;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Global dan Domestik

KT3 02 Aug 2022 Kompas

Kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Stagflasi, yakni inflasi tinggi, tetapi pertumbuhan ekonomi  rendah, mengancam. Inflasi AS yang terus menanjak membuat bank sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin atau 0,75 % ke 2,25-2,5 %. Sejak awal 2022, The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan 0,25 % pada Maret, 0,5 % pada Mei, dan 0,75 % pada Juni.  Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell memberikan sinyal  akan melakukan langkah serupa tahun ini, karena inflasi tahunan yang per Juni 2022 sebesar 9,1 %, tertinggi sejak November 1981. Inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum di tingkat konsumen di AS itu dipicu kenaikan harga energi dan pangan. Menurut data Trading Economics, harga energi di AS melonjak 41,6 %, tertinggi sejak Maret 1980. Adapun harga pangan melonjak 10,4  %, tertinggi sejak Februari 1981.

Situasi ini menimbulkan risiko bagi Indonesia dan negara-negara berkembang berupa pembalikan dana di pasar keuangan. Investor asing dikhawatirkan menarik dana mereka dari negara-negara berkembang, kemudian menempatkan dana mereka di instrumen safe haven yang dinilai lebih aman, berupa USD. Per Senin (1/8), IHSG Indonesia masih tumbuh 5,88 %. Indeks harga saham Singapura masih tumbuh, tetapi Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam merosot sejak awal tahun. Jika produsen sudah tak mampu lagi menanggung perubahan harga, akan ditransmisikan ke harga barang sehingga harga barang naik. Konsumen akan mengeluarkan lebih banyak uang untuk barang yang sama. Jika kondisi ini terjadi, upah riil akan turun, kesejahteraan masyarakat juga akan melorot. (Yoga)


Tidak Ada Resesi di Amerika

KT1 29 Jul 2022 Investor Daily (H)

Meski dalam dua kuartal terakhir didera kontraksi ekonomi, penyerapan tenaga kerja di AS justru meningkat. Dalam terminologi Amerika, Negeri Paman Sam itu tidak jatuh ke jurang resesi. Bauran kebijakan bank sentral AS (The Fed) dan pemerintahan Presiden Joe Biden mampu mencegah negeri itu dari resesi. Dalam pada itu, dolar AS kian perkasa terhadap mata uang dunia. Merespons kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 75 basis poin, lebih kecil dari perkiraan sebelumnya, harga saham di berbagai bursa dunia menguat. “PDB AS hanya turun 0,9% pada kuartal II-2022 secara tahunan. Kontraksi ekonomi yang lebih kecil ini terutama merefleksikan tren naik ekspor AS dan penurunan yang lebih kecil pengeluaran pemerintah federal,” papar Bureau of Economic Analysis AS, Kamis (28/7/2022) waktu setempat. Sementara itu, data lapangan kerja di AS juga masih kuat. Sebagaimana di lansir CNBC, jumlah pekerjaan baru non pertanian (nonfarm payrolls) yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS sebanyak 372.000 pada Juni 2022. Meski sedikit turun dari 390.000 pada Mei 2022, namun angka penganggurannya tetap 3,6% atau sama dengan bulan sebelumnya. (Yetede)

Mengantisipasi Resesi Akut Global

KT3 28 Jul 2022 Kompas

Dana Moneter Internasional (IMF) mengonfirmasikan, perekonomian global terus memburuk dengan cepat. Selasa  (26/7) IMF memangkas lagi proyeksi pertumbuhan global pada 2022, dari 3,6 % menjadi 3,2 %. Pada triwulan II-2022, menurut IMF, perekonomian global sebenarnya sudah mengalami kontraksi akibat melemahnya ekonomi China dan Rusia. Tiga perekonomian terbesar dunia, AS, China, dan UniEropa, kini stagnasi akibat inflasi tinggi. Tingginya inflasi dan perang Ukraina bisa menyeret perekonomian dunia ke ambang resesi. Dunia, menurut IMF, memasuki masa yang berbahaya dan gelombang baru ketidakpastian. Problema yang ada sebelum pandemi belum berlalu, sementara krisis utang global mengancam banyak negara berkembang.

Direktur European Institute Columbia University Adam Tooze mengingatkan, dunia dihadapkan pada polycrisis, terjadinya berbagai krisis secara simultan, yang bisa memicu badai penuh dampak sosial ekonomi, mulai dari krisis pangan, ledakan wabah, stagflasi, krisis utang, hingga kemungkinan perang nuklir, dalam 6-18 bulan ke depan. Ekonom Nouriel Roubini juga meyakini resesi kali ini bersifat akut. Tidak hanya dalam, tetapi juga akan bertahan selama beberapa waktu. Dia menyebut krisis kali ini stagflationary debt crisis, kombinasi situasi stagflasi 1970-an dan krisis utang 2008, dengan tingkat utang pemerintah dan swasta terhadap PDB global meningkat tajam dari 200 % (2019) ke 350 % (2022), terutama akibat pandemi.

Dalam kondisi seperti ini, normalisasi kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga yang terlalu cepat akan memicu gelombang gagal bayar dan kebangkrutan rumah tangga, korporasi, lembaga finansial, dan juga pemerintah. Stagflasi tak hanya mengancam negara maju, seperti AS dan Eropa, tetapi juga banyak negara miskin. Miliaran penduduk kian kesulitan mengakses kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan dasar, memicu tensi sosial di sejumlah negara. IMF menyerukan kerja sama global untuk mengatasi krisis ini. Memperkuat daya tahan ekonomi domestik lewat koordinasi dan bauran berbagai kebijakan kembali menjadi kunci bagi Indonesia untuk menekan dampak resesi akut global kali ini. (Yoga)


EKONOMI GLOBAL, Roubini: Resesi Akut Segera Muncul

KT3 27 Jul 2022 Kompas

Resesi akut segera tiba dan kali ini diduga kuat bukan resesi kategori ringan. Banyak alasan sahih untuk memperkirakan  resesi akut parah itu. Resesi kali ini diwarnai dua fondasi rapuh, yakni situasi stagflasi yang terjadi pada era 1970-an dan tingkat utang yang tinggi hingga 350 % PDB pada 2008. Demikian dikatakan ekonom AS, Dr Nouriel Roubini, dalam wawancara dengan Bloomberg, Senin (25/7). Roubini adalah dosen di New York University Stern School of Business. Ia juga salah satu ekonom yang tepat meramalkan akan datangnya resesi ekonomi di AS pada 2008 dan di Eropa pada 2009.

Roubini lebih menekankan pada potensi resesi di AS, tetapi dampaknya pasti juga merembet ke seantero dunia. ”Pemikiran bahwa resesi kali ini akan singkat dan dangkal itu jelas salah,” ujar Roubini. Rincian Roubini tentang potensi resesi akut kali ini telah dia tuliskan di situs The Project Syndicate edisi 29 Juni 2022 berjudul ”A Stagflationary Debt Crisis Looms”. ”Krisis akut berikutnya tak akan lebih ringan dari dua krisis besar sebelumnya,” tutur Roubini. Pada 1970-an, resesi terjadi karena stagnasi dan inflasi, salah satunya akibat kenaikan harga minyak dunia, tetapi kala itu tidak ada tumpukan utang. Meski demikian, resesi 1970-an itu juga tergolong parah.

”Saat ini kita menghadapi gangguan pasokan global, diikuti utang besar dan inflasi tinggi. Artinya, kita sedang mengarah pada resesi yang jadi kombinasi penyebab resesi 1970-an dan 1980-an. Itu disebut krisis yang diwarnai stagnasi dan inflasi serta tumpukan utang,” jelas Roubini. Gangguan pada pasokan global sekarang ini terjadi akibat invasi Rusia ke Ukraina, perang dagang AS, dan inflasi tinggi. Semua ini terjadi saat kombinasi utang swasta dan pemerintah Barat sedang meningkat dari 200 % terhadap PDB psada 1999 menjadi 350 % terhadap PDB pada 2022. (Yoga)


Ketidakpastian Global

KT3 26 Jul 2022 Kompas (H)

Ketidakpastian merupakan musuh terbesar perencanaan, sementara ekonomi adalah soal proyeksi serta kalkulasi  strategi yang diturunkan dalam anggaran. Semakin hari, proyeksi ekonomi makin tak pasti sehingga diperlukan imajinasi  tentang masa depan berbasis data yang tersedia saat ini. Akhirnya, perencanaan menjadi dialektika antara visi (cita-cita) dan realitas yang bisa dengan cepat berganti sesuai perubahan situasi. Sejauh ini konsensus proyeksi perekonomian global beberapa tahun ke depan adalah stagflasi atau era di mana pertumbuhan ekonomi rendah, sementara inflasi  tinggi. Konsekuensinya tingkat kesejahteraan akan menurun. Stagflasi telah menjadi baseline scenario atau situasi yang paling mungkin terjadi. Di beberapa negara, resesi menjadi skenario terburuk (worst-case scenario) yang mungkin terjadi. Perekonomian global dapat terhindar dari stagflasi jika mampu melakukan transformasi sisi penawaran, seperti efisiensi faktor produksi serta perbaikan sistem logistik. Sayangnya, justru aspek ini yang terus memburuk sejak perang dagang, pandemi Covid-19, dan kini diperparah dengan krisis Ukraina.

Bank Pembangunan Asia (ADB) baru saja menerbitkan laporan tambahan Asian Development Outlook edisi Juli 2022. Laporan ini merevisi ke bawah pertumbuhan kawasan Asia yang pada April lalu diproyeksikan 5,2 % menjadi 4,5 %, terseret perlambatan global. Adapun Asia Timur direvisi dari 4,7 % menjadi 3,8 % akibat perlambatan pertumbuhan China yang diperkirakan hanya akan tumbuh 4 % tahun ini. Stagflasi global telah menyeret kinerja pertumbuhan ekonomi di hampir semua kawasan Asia. Meski begitu, kawasan Asia Tenggara justru mengalami kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 4,9 % menjadi 5 %. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh ADB dinaikkan dari perkiraan semula 5 % menjadi 5,2 %. Kuatnya permintaan domestik dan peningkatan ekspor disebut sebagai faktor utama perbaikan kinerja perekonomian Indonesia. (Yoga)


Perang Ekonomi-Politik: Para Pemimpin Eropa Berjatuhan

KT3 24 Jul 2022 Kompas

Satu per satu pemimpin Eropa tumbang. Setelah PM Inggris Boris Johnson, kini giliran PM Italia Mario Draghi yang mundur. Sementara di Kremlin, Presiden Rusia Vladimir Putin belum tergoyahkan. Draghi mundur dari jabatan PM Italia pada hari Kamis (21/7). Langkah politik ini dilakukan sehari setelah tiga partai politik dari koalisi pemerintah memboikot pengajuan mosi tidak percaya pada pemerintahan Draghi. Pengunduran diri Draghi terjadi saat tekanan ekonomi melanda Italia. Merujuk Financial Times, inflasi Juni mencapai 8 %, tertinggi sejak 1986. Imbal hasil surat utang negara juga melompat 0,27 basis poin menjadi 3,7 %. Mundurnya Draghi kemungkinan memengaruhi kebijakan luar negeri Italia pada perang Rusia-Ukraina. Draghi konsisten bersikap keras dan tak mengenal kompromsi terhadap Moskwa.

Dua pekan sebelumnya, PM Inggris Boris Johnson lebih dahulu tumbang. Ia mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis (7/7). Langkah ini Johnson lakukan setelah sejumlah menteri mundur dan 50 anggota senior parlemen menarik dukungan. Sebagaimana Draghi di Italia, pengunduran diri Johnson sebagai PM Inggris pun terjadi saat ekonomi Inggris mengalami tekanan. Inflasi Juni mencapai 9,4 % setelah Mei mencatatkan 9,1 %. Seperti negara-negara Eropa lainnya, Inggris juga menghadapi kenaikan harga minyak.

Krisis energi akan berkomplikasi pada krisis ekonomi. Tanpa solusi dalam beberapa bulan ke depan, Eropa dan AS rawan mengalami gejolak sosial yang bisa memicu perubahan rezim di negara-negara Barat. Sementara Putin justru semakin mantap dalam politik domestiknya. Mengutip Statista, tingkat penerimaan masyarakat Rusia terhadap Putin mencapai 80 % pada Juni 2022, sedang berdasarkan jajak pendapat atas Kerja Sama NPR, PBS NewsHour, dan Marist, tingkat penerimaan Biden per Juli hanya 36 %, terendah sejak Biden menghuni Gedung Putih, yang pada Januari 2021 di level 57 %. (Yoga)


Dana Pandemi Masa Depan

HR1 07 Jul 2022 Bisnis Indonesia

Dewan Direktur Bank Dunia pada 30 Juni 2022 telah menyetujui pembentukan Dana Perantara Keuangan (Financial Intermediary Fund atau FIF) bagi pencegahan, kesiapan dan respons atas pandemi (Pandemic Prevention, Preparedness and Response atau Pandemic PPR) yang masih mungkin terjadi di masa depan. Keputusan ini diambil menindaklanjuti amanat Forum G20 yang memberikan mandat kepada Bank Dunia untuk menjadi pengelola FIF berkolaborasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Persetujuan Dewan Direktur Bank Dunia menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pendirian FIF bagi Pandemic PPR yang di targetkan untuk direalisasikan pada masa Presidensi G20 Indonesia di tahun 2022 ini. Hal ini sejalan dengan tiga prioritas yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam agenda Presidensi G20 Indonesia, yakni memperkuat arsitektur kesehatan global, mendorong transformasi digital, serta mempercepat transisi energi yang berkelanjutan. Menurut laporan yang disiapkan Bank Dunia bersama WHO (2022), untuk dapat menyiapkan masyarakat global dalam menghadapi risiko pandemi di masa depan dengan berbagai program Pandemic PPR di atas, diperlukan dana sekitar US$31,1 miliar per tahun yang harus tersedia paling tidak sampai 5 tahun ke depan.

Tantangan dan Peluang Pembiayaan Hijau

HR1 05 Jul 2022 Bisnis Indonesia

Laporan Global Risk tahun 2022 (WEF, 2022) mengidentifikasi bahwa dari 10 risiko paling parah dalam skala global selama 10 tahun ke depan, lima di antaranya disebabkan oleh risiko perubahan iklim. Temuan tersebut sejalan dengan laporan Swiss Re Institute (Swissre, 2021) yang memprediksi dampak ekonomi dari kenaikan suhu global 3,2 derajat celcius pada tahun 2050 berupa potensi kehilangan hingga 18% dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika tidak ada tindakan yang diambil terhadap perubahan iklim. Selepas dari pandemi Covid-19, perekonomian global dihadapkan pada sejumlah tantangan (IMF, 2021). Pertama, kompleksitas tatanan geopolitik berpengaruh pada perdagangan global termasuk kinerja rantai pasokan dan jaringan sistem keuangan. Kedua, perkembangan teknologi digital seperti digitalisasi dan otomatisasi akan memainkan peran utama dalam mendorong pertumbuhan inklusif dan jangka panjang. Ketiga, keniscayaan transformasi struktural melalui katalisator pandemi memacu perubahan teknologi, otomatisasi, dan realokasi rantai pasokan sehingga menghadirkan tantangan dan peluang sekaligus. Keempat, perubahan iklim dan pemanasan global akan menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi makroekonomi dan keuangan termasuk merugikan beberapa negara secara tidak proporsional

Indonesia-UAE CEPA Tingkatkan Ekspor

KT1 02 Jul 2022 Investor Daily (H)

Persetujuan Kemitraan Ekonomi Konperhensif Indonesia-Uni Emirat Arab (Indonesia-United  Arab Emirates  Comperhensive Economic Partnership Agreement, atau IUEA (UAE CEPA) akhirnya ditandatangani, hanya berselang sembilan bulan sejak diluncurkan oleh Menteri Perdagangan kedua negara. Penandatanganan IUAE-CEPA menjadi momentum bersejarah karena ini pertama kali Indonesia memiliki penjanjian dagang dengan negara di kawasan Teluk. Mendag mengungkapkan, Presiden Jokowi menyambut positif penyelesaian persetujuan IUAE. Persetujuan ini menjadi pintu masuk Indonesia ke UEA yang merupakan hubungan untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara tujuan nontradisional seperti di Kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. "Kita harap bersama ketika IIUAE-Cepa ini diimplemtasikan, peningkatan kinerja sektor perdagangan  dan investasi yang  yang didukung melalui IUAE-Cepa dapat semakin mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 serta meningkatkan daya saing Indonesia. (Yetede)

Rusia Mulai Kirim Gandum dari Pelabuhan Ukraina

KT1 01 Jul 2022 Investor Daily

Rusia pada Kamis (30/6)  mulai mengirim gandum dari wilayah  penduduk  Ukraina. Menurut laporan, sebanyak 7.000 ton biji-bijian sereal itu diangkut dengan sebuah kapal yang berlayar dari Pelabuhan Berdayansk di Ukraina. Pemerintah Ukraina sendiri selama berminggu-minggu telah menuding Rusia dan para sekutunya mencuri biji-bijian dari Ukraina selatan sehingga berkontribusi pada kekurangan pangan global, karena ekspor biji-bijian yang terhalang dari Pelabuhan Ukraina. "Sampai sekarang pengiriman telah diangkut melalui darat," demikian disampaikan otoritas Kyiv, yang dilansir AFP.  Kapal-kapal laut hitam Rusia, lanjut ia, telah memastikan keamanan ribuan ton biji-bijian itu. Ia juga memastikan keamanan ranjau di pelabuhan Ukraina telah disingkirkan. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut dari Balitsky mengenai tujuan akhir  kargo tersebut. Berdyansk adalah kota pelabuhan di pantai utara Laut Azow, di wilayah Zaporizhia, bagian tenggara Ukraina. (Yetede)