Ekonomi Internasional
( 635 )Capital Inflow Melonjak Tiga Kali Lipat
Aliran modal asing kembali membanjiri pasar keuangan domestik. Selama 30 Mei-2 Juni 2022, dana asing masuk atau capital inflow ke Indonesia tercatat Rp10,37 triliun atau melonjak tiga kali lebih dari pekan sebelumnya, 23-25 Mei 2022, sebesar Rp 3,22 triliun. "Berdasarkan data transaksi 30 Mei-2 Juni 2022, nonresiden (asing) mencetak beli bersih Rp10,37 triliun di pasar keuangan domestik, terdiri atas SBN (surat berharga negara) sebesar Rp5,94 triliun dan saham Rp4,43 triliun," ujar Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono dalam publikasi Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah terbaru, Jumat (3/6). Selain itu, imbal hasil atau yeild SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,98% pada Jumat (3/6) pagi, dari 7,00% pada Kamis (2/6) sore. Yield itu masih cukup jauh dari imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang berada di level 2,908%. Bank sentral pun mencatat, rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.420 per dollar AS pada Jumat (3/6) pagi atau penguat dibanding pada penutupan pada Rabu (2/6) yang di level (bid) Rp14.480 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat ke level 101,82. (Yetede)
Pasar Minyak Global Berubah Selamanya
Invasi Rusia ke Ukraina telah membentuk ulang pasar minyak global. Ditandai masuknya para pemasok dari Afrika untuk memenuhi pemintaan Eropa, dan juga Rusia-yang terdampak sanksi-sanksi ekonomi dari Barat. Kondisi tersebut semakin menaikkan resiko terjadinya transfer antar kapal untuk membawa minyak ke Asia. Menurut data dan industri perdagangan, sanksi-sanksi yang dikenakan pada Rusia menyusul konflik di Ukraina yang dimulai pada Februari- temasuk larangan AS atas impor minyaknya- telah mdenorong Negeri Beruang Merah menjauh dari Eropa demi untuk mengarah ke para pelanggan di India dan Tiongkok yang telah mengangkut kargo dengan potongan harga besar-besaran. Data dari Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperlihatkan ekspor Rusia kembali ke tingkat awal sebelum invasi pada April. Harga minyak pun sudah stabil di kisaran US$ 110 per barel setelah mencapai level tertinggi dalam 14 tahun diatas US$ 139 per barel pada Maret 2022. (Yetede)
PEKERJA DI CHINA MENANTI UJUNG MIMPI BURUK
Untuk memenuhi kebutuhan, Sun membantu menyortir kiriman pemerintah bagi masyarakat yang harus menjalani karantina wilayah. Dari pekerjaan sementara itu, ia mendapatkan upah 38 USD atau Rp 550.000 sehari dan ia harus pindah dari asrama, lalu tinggal di gudang tempatnya bekerja, sesuai aturan pemerintah terkait Covid-19. Namun, tiga minggu kemudian, Sun harus keluar dari gudang itu. Pacarnya yang bekerja di restoran yang sama sakit kista dan membutuhkan perawatan medis segera. Sebagai orang dekatnya, Sun harus mengantar sang pacar ke rumah sakit pada 25 April, tetapi harus membayar mahal sopir mobil pengantar ke rumah sakit. Layanan ambulans tak bisa diharapkan. Namun, Sun tidak bisa tinggal di gudang tempat tinggalnya dulu, karena aturan Covid-19 yang ketat menuntut Sun harus menjalani isolasi terlebih dahulu. Sementara asrama tidak mempunyai ruang untuk isolasi dan karena layanan kereta api dihentikan, Sun tak bisa pulang ke kampung halamannya di Dali yang berjarak sekitar 3.000 kilometer di barat daya Provinsi Yunan.
Kebijakan ”nol Covid” China yang tanpa kompromi itu telah memukul perekonomian. Banyak dari 25 juta penduduk Shanghai mengeluh kehilangan pekerjaan, kesulitan mencari makanan, dan mengalami tekanan mental. Bagi warga yang masih bekerja pun, dampaknya juga tak kalah parah. Mereka tidak bisa bekerja dari rumah dan gajinya pun bukan gaji tetap. Lebih dari 290 juta orang dari wilayah perdesaan China menjadi pekerja di kota-kota besar. Mereka bekerja di pabrik, proyek bangunan, restoran, dan melakukan pekerjaan berketerampilan rendah lainnya. Sebagian besar dibayar per jam atau per hari dan tanpa kontrak tetap. Ada yang bisa mendapatkan penghasilan lebih dari Rp 15 juta dalam sebulan, tetapi sebagian hanya bisa mengantongi lebih sedikit lagi. Tenaga kerja murah pekerja migran membantu mengubah kota-kota seperti Shanghai dan Shenzhen menjadi benteng kemakmuran China. Namun, kebijakan karantina wilayah membuat banyak orang dalam posisi genting.
Tingkat pengangguran kaum muda perkotaan melonjak hingga 18,2 %. Ini rekor tertinggi. Penyebabnya, perekrutan perusahaan anjlok gara-gara pandemi Covid-19 dan ketatnya peraturan pada pendidikan swasta, teknologi, dan sektor lain. ”Pekerja migran tidak menjadi perhatian Partai Komunis China saat ini,” kata analis di Institut Mercator untuk Studi China, Valaria Tan. Sebagian besar wilayah Shanghai masih dalam karantina sampai sekarang. Layanan kereta mulai beroperasi kembali. Sun akhirnya membawa pulang pacarnya ke kampong halamannya di Taizhou, Provinsi Zhejiang (sekitar 370 kilometer selatan Shanghai), Kamis lalu. Namun, keduanya harus dikarantina lagi di tempat itu selama dua minggu sambil menunggu Shanghai kembali normal, entah sampai kapan. ”Semoga mimpi buruk ini segera berakhir,” kata Sun. (Yoga)
Inflasi dan Sanksi dalam Sepiring ”Fish and Chips”
Bagi banyak orang Inggris, ikan dan kentang, di dunia dikenal sebagai fish and chips, adalah makanan yang sudah menjadi bagian tradisi selama setidaknya 160 tahun terakhir. Serangan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022 mengubah itu. ”Harga ikan melambung, harga minyak melonjak. Semua hal terkait dagangan kami melambung,” kata Bally Singh, pengelola kedai Hooked Fish and Chips di London Barat, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (26/5). Harga ikan untuk bahan baku menu itu sudah naik 75 % dibanding 2021. Sementara minyak biji matahari naik 60 % dan tepung 40 %. Gara-gara kenaikan itu, Singh, salah satu pengelola kedai ikan dan kentang goreng yang terdampak, menaikkan harga menu itu dari 7,5 pound menjadi 9,5 pound per porsi. Bahkan, ia mempertimbangkan kenaikan harga sampai 11 pound per porsi. ”Kami berusaha membuat harga tetap terjangkau dan produk bisa bersaing dengan kedai atau jenis makanan lain. Sayangnya, kami merasakan penjualan terus menurun,” ujarnya.
Minyak biji bunga matahari dan tepung juga produk utama dari Rusia-Ukraina. Sanksi Inggris dan sekutunya membuat impor kedua komoditas itu sulit dilakukan dari Rusia. Impor dari Ukraina lebih sulit lagi. Sebab, seluruh pelabuhan Ukraina sudah dikuasai atau diblokade Rusia. Adapun jaringan jalan dan rel kereta sudah banyak rusak. Inggris sedang berusaha mencari sumber pemasok pengganti. Hal yang tidak mudah karena 40 % gandum dan 50 % minyak biji bunga matahari dunia dipasok Rusia-Ukraina. Selain ada hambatan di pasokan, ada pula rebutan pasar. Bukan hanya Inggris butuh gandum dan minyak biji bunga matahari. Jika melirik ke sektor energi, dampak sanksi ke Rusia semakin luas. Sanksi membuat harga energi melonjak dan, seperti di banyak negara, Inggris ikut menanggungnya. Dari 1,26 pound pada April 2021, harga BBM di Inggris mencapai 1,62 pound per liter pada April 2022. Inflasi Inggris pada April 2022 mencapai 9 % atau tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Pada Maret 2022, inflasi di Inggris mencapai 7 %, tertinggi di antara anggota G7. (Yoga)
Momen Davos Sangat Berarti
Pandemi Covid-19 berefek inflatoir karena stimulus mengucur deras saat penguncian wilayah. Peredaan pandemi mendorong kenaikan output dan bisa menekan inflasi. Namun, peredaan pandemi disambut invasi Rusia ke Ukraina. Efeknya adalah kenaikan harga gandum, pupuk, minyak goreng, bahan bakar minyak, dan gas akibat pasokan yang terganggu. Menambah runyam keadaan, sejumlah negara mengamankan pasokan domestik dengan menghentikan ekspor, hal yang juga pernah dilakukan Indonesia lewat sawit. Belum ada solusi atas kemelut itu. Amerika Serikat dan Eropa yang sudah berutang banyak sedang terancam inflasi pula. Pilihan mengetatkan jumlah uang beredar, termasuk lewat kenaikan suku bunga oleh bank sentral, terpaksa dilakukan. Langkah ini bukan tanpa efek dan berpotensi mengganggu aliran investasi portofolio.Kawasan Asia Tenggara sekalipun, yang disebut penggerak aliran investasi langsung global, terimbas penurunan aliran investasi portofolio. ”Ancaman bagi dunia sekarang adalah inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang rendah,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, Senin (23/5). Jika pandemi adalah aspek force majeur, aspek nonpandemi seperti ketegangan geopolitik, invasi, dan kebijakan moneter zig-zag negara Barat, seperti Indonesia yang sempat zig-zag soal sawit, adalah warna nasionalistik yang mengacaukan globalisasi. ”…. Tren ini mencuatkan kekhawatiran tentang dunia yang terpecah,” kata Jose Manuel Barroso, Ketua Goldman Sachs International dan mantan Presiden Komisi Uni Eropa (The Financial Times, 22 Mei).
Tak heran jika Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos kali ini mengambil tema ”bekerja sama, memulihkan rasa saling percaya”. Presiden WEF Borge Brende mengatakan, ”Pertemuan Davos kali ini berlangsung di tengah gejolak geopolitik paling berkecamuk dalam lima dekade terakhir.” Perlu waktu untuk memulihkan semua kisruh itu. Efek kisruh itu adalah potensi terjerembapnya 263 juta warga dunia ke dalam kemiskinan akut dan makin banyaknya warga dunia yang terpukul inflasi. Solusi bagi korban itu adalah subsidi makanan dan bahan bakar di banyak negara, kata Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva. Tidak semua negara mengalami situasi akut. Asia,termasuk ASEAN dan Indonesia, relatif aman walau terganggu. Kelanjutan reformasi ekonomi untuk memaksimalkan manfaat bonus demografi, termasuk kemudahan berbisnis, adalah hal urgen yang bisa dilakukan Indonesia. Kebetulan sedang tumpah ruah pula delegasi Indonesia pada pertemuan Davos 2022. Menjual potensi ekonomi dan berbenah diri adalah cara mencegah kemiskinan. (Yoga)
Program Pemulihan Ekonomi dan Transisi Energi Harus Sejalan
Upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 harus berjalan bersamaan dengan transisi ke energy yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia menyerukan agar hal itu dilakukan secara kolaboratif antarnegara. ”Kami menyatakan sudah saatnya semua negara duduk bersama secara setara guna mengatasi persoalan lingkungan sebagai dampak perubahan iklim,” ujar Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat membuka paviliun Indonesia di Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (Annual Meeting World Economic Forum/WEF 2022), Senin (23/5), di Davos, Swiss. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia saat ini fokus untuk menghentikan lebih dini sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan mengadopsi energi terbarukan. Tantangannya adalah menyediakan pendanaan yang cukup untuk dua fokus tersebut.
WEF 2022 mengusung tema ”Working Together, Restoring Trust”. Isu yang dibahas meliputi kebijakan pemerintah dan strategi bisnis dengan latar belakang pandemi global, konflik Ukraina-Rusia, serta tantangan geoekonomi. Forum ini berlangsung 22-26 Mei 2022. Puluhan pemimpin negara Mengutip AFP, lebih dari 50 kepala negara atau pemerintahan hadir di forum ini. Mereka bagian dari 2.500 anggota delegasi, mulai dari pemimpin bisnis, akademisi, sampai tokoh masyarakat. Inflasi menjadi perhatian utama karena harga energi dan pangan melonjak drastis. Situasi ini menambah kekhawatiran akan bahaya kelaparan di negara-negara yang bergantung pada gandum dari wilayah tersebut. ”Pandemi menyebabkan kenaikan tajam harga pangan dan energi. Tak semua orang mampu menyikapi kenaikan itu,” kata Direktur Eksekutif Oxfam Gabriela Bucher. (Yoga)
ASEAN di Tengah Kekuatan Bipolar
ASEAN memasuki dunia dengan kekuatan bipolar, di mana AS dan China saling bersaing. Profesor Yan Xuetong dari Universitas Tsinghua mematrikan kekuatan bipolar ini di situs China US Focus, 20 April 2015, berjudul ”A Bipolar World is More Likely than a Unipolar or Multipolar One”. Tidak ada konsensus keamanan akan terjamin di era bipolar, kata mantan Menlu Brasil Antonio de Aguiar Patriota, 2 Mei 2017, di situs Rising Power Project. Maka, tidak aneh jika para pemimpin ASEAN, tanpa perwakilan Myanmar, bertemu Presiden AS Joe Biden di Washington DC, 12 Mei. Kehadiran pemimpin ASEAN di Washington ditanggapi China dengan peringatan jubir Kemenlu China,Wang Wenbin, kepada AS (China Daily, 19 April 2022), Jangan jadikan negara-negara lain sebagai pion.
”ASEAN tak mau memilih salah satu dari keduanya,” demikian kata Kao Kim Hourn, penasihat PM Kamboja Hun Sen (Reuters, 12 Mei). Sejarah berpihak pada Asia. ASEAN-China merupakan mitra dagang terbesar dengan total neraca perdagangan 685,28 miliar USD pada 2020. Perdagangan bilateral ASEAN-AS sebesar 362,2 miliar AS. Potensinya besar sehingga Menlu China Wang Yi (Xinhua, 7 Mei) mengatakan, ”Strategi AS di Indo Pasifik tidak cocok dengan waktu serta tidak mengakomodasi kepentingan jangka panjang negara-negara di Asia Timur.” Sepak terjang AS di Indo Pasifik adalah membendung China, kata Menlu AS Antony J Blinken (CNN, 14 Desember 2021). Ada sisi positif di era bipolar. Postur tegas AS, semisal tiap tahun menerbitkan dosa-dosa hak asasi manusia negara-negara lain, relatif berkurang. Tidak terasa lagi taring daftar hitlist AS, yang sewaktu-waktu bisa menghentikan impor dari negara-negara ”berdosa”. AS dan China saling menawarkan investasi. Tentu tawaran terbaru AS sebesar 150 juta dollar AS tak sebanding dengan China yang menawarkan lebih banyak. (Yoga)
Ekonomi Inggris Melambat dan Berpotensi Resesi
Ekonomi Inggris pada 2022 dilaporkan kontraksi karena terdampak lonjakan inflasi sehingga meningkatkan prospek negara itu jatuh ke dalam resesi. Rilis data itu terjadi setelah pada pekan lalu, Bank of England (BoE) memperingatkan Inggris berisiko jatuh dalam resesi dengan inflasi Inggris diperkirakan mencapai 10% yang tertinggi dalam empat dekade-diakhir tahun ini. Kantor Statistik Nasional (ONS) menyampaikan pernyataan bawa ekonomi Inggris tumbuh 0,8% secara keseluruhan pada periode Januari-Maret. Ini merupakan pertumbuhan kuartalan paling lambat selama setahun, dibandingkan dengan ekspansi produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,3% pada Kuartal IV tahun lalu. Menanggapi data Kamis, Menteri Keuangan (menkeu) Ridhi Sunak mengungkakan bahwa pemulihan ekonomi Ingggris dari pandemi telah diganggu oleh invasi Presiden Rusia Vladimir Putin ke Ukraina dan tantangan-tantangan global lainnya, Namun ditambahkan oleh Sunak mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa pertumbuhan Inggris dalam beberapa bulan pertama tahun ini tergolong kuat, bahkan lebih cepat dari Amerika, Jerman, dan Italia. (Yetede)
Harap-Harap Cemas Hadapi Strategi Moneter AS
Bank sentral AS, Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga 0,5 % pada Rabu (4/5). Kenaikan ini dirasa cukup tajam dan menjadi yang terbesar setidaknya selama lebih dari dua dekade terakhir. Di satu sisi, strategi memompa suku bunga ini merupakan reaksi yang logis dari tren inflasi yang terus meroket selama setahun terakhir. Pada Januari 2021, inflasi y-o-y di AS berada di kisaran 1,4 %. Angka tersebut terus naik hingga ke titik 5 % hanya dalam waktu empat bulan saja. Pada puncaknya, inflasi menyentuh angka 8,5 % pada Maret 2022. Angka ini jauh dari yang ditargetkan oleh The Fed tahun ini, yakni inflasi di kisaran 2 %. Akibat terganggunya rantai pasok minyak dunia akibat perang Rusia-Ukraina, sektor energi paling terpukul. Dalam periode waktu tersebut, energi di AS mengalami inflasi y-o-y 32 %. Bahan makanan juga menjadi sektor yang mengalami inflasi cukup tinggi. Pada Maret lalu, inflasi produk kategori ini nyaris menyentuh 9 %. Tren serupa terasa pada berbagai kebutuhan pokok lain seperti sandang (6,8 %) dan papan (5 %). Berdasarkan catatan dari The New York Times, kenaikan harga ini merupakan yang terburuk setidaknya empat dekade terakhir.
Langkah The Fed menaikkan suku bunga dapat dilihat sebagai upaya AS memitigasi perburukan inflasi dalam waktu dekat. Kenaikan tajam dari suku bunga umumnya akan melemahkan permintaan di pasar, memancing orang untuk menyimpan uang di bank atau instrumen keuangan lain. Hal ini diharapkan akan ”mendinginkan” mesin perekonomian sehingga inflasi dapat ditekan. Namun, apabila tidak hati-hati, kebijakan ini bisa menjadi bumerang. Mesin ekonomi yang terlampau dingin bisa saja gagal untuk kembali mendapatkan momentum. Maka, langkah menaikkan suku bunga justru dapat menyebabkan resesi. Risiko ini kian mengkhawatirkan di tengah tekanan yang tengah dihadapi perekonomian AS. Di satu sisi, inflasi diakibatkan tekanan krisis Rusia–Ukraina. Sehari berselang, kebijakan The Fed belum mendapat reaksi keras dari Wall Street. Setelah pengumuman dari bank sentral, pasar justru merespons positif. Hal tersebut terlihat dari penutupan Wall Street pada Rabu (4/5) dengan tren positif di beberapa indeks. seperti Dow Jones yang naik 2,81 %, S&P 500 terdongkrak 2,99 %, dan NASDAQ yang turut naik 3,19 %. Hal ini menandakan pasar finansial global relative ”merestui” langkah The Fed. Meskipun begitu, bukan berarti dampak global dari kebijakan tersebut tidak akan dirasakan, dalam jangka yang lebih panjang, dampak yang lebih serius dapat terasa apabila langkah The Fed terbukti memperlambat laju perekonomian AS secara signifikan. (Yoga)
Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia
Tiga tantangan pokok yang dihadapi perekonomian dunia, termasuk Indonesia, dalam satu-dua tahun ini adalah lonjakan harga komoditas yang tinggi, normalisasi kebijakan moneter negara maju yang agresif, serta konflik Rusia-Ukraina. Di luar ketiga tantangan itu, masih ada risiko yang muncul dari potensi varian baru Covid-19 dan sebaran Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang di tahun 2022. Sejak awal tahun 2021, harga komoditas, baik energi maupun non-energi, naik secara konsisten. Meletusnya perang Rusia-Ukraina, dua negara yang mempunyai peranan cukup besar dalam pasokan energi dan pangan dunia, memberi andil krisis atas kurangnya pemenuhan permintaan yang meningkat. Produksi minyak mentah Rusia 2021 rata-rata 9,8 juta barel per hari atau 10 % konsumsi minyak mentah dunia. Alhasil, harga energi melonjak lebih tinggi diikuti dengan harga pangan, pertambangan, dan komoditas lainnya, dan mendorong inflasi yang sudah tinggi, terutama di negara-negara maju. Inflasi di AS, dari 7,5 %, meningkat menjadi 8,5 % pada Maret 2022, tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Demikian juga yang terjadi di Eropa dan banyak negara lainnya. Inflasi di kawasan Eropa melonjak menjadi 7,5 % pada Maret 2022. Dengan makin tingginya inflasi, Bank sentral AS, The Fed akan menempuh langkah yang lebih agresif untuk menjinakkan inflasi melalui kenaikan suku bunga, meskipun dengan konsekuensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tidak tertutup kemungkinan, Fed Fund Rate / FFR akan dinaikkan hingga 3,5 % di akhir tahun 2022, lebih tinggi dari tingkat normalisasi sebelumnya, yakni 2,5 %. The Fed pernah menaikkan FFR 5,25 % pada 2004-2006 guna mengatasi inflasi dan pemanasan ekonomi (overheated economy).
Ada beberapa implikasi dari gejolak ekonomi dunia saat ini bagi ekonomi Indonesia. Pertama, meningkatnya ekspor cukup tinggi. Sebagai negara yang kaya SDA, neraca perdagangan juga mencatat surplus yang cukup besar. Nilai ekspor Indonesia 66,1 miliar USD pada triwulan I tahun 2022 dengan surplus perdagangan 9,3 miliar USD. Meski berdampak positif, apabila berlangsung dalam jangka panjang, commodity boom ini dapat memberi implikasi yang kurang menguntungkan.Nilai tukar perdagangan komoditas yang tinggi dapat menekan peranan sektor lain,terutama industri. Fenomena Dutch disease ini dapat menghambat upaya percepatan industrialisasi di Indonesia. Kedua, meningkatnya inflasi. Dengan kenaikan harga komoditas yang tinggi, tidak ada perekonomian yang mampu mengisolasi diri sepenuhnya dari pengaruh kenaikan harga, terutama energi. Harga minyak mentah Brent untuk keseluruhan tahun 2022 sebesar 98 USD per barel, jauh di atas asumsi APBN 2022. Apabila harga minyak mentah yang tinggi berlangsung lama, harga di dalam negeri perlu disesuaikan secara bertahap. Subsidi perlu dikendalikan dengan memberi perlindungan terhadap masyarakat yang kurang mampu dengan mengalihkan subsidi barang kepada kelompok yang disasar. Ketiga, mengetatnya kebijakan moneter. Meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan AS akan menuntut kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri. Sisi yang terberat adalah belanja, bagaimana menyelesaikan (exit) dari program pemulihan ekonomi secara tepat. Termasuk berbagai program relaksasi dan belanja yang diluncurkan semasa pandemi dan tak terlalu diperlukan lagi. Sejalan dengan berkurangnya stimulus fiskal dan moneter, reformasi struktural harus mulai menunjukkan hasil sejak tahun 2022. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Kayuhan Ekonomi Sepeda di Yogyakarta
11 Dec 2021 -
Konglomerasi Menguasai Asuransi Umum
04 Oct 2021 -
Ribbit Capital Danai Bank Jago
05 Oct 2021 -
PPATK : Transaksi Narkoba Tembus Rp 120 Triliun
30 Sep 2021









