hati mengelola utang. Apalagi jika berutang dengan denominasi dolar AS. Saat ini, mata uang Negeri Paman Sam semakin moncer di tengah kenaikan bunga acuan The Fed. Ketika dolar AS menguat, maka rupiah otomatis tertekan. Itu berarti biaya utang luar negeri yang harus dibayar oleh pemerintah dan swasta juga semakin mahal. (Yoga)


Yen Terus Melemah Sebelum BoJ Bertindak

KT1 21 Sep 2022 Investor Daily (H)

SINGAPURA, ID – Mata uang yen Jepang terus melemah hingga mendekati level terendah sejak 1998. Menyusul pengecekan pasar valuta pekan lalu, Bank of Japan (BoJ) ada kemungkinan mengubah kebijakan moneter sangat longgarnya di akhir pertemuan kebijakan Kamis (22/9). Menurut laporan, perbedaan suku bunga yang melebar menjadi penyebab yen melemah secara signifikan, bahkan mata uang Jepang telah jatuh sekitar 25% pada tahun ini. Pekan lalu surat kabar Jepang, Nikkei melaporkan BoJ melakukan check valuta asing. Langkah ini sebagian besar dilihat sebagai persiapan untuk intervensi formal. Ada pun yang dimaksud dengan check, seperti dijelaskan Nikkei, berupa tindakan melibatkan bank sentral yang menanyakan tentang tren di pasar valuta asing dan secara luas dilihat sebagai pendahulu atas intervensi fisik untuk mempertahankan yen. Terlepas beredarnya pembicaraan soal intervensi fisik di pasar valas, semua analis mengarah pada alasan lain di balik pelemahan yen itu, yakni kebijakan kontrol kurva imbal hasil (yield curve control/YCC) Bank of Japan. (Yetede)

Zaman Volatilitas Besar

KT3 20 Sep 2022 Kompas (H)

Pandemi meningkatkan nilai guna (marginal utility) dari liburan keluarga, karena mobilitas yang terbatas akibat mitigasi pencegahan penyebaran Covid-19. Hal ini menjelaskan kepadatan di beberapa bandara di  AS dan Eropa selama liburan musim panas. Jumlah penumpang melebihi kapasitas penerbangan ataupun pelayanan bandara. Seiring dengan hierarki Maslow (1943), sebagai dampak pemulihan ekonomi,  peningkatan permintaan juga terjadi untuk barang-barang lainnya. Mulai dari barang tahan lama sampai ke makanan olahan. Akibatnya, rantai pasokan dunia yang belum pulih benar mendapat tekanan sehingga  terjadi inflasi global yang menjalar ke setiap negara. Bank sentral di sejumlah negara pun meningkatkan suku bunga acuan untuk meredakan inflasi dengan menekan peningkatan permintaan yang tertahan, karena mereka tidak dapat mengendalikan sisi produksi atau penawaran. Perlu koordinasi global

Obstfeld (2022), mantan Chief Economist Dana Moneter Internasional (IMF) dan guru besar ekonomi di Universitas California, Berkeley, AS, berpendapat, karena tidak ada koordinasi, risiko dari kebijakan satu arah kenaikan suku bunga ini adalah suatu efek yang akan memperkuat efek lainnya (amplifying). Oleh karena itu, akan menjadi beban berlebihan yang tidak dapat ditahan oleh perekonomian dunia. Dengan kata lain, pada tingkat global, usaha-usaha meredam inflasi sebaiknya jangan terlalu berlebihan sehingga sektor riil dan sektor finansial berpotensi terpuruk terlalu jauh.

Kenyataannya, otoritas moneter di negara-negara dengan dampak global besar menghadapi ketidakpastian sangat tinggi sehingga membutuhkan kebijakan-kebijakan di luar pakem. Penyebabnya, ada sumber disrupsi lain setelah pandemi, yaitu konflik Rusia-Ukraina yang meningkatkan harga dan volatilitas komoditas dunia. Bersama pandemi, hal ini menimbulkan perfect storm, menandai zaman volatilitas besar (great volatility). Situasi itu mengakibatkan koordinasi kebijakan bukan prioritas karena ada filosofi extraordinary times require extraordinary measures. Dengan kata lain, dibutuhkan kebijakan di luar pakem dalam kondisi luar biasa. Ini juga membutuhkan horizon waktu, kapan dimulai dan kapan harus diakhiri, karena tidak mungkin berkelanjutan dalam jangka panjang. (Yoga)


Bank Dunia Tawarkan Kiat Siasati Resesi Global

KT3 19 Sep 2022 Kompas

Bank Dunia telah menyusun tiga skenario pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dan 2024. Dari skenario moderat hingga terburuk, resep untuk menyiasatinya cuma satu, yakni memperbaiki pasokan energi, mobilitas tenaga kerja, dan perdagangan internasional. Skenario pertama, akan terjadi penurunan kecil pertumbuhan global pada 2023 dan pulih pada 2024. Skenario kedua, terjadi penurunan tajam pertumbuhan global pada 2023 dan pulih lebih lemah pada 2024. Skenario ketiga terjadi kontraksi perekonomian global pada 2023 dan pulih jauh lebih lemah lagi pada 2024. ”Namun, jika resesi-resesi global dalam 50 tahun terakhir menjadi acuan, ada dua alasan yang menunjukkan risiko resesi global bisa terjadi dalam waktu dekat,” demikian disebutkan dalam laporan Bank Dunia berjudul ”Is a Global Recession Imminent”, yang diluncurkan di Washington, Kamis, 15 September 2022, oleh Presiden Bank Dunia David Malpass. Alasan yang dimaksud, pertama, bahwa di tengah pelemahan pertumbuhan global, kejutan kecil saja akan mudah mendorong dunia memasuki resesi. Istilah resesi global dalam konteks ini merujuk pada kontraksi perekonomian global dari tahun ke tahun.

Skenario kedua (skenario penurunan tajam pertumbuhan) menyebutkan, perekonomian global tidak memasuki resesi, tetapi pertumbuhan turun menjadi 0,8 % pada 2023, atau dari 2,9 % pada 2022. Lalu pertumbuhan pada 2023 naik jadi 2,7 %. Asumsi skenario kedua, inflasi lebih tinggi ketimbang skenario pertama sehingga suku bunga jangka pendek dinaikkan menjadi 4,8 % pada 2023. Asumsi lain, terjadi penurunan harga-harga energi dan juga penurunan permintaan agregat sehingga inflasi tidak terlalu mengancam. Akan tetapi, sepanjang 2022, ada tekanan kuat inflasi yang membuat AS dan Eropa serta banyak negara terdorong menaikkan lagi suku bunga dengan tempo lebih cepat. Suku bunga jangka pendek dunia naik dari 1,6 % pada 2021 menjadi 5,8 % pada 2023. Dalam skenario ketiga (skenario resesi global), diasumsikan ada sinkronisasi kenaikan suku bunga yang melibatkan banyak negara. Dalam skenario resesi ini juga ada dorongan untuk menurunkan stimulus fiskal agar inflasi terdorong turun lebih cepat. Sinkronisasi pengetatan moneter disertai penurunan stimulus fiskal akan memaksa semua negara memasuki resesi global. dalam skenario ini Bank Dunia menurunkan pertumbuhan ekonomi global hanya 0,5 % pada 2023 dan tumbuh hanya 1 % pada 2024.

Bank Dunia menyarankan program ekonomi dari sisi pasokan untuk mengatasi risiko-risiko tersebut. Para pembuat kebijakan harus memperbaiki pasokan energi, mobilitas tenaga kerja dan perdagangan internasional. Sisi ini akan turut menolong penurunan inflasi dan membantu kenaikan produktivitas global dalam jangka panjang. ”Langkah ini sangat krusial dalam konteks sekarang,” demikian kata Bank Dunia. Koordinasi global dapat melancarkan pasokan komoditas serta mengurangi hambatan pada perdagangan global. ”Satu hal yang menjadi prioritas dalam konteks ini adalah perlunya dukungan pada tatanan perdagangan internasional untuk mencegah proteksionisme dan fragmentasi yang justru akan mengganggu jaringan perdagangan,” lanjut Bank Dunia. Bank Dunia menyebutkan output industri China naik 3,6 % sepanjang 2022 (Xinhua, 16 September 2022). Ini menjadi kabar positif. (Yoga)


Eropa Susun Rencana Darurat Perekonomian

KT3 08 Sep 2022 Kompas

Para politisi Eropa sedang menyusun rencana darurat karena pemburukan kondisi perekonomian berlangsung lebih cepat. Namun, tak jelas apakah rencana darurat itu mampu mencegah pemburukan situasi. Pertarungan geopolitik Amerika Serikat-Rusia yang makin menyandera perekonomian Eropa menjadi alasan utama di balik semua itu. Media Bloomberg, Selasa (6/9/2022), menyebutkan, Swedia dan Finlandia telah menciptakan program untuk membantu keuangan perusahaan-perusahaan penyedia jasa publik. Ini bertujuan mencegah kebangkrutan mirip Lehman Brothers di AS pada 2008 yang memunculkan efek domino. Para menteri energi Uni Eropa (UE) mendiskusikan cara menahan kenaikan harga energi, yang berpotensi mendorong aksi protes warga. Langkah lain adalah penghentian perdagangan derivatif, yang dikhawatirkan telah dimanfaatkan spekulan dalam perdagangan komoditas energi untuk mengambil untung di saat situasi tidak kondusif. Hal ini dilakukan karena pukulan terhadap perekonomian zona euro dan mata uang tunggal euro makin berat.

Ada kemandekan perdagangan dengan Rusia, kenaikan harga energi, dan inflasi yang terus meningkat. Kenaikan suku bunga semata untuk meredam inflasi tidak akan bisa menolong perekonomian Eropa. Invasi Rusia ke Ukraina telah mengganggu perdagangan Eropa-Rusia akibat sanksi ekonomi oleh AS dan Uni Eropa ke Rusia. Invasi itu juga kian menaikkan harga energi. Kini potensi penurunan harga energi pun jauh dari bayangan. Rusia telah menghentikan aliran gas ke Eropa hingga waktu yang tidak diketahui. Indikasi kesulitan ekonomi zona euro makin buruk dalam perkiraan Goldman Sachs. Kurs euro akan anjlok ke level 0,97 sen USD per 1 euro. Capital Economics meramalkan kurs euro bisa mencapai 0,9 sen USD per 1 euro. Hanya perdamaian Rusia dengan Ukraina yang bisa mengatasi peliknya perekonomian Eropa. Warga UE sudah menyatakan opini soal perlunya perdamaian Ukraina-Rusia untuk mengatasi masalah. Sayang, opini warga itu tak masuk perhitungan para petinggi UE. Petinggi UE malah berencana menguatkan tekanan pada Rusia dengan mematok harga ekspor minyak dan gas Rusia. (Yoga)


Liz Truss Menghadapi Badai

KT3 07 Sep 2022 Kompas

Liz Truss mesti bersiap dan bergegas menghadapi badai yang menerjang perekonomian dunia, termasuk Inggris. Perang Rusia-Ukraina yang pecah sejak setengah tahun lalu tidak kunjung usai. Harga pangan dan energi naik. Inflasi tinggi. Berbagai risiko masih mengintai. Negara Ratu Elizabeth itu juga menghadapi hari-hari penuh gejolak dan tantangan akibat harga-harga yang naik dan inflasi yang meroket. Dalam rilis Kantor Statistik Nasional Inggris, inflasi tahunan per Juli 2022 sebesar 10,1 %, tertinggi sejak tahun 1982. Harga pangan yang naik 12,7 % dalam setahun menjadi penyumbang utama inflasi.

Inflasi diperkirakan masih akan mendaki jika harga energi tidak kunjung turun. Harga energi, yang pasokannya terbatas akibat invasi Rusia ke Ukraina, sudah dua kali lipat dibandingkan Mei 2022. Bank Sentral Inggris, Bank of England, pun menaikkan suku bunga acuan ke 1,75 % untuk membawa inflasi turun ke level 2 %, sesuai target. Dengan proyeksi inflasi menyentuh 13,3 persen pada Oktober 2022, Bank of England diperkirakan masih akan menaikkan lagi suku bunga acuannya. Banyak rumah tangga di Inggris yang tagihannya meningkat.

Ditengah kondisi yang penuh tantangan ini, Elizabeth Mary Truss terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris. Ia otomatis menjadi PM setelah mengalahkan pesaingnya, Rishi Sunak, sebagai pemimpin Partai Konservatif. Truss, yang sebelumnya menjabat Menlu, menggantikan  Boris Johnson yang mundur pada Juli 2022. Setelah Johnson menyatakan pengunduran dirinya, ibu dua anak ini menyingkat kehadirannya dalam pertemuan Menlu G20 di Bali, dan segera kembali ke Inggris. ”Saya akan melakukan langkah berani agar kita bisa melalui kondisi yang sulit ini, menumbuhkan perekonomian, dan membebaskan potensi Inggris,” cuitnya melalui Twitter setelah terpilih. (Yoga)


Fed Sengsarakan Negara Termiskin

KT3 04 Sep 2022 Kompas

Sejumlah penelitian membuktikan, banyak negara berkembang tercekik akibat pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Peringatan ini mencuat saat bank sentral AS kembali mencanangkan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi di AS. Kerusakan akibat kebijakan The Fed itu terjadi lewat kenaikan suku bunga USD dan kenaikan kurs USD terhadap mata uang negara-negara berkembang. Kenaikan suku bunga menambah beban utang negara-negara miskin dalam denominasi dollar. Anjloknya kurs mata uang negara berkembang menaikkan porsi dana dalam denominasi mata uang lokal untuk membayar utang dollar.

Kenaikan suku bunga rentan membuat modal asing berhamburan. Statistik Bank Dunia memperlihatkan, selama periode 2015 hingga 2020, sebesar 42 % utang negara berpendapatan rendah dan posisi terbawah kelompok berpendapatan menengah dimiliki lembaga komersial. Kreditor jenis ini paling rawan untuk pelarian modal. Kondisi ini bisa mengeringkan sumber pendanaan yang sangat dibutuhkan negara berkembang untuk mendatangkan impor dan pembayaran utang.

”Pada beberapa episode di masa lalu, kenaikan pesat suku bunga di negara-negara maju menyulitkan keuangan eksternal negara-negara berkembang,” demikian Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya, April 2022. Ahli sejarah ekonomi Jamie Martin dari Georgetown University mengatakan, ada korelasi kuat secara historis antara kenaikan suku bunga tajam di negara maju dan katastrofe ekonomi di negara-negara berkembang. ”Sejarah harus menjadi dasar tentang perlunya kebijakan yang sangat hati-hati,” tulis Martin lewat artikelnya di harian The New York Times, 28 April 2022. (Yoga)


Siklus Penaikan Suku Bunga Mulai Melambat

KT1 03 Sep 2022 Investor Daily

LONDON, ID – Laju dan skala penaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh bank-bank sentral di negara maju dan berkembang menunjukkan pelambatan pada Agustus 2022. Hal ini dikarenakan para pembuat kebijakan sedang meninjau kembali dampak lonjakan inflasi dan harga energi. Sebagai informasi, bank-bank sentral global secara kolektif telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 675 basis poin (bps) pada Agustus, atau sekitar setengah dari jumlah acuan suku bunga pada Juli. Dari total tersebut, sekitar 200 basis poin disampaikan oleh para pembuat kebijakan yang bertugas mengawasi empat dari 10 mata uang yang paling banyak diperdagangkan. Para penentu suku bunga harga di pasar negara berkembang benar-benar melonggarkan. Mereka hanya memberikan kenaikan senilai 475 bps, kira-kira setengah dari pengetatan dibandingkan bulan sebelumnya. Demikian hasil kalkulasi yang diperlihatkan Reuters. Namun secara keseluruhan, ekonomi di pasar berkembang utama telah memberikan kenaikan suku bunga 5.740 bps sejak awal tahun ini dibandingkan 1.300 bps dari negara-negara maju. “Bank-bank sentral di seluruh pasar negara berkembang telah melakukan penaikan terlebih dahulu, mereka memimpin kurva. Mereka tidak memiliki kemewahan dengan membiarkan inflasi berjalan,” ujar Flavio Carpenzano, direktur investasi di Capital Group. (Yetede)