Perang Ekonomi Itu Ilusi
Terminologi perang dingin ekonomi muncul setelah invasi Rusia terhadap Ukraina. Namun, perang ekonomi itu bersifat ilusi, tidak akan mematikan. Jika terjadi perang ekonomi, entah lewat sanksi, embargo, serupa dengan mematikan mekanisme pasar. Isu perang dingin ekonomi mencuat karena invasi Rusia atas Ukraina. Eropa dan AS mendukung Ukraina. China mendukung Rusia, tidak dalam konteks mendukung invasi, tetapi dengan pernyataan hubungan kedua negara sekeras batu karang, apa pun yang terjadi dengan Rusia. Perang ekonomi terjadi antara AS dan China, dengan asumsi diikuti negara pendukungnya. Perang praktis akan memutus jaringan produksi yang melibatkan semua negara di dunia.China dikenal sebagai basis produksi yang dilakoni korporasi global, Rusia dikenal sebagai sumber energi yang dibutuhkan dunia. Dengan demikian, kemakmuran yang akan terganggu tidak akan dialami China dan Rusia saja, tetapi juga oleh AS dan Eropa.
Direktur IMF Kristalina Georgieva (11/3) menyatakan, perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia akan direvisi ke tingkat lebih rendah. Menkeu AS Janet Yellen menyatakan, krisis Ukraina berefek pada perekonomian global. Hingga Kenneth Rogoff, profesor ekonomi Harvard, di Harvard Gazette, 24 Februari lalu, mengatakan, ekonomi AS dan dunia terganggu lewat krisis bursa saham, kemelut pasar energi, inflasi memburuk, dan pengeluaran militer naik. Jika tujuan senjata ekonomi adalah mematikan kekuatan sebuah negara, hal itu hanya ilusi. (Yoga)
Tags :
#Ekonomi InternasionalPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Pasar Dalam Tekanan
SBY Peringatkan Ancaman Perang Global
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023