Ekonomi Internasional
( 642 )Zaman Volatilitas Besar
Pandemi meningkatkan nilai guna (marginal utility) dari liburan keluarga, karena mobilitas yang terbatas akibat mitigasi pencegahan penyebaran Covid-19. Hal ini menjelaskan kepadatan di beberapa bandara di AS dan Eropa selama liburan musim panas. Jumlah penumpang melebihi kapasitas penerbangan ataupun pelayanan bandara. Seiring dengan hierarki Maslow (1943), sebagai dampak pemulihan ekonomi, peningkatan permintaan juga terjadi untuk barang-barang lainnya. Mulai dari barang tahan lama sampai ke makanan olahan. Akibatnya, rantai pasokan dunia yang belum pulih benar mendapat tekanan sehingga terjadi inflasi global yang menjalar ke setiap negara. Bank sentral di sejumlah negara pun meningkatkan suku bunga acuan untuk meredakan inflasi dengan menekan peningkatan permintaan yang tertahan, karena mereka tidak dapat mengendalikan sisi produksi atau penawaran. Perlu koordinasi global
Obstfeld (2022), mantan Chief Economist Dana Moneter Internasional (IMF) dan guru besar ekonomi di Universitas California, Berkeley, AS, berpendapat, karena tidak ada koordinasi, risiko dari kebijakan satu arah kenaikan suku bunga ini adalah suatu efek yang akan memperkuat efek lainnya (amplifying). Oleh karena itu, akan menjadi beban berlebihan yang tidak dapat ditahan oleh perekonomian dunia. Dengan kata lain, pada tingkat global, usaha-usaha meredam inflasi sebaiknya jangan terlalu berlebihan sehingga sektor riil dan sektor finansial berpotensi terpuruk terlalu jauh.
Kenyataannya, otoritas moneter di negara-negara dengan dampak global besar menghadapi ketidakpastian sangat tinggi sehingga membutuhkan kebijakan-kebijakan di luar pakem. Penyebabnya, ada sumber disrupsi lain setelah pandemi, yaitu konflik Rusia-Ukraina yang meningkatkan harga dan volatilitas komoditas dunia. Bersama pandemi, hal ini menimbulkan perfect storm, menandai zaman volatilitas besar (great volatility). Situasi itu mengakibatkan koordinasi kebijakan bukan prioritas karena ada filosofi extraordinary times require extraordinary measures. Dengan kata lain, dibutuhkan kebijakan di luar pakem dalam kondisi luar biasa. Ini juga membutuhkan horizon waktu, kapan dimulai dan kapan harus diakhiri, karena tidak mungkin berkelanjutan dalam jangka panjang. (Yoga)
Bank Dunia Tawarkan Kiat Siasati Resesi Global
Bank Dunia telah menyusun tiga skenario pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dan 2024. Dari skenario moderat hingga terburuk, resep untuk menyiasatinya cuma satu, yakni memperbaiki pasokan energi, mobilitas tenaga kerja, dan perdagangan internasional. Skenario pertama, akan terjadi penurunan kecil pertumbuhan global pada 2023 dan pulih pada 2024. Skenario kedua, terjadi penurunan tajam pertumbuhan global pada 2023 dan pulih lebih lemah pada 2024. Skenario ketiga terjadi kontraksi perekonomian global pada 2023 dan pulih jauh lebih lemah lagi pada 2024. ”Namun, jika resesi-resesi global dalam 50 tahun terakhir menjadi acuan, ada dua alasan yang menunjukkan risiko resesi global bisa terjadi dalam waktu dekat,” demikian disebutkan dalam laporan Bank Dunia berjudul ”Is a Global Recession Imminent”, yang diluncurkan di Washington, Kamis, 15 September 2022, oleh Presiden Bank Dunia David Malpass. Alasan yang dimaksud, pertama, bahwa di tengah pelemahan pertumbuhan global, kejutan kecil saja akan mudah mendorong dunia memasuki resesi. Istilah resesi global dalam konteks ini merujuk pada kontraksi perekonomian global dari tahun ke tahun.
Skenario kedua (skenario penurunan tajam pertumbuhan) menyebutkan, perekonomian global tidak memasuki resesi, tetapi pertumbuhan turun menjadi 0,8 % pada 2023, atau dari 2,9 % pada 2022. Lalu pertumbuhan pada 2023 naik jadi 2,7 %. Asumsi skenario kedua, inflasi lebih tinggi ketimbang skenario pertama sehingga suku bunga jangka pendek dinaikkan menjadi 4,8 % pada 2023. Asumsi lain, terjadi penurunan harga-harga energi dan juga penurunan permintaan agregat sehingga inflasi tidak terlalu mengancam. Akan tetapi, sepanjang 2022, ada tekanan kuat inflasi yang membuat AS dan Eropa serta banyak negara terdorong menaikkan lagi suku bunga dengan tempo lebih cepat. Suku bunga jangka pendek dunia naik dari 1,6 % pada 2021 menjadi 5,8 % pada 2023. Dalam skenario ketiga (skenario resesi global), diasumsikan ada sinkronisasi kenaikan suku bunga yang melibatkan banyak negara. Dalam skenario resesi ini juga ada dorongan untuk menurunkan stimulus fiskal agar inflasi terdorong turun lebih cepat. Sinkronisasi pengetatan moneter disertai penurunan stimulus fiskal akan memaksa semua negara memasuki resesi global. dalam skenario ini Bank Dunia menurunkan pertumbuhan ekonomi global hanya 0,5 % pada 2023 dan tumbuh hanya 1 % pada 2024.
Bank Dunia menyarankan program ekonomi dari sisi pasokan untuk mengatasi risiko-risiko tersebut. Para pembuat kebijakan harus memperbaiki pasokan energi, mobilitas tenaga kerja dan perdagangan internasional. Sisi ini akan turut menolong penurunan inflasi dan membantu kenaikan produktivitas global dalam jangka panjang. ”Langkah ini sangat krusial dalam konteks sekarang,” demikian kata Bank Dunia. Koordinasi global dapat melancarkan pasokan komoditas serta mengurangi hambatan pada perdagangan global. ”Satu hal yang menjadi prioritas dalam konteks ini adalah perlunya dukungan pada tatanan perdagangan internasional untuk mencegah proteksionisme dan fragmentasi yang justru akan mengganggu jaringan perdagangan,” lanjut Bank Dunia. Bank Dunia menyebutkan output industri China naik 3,6 % sepanjang 2022 (Xinhua, 16 September 2022). Ini menjadi kabar positif. (Yoga)
Eropa Susun Rencana Darurat Perekonomian
Para politisi Eropa sedang menyusun rencana darurat karena pemburukan kondisi perekonomian berlangsung lebih cepat. Namun, tak jelas apakah rencana darurat itu mampu mencegah pemburukan situasi. Pertarungan geopolitik Amerika Serikat-Rusia yang makin menyandera perekonomian Eropa menjadi alasan utama di balik semua itu. Media Bloomberg, Selasa (6/9/2022), menyebutkan, Swedia dan Finlandia telah menciptakan program untuk membantu keuangan perusahaan-perusahaan penyedia jasa publik. Ini bertujuan mencegah kebangkrutan mirip Lehman Brothers di AS pada 2008 yang memunculkan efek domino. Para menteri energi Uni Eropa (UE) mendiskusikan cara menahan kenaikan harga energi, yang berpotensi mendorong aksi protes warga. Langkah lain adalah penghentian perdagangan derivatif, yang dikhawatirkan telah dimanfaatkan spekulan dalam perdagangan komoditas energi untuk mengambil untung di saat situasi tidak kondusif. Hal ini dilakukan karena pukulan terhadap perekonomian zona euro dan mata uang tunggal euro makin berat.
Ada kemandekan perdagangan dengan Rusia, kenaikan harga energi, dan inflasi yang terus meningkat. Kenaikan suku bunga semata untuk meredam inflasi tidak akan bisa menolong perekonomian Eropa. Invasi Rusia ke Ukraina telah mengganggu perdagangan Eropa-Rusia akibat sanksi ekonomi oleh AS dan Uni Eropa ke Rusia. Invasi itu juga kian menaikkan harga energi. Kini potensi penurunan harga energi pun jauh dari bayangan. Rusia telah menghentikan aliran gas ke Eropa hingga waktu yang tidak diketahui. Indikasi kesulitan ekonomi zona euro makin buruk dalam perkiraan Goldman Sachs. Kurs euro akan anjlok ke level 0,97 sen USD per 1 euro. Capital Economics meramalkan kurs euro bisa mencapai 0,9 sen USD per 1 euro. Hanya perdamaian Rusia dengan Ukraina yang bisa mengatasi peliknya perekonomian Eropa. Warga UE sudah menyatakan opini soal perlunya perdamaian Ukraina-Rusia untuk mengatasi masalah. Sayang, opini warga itu tak masuk perhitungan para petinggi UE. Petinggi UE malah berencana menguatkan tekanan pada Rusia dengan mematok harga ekspor minyak dan gas Rusia. (Yoga)
Liz Truss Menghadapi Badai
Liz Truss mesti bersiap dan bergegas menghadapi badai yang menerjang perekonomian dunia, termasuk Inggris. Perang Rusia-Ukraina yang pecah sejak setengah tahun lalu tidak kunjung usai. Harga pangan dan energi naik. Inflasi tinggi. Berbagai risiko masih mengintai. Negara Ratu Elizabeth itu juga menghadapi hari-hari penuh gejolak dan tantangan akibat harga-harga yang naik dan inflasi yang meroket. Dalam rilis Kantor Statistik Nasional Inggris, inflasi tahunan per Juli 2022 sebesar 10,1 %, tertinggi sejak tahun 1982. Harga pangan yang naik 12,7 % dalam setahun menjadi penyumbang utama inflasi.
Inflasi diperkirakan masih akan mendaki jika harga energi tidak kunjung turun. Harga energi, yang pasokannya terbatas akibat invasi Rusia ke Ukraina, sudah dua kali lipat dibandingkan Mei 2022. Bank Sentral Inggris, Bank of England, pun menaikkan suku bunga acuan ke 1,75 % untuk membawa inflasi turun ke level 2 %, sesuai target. Dengan proyeksi inflasi menyentuh 13,3 persen pada Oktober 2022, Bank of England diperkirakan masih akan menaikkan lagi suku bunga acuannya. Banyak rumah tangga di Inggris yang tagihannya meningkat.
Ditengah kondisi yang penuh tantangan ini, Elizabeth Mary Truss terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris. Ia otomatis menjadi PM setelah mengalahkan pesaingnya, Rishi Sunak, sebagai pemimpin Partai Konservatif. Truss, yang sebelumnya menjabat Menlu, menggantikan Boris Johnson yang mundur pada Juli 2022. Setelah Johnson menyatakan pengunduran dirinya, ibu dua anak ini menyingkat kehadirannya dalam pertemuan Menlu G20 di Bali, dan segera kembali ke Inggris. ”Saya akan melakukan langkah berani agar kita bisa melalui kondisi yang sulit ini, menumbuhkan perekonomian, dan membebaskan potensi Inggris,” cuitnya melalui Twitter setelah terpilih. (Yoga)
Fed Sengsarakan Negara Termiskin
Sejumlah penelitian membuktikan, banyak negara berkembang tercekik akibat pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Peringatan ini mencuat saat bank sentral AS kembali mencanangkan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi di AS. Kerusakan akibat kebijakan The Fed itu terjadi lewat kenaikan suku bunga USD dan kenaikan kurs USD terhadap mata uang negara-negara berkembang. Kenaikan suku bunga menambah beban utang negara-negara miskin dalam denominasi dollar. Anjloknya kurs mata uang negara berkembang menaikkan porsi dana dalam denominasi mata uang lokal untuk membayar utang dollar.
Kenaikan suku bunga rentan membuat modal asing berhamburan. Statistik Bank Dunia memperlihatkan, selama periode 2015 hingga 2020, sebesar 42 % utang negara berpendapatan rendah dan posisi terbawah kelompok berpendapatan menengah dimiliki lembaga komersial. Kreditor jenis ini paling rawan untuk pelarian modal. Kondisi ini bisa mengeringkan sumber pendanaan yang sangat dibutuhkan negara berkembang untuk mendatangkan impor dan pembayaran utang.
”Pada beberapa episode di masa lalu, kenaikan pesat suku bunga di negara-negara maju menyulitkan keuangan eksternal negara-negara berkembang,” demikian Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya, April 2022. Ahli sejarah ekonomi Jamie Martin dari Georgetown University mengatakan, ada korelasi kuat secara historis antara kenaikan suku bunga tajam di negara maju dan katastrofe ekonomi di negara-negara berkembang. ”Sejarah harus menjadi dasar tentang perlunya kebijakan yang sangat hati-hati,” tulis Martin lewat artikelnya di harian The New York Times, 28 April 2022. (Yoga)
Siklus Penaikan Suku Bunga Mulai Melambat
LONDON, ID – Laju dan skala penaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh bank-bank sentral di negara maju dan berkembang menunjukkan pelambatan pada Agustus 2022. Hal ini dikarenakan para pembuat kebijakan sedang meninjau kembali dampak lonjakan inflasi dan harga energi. Sebagai informasi, bank-bank sentral global secara kolektif telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 675 basis poin (bps) pada Agustus, atau sekitar setengah dari jumlah acuan suku bunga pada Juli. Dari total tersebut, sekitar 200 basis poin disampaikan oleh para pembuat kebijakan yang bertugas mengawasi empat dari 10 mata uang yang paling banyak diperdagangkan. Para penentu suku bunga harga di pasar negara berkembang benar-benar melonggarkan. Mereka hanya memberikan kenaikan senilai 475 bps, kira-kira setengah dari pengetatan dibandingkan bulan sebelumnya. Demikian hasil kalkulasi yang diperlihatkan Reuters. Namun secara keseluruhan, ekonomi di pasar berkembang utama telah memberikan kenaikan suku bunga 5.740 bps sejak awal tahun ini dibandingkan 1.300 bps dari negara-negara maju. “Bank-bank sentral di seluruh pasar negara berkembang telah melakukan penaikan terlebih dahulu, mereka memimpin kurva. Mereka tidak memiliki kemewahan dengan membiarkan inflasi berjalan,” ujar Flavio Carpenzano, direktur investasi di Capital Group. (Yetede)
G20 Butuh Stabilitas Harga
Sebagai negara produsen gas, Indonesia tidak terdampak secara langsung akan guncangan pasokan dan harga gas bumi akibat situasi global yang tak menentu. Namun, bersama negara-negara anggota G20, Indonesia turut berkepentingan mencari solusi jangka pendek demi tercapainya stabilisasi harga. Pengembangan gas juga penting sebagai jembatan menuju era energi yang lebih bersih. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan, konflik geopolitik di Eropa turut memicu krisis energi dan menekan perekonomian negara-negara G20. Sebelumnya, rantai pasok komoditas juga terpengaruh tingginya permintaan setelah ekonomi pulih pascapandemi Covid-19.
”Sebagai negara produsen dan eksportir gas, Indonesia tak terdampak langsung. (Namun), bagaimanapun, kami menilai situasi akan membaik, khususnya bagi negara-negara yang terdampak lonjakan dan ketidakpastian pasokan dan harga (gas),” tutur Tutuka yang hadir secara daring dalam Energy Transition Working Group (ETWG) G20 Presidensi Indonesia ”Exploring Short-term Solutions to the Global Gas Crisis” di Nusa Dua, Bali, Senin (29/8). Ketua ETWG Yudo Dwinanda Priaadi mengemukakan, tahun ini, negara-negara G20 menghadapi masa sulit karena adanya disrupsi yang membuat harga energi melonjak.
”Isu ini perlu mendapat perhatian komunitas internasional. Negara-negara anggota G20 ialah produsen dan konsumen energi terbesar. (Solusi diperlukan) untuk stabilitas harga energi,” katanya. Stabilitas harga gas, ujar Yudo, penting karena gas dapat diakses menjadi sumber energi yang lebih bersih, juga untuk pembangkit. Sebagai sumber energi, LNG fleksibel, mudah disimpan, memiliki emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan sumber energi fosil lainnya. Dalam rangka transisi energi, gas pun menjadi opsi untuk terus dikembangkan. (Yoga)
Inflasi di AS, Diskon Besar-besaran Harga Baju
Perusahaan ritel baju di AS mengobral dan memberi diskon besar atas produk mereka agar tumpukan di rak berkurang. Akibat tekanan inflasi, konsumen di negara itu memangkas anggaran untuk belanja baju. Kantor berita Reuters, Jumat (26/8), melaporkan, konsumen usia muda dan berpenghasilan rendah menahan diri untuk membeli baju pada harga normal dan menunggu ada promo. (Yoga)
Kayu Penopang dari Limbah Kayu dan Plastik
Sekilas pandang, instalasi kayu di dinding, lantai, dan perabotan di area presentasi Group Hyundai Motors Indonesia dalam pameran Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2022 tampak normal. Namun, siapa sangka, gerai seluas 45 meter persegi di Hall 1A Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City itu dipasangi matrial serupa kayu yang terbuat dari sekam padi dan sampah plastik. DInamai "Sustainability Area", konsep ramah lingkungan itu ditampilkan Hyundai bersama Plana- salah satu entitas pengusung ekonomi daur ulang. Co-founder Plana, Juan Apriliano Chandra, mengatakan ide produksi Plana Wood- nama material kreasi perusahaannya-sudah muncul sejak 2015. "Kami ingin sesuatu yang baru, karena plastik sebenarnya sangat eco-frendly. Lalu ayah dan paman saya mengembangkannya formula matrial Plana Wood," ujar Juan saat bertemu Tempo di pabrik Plana di kawasan Legok, Kabupaten Tangerang, kemarin. (Yetede)
Fed Bisa Roketkan Inflasi
Inflasi di AS sampai Kamis (25/8) melejit terlalu jauh meninggalkan tingkat suku bunga inti Bank Sentral AS. Inflasi juga lebih tinggi dari suku riil di pasar. Jika The Fed atau Bank Sentral AS tetap lamban menyadari dan lambat menaikkan suku bunga, inflasi tinggi akan sulit diturunkan bahkan akan bertahan lama. Efeknya dampak inflatoar ke seluruh dunia mengingat USD adalah alat utama transaksi global.
Profesor ekonomi Stanford University, John Taylor, Selasa (23/8) kepada televise Bloomberg mengatakan, suku bunga inti di AS minimal harus di level 5 %. Suku bunga The Fed di level tersebut diperlukan mengingat inflasi di negara itu sudah mencapai 8,5 % pada Juli 2022. The Fed sejauh ini masih mematok suku bunga inti pada kisaran 2,25-2,50 % dan memberi kisaran kenaikan suku bunga hingga level 3,8 %. Target The Fed itu dianggap tak cukup kuat untuk menurunkan inflasi.
Gubernur The Fed Jerome Powell menyadari inflasi harus diperangi dan suku bunga harus dinaikkan. Namun, Powell tampak khawatir jika suku bunga dipatok terlalu tinggi, kehidupan rakyat akan terpukul karena resesi. Ia berharap pasar mengarahkan inflasi pada penurunan. Bagi dunia, efek gonjang-ganjing inflasi di AS ini bagai pisau bermata dua. Jika inflasi dibiarkan tinggi, hal itu akan menyebabkan inflasi impor bagi negara seperti Indonesia. AS masih merupakan negara eksportir kedua terbesar di dunia dengan nilai 1,75 triliun USD. Di sisi lain, inflasi harus diredam untuk mencegah inflasi spiral global. (Yoga)
Pilihan Editor
-
25 Tahun Lagi Cadangan Timah Indonesia Habis
14 Dec 2021 -
Emiten Komponen Otomotif Kian Menderu
14 Dec 2021









