;

Harga Pangan Meroket 12 Persen

Ekonomi Yoga 09 Apr 2022 Kompas
Harga Pangan Meroket 12 Persen

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebut perang di Ukraina menyebabkan kenaikan harga pangan global hingga 12 %. Dampaknya terasa mulai dari petani hingga konsumen. Harga komoditas bahan pangan seperti biji-bijian dan minyak nabati mencapai level tertinggi bulan lalu. Kenaikan itu telah mengakibatkan gangguan pasokan besar-besaran, tidak hanya dalam proses distribusi, bahkan lebih jauh dalam proses produksi. FAO, dalam laporan yang terbit Jumat (8/4) menyebutkan, Indeks Harga Pangan FAO rata-rata 159,3 poin pada Maret atau naik 12,6 % dari bulan sebelumnya. Angka ini merupakan level tertinggi sejak perhitungan ini dimulai pada 1990. ”Harga bahan makanan pokok seperti gandum dan minyak nabati melonjak dan menjadi tanggungan biaya yang luar biasa bagi konsumen global,terutama kelompok termiskin. Dengan naiknya harga energi  bersama harga pangan, daya beli konsumen dan negara yang rentan semakin menurun,” kata Dirjen FAO Qu Dongyu pada pidatonya di sesi ke-169 Dewan FAO, Roma.

Dalam komposisi Indeks Harga Pangan FAO, minyak nabati menjadi produk pangan yang mengalami kenaikan paling tinggi, sebesar 23,2 %, didorong kuota minyak biji bunga matahari. Ukraina adalah pengekspor minyak bunga matahari terkemuka dunia. ”Ini benar-benar preseden luar biasa. Jelas harga bahan pangan yang sangat tinggi ini membutuhkan tindakan segera,” kata Josef Schmidhuber, Wakil Direktur Divisi Pasar dan Perdagangan FAO. Menurut dia, gangguan besar-besaran pasokan dari wilayah Laut Hitam, terutama Ukraina, memicu kenaikan harga bahan pangan, terutama biji-bijian dan minyak nabati. Peneliti Institut Riset Kebijakan Pangan Dunia yang berbasis di Washington DC, AS menilai kerentanan situasi harga bahan pangan dunia akibat situasi di Ukraina menimbulkan ancaman dalam jangka pendek dan panjang. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :