Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia
Tiga tantangan pokok yang dihadapi perekonomian dunia, termasuk Indonesia, dalam satu-dua tahun ini adalah lonjakan harga komoditas yang tinggi, normalisasi kebijakan moneter negara maju yang agresif, serta konflik Rusia-Ukraina. Di luar ketiga tantangan itu, masih ada risiko yang muncul dari potensi varian baru Covid-19 dan sebaran Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang di tahun 2022. Sejak awal tahun 2021, harga komoditas, baik energi maupun non-energi, naik secara konsisten. Meletusnya perang Rusia-Ukraina, dua negara yang mempunyai peranan cukup besar dalam pasokan energi dan pangan dunia, memberi andil krisis atas kurangnya pemenuhan permintaan yang meningkat. Produksi minyak mentah Rusia 2021 rata-rata 9,8 juta barel per hari atau 10 % konsumsi minyak mentah dunia. Alhasil, harga energi melonjak lebih tinggi diikuti dengan harga pangan, pertambangan, dan komoditas lainnya, dan mendorong inflasi yang sudah tinggi, terutama di negara-negara maju. Inflasi di AS, dari 7,5 %, meningkat menjadi 8,5 % pada Maret 2022, tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Demikian juga yang terjadi di Eropa dan banyak negara lainnya. Inflasi di kawasan Eropa melonjak menjadi 7,5 % pada Maret 2022. Dengan makin tingginya inflasi, Bank sentral AS, The Fed akan menempuh langkah yang lebih agresif untuk menjinakkan inflasi melalui kenaikan suku bunga, meskipun dengan konsekuensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tidak tertutup kemungkinan, Fed Fund Rate / FFR akan dinaikkan hingga 3,5 % di akhir tahun 2022, lebih tinggi dari tingkat normalisasi sebelumnya, yakni 2,5 %. The Fed pernah menaikkan FFR 5,25 % pada 2004-2006 guna mengatasi inflasi dan pemanasan ekonomi (overheated economy).
Ada beberapa implikasi dari gejolak ekonomi dunia saat ini bagi ekonomi Indonesia. Pertama, meningkatnya ekspor cukup tinggi. Sebagai negara yang kaya SDA, neraca perdagangan juga mencatat surplus yang cukup besar. Nilai ekspor Indonesia 66,1 miliar USD pada triwulan I tahun 2022 dengan surplus perdagangan 9,3 miliar USD. Meski berdampak positif, apabila berlangsung dalam jangka panjang, commodity boom ini dapat memberi implikasi yang kurang menguntungkan.Nilai tukar perdagangan komoditas yang tinggi dapat menekan peranan sektor lain,terutama industri. Fenomena Dutch disease ini dapat menghambat upaya percepatan industrialisasi di Indonesia. Kedua, meningkatnya inflasi. Dengan kenaikan harga komoditas yang tinggi, tidak ada perekonomian yang mampu mengisolasi diri sepenuhnya dari pengaruh kenaikan harga, terutama energi. Harga minyak mentah Brent untuk keseluruhan tahun 2022 sebesar 98 USD per barel, jauh di atas asumsi APBN 2022. Apabila harga minyak mentah yang tinggi berlangsung lama, harga di dalam negeri perlu disesuaikan secara bertahap. Subsidi perlu dikendalikan dengan memberi perlindungan terhadap masyarakat yang kurang mampu dengan mengalihkan subsidi barang kepada kelompok yang disasar. Ketiga, mengetatnya kebijakan moneter. Meningkatnya inflasi dan suku bunga acuan AS akan menuntut kenaikan suku bunga acuan di dalam negeri. Sisi yang terberat adalah belanja, bagaimana menyelesaikan (exit) dari program pemulihan ekonomi secara tepat. Termasuk berbagai program relaksasi dan belanja yang diluncurkan semasa pandemi dan tak terlalu diperlukan lagi. Sejalan dengan berkurangnya stimulus fiskal dan moneter, reformasi struktural harus mulai menunjukkan hasil sejak tahun 2022. (Yoga)
Tags :
#Ekonomi InternasionalPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023