;
Tags

Ekonomi Internasional

( 642 )

Ketidakpastian Global

KT3 26 Jul 2022 Kompas (H)

Ketidakpastian merupakan musuh terbesar perencanaan, sementara ekonomi adalah soal proyeksi serta kalkulasi  strategi yang diturunkan dalam anggaran. Semakin hari, proyeksi ekonomi makin tak pasti sehingga diperlukan imajinasi  tentang masa depan berbasis data yang tersedia saat ini. Akhirnya, perencanaan menjadi dialektika antara visi (cita-cita) dan realitas yang bisa dengan cepat berganti sesuai perubahan situasi. Sejauh ini konsensus proyeksi perekonomian global beberapa tahun ke depan adalah stagflasi atau era di mana pertumbuhan ekonomi rendah, sementara inflasi  tinggi. Konsekuensinya tingkat kesejahteraan akan menurun. Stagflasi telah menjadi baseline scenario atau situasi yang paling mungkin terjadi. Di beberapa negara, resesi menjadi skenario terburuk (worst-case scenario) yang mungkin terjadi. Perekonomian global dapat terhindar dari stagflasi jika mampu melakukan transformasi sisi penawaran, seperti efisiensi faktor produksi serta perbaikan sistem logistik. Sayangnya, justru aspek ini yang terus memburuk sejak perang dagang, pandemi Covid-19, dan kini diperparah dengan krisis Ukraina.

Bank Pembangunan Asia (ADB) baru saja menerbitkan laporan tambahan Asian Development Outlook edisi Juli 2022. Laporan ini merevisi ke bawah pertumbuhan kawasan Asia yang pada April lalu diproyeksikan 5,2 % menjadi 4,5 %, terseret perlambatan global. Adapun Asia Timur direvisi dari 4,7 % menjadi 3,8 % akibat perlambatan pertumbuhan China yang diperkirakan hanya akan tumbuh 4 % tahun ini. Stagflasi global telah menyeret kinerja pertumbuhan ekonomi di hampir semua kawasan Asia. Meski begitu, kawasan Asia Tenggara justru mengalami kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 4,9 % menjadi 5 %. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh ADB dinaikkan dari perkiraan semula 5 % menjadi 5,2 %. Kuatnya permintaan domestik dan peningkatan ekspor disebut sebagai faktor utama perbaikan kinerja perekonomian Indonesia. (Yoga)


Perang Ekonomi-Politik: Para Pemimpin Eropa Berjatuhan

KT3 24 Jul 2022 Kompas

Satu per satu pemimpin Eropa tumbang. Setelah PM Inggris Boris Johnson, kini giliran PM Italia Mario Draghi yang mundur. Sementara di Kremlin, Presiden Rusia Vladimir Putin belum tergoyahkan. Draghi mundur dari jabatan PM Italia pada hari Kamis (21/7). Langkah politik ini dilakukan sehari setelah tiga partai politik dari koalisi pemerintah memboikot pengajuan mosi tidak percaya pada pemerintahan Draghi. Pengunduran diri Draghi terjadi saat tekanan ekonomi melanda Italia. Merujuk Financial Times, inflasi Juni mencapai 8 %, tertinggi sejak 1986. Imbal hasil surat utang negara juga melompat 0,27 basis poin menjadi 3,7 %. Mundurnya Draghi kemungkinan memengaruhi kebijakan luar negeri Italia pada perang Rusia-Ukraina. Draghi konsisten bersikap keras dan tak mengenal kompromsi terhadap Moskwa.

Dua pekan sebelumnya, PM Inggris Boris Johnson lebih dahulu tumbang. Ia mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis (7/7). Langkah ini Johnson lakukan setelah sejumlah menteri mundur dan 50 anggota senior parlemen menarik dukungan. Sebagaimana Draghi di Italia, pengunduran diri Johnson sebagai PM Inggris pun terjadi saat ekonomi Inggris mengalami tekanan. Inflasi Juni mencapai 9,4 % setelah Mei mencatatkan 9,1 %. Seperti negara-negara Eropa lainnya, Inggris juga menghadapi kenaikan harga minyak.

Krisis energi akan berkomplikasi pada krisis ekonomi. Tanpa solusi dalam beberapa bulan ke depan, Eropa dan AS rawan mengalami gejolak sosial yang bisa memicu perubahan rezim di negara-negara Barat. Sementara Putin justru semakin mantap dalam politik domestiknya. Mengutip Statista, tingkat penerimaan masyarakat Rusia terhadap Putin mencapai 80 % pada Juni 2022, sedang berdasarkan jajak pendapat atas Kerja Sama NPR, PBS NewsHour, dan Marist, tingkat penerimaan Biden per Juli hanya 36 %, terendah sejak Biden menghuni Gedung Putih, yang pada Januari 2021 di level 57 %. (Yoga)


Dana Pandemi Masa Depan

HR1 07 Jul 2022 Bisnis Indonesia

Dewan Direktur Bank Dunia pada 30 Juni 2022 telah menyetujui pembentukan Dana Perantara Keuangan (Financial Intermediary Fund atau FIF) bagi pencegahan, kesiapan dan respons atas pandemi (Pandemic Prevention, Preparedness and Response atau Pandemic PPR) yang masih mungkin terjadi di masa depan. Keputusan ini diambil menindaklanjuti amanat Forum G20 yang memberikan mandat kepada Bank Dunia untuk menjadi pengelola FIF berkolaborasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Persetujuan Dewan Direktur Bank Dunia menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pendirian FIF bagi Pandemic PPR yang di targetkan untuk direalisasikan pada masa Presidensi G20 Indonesia di tahun 2022 ini. Hal ini sejalan dengan tiga prioritas yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam agenda Presidensi G20 Indonesia, yakni memperkuat arsitektur kesehatan global, mendorong transformasi digital, serta mempercepat transisi energi yang berkelanjutan. Menurut laporan yang disiapkan Bank Dunia bersama WHO (2022), untuk dapat menyiapkan masyarakat global dalam menghadapi risiko pandemi di masa depan dengan berbagai program Pandemic PPR di atas, diperlukan dana sekitar US$31,1 miliar per tahun yang harus tersedia paling tidak sampai 5 tahun ke depan.

Tantangan dan Peluang Pembiayaan Hijau

HR1 05 Jul 2022 Bisnis Indonesia

Laporan Global Risk tahun 2022 (WEF, 2022) mengidentifikasi bahwa dari 10 risiko paling parah dalam skala global selama 10 tahun ke depan, lima di antaranya disebabkan oleh risiko perubahan iklim. Temuan tersebut sejalan dengan laporan Swiss Re Institute (Swissre, 2021) yang memprediksi dampak ekonomi dari kenaikan suhu global 3,2 derajat celcius pada tahun 2050 berupa potensi kehilangan hingga 18% dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika tidak ada tindakan yang diambil terhadap perubahan iklim. Selepas dari pandemi Covid-19, perekonomian global dihadapkan pada sejumlah tantangan (IMF, 2021). Pertama, kompleksitas tatanan geopolitik berpengaruh pada perdagangan global termasuk kinerja rantai pasokan dan jaringan sistem keuangan. Kedua, perkembangan teknologi digital seperti digitalisasi dan otomatisasi akan memainkan peran utama dalam mendorong pertumbuhan inklusif dan jangka panjang. Ketiga, keniscayaan transformasi struktural melalui katalisator pandemi memacu perubahan teknologi, otomatisasi, dan realokasi rantai pasokan sehingga menghadirkan tantangan dan peluang sekaligus. Keempat, perubahan iklim dan pemanasan global akan menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi makroekonomi dan keuangan termasuk merugikan beberapa negara secara tidak proporsional

Indonesia-UAE CEPA Tingkatkan Ekspor

KT1 02 Jul 2022 Investor Daily (H)

Persetujuan Kemitraan Ekonomi Konperhensif Indonesia-Uni Emirat Arab (Indonesia-United  Arab Emirates  Comperhensive Economic Partnership Agreement, atau IUEA (UAE CEPA) akhirnya ditandatangani, hanya berselang sembilan bulan sejak diluncurkan oleh Menteri Perdagangan kedua negara. Penandatanganan IUAE-CEPA menjadi momentum bersejarah karena ini pertama kali Indonesia memiliki penjanjian dagang dengan negara di kawasan Teluk. Mendag mengungkapkan, Presiden Jokowi menyambut positif penyelesaian persetujuan IUAE. Persetujuan ini menjadi pintu masuk Indonesia ke UEA yang merupakan hubungan untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara tujuan nontradisional seperti di Kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. "Kita harap bersama ketika IIUAE-Cepa ini diimplemtasikan, peningkatan kinerja sektor perdagangan  dan investasi yang  yang didukung melalui IUAE-Cepa dapat semakin mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 serta meningkatkan daya saing Indonesia. (Yetede)

Rusia Mulai Kirim Gandum dari Pelabuhan Ukraina

KT1 01 Jul 2022 Investor Daily

Rusia pada Kamis (30/6)  mulai mengirim gandum dari wilayah  penduduk  Ukraina. Menurut laporan, sebanyak 7.000 ton biji-bijian sereal itu diangkut dengan sebuah kapal yang berlayar dari Pelabuhan Berdayansk di Ukraina. Pemerintah Ukraina sendiri selama berminggu-minggu telah menuding Rusia dan para sekutunya mencuri biji-bijian dari Ukraina selatan sehingga berkontribusi pada kekurangan pangan global, karena ekspor biji-bijian yang terhalang dari Pelabuhan Ukraina. "Sampai sekarang pengiriman telah diangkut melalui darat," demikian disampaikan otoritas Kyiv, yang dilansir AFP.  Kapal-kapal laut hitam Rusia, lanjut ia, telah memastikan keamanan ribuan ton biji-bijian itu. Ia juga memastikan keamanan ranjau di pelabuhan Ukraina telah disingkirkan. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut dari Balitsky mengenai tujuan akhir  kargo tersebut. Berdyansk adalah kota pelabuhan di pantai utara Laut Azow, di wilayah Zaporizhia, bagian tenggara Ukraina. (Yetede)

Stagflasi Dunia dan Presidensi G20 Indonesia

KT3 01 Jul 2022 Kompas

Untuk 2022, inflasi dunia diperkirakan bertengger di angka 6,2 %, sedangkan perkiraan pertumbuhan ekonomi hanya 3,3 %. Bahkan Bank Dunia memberikan perkiraan lebih rendah, yaitu 2,9 %. Gap domestik dan dunia dengan gap angka inflasi dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi yang besar itu, wajar Bank Dunia menyebut istilah stagflasi. Yang memprihatinkan, lebarnya gap angka inflasi dengan angka pertumbuhan ekonomi itu banyak terjadi di negara-negara maju, karena ini akan menghambat laju pemulihan ekonomi dunia. Dalam kondisi normal, negara-negara maju biasanya dijadikan tumpuan pasar produk-produk dari negara berkembang. Dengan kondisi stagflasi, tentu akan mengurangi atau malah menutup peluang ekspor tersebut.

Pilihan instrumen untuk menjinakkan inflasi sangat terbatas, diantaranya menaikkan suku bunga. Penyebabnya, inflasi saat ini disebabkan negatifnya penawaran agregat (aggregate supply), sebagai dampak dari terganggunya rantai pasok akibat pandemi, ditambah perang dagang AS- China, dan sekarang ditambah lagi perang Rusia-Ukraina. Selain itu, juga terjadi negative suplai tenaga kerja, karena pilihan pensiun dini sebagai dampak pandemi, semakin menuanya tenaga kerja, dan resistansi terhadap tenaga kerja migran. Indonesia sebagai pemegang presidensi G20 pada 2022 dengan slogan Recover Together, Recover Stronger dituntut bisa mendorong kerja sama dan kerja bersama untuk mewujudkan slogan tersebut. (Yoga)


Dunia Dibayangi Ancaman Stagflasi

KT3 28 Jun 2022 Kompas

Konflik terkait geopolitik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia telah memporak porandakan pasar energi dan komoditas pangan, karena kedua negara merupakan penghasil utama komoditas energi dan pangan dunia. Invasi militer Rusia ke Ukraina menyebabkan aktivitas logistik di sekitar Laut Hitam terhenti. Sanksi yang diberikan Uni Eropa dan dunia kepada Rusia ataupun aksi balasannya menimbulkan implikasi luas, seperti kenaikan harga minyak, pangan, dan biaya distribusi global. Situasi diperparah dengan kondisi internal AS, China, dan Uni Eropa yang merupakan motor utama pertumbuhan global. China sedang tertekan akibat kebijakan penutupan wilayah karena kasus Covid-19 yang meningkat. Pergerakan harga komoditas pangan, energi, dan barang substitusi lain merangkak naik secara global. Inflasi di AS Mei 2022 tercatat 8,6 % secara tahunan, level tertinggi sejak 1982.

Inflasi Inggris pada April 2022 mencapai 9 % secara tahunan, tertinggi dalam 40 tahun. Tren kenaikan inflasi pada periode yang sama juga dialami Jerman (7,9 %), Italia (6,9 %), bahkan Lituania mencatat dua digit inflasi sebesar 18,9  %. Asia Tenggara tidak luput dari tren lonjakan inflasi global. Pada April 2022, Laos mencatatkan inflasi 9,9 %. Pada Mei 2022, Thailand mencatatkan inflasi 7,1 %. Inflasi Indonesia pada Mei 2022 terhadap Mei 2021 terbilang rendah, yakni 3,55  %. Meski masih rendah, sejak awal tahun inflasi Indonesia terus merangkak naik. Tren lonjakan inflasi secara global patut diwaspadai agar tidak tertransmisi pada kenaikan harga-harga di pasar domestik dalam negeri. Kondisi periode inflasi disertai penurunan pertumbuhan PDB disebut stagflasi.

Stagflasi berpotensi mengakibatkan jumlah pengangguran meningkat pesat. Adapun cara mengatasi stagflasi ini adalah menjaga agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat sehingga bisa mengurangi pengangguran. Untuk mengantisipasi efek buruk dari stagflasi, inflasi di Indonesia perlu dijaga agar tetap rendah. Di tengah situasi serba tak pasti ini, diperlukan mitigasi untuk mengantisipasi situasi secara jangka pendek dan panjang. Kenaikan harga komoditas energi dan pangan akan menekan postur APBN. Alokasi anggaran untuk subsidi akan membengkak. Untungnya, penerimaan juga meningkat akibat kenaikan harga komoditas, khususnya batubara dan minyak sawit sebagai komoditas utama ekspor Indonesia, sehingga meski subsidi meningkat, defisit fiskal 2022 diproyeksikan masih bisa turun dari 4,85 menjadi 4,5 %. (Yoga)


Larangan Ekspor Pangan Bakal Mendorong Inflasi

KT1 28 Jun 2022 Investor Daily (H)

Pemerintah negara mulai dari India hingga Malaysia, Argentina hingga Serbia telah memberlakukan pembatasan ekspor makanan karena kekacauan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Situasinya diperburuk oleh faktor-faktor lain seperti cuaca ekstrem dan mandeknya rantai pasokan, sehingga memperparah situasi kelaparan di seluruh dunia. Pemerintah Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi hanya membutuhkan waktu 24 jam pada Mei 2022 untuk membatalkan rencana memberikan bahan pangan pada dunia. Padahal pada April lalu Modi secara terbuka mengatakan siap mengisi celah kekosongan di pasar biji-bijian global yang ditinggalkan oleh Ukraina. Namun, kemunculan sejumlah data yang mengkhawatirkan telah mengubah semua rencana. Pertama adanya data yang direvisi turun atas tanaman gandum India pada awal Mei akibat gelombang panas yang tiba-tiba memukul hasil panen. (Yetede)

Tekanan Ekonomi Global dan Respon Dunia

KT1 27 Jun 2022 Tempo (H)

Tekanan ekonomi dunia sedang terjadi. Pada 7 Juni lalu, Bank Dunia memproyeksikan turunnya pertumbuhan ekonomi dunia, dari 5,7% pada 2021 menjadi 2,9% pada tahun ini. Pada 12 April, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sudah mengoreksi proyeksi perdagangan barang dunia tahun ini, dari 4,7% menjadi 3%, dengan catatan bahwa proyeksi ini tidak pasti karena bergantung pada situasi perang di Ukraina. Sebaliknya, laju inflasi dunia, menurut estimasi Departemen Ekonomi dan Sosial PBB pada 1 Juni lalu, akan naik dua kali lipat, dari rata-rata 2,9%. Interaksi ekonomi sama dengan interaksi alam semesta yang sangat besar, mekanisme anatomi tubuh, atau bahkan struktur sel yang tidak terlihat, sebagai sebuah sistem. Interaksi ini mengikuti hukum alam yang, oleh Adam Smith, Bapak Ilmu Ekonomi Modern, disebut digerakkan oleh sebuah "tangan tak terlihat,". Keterbukaan ekonomi antar negara tetap penting. Namun, ketika satu bagian dari sistem mengalami kerusakan, misalnya karena bencana alam, pandemi, atau perang, seluruh sistem akan merasakan dampaknya. (Yetede)