Ekonomi Internasional
( 642 )Momen Davos Sangat Berarti
Pandemi Covid-19 berefek inflatoir karena stimulus mengucur deras saat penguncian wilayah. Peredaan pandemi mendorong kenaikan output dan bisa menekan inflasi. Namun, peredaan pandemi disambut invasi Rusia ke Ukraina. Efeknya adalah kenaikan harga gandum, pupuk, minyak goreng, bahan bakar minyak, dan gas akibat pasokan yang terganggu. Menambah runyam keadaan, sejumlah negara mengamankan pasokan domestik dengan menghentikan ekspor, hal yang juga pernah dilakukan Indonesia lewat sawit. Belum ada solusi atas kemelut itu. Amerika Serikat dan Eropa yang sudah berutang banyak sedang terancam inflasi pula. Pilihan mengetatkan jumlah uang beredar, termasuk lewat kenaikan suku bunga oleh bank sentral, terpaksa dilakukan. Langkah ini bukan tanpa efek dan berpotensi mengganggu aliran investasi portofolio.Kawasan Asia Tenggara sekalipun, yang disebut penggerak aliran investasi langsung global, terimbas penurunan aliran investasi portofolio. ”Ancaman bagi dunia sekarang adalah inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang rendah,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, Senin (23/5). Jika pandemi adalah aspek force majeur, aspek nonpandemi seperti ketegangan geopolitik, invasi, dan kebijakan moneter zig-zag negara Barat, seperti Indonesia yang sempat zig-zag soal sawit, adalah warna nasionalistik yang mengacaukan globalisasi. ”…. Tren ini mencuatkan kekhawatiran tentang dunia yang terpecah,” kata Jose Manuel Barroso, Ketua Goldman Sachs International dan mantan Presiden Komisi Uni Eropa (The Financial Times, 22 Mei).
Tak heran jika Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos kali ini mengambil tema ”bekerja sama, memulihkan rasa saling percaya”. Presiden WEF Borge Brende mengatakan, ”Pertemuan Davos kali ini berlangsung di tengah gejolak geopolitik paling berkecamuk dalam lima dekade terakhir.” Perlu waktu untuk memulihkan semua kisruh itu. Efek kisruh itu adalah potensi terjerembapnya 263 juta warga dunia ke dalam kemiskinan akut dan makin banyaknya warga dunia yang terpukul inflasi. Solusi bagi korban itu adalah subsidi makanan dan bahan bakar di banyak negara, kata Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva. Tidak semua negara mengalami situasi akut. Asia,termasuk ASEAN dan Indonesia, relatif aman walau terganggu. Kelanjutan reformasi ekonomi untuk memaksimalkan manfaat bonus demografi, termasuk kemudahan berbisnis, adalah hal urgen yang bisa dilakukan Indonesia. Kebetulan sedang tumpah ruah pula delegasi Indonesia pada pertemuan Davos 2022. Menjual potensi ekonomi dan berbenah diri adalah cara mencegah kemiskinan. (Yoga)
Program Pemulihan Ekonomi dan Transisi Energi Harus Sejalan
Upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 harus berjalan bersamaan dengan transisi ke energy yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia menyerukan agar hal itu dilakukan secara kolaboratif antarnegara. ”Kami menyatakan sudah saatnya semua negara duduk bersama secara setara guna mengatasi persoalan lingkungan sebagai dampak perubahan iklim,” ujar Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat membuka paviliun Indonesia di Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia (Annual Meeting World Economic Forum/WEF 2022), Senin (23/5), di Davos, Swiss. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia saat ini fokus untuk menghentikan lebih dini sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan mengadopsi energi terbarukan. Tantangannya adalah menyediakan pendanaan yang cukup untuk dua fokus tersebut.
WEF 2022 mengusung tema ”Working Together, Restoring Trust”. Isu yang dibahas meliputi kebijakan pemerintah dan strategi bisnis dengan latar belakang pandemi global, konflik Ukraina-Rusia, serta tantangan geoekonomi. Forum ini berlangsung 22-26 Mei 2022. Puluhan pemimpin negara Mengutip AFP, lebih dari 50 kepala negara atau pemerintahan hadir di forum ini. Mereka bagian dari 2.500 anggota delegasi, mulai dari pemimpin bisnis, akademisi, sampai tokoh masyarakat. Inflasi menjadi perhatian utama karena harga energi dan pangan melonjak drastis. Situasi ini menambah kekhawatiran akan bahaya kelaparan di negara-negara yang bergantung pada gandum dari wilayah tersebut. ”Pandemi menyebabkan kenaikan tajam harga pangan dan energi. Tak semua orang mampu menyikapi kenaikan itu,” kata Direktur Eksekutif Oxfam Gabriela Bucher. (Yoga)
ASEAN di Tengah Kekuatan Bipolar
ASEAN memasuki dunia dengan kekuatan bipolar, di mana AS dan China saling bersaing. Profesor Yan Xuetong dari Universitas Tsinghua mematrikan kekuatan bipolar ini di situs China US Focus, 20 April 2015, berjudul ”A Bipolar World is More Likely than a Unipolar or Multipolar One”. Tidak ada konsensus keamanan akan terjamin di era bipolar, kata mantan Menlu Brasil Antonio de Aguiar Patriota, 2 Mei 2017, di situs Rising Power Project. Maka, tidak aneh jika para pemimpin ASEAN, tanpa perwakilan Myanmar, bertemu Presiden AS Joe Biden di Washington DC, 12 Mei. Kehadiran pemimpin ASEAN di Washington ditanggapi China dengan peringatan jubir Kemenlu China,Wang Wenbin, kepada AS (China Daily, 19 April 2022), Jangan jadikan negara-negara lain sebagai pion.
”ASEAN tak mau memilih salah satu dari keduanya,” demikian kata Kao Kim Hourn, penasihat PM Kamboja Hun Sen (Reuters, 12 Mei). Sejarah berpihak pada Asia. ASEAN-China merupakan mitra dagang terbesar dengan total neraca perdagangan 685,28 miliar USD pada 2020. Perdagangan bilateral ASEAN-AS sebesar 362,2 miliar AS. Potensinya besar sehingga Menlu China Wang Yi (Xinhua, 7 Mei) mengatakan, ”Strategi AS di Indo Pasifik tidak cocok dengan waktu serta tidak mengakomodasi kepentingan jangka panjang negara-negara di Asia Timur.” Sepak terjang AS di Indo Pasifik adalah membendung China, kata Menlu AS Antony J Blinken (CNN, 14 Desember 2021). Ada sisi positif di era bipolar. Postur tegas AS, semisal tiap tahun menerbitkan dosa-dosa hak asasi manusia negara-negara lain, relatif berkurang. Tidak terasa lagi taring daftar hitlist AS, yang sewaktu-waktu bisa menghentikan impor dari negara-negara ”berdosa”. AS dan China saling menawarkan investasi. Tentu tawaran terbaru AS sebesar 150 juta dollar AS tak sebanding dengan China yang menawarkan lebih banyak. (Yoga)
Ekonomi Inggris Melambat dan Berpotensi Resesi
Ekonomi Inggris pada 2022 dilaporkan kontraksi karena terdampak lonjakan inflasi sehingga meningkatkan prospek negara itu jatuh ke dalam resesi. Rilis data itu terjadi setelah pada pekan lalu, Bank of England (BoE) memperingatkan Inggris berisiko jatuh dalam resesi dengan inflasi Inggris diperkirakan mencapai 10% yang tertinggi dalam empat dekade-diakhir tahun ini. Kantor Statistik Nasional (ONS) menyampaikan pernyataan bawa ekonomi Inggris tumbuh 0,8% secara keseluruhan pada periode Januari-Maret. Ini merupakan pertumbuhan kuartalan paling lambat selama setahun, dibandingkan dengan ekspansi produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,3% pada Kuartal IV tahun lalu. Menanggapi data Kamis, Menteri Keuangan (menkeu) Ridhi Sunak mengungkakan bahwa pemulihan ekonomi Ingggris dari pandemi telah diganggu oleh invasi Presiden Rusia Vladimir Putin ke Ukraina dan tantangan-tantangan global lainnya, Namun ditambahkan oleh Sunak mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa pertumbuhan Inggris dalam beberapa bulan pertama tahun ini tergolong kuat, bahkan lebih cepat dari Amerika, Jerman, dan Italia. (Yetede)
Harap-Harap Cemas Hadapi Strategi Moneter AS
Bank sentral AS, Federal Reserve mengumumkan kenaikan suku bunga 0,5 % pada Rabu (4/5). Kenaikan ini dirasa cukup tajam dan menjadi yang terbesar setidaknya selama lebih dari dua dekade terakhir. Di satu sisi, strategi memompa suku bunga ini merupakan reaksi yang logis dari tren inflasi yang terus meroket selama setahun terakhir. Pada Januari 2021, inflasi y-o-y di AS berada di kisaran 1,4 %. Angka tersebut terus naik hingga ke titik 5 % hanya dalam waktu empat bulan saja. Pada puncaknya, inflasi menyentuh angka 8,5 % pada Maret 2022. Angka ini jauh dari yang ditargetkan oleh The Fed tahun ini, yakni inflasi di kisaran 2 %. Akibat terganggunya rantai pasok minyak dunia akibat perang Rusia-Ukraina, sektor energi paling terpukul. Dalam periode waktu tersebut, energi di AS mengalami inflasi y-o-y 32 %. Bahan makanan juga menjadi sektor yang mengalami inflasi cukup tinggi. Pada Maret lalu, inflasi produk kategori ini nyaris menyentuh 9 %. Tren serupa terasa pada berbagai kebutuhan pokok lain seperti sandang (6,8 %) dan papan (5 %). Berdasarkan catatan dari The New York Times, kenaikan harga ini merupakan yang terburuk setidaknya empat dekade terakhir.
Langkah The Fed menaikkan suku bunga dapat dilihat sebagai upaya AS memitigasi perburukan inflasi dalam waktu dekat. Kenaikan tajam dari suku bunga umumnya akan melemahkan permintaan di pasar, memancing orang untuk menyimpan uang di bank atau instrumen keuangan lain. Hal ini diharapkan akan ”mendinginkan” mesin perekonomian sehingga inflasi dapat ditekan. Namun, apabila tidak hati-hati, kebijakan ini bisa menjadi bumerang. Mesin ekonomi yang terlampau dingin bisa saja gagal untuk kembali mendapatkan momentum. Maka, langkah menaikkan suku bunga justru dapat menyebabkan resesi. Risiko ini kian mengkhawatirkan di tengah tekanan yang tengah dihadapi perekonomian AS. Di satu sisi, inflasi diakibatkan tekanan krisis Rusia–Ukraina. Sehari berselang, kebijakan The Fed belum mendapat reaksi keras dari Wall Street. Setelah pengumuman dari bank sentral, pasar justru merespons positif. Hal tersebut terlihat dari penutupan Wall Street pada Rabu (4/5) dengan tren positif di beberapa indeks. seperti Dow Jones yang naik 2,81 %, S&P 500 terdongkrak 2,99 %, dan NASDAQ yang turut naik 3,19 %. Hal ini menandakan pasar finansial global relative ”merestui” langkah The Fed. Meskipun begitu, bukan berarti dampak global dari kebijakan tersebut tidak akan dirasakan, dalam jangka yang lebih panjang, dampak yang lebih serius dapat terasa apabila langkah The Fed terbukti memperlambat laju perekonomian AS secara signifikan. (Yoga)
Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia
Tiga tantangan pokok yang dihadapi perekonomian dunia, termasuk Indonesia, dalam satu-dua tahun ini adalah lonjakan harga komoditas yang tinggi, normalisasi kebijakan moneter negara maju yang agresif, serta konflik Rusia-Ukraina. Di luar ketiga tantangan itu, masih ada risiko yang muncul dari potensi varian baru Covid-19 dan sebaran Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang di tahun 2022. Sejak awal tahun 2021, harga komoditas, baik energi maupun non-energi, naik secara konsisten. Meletusnya perang Rusia-Ukraina, dua negara yang mempunyai peranan cukup besar dalam pasokan energi dan pangan dunia, memberi andil krisis atas kurangnya pemenuhan permintaan yang meningkat. Produksi minyak mentah Rusia 2021 rata-rata 9,8 juta barel per hari atau 10 % konsumsi minyak mentah dunia. Alhasil, harga energi melonjak lebih tinggi diikuti dengan harga pangan, pertambangan, dan komoditas lainnya, dan mendorong inflasi yang sudah tinggi, terutama di negara-negara maju. Inflasi di AS, dari 7,5 %, meningkat menjadi 8,5 % pada Maret 2022, tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Demikian juga yang terjadi di Eropa dan banyak negara lainnya. Inflasi di kawasan Eropa melonjak menjadi 7,5 % pada Maret 2022. Dengan makin tingginya inflasi, Bank sentral AS, The Fed akan menempuh langkah yang lebih agresif untuk menjinakkan inflasi melalui kenaikan suku bunga, meskipun dengan konsekuensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tidak tertutup kemungkinan, Fed Fund Rate / FFR akan dinaikkan hingga 3,5 % di akhir tahun 2022, lebih tinggi dari tingkat normalisasi sebelumnya, yakni 2,5 %. The Fed pernah menaikkan FFR 5,25 % pada 2004-2006 guna mengatasi inflasi dan pemanasan ekonomi (overheated economy).
Ada beberapa implikasi dari gejolak ekonomi dunia saat ini bagi ekonomi Indonesia. Pertama, meningkatnya ekspor cukup tinggi. Sebagai negara yang kaya SDA, neraca perdagangan juga mencatat surplus yang cukup besar. Nilai ekspor Indonesia 66,1 miliar USD pada triwulan I tahun 2022 dengan surplus perdagangan 9,3 miliar USD. Meski berdampak positif, apabila berlangsung dalam jangka panjang, commodity boom ini dapat memberi implikasi yang kurang menguntungkan.Nilai tukar perdagangan komoditas yang tinggi dapat menekan peranan sektor lain,terutama industri. Fenomena Dutch disease ini dapat menghambat upaya percepatan industrialisasi di Indonesia. Kedua, meningkatnya inflasi. Dengan kenaikan harga komoditas yang tinggi, tidak ada perekonomian yang mampu mengisolasi diri sepenuhnya dari pengaruh kenaikan harga, terutama energi. Harga minyak mentah Brent untuk keseluruhan tahun 2022 sebesar 98 USD per barel, jauh di atas asumsi APBN 2022. Apabila harga minyak mentah yang tinggi berlangsung lama, harga di dalam negeri perlu disesuaikan secara bertahap. Subsidi perlu dikendalikan dengan memberi perlindungan terhadap masyarakat yang kurang mampu dengan mengalihkan subsidi barang kepada kelompok yang disasar. Ketiga, mengetatnya kebijakan moneter. Meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan AS akan menuntut kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri. Sisi yang terberat adalah belanja, bagaimana menyelesaikan (exit) dari program pemulihan ekonomi secara tepat. Termasuk berbagai program relaksasi dan belanja yang diluncurkan semasa pandemi dan tak terlalu diperlukan lagi. Sejalan dengan berkurangnya stimulus fiskal dan moneter, reformasi struktural harus mulai menunjukkan hasil sejak tahun 2022. (Yoga)
Dampak Perang Menyebar ke Seluruh Dunia
Dampak perang di Ukraina telah menyebar luas dan cepat ke seluruh dunia seperti gelombang seismik sehingga Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (19/4) memangkas proyeksi pertumbuhan global 2022 menjadi 3,6 atau 0.8 poin lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumya yang dirilis pada Januari 2022. Perlambatan ekonomi, yang dijabarkan oleh IMF dalam laporan terbaru Prospek Ekonomi Dunia yang dirilis di Washington, AS, juga terjadi ditengah lonjakan harga-harga, kelangkaan pasokan, serta naiknya level utang. "Dampak ekonomi dari perang menyebar luas dan sangat jauh, seperti gelombang seismik yang menyeruak dari pusat gempa," ujar Kepala Ekonom IMF Pierre-Oliver Gourinchas, seperti dilansir AFP. Rusai menginvasi Ukraina sejak 24 Februari 2022. Serangan yang tadinya diarahkan ke wilayah barat negara tetangga yang pro-Barat itu sekarang dipusatkan ke wilayah timur. Infrastruktur Ukraina hancur sehingga tidak mampu lagi memproduksi biji-bijian maupun barang lain. (Yetede)
Kenaikan Inflasi dan Pemulihan Ekonomi
Ekonomi dunia dihadapkan pada masalah rumit, di satu sisi ada harapan berlanjutnya pemulihan ekonomi karena krisis akibat pandemi Covid-19 mereda. Di sisi lain, ada bahaya kenaikan harga (inflasi) makanan dan energi yang semakin signifikan dan berdampak negatif kepada negara-negara miskin serta masyarakat tertinggal di negara berkembang. Perang Rusia-Ukraina membuat situasi semakin kompleks. Rusia dan Ukraina sebagai penghasil komoditas tambang dan pertanian tidak bisa mengirim produknya yang sangat dibutuhkan oleh negara Eropa. Akibatnya, harga komoditas tambang dan pertanian naik semakin tinggi. Untuk Indonesia, kenaikan harga komoditas ini menguntungkan ekspor. Pada 2022, walaupun ada akselerasi impor diperkirakan Indonesia bisa mencatat surplus ekspor-impor barang dan jasa 1 % dari PDB. Ini berdampak positif terhadap stabilitas kurs rupiah. Pemulihan ekonomi China terhambat karena kebijakan zero covid policy. China masih melakukan isolasi di beberapa kota besar. Melambatnya ekonomi China berpengaruh terhadap ekspor negara berkembang ke negara itu. Karena lockdown di beberapa kota, pertumbuhan ekonomi China turun dari 4,8 % di triwulan I-2022 ke 3 % di triwulan II-2022. Namun, diharapkan pada semester II-2022 ekonomi China kembali mengalami akselerasi.
Pemerintah dan bank sentral di sejumlah negara tentu ingin ekonominya segera pulih. Akan tetapi, nilai uang juga harus dijaga agar tidak tergerus oleh inflasi. Demi mengendalikan inflasi dan menyerap ekses likuiditas, beberapa bank sentral dunia mulai menaikkan suku bunga secara perlahan dan menaikkan giro wajib minimum. Uniknya, China justru melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan giro wajib minimum karena ekonominya melemah. Dengan kenaikan suku bunga di sejumlah negara, terjadi kenaikan cost of capital (biaya modal). Investor saham mulai lebih selektif. Redanya krisis Covid-19 membuat terjadinya pemulihan ekonomi global. Pemulihan ekonomi, berarti bank diharapkan engakselerasi pemberian kredit. Di Indonesia, pertumbuhan kredit mencapai 7-9 % tahun ini. Tetapi, karena inflasi di AS meningkat signifikan, dikhawatirkan kenaikan suku bunga bank sentral AS juga dipercepat. Inflasi di AS sudah menembus 8 %, padahal dalam situasi normal inflasi AS di bawah 2 persen.
Berbeda dengan AS dan banyak negara yang inflasinya naik tinggi akibat kenaikan harga energi dan makanan, di Indonesia inflasi masih relative terkendali, disebabkan harga BBM dan listrik yang tidak naik karena adanya subsidi BBM dan listrik. Akan tetapi, beban subsidi APBN semakin tinggi. Untuk mengendalikan defisit APBN yang harus turun ke bawah 3 % PDB tahun depan, pengeluaran nonprioritas mesti dikendalikan. Menkeu Sri Mulyani, menyatakan, pemerintah merancang deficit APBN tahun 2023 di kisaran 2,81 % - 2,95 % PDB. Membengkaknya defisit APBN 2020-2021 disengaja untuk menolong masyarakat dan usaha kecil selama krisis akibat pandemi melalui program pemulihan ekonomi nasional. Sejalan berakhirnya krisis Covid-19, pemerintah berhasil secara bertahap menurunkan defisit APBN dari 6,1 % PDB di tahun 2020 menuju ke bawah 3 % di tahun 2023. (Yoga)
Beberapa Pembelian Gas Rusia Bersedia Pakai Rubel
Wakil Perdana Menteri Alexander Rusia Novak mengatakan, beberapa negara pembeli gasnya telah setuju untuk menggunakan mata uang rubel. Namun ia, tidak menyebutkan identitas dari pelanggan yang sudah beralih itu. "Kami berharap ada keputusan beralih ke rubel dari importir lain," ujar dia dalam tanggapan yang diterbitkan majalah internal kementerian pada Jumat (15/4), yang dilansir Reuters. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Peter Szijjarto mengatakan pada Senin (11/4) bahwa Hungaria berencana membayar gas Rusia dalam bentuk Euro melalui Gazprombank. Pada Maret, Presiden Vladirmir Putin memang mengusulkan agar pembeli energi membuka rekening di Gazprombank, dimana pembayaran dalam euro atau dollar AS akan dikonversikan kedalam rubel. Bulan lalu, Putin mengingatkan bahwa pembeli gas Rusia dari negara-negara "tak bersahabat" harus melakukan pembayaran dalam rubel, namun permintaan itu ditolak oleh otoritas Uni Eropa, dibawah rezim blok yang menjatuhkan sanksi-sanski kepada negeri Beruang Merah itu. (Yetede)
Perang Membelah Ekonomi Global
Organisasi Perdagangan Dunia, atau World Trade Organization (WTO) mengingatkan perang Rusia-Ukraina telah menggelapkan prospek perdagangan dunia dan bakal membahayakan ekonomi global, karena dapat membaginya menjadi blok-blok persaingan atas konflik tersebut. "Ini bukan waktunya untuk berubah arah. Dalam sebuah krisis, diperlukan perdagangan lebih banyak guna mendukung akses kebutuhan yang stabil dan adil. Membatasi perdagangan akan mengancam kesejahteraan keluarga, bisnis dan menambah tugas lebih banyak untuk membangun pemulihan ekonomi yang tahan lama pasca pandemi Covid-19," ujar Direktur Jendral (Dirjen) WTO Ngozi Okonjo-Iweala dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, yang dilansir AFP pada Selasa (12/4).
Pilihan Editor
-
Rem Laju Utang, Sejumlah Strategi Disiapkan
30 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021









