Stagflasi Dunia dan Presidensi G20 Indonesia
Untuk 2022, inflasi dunia diperkirakan bertengger di angka 6,2 %, sedangkan perkiraan pertumbuhan ekonomi hanya 3,3 %. Bahkan Bank Dunia memberikan perkiraan lebih rendah, yaitu 2,9 %. Gap domestik dan dunia dengan gap angka inflasi dibandingkan angka pertumbuhan ekonomi yang besar itu, wajar Bank Dunia menyebut istilah stagflasi. Yang memprihatinkan, lebarnya gap angka inflasi dengan angka pertumbuhan ekonomi itu banyak terjadi di negara-negara maju, karena ini akan menghambat laju pemulihan ekonomi dunia. Dalam kondisi normal, negara-negara maju biasanya dijadikan tumpuan pasar produk-produk dari negara berkembang. Dengan kondisi stagflasi, tentu akan mengurangi atau malah menutup peluang ekspor tersebut.
Pilihan instrumen untuk menjinakkan inflasi sangat terbatas, diantaranya menaikkan suku bunga. Penyebabnya, inflasi saat ini disebabkan negatifnya penawaran agregat (aggregate supply), sebagai dampak dari terganggunya rantai pasok akibat pandemi, ditambah perang dagang AS- China, dan sekarang ditambah lagi perang Rusia-Ukraina. Selain itu, juga terjadi negative suplai tenaga kerja, karena pilihan pensiun dini sebagai dampak pandemi, semakin menuanya tenaga kerja, dan resistansi terhadap tenaga kerja migran. Indonesia sebagai pemegang presidensi G20 pada 2022 dengan slogan Recover Together, Recover Stronger dituntut bisa mendorong kerja sama dan kerja bersama untuk mewujudkan slogan tersebut. (Yoga)
Tags :
#Ekonomi InternasionalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023