Kurva Phillips dan Pelajaran SVB
Kurva Phillips adalah visualisasi hubungan terbalik antara pengangguran dan inflasi yang ditemukan Phillips (1958) dan disempurnakan oleh Samuelson dan Solow (1960). Konsep ini menjadi pegangan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed. Jika perekonomian mengalami resesi, dilakukan kebijakan ekspansif. Sebaliknya, jika inflasi terlalu tinggi (overheating), perekonomian perlu diresesikan dengan menaikkan suku bunga acuan. Friedman (1967) dan Phelps (1968) kemudian berpendapat, otoritas moneter tidak dapat menggunakan begitu saja trade-off dalam kurva Phillips untuk mengelola perekonomian. Ide ini berkembang menjadi NAIRU (non-accelerating inflation rate of unemployment). Kerancuan terjadi ketika laju inflasi 2 % dijadikan dogma. Karena pandemi Covid-19, pasar tenaga kerja berubah hibrida antara di rumah dan di kantor. Konflik Ukraina-Rusia juga diiringi perang sanksi, blok sekutu Barat dan Rusia saling mengisolasi diri dari globalisasi. Selama ini skala ekonomi dari kolaborasi berperan menurunkan ongkos produksi dan inflasi dunia. Tren deglobalisasi kian menjadi ketika hubungan AS dan China memburuk, berdampak pada rantai pasokan dunia.
Efeknya di AS adalah akselerasi inflasi dari 1,7 % pada Maret 2021 mencapai puncaknya 9,1 % pada Juni 2022. Kemudian perlahan turun ke 6 % pada Februari 2023 setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan beberapa kali sejak Juni 2022. Kenaikan suku bunga acuan The Fed yang terlalu agresif mengandung risiko tinggi. Harga aset properti anjlok 20 %. Kombinasi biaya hidup yang makin tinggi akibat pandemi dan ketegangan geopolitik membuat daya beli masyarakat turun. Kemampuan mencicil rumah juga turun drastis. Ini berdampak pada surat berharga MBS yang menjadi bagian signifikan dari portofolio bank-bank regional di AS. Gelembung pecah ketika Silicon Valley Bank (SVB) mengalami rush. Kepanikan ini menjalar ke tiga bank regional lain,yaitu First Republic, Signature Bank, dan Silvergate. SVB selama ini menjadi system integrator antara investor dan inovator yang didominasi oleh perusahaan rintisan (start up). Tanda-tandanya sudah terlihat dengan PHK puluhan ribu karyawan di sektor teknologi sejak akhir 2022, termasuk perusahaan teknologi yang sudah mapan. Situasi ini mendorong terjadinya masalah likuiditas di SVB. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Pasar Dalam Tekanan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023