;
Tags

Ekonomi Internasional

( 635 )

Dampak Perang Menyebar ke Seluruh Dunia

KT1 20 Apr 2022 Investor Daily

Dampak perang di Ukraina telah menyebar luas dan cepat ke seluruh dunia seperti  gelombang seismik sehingga Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (19/4) memangkas proyeksi pertumbuhan global 2022 menjadi 3,6 atau 0.8 poin lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumya yang dirilis pada Januari 2022. Perlambatan ekonomi, yang dijabarkan oleh IMF dalam laporan terbaru Prospek Ekonomi Dunia yang dirilis di Washington, AS, juga terjadi ditengah lonjakan harga-harga, kelangkaan pasokan, serta naiknya level utang. "Dampak ekonomi dari perang menyebar luas dan sangat jauh, seperti gelombang seismik yang menyeruak dari pusat gempa," ujar Kepala Ekonom IMF Pierre-Oliver Gourinchas, seperti dilansir AFP. Rusai menginvasi Ukraina sejak 24 Februari 2022. Serangan yang tadinya diarahkan  ke wilayah barat negara tetangga yang pro-Barat itu sekarang dipusatkan ke wilayah timur. Infrastruktur Ukraina hancur sehingga tidak mampu lagi memproduksi  biji-bijian maupun barang lain. (Yetede)

Kenaikan Inflasi dan Pemulihan Ekonomi

KT3 19 Apr 2022 Kompas

Ekonomi dunia dihadapkan pada masalah rumit, di satu sisi ada harapan berlanjutnya pemulihan ekonomi karena krisis akibat pandemi Covid-19 mereda. Di sisi lain, ada bahaya  kenaikan harga (inflasi) makanan dan energi yang semakin signifikan dan berdampak negatif kepada negara-negara miskin serta masyarakat tertinggal di negara berkembang. Perang Rusia-Ukraina membuat situasi semakin kompleks. Rusia dan Ukraina sebagai penghasil komoditas tambang dan pertanian tidak bisa mengirim produknya yang sangat dibutuhkan oleh negara Eropa. Akibatnya, harga komoditas tambang dan pertanian naik semakin tinggi. Untuk Indonesia, kenaikan harga komoditas ini menguntungkan ekspor. Pada 2022, walaupun ada akselerasi impor diperkirakan Indonesia bisa mencatat surplus ekspor-impor barang dan jasa 1 % dari PDB. Ini berdampak positif terhadap stabilitas kurs rupiah. Pemulihan ekonomi China terhambat karena kebijakan zero covid policy. China masih melakukan isolasi di beberapa kota besar. Melambatnya ekonomi China berpengaruh terhadap ekspor negara berkembang ke negara itu. Karena lockdown di beberapa kota, pertumbuhan ekonomi China turun dari 4,8 % di triwulan I-2022 ke 3 % di triwulan II-2022. Namun, diharapkan pada semester II-2022 ekonomi China kembali mengalami akselerasi.

Pemerintah dan bank sentral di sejumlah negara tentu ingin ekonominya segera pulih. Akan tetapi, nilai uang juga harus dijaga agar tidak tergerus oleh inflasi. Demi mengendalikan inflasi dan menyerap ekses likuiditas, beberapa bank sentral dunia mulai menaikkan suku bunga secara perlahan dan menaikkan giro wajib minimum. Uniknya, China justru melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan giro wajib minimum karena ekonominya melemah. Dengan kenaikan suku bunga di sejumlah negara, terjadi kenaikan cost of capital (biaya modal). Investor saham mulai lebih selektif. Redanya krisis Covid-19 membuat terjadinya pemulihan ekonomi global. Pemulihan ekonomi, berarti bank diharapkan engakselerasi pemberian kredit. Di Indonesia, pertumbuhan kredit mencapai 7-9 % tahun ini. Tetapi, karena inflasi di AS meningkat signifikan, dikhawatirkan kenaikan suku bunga bank sentral AS juga dipercepat. Inflasi di AS sudah menembus 8 %, padahal dalam situasi normal inflasi AS di bawah 2 persen.

Berbeda dengan AS dan banyak negara yang inflasinya naik tinggi akibat kenaikan harga energi dan makanan, di Indonesia inflasi masih relative terkendali, disebabkan harga BBM dan listrik yang tidak naik karena adanya subsidi BBM dan listrik. Akan tetapi, beban subsidi APBN semakin tinggi. Untuk mengendalikan defisit APBN yang harus turun ke bawah 3 %  PDB tahun depan, pengeluaran nonprioritas mesti dikendalikan. Menkeu Sri Mulyani, menyatakan, pemerintah merancang deficit APBN tahun 2023 di kisaran 2,81 % - 2,95 % PDB. Membengkaknya defisit APBN 2020-2021 disengaja untuk menolong masyarakat dan usaha kecil selama krisis akibat pandemi melalui program pemulihan ekonomi nasional. Sejalan berakhirnya krisis Covid-19, pemerintah berhasil secara bertahap menurunkan defisit APBN dari 6,1 % PDB di tahun 2020 menuju ke bawah 3 % di tahun 2023. (Yoga)


Beberapa Pembelian Gas Rusia Bersedia Pakai Rubel

KT1 16 Apr 2022 Investor Daily

Wakil Perdana Menteri Alexander Rusia Novak mengatakan,  beberapa negara pembeli gasnya telah setuju untuk menggunakan mata uang rubel. Namun ia, tidak menyebutkan identitas dari  pelanggan yang sudah beralih itu. "Kami berharap ada keputusan beralih ke rubel dari importir lain," ujar dia dalam tanggapan yang diterbitkan majalah internal kementerian pada Jumat (15/4), yang dilansir Reuters. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Peter Szijjarto mengatakan pada Senin (11/4) bahwa Hungaria berencana membayar gas Rusia dalam bentuk Euro melalui Gazprombank. Pada Maret, Presiden Vladirmir Putin memang mengusulkan agar pembeli energi membuka rekening di Gazprombank, dimana pembayaran dalam euro atau dollar AS akan dikonversikan kedalam rubel. Bulan lalu, Putin mengingatkan bahwa pembeli gas Rusia dari negara-negara "tak bersahabat" harus melakukan pembayaran dalam rubel, namun permintaan itu ditolak oleh otoritas Uni Eropa, dibawah rezim  blok yang menjatuhkan sanksi-sanski kepada negeri Beruang Merah itu. (Yetede)

Perang Membelah Ekonomi Global

KT1 13 Apr 2022 Investor Daily

Organisasi Perdagangan Dunia, atau World Trade Organization (WTO) mengingatkan perang Rusia-Ukraina telah menggelapkan prospek perdagangan dunia dan bakal membahayakan ekonomi global, karena dapat membaginya menjadi blok-blok persaingan atas konflik tersebut. "Ini bukan waktunya untuk berubah arah. Dalam sebuah krisis, diperlukan perdagangan lebih banyak guna mendukung akses kebutuhan yang stabil dan adil. Membatasi perdagangan akan mengancam kesejahteraan keluarga, bisnis dan menambah tugas lebih banyak untuk membangun pemulihan ekonomi yang tahan lama pasca pandemi Covid-19," ujar Direktur Jendral (Dirjen) WTO Ngozi Okonjo-Iweala dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, yang dilansir AFP pada Selasa (12/4).

Honda Investasikan US$ 40 Miliar Untuk Teknologi EV Dalam 10 Tahun

KT1 13 Apr 2022 Investor Daily

Produsen mobil Jepang Honda pada Selasa (12/4) mengatakan akan menginvestasikan hampir US$ 40 miliar ke dalam teknologi kendaraan listrik sebagai  program satu dekade  berikutnya. Perusahaan tersebut berupaya mengalihkan semua penjualan dari mobil dengan bahan bakar fosil. Raksasa otomotif global semakin memprioritaskan kendaraan listrik  (electric vehicle/EV) dan kendaraan hybrid. Permintaan meningkat untuk kendaraan yang tidak terlalu berpolusi, seiring meningkatnya  kekhawatiran tentang perubahan iklim global. Honda mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka berusaha meluncurkan  30 model EV pada 2030, dengan volume produksi tahunan lebih dari dua juta unit. Perusahan tersebut mengatakan akan mengalokasikan sekitar lima triliun yen (US$ 39,9 miliar) selama 10 tahun kedepan.  (Yetede)

Honda Investasikan US$ 40 Miliar Untuk Teknologi EV Dalam 10 Tahun

KT1 13 Apr 2022 Investor Daily

Produsen mobil Jepang Honda pada Selasa (12/4) mengatakan akan menginvestasikan hampir US$ 40 miliar ke dalam teknologi kendaraan listrik sebagai  program satu dekade  berikutnya. Perusahaan tersebut berupaya mengalihkan semua penjualan dari mobil dengan bahan bakar fosil. Raksasa otomotif global semakin memprioritaskan kendaraan listrik  (electric vehicle/EV) dan kendaraan hybrid. Permintaan meningkat untuk kendaraan yang tidak terlalu berpolusi, seiring meningkatnya  kekhawatiran tentang perubahan iklim global. Honda mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka berusaha meluncurkan  30 model EV pada 2030, dengan volume produksi tahunan lebih dari dua juta unit. Perusahan tersebut mengatakan akan mengalokasikan sekitar lima triliun yen (US$ 39,9 miliar) selama 10 tahun kedepan.  (Yetede)

Waspadai Sanksi AS pada Rusia

KT3 11 Apr 2022 Kompas

Berlanjutnya invasi Rusia ke Ukraina berarti berlanjut pula kemungkinan penjatuhan aneka sanksi ekonomi terhadap Mokswa oleh AS dan sekutunya. Washington disebut siap menerapkan aneka sanksi sekunder, yang jika diberlakukan, pihak-pihak yang berhubungan dengan Rusia bisa terkena efek secara langsung. Presiden AS Joe Biden pada tengah pekan lalu mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia. Targetnya menyusutkan PDB Rusia dua digit tahun ini sekaligus menghapus keuntungan ekonomi Rusia 15 tahun terakhir. Cakupannya, antara lain, melarang investasi AS di Rusia, memblokir sepenuhnya lembaga keuangan terbesar negara itu, dan menargetkan aset yang dipegang oleh anak-anak Presiden Vladimir Putin. Menurut VOA, dengan sanksi terbaru itu, Barat seperti kehabisan rem untuk menghentikan agresi Rusia ke Ukraina, kecuali jika mereka mau menekan secara langsung sektor minyak dan gas Rusia. Sanksi terbaru AS itu juga mencakup pemblokiran terhadap Sberbank, lembaga keuangan terbesar Rusia, dan Alfa Bank, bank swasta terbesar di negara itu. Sberbank adalah salah satu lembaga utama yang menangani pembayaran energi. AS juga memblokir Rusia dari sistem pembayaran utang dengan mata uang yang tunduk pada yurisdiksi AS.

Sanksi sekunder adalah jenis sanksi ekonomi lain yang diterapkan AS, menargetkan pelaku negara ketiga yang melakukan bisnis dengan rezim, orang, dan organisasi yang ditargetkan AS. Target Sanksi sekunder adalah orang atau pihak asing, terutama lembaga keuangan asing yang melakukan bisnis dengan individu, negara, rezim, dan organisasi dipihak yang dikenai sanksi. Pemberlakuan sanksi sekunder bakal diumumkan otoritas hukum di AS, sanksi sekunder dapat melarang warga atau pihak AS melakukan bisnis dengan lembaga keuangan asing tersebut. Bank AS juga membatasi transaksi atau rekening koresponden lembaga keuangan asing tersebut di AS. Namun, penerapan sanksi sekunder itu juga kontroversial. Sebab, sanksi itu dapat berefek terhadap sekutu AS yang mengandalkan energi Rusia dan sumber daya lainnya. Penerapan sanksi jenis itu bahkan dapat memecah posisi aliansi AS, khususnya NATO di Eropa, yang relatif tergantung pada sektor energi Rusia. Jerman yang terus membeli minyak dan gas dari Rusia, misalnya, bisa dinilai salah dari sisi AS. Sanksi sekunder juga dapat memicu kebingungan mengenai hal-hal apa saja yang dilarang atau tidak. (Yoga)


Perang Ekonomi Itu Ilusi

KT3 09 Apr 2022 Kompas

Terminologi perang dingin ekonomi muncul setelah invasi Rusia terhadap Ukraina. Namun, perang ekonomi itu bersifat ilusi, tidak akan mematikan. Jika terjadi perang ekonomi, entah lewat sanksi, embargo, serupa dengan mematikan mekanisme pasar. Isu perang dingin ekonomi mencuat karena invasi Rusia atas Ukraina. Eropa dan AS mendukung Ukraina. China mendukung Rusia, tidak dalam konteks mendukung invasi, tetapi dengan pernyataan hubungan kedua negara sekeras batu karang, apa pun yang terjadi dengan Rusia. Perang ekonomi terjadi antara AS dan China, dengan asumsi diikuti negara pendukungnya. Perang praktis akan memutus jaringan produksi yang melibatkan semua negara di dunia.China dikenal sebagai basis produksi yang dilakoni korporasi global, Rusia dikenal sebagai sumber energi yang dibutuhkan dunia. Dengan demikian, kemakmuran yang akan terganggu tidak akan dialami China dan Rusia saja, tetapi juga oleh AS dan Eropa.

Direktur IMF Kristalina Georgieva (11/3) menyatakan, perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia akan direvisi ke tingkat lebih rendah. Menkeu AS Janet Yellen menyatakan, krisis Ukraina berefek pada perekonomian global. Hingga Kenneth Rogoff, profesor ekonomi Harvard, di Harvard Gazette, 24 Februari lalu, mengatakan, ekonomi AS dan dunia terganggu lewat krisis bursa saham, kemelut pasar energi, inflasi memburuk, dan pengeluaran militer naik. Jika tujuan senjata ekonomi adalah mematikan kekuatan sebuah negara, hal itu hanya ilusi. (Yoga)


Harga Pangan Meroket 12 Persen

KT3 09 Apr 2022 Kompas

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebut perang di Ukraina menyebabkan kenaikan harga pangan global hingga 12 %. Dampaknya terasa mulai dari petani hingga konsumen. Harga komoditas bahan pangan seperti biji-bijian dan minyak nabati mencapai level tertinggi bulan lalu. Kenaikan itu telah mengakibatkan gangguan pasokan besar-besaran, tidak hanya dalam proses distribusi, bahkan lebih jauh dalam proses produksi. FAO, dalam laporan yang terbit Jumat (8/4) menyebutkan, Indeks Harga Pangan FAO rata-rata 159,3 poin pada Maret atau naik 12,6 % dari bulan sebelumnya. Angka ini merupakan level tertinggi sejak perhitungan ini dimulai pada 1990. ”Harga bahan makanan pokok seperti gandum dan minyak nabati melonjak dan menjadi tanggungan biaya yang luar biasa bagi konsumen global,terutama kelompok termiskin. Dengan naiknya harga energi  bersama harga pangan, daya beli konsumen dan negara yang rentan semakin menurun,” kata Dirjen FAO Qu Dongyu pada pidatonya di sesi ke-169 Dewan FAO, Roma.

Dalam komposisi Indeks Harga Pangan FAO, minyak nabati menjadi produk pangan yang mengalami kenaikan paling tinggi, sebesar 23,2 %, didorong kuota minyak biji bunga matahari. Ukraina adalah pengekspor minyak bunga matahari terkemuka dunia. ”Ini benar-benar preseden luar biasa. Jelas harga bahan pangan yang sangat tinggi ini membutuhkan tindakan segera,” kata Josef Schmidhuber, Wakil Direktur Divisi Pasar dan Perdagangan FAO. Menurut dia, gangguan besar-besaran pasokan dari wilayah Laut Hitam, terutama Ukraina, memicu kenaikan harga bahan pangan, terutama biji-bijian dan minyak nabati. Peneliti Institut Riset Kebijakan Pangan Dunia yang berbasis di Washington DC, AS menilai kerentanan situasi harga bahan pangan dunia akibat situasi di Ukraina menimbulkan ancaman dalam jangka pendek dan panjang. (Yoga)


Perang Dingin Ekonomi

KT3 08 Apr 2022 Kompas

Kompetisi AS dan China yang menajam akan membentuk perang dingin ekonomi baru. Situasi menjadi kompleks dengan sejumlah persoalan mutakhir lainnya yang ikut menggempur tatanan lama. ”Tampaknya persaingan geoekonomi ini semakin kentara, terminologinya the new economic cold war,” kata Wakil Menlu  Mahendra Siregar pada seminar daring Universitas Prasetiya Mulya di Jakarta, Kamis (7/4). Persaingan geopolitik yang semakin tajam antara AS dan China, menurut Mahendra, sudah bergeser sangat cepat dan semakin meluas sehingga menjadi kompetisi geoekonomi baru, bahkan sudah masuk pada penyusunan kembali rantai pasok masing-masing negara tersebut, terutama menyangkut produk teknologi tinggi, produk strategis, dan produk yang dianggap memiliki pengaruh pada kekuatan militer negara.

Menurut Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dan Wakil Rektor Prasetiya Mulya Ida Juda deglobalisasi dan dedolarisasi akan sukar terjadi. Adapun Ida menjelaskan, sukar untuk menggantikan dollar AS sebagai mata uang perdagangan internasional. China berusaha melakukannya dengan Indonesia. Ada waktu tiga tahun untuk menetapkan transaksi murni menggunakan rupiah dan renminbi. Yose dan Ida sama-sama menilai dollar AS merupakan mata uang yang terlalu kuat dan menjadi pilihan paling aman untuk semua transaksi internasional. Jika memang ingin beralih dari dollar AS, pilihan paling masuk akal ialah menggunakan mata uang digital atau kripto. (Yoga)