Perang Dingin Ekonomi
Kompetisi AS dan China yang menajam akan membentuk perang dingin ekonomi baru. Situasi menjadi kompleks dengan sejumlah persoalan mutakhir lainnya yang ikut menggempur tatanan lama. ”Tampaknya persaingan geoekonomi ini semakin kentara, terminologinya the new economic cold war,” kata Wakil Menlu Mahendra Siregar pada seminar daring Universitas Prasetiya Mulya di Jakarta, Kamis (7/4). Persaingan geopolitik yang semakin tajam antara AS dan China, menurut Mahendra, sudah bergeser sangat cepat dan semakin meluas sehingga menjadi kompetisi geoekonomi baru, bahkan sudah masuk pada penyusunan kembali rantai pasok masing-masing negara tersebut, terutama menyangkut produk teknologi tinggi, produk strategis, dan produk yang dianggap memiliki pengaruh pada kekuatan militer negara.
Menurut Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri dan Wakil Rektor Prasetiya Mulya Ida Juda deglobalisasi dan dedolarisasi akan sukar terjadi. Adapun Ida menjelaskan, sukar untuk menggantikan dollar AS sebagai mata uang perdagangan internasional. China berusaha melakukannya dengan Indonesia. Ada waktu tiga tahun untuk menetapkan transaksi murni menggunakan rupiah dan renminbi. Yose dan Ida sama-sama menilai dollar AS merupakan mata uang yang terlalu kuat dan menjadi pilihan paling aman untuk semua transaksi internasional. Jika memang ingin beralih dari dollar AS, pilihan paling masuk akal ialah menggunakan mata uang digital atau kripto. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023