Zaman Volatilitas Besar
Pandemi meningkatkan nilai guna (marginal utility) dari liburan keluarga, karena mobilitas yang terbatas akibat mitigasi pencegahan penyebaran Covid-19. Hal ini menjelaskan kepadatan di beberapa bandara di AS dan Eropa selama liburan musim panas. Jumlah penumpang melebihi kapasitas penerbangan ataupun pelayanan bandara. Seiring dengan hierarki Maslow (1943), sebagai dampak pemulihan ekonomi, peningkatan permintaan juga terjadi untuk barang-barang lainnya. Mulai dari barang tahan lama sampai ke makanan olahan. Akibatnya, rantai pasokan dunia yang belum pulih benar mendapat tekanan sehingga terjadi inflasi global yang menjalar ke setiap negara. Bank sentral di sejumlah negara pun meningkatkan suku bunga acuan untuk meredakan inflasi dengan menekan peningkatan permintaan yang tertahan, karena mereka tidak dapat mengendalikan sisi produksi atau penawaran. Perlu koordinasi global
Obstfeld (2022), mantan Chief Economist Dana Moneter Internasional (IMF) dan guru besar ekonomi di Universitas California, Berkeley, AS, berpendapat, karena tidak ada koordinasi, risiko dari kebijakan satu arah kenaikan suku bunga ini adalah suatu efek yang akan memperkuat efek lainnya (amplifying). Oleh karena itu, akan menjadi beban berlebihan yang tidak dapat ditahan oleh perekonomian dunia. Dengan kata lain, pada tingkat global, usaha-usaha meredam inflasi sebaiknya jangan terlalu berlebihan sehingga sektor riil dan sektor finansial berpotensi terpuruk terlalu jauh.
Kenyataannya, otoritas moneter di negara-negara dengan dampak global besar menghadapi ketidakpastian sangat tinggi sehingga membutuhkan kebijakan-kebijakan di luar pakem. Penyebabnya, ada sumber disrupsi lain setelah pandemi, yaitu konflik Rusia-Ukraina yang meningkatkan harga dan volatilitas komoditas dunia. Bersama pandemi, hal ini menimbulkan perfect storm, menandai zaman volatilitas besar (great volatility). Situasi itu mengakibatkan koordinasi kebijakan bukan prioritas karena ada filosofi extraordinary times require extraordinary measures. Dengan kata lain, dibutuhkan kebijakan di luar pakem dalam kondisi luar biasa. Ini juga membutuhkan horizon waktu, kapan dimulai dan kapan harus diakhiri, karena tidak mungkin berkelanjutan dalam jangka panjang. (Yoga)
Tags :
#Ekonomi InternasionalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023